Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Ke-21
Dio menghampiri istrinya ketika teman-temannya sudah pamit pulang. "Sejak kapan kalian berteman?"
"Sejak sepuluh tahun lalu."
"Apa mereka juga mengenal Alex?" tanya Dio.
"Aku kenal Alex dari mereka, bahkan Rea yang pertama kali mengenalkan aku kepadanya," jawab Laras.
Dio mengernyitkan dahinya mendengar kalimat Rea mengenal Alex, wanita itu pernah bilang tak terlalu mengenalnya.
"Jadi, kalian dan Alex bukan teman sekolah?" tanya Dio lagi.
"Dia kakak kelas, selisih kami tiga tahun. Rea dan Alex adalah sepupu," jawab Laras.
Dio manggut-manggut paham.
"Kenapa kamu menanyakan tentang Alex?" Laras menatap suaminya.
Dio merangkul pundak istrinya dan mengecup keningnya, "Tidak apa-apa."
"Cepat katakan kenapa kamu bertanya tentangnya?" desak Laras sebab penasaran.
"Malam ini kita makan di depan komplek aja, yuk. Aku mau mencuci piring dan gelas kotor dulu!" kata Dio.
"Biar pelayan saja besok yang mencucinya!" ucap Laras.
"Aku cuma meringankan pekerjaan mereka!" Dio menurunkan tangannya dari pundak istrinya. "Kamu mandi dulu, setelah aku membereskan rumah kita pergi ke sana!" lanjutnya kemudian melangkah ke dapur.
Selesai mencuci piring, Dio lanjut membereskan bagian ruang tamu dan ruang santai.
Setelah semuanya beres, Dio ke kamar lalu mengajak istrinya menikmati makan di luar. Mengambil kunci motor di laci nakas lalu keduanya berangkat ke tempat tujuan.
"Kamu kenapa tahu di sini ada penjual makanan?" tanya Laras heran sebab dirinya hampir sering melewati jalan tersebut tetapi tak melihat pedagang makanan di sekitar area tersebut.
"Aroma masakannya tercium, makanya aku tahu di sini ada yang menjual makanan," jawab Dio bercanda membuat istrinya tertawa kecil.
Sejam berlalu, Dio dan istrinya balik ke rumah. Tampak sebuah mobil telah terparkir di halaman rumahnya.
"Mau apa dia ke sini?" raut wajah Laras tampak kesal.
"Kamu kenal?" tanya Dio memarkirkan motornya tak jauh dari garasi.
"Kak Laras!!!" seorang gadis muda menghampiri Laras dan memeluknya.
Laras mendorong gadis itu secara kasar dan bertanya, "Kenapa kamu di sini?"
"Ya ampun Kak Laras, kenapa marah-marah begitu? Sepupumu datang bukannya disambut dengan senyuman. Kita 'kan sudah lama tidak bertemu," jawab gadis yang ditaksir berusia 20 tahun.
"Kamu bertamu di waktu yang tak tepat. Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang. Lagian dari mana kamu tahu rumahku di sini?" tanya Laras ketus.
"Dari Mama, kebetulan dia pernah mengikuti mobil suami Kak Laras masuk ke komplek perumahan ini," jawab gadis bernama Mia sembari melirik Dio.
"Kenapa 'sih satpam depan bisa membiarkan kamu masuk?" kesal Laras.
"Karena aku menunjukkan foto-foto kita bersama," kata Mia tersenyum.
"Kami sangat capek dan mau beristirahat. Kamu pulanglah!" usir Laras.
Mia menoleh ke arah Dio dan menghampirinya, "Aku belum berkenalan dengan suami Kak Laras!" ia mengulurkan tangannya dan tersenyum kepada Dio.
Laras menarik tangan suaminya hingga ke belakang tubuhnya dan berkata, "Tidak perlu. Kamu baca undangan pernikahan kami saja biar kamu tahu siapa namanya!"
Mia mengerucutkan bibirnya.
"Sudah sana pulang, kami mau tidur!" Laras mendorong sepupunya ke mobil gadis itu.
"Aku mau menginap tidur di sini, Kak!" kata Mia.
"Tidak boleh!" tegas Laras.
"Kenapa? Aku 'kan sepupu Kak Laras!" ucap Mia.
"Aku tidak punya sepupu sepertimu!" tegas Laras menolak mengakui Mia karena mereka bukan sepupu dari saudara Papa Johan atau Mama Karin.
Mia berlari kecil mendekati Dio, "Suami Kak Laras, boleh, ya, aku menginap di sini satu malam saja!" mohonnya.
Laras yang sangat kesal, menarik Mia dan kembali mendorongnya. "Pergi sendiri atau aku panggilkan polisi!" ancamnya.
"Kenapa 'sih harus panggil polisi?" protes Mia.
"Cepat pergi!" Laras meninggikan suaranya.
"Iya, aku akan pergi!" Mia melangkah mendekati mobilnya.
"Cepat!!" Laras kembali bersuara tinggi.
Mia bergegas masuk ke mobilnya dan buru-buru meninggalkan kediamannya Laras.
"Aku tidak tahu dia juga sepupumu," kata Dio setelah mobil Mia menghilang dari pandangannya.
"Ya, karena dia memang tak terdaftar di keluarga besar kami!" ucap Laras.
"Kenapa begitu?" tanya Dio.
"Ibunya sudah merebut adik kandung mamaku, Om Wandi terpaksa menceraikan istrinya demi ibunya. Padahal, istrinya Om Wandi sudah banyak membantu mereka tapi memang ibunya dan dia saja yang tak tahu terima kasih. Mengambil hak milik orang lain!" jawab Laras. Makanya, ia sangat membenci Mia yang ingin merebut posisi anak kandung Om Wandi menjadi sepupunya. Meskipun 3 tahun berlalu, tetapi rasa benci sangat melekat. Apalagi teringat mantan istrinya Om Wandi menangis di depan Mama Karin dan Laras menceritakan perselingkuhan suaminya sebelum mereka berpisah.
"Oh, begitu. Pantas saja aku tidak melihatnya di acara pernikahan kita," kata Dio.
"Mama Karin sengaja tidak mengundang dia dan ibunya," ucap Laras. "Tapi, Om Wandi malah mengajak istrinya itu ke acara pernikahan kita," lanjutnya.
Dio akhirnya paham alasan istrinya marah-marah dan mengusir Mia.
"Jika kamu juga berani berselingkuh, aku tidak tinggal diam. Aku akan menghancurkan kalian!" Laras berkata serius.
Dio yang mendapatkan ancaman istrinya hanya tertawa meledek.
"Kamu pikir aku main-main?" Laras mengerucutkan bibirnya.
"Sudah malam, yuk masuk!" Dio berjalan lebih dulu memasuki rumahnya.
***
Seminggu setelah kepulangan keduanya dari luar negeri, Dio mengajak istrinya mengunjungi ke rumah kedua orang tuanya. Mereka berencana akan menginap.
"Ibu sudah masak yang banyak dan enak. Semoga kamu suka dengan masakan Ibu!" ucap Maya selepas memeluk menantunya.
"Memangnya Ibu masak apa?" Dio penasaran, ia juga sudah merindukan masakan sang ibunya.
"Kita ke ruang makan saja, yuk!" ajak Maya.
Kelimanya menuju ruang makan, di meja tersaji beberapa menu makanan.
"Kalau Kak Dio dan Kak Maya tak ke sini, Ibu tidak memasak sebanyak ini!" ucap Diana.
"Tak mungkin sering-sering masak banyak, nanti kamu jadi gendut!" celetuk Maya menyindir putrinya.
Diana memanyunkan bibirnya mendengar sindiran ibunya.
"Ayo duduk!" Maya mempersilakan menantunya.
Dio menarik kursi untuk istrinya, lalu ia duduk disampingnya.
"Ibu tadi telepon mama kamu. Makanan apa saja yang kamu suka," ucap Maya.
"Mama tidak masak makanan kesukaan aku?" tanya Dio.
"Kamu 'kan pemakan segalanya, semua makanan sama saja di perutmu itu!" jawab Maya.
"Giliran menantunya saja selalu ditanya!" protes Dio.
"Jangan iri dengan dia, sayang Ibu pada kalian sama besarnya!" kata Maya.
Kelimanya lalu menikmati makanan yang telah dimasak Maya dan dibantu suaminya. Ada balado telur, semur daging, tumis buncis dan bakso ayam, lalapan daun selada serta udang goreng tepung.
"Sering-seringlah kalian ke sini, Kak. Biar tiap hari aku makan enak!" celetuk Diana.
"Tidak apa-apa mereka sering ke sini. Kalau memang Ibu sanggup masak yang banyak, apapun yang diinginkan Laras pasti Ibu akan buatkan!" janji Maya sembari tersenyum ke arah menantunya.
Selepas makan siang, Dio mengajak istrinya ke kamarnya. Begitu memasukinya, Dio merasa adem. Ia lalu mengarahkan pandangannya ke sudut kanan kamarnya.
Diana masuk ke kamar yang tak tertutup itu dan berkata, "Ayah dan ibu sengaja memasangnya karena dengar kalau Kak Laras mau menginap. Biar tak kepanasan."
"Perhatian sekali ayah dan ibu kalian!" ucap Laras begitu terharu.
"Ayah dan ibu memang kayak begitu, Kak!" kata Diana.
"Terima kasih, ya!" ucap Laras kepada adik iparnya.
"Sama-sama, Kak. Aku ke dapur dulu, ya, mau cuci piring!" kata Diana kemudian berlalu.
"Kamu tidak membantu Diana mencuci piring?" tanya Laras karena biasanya di rumah suaminya itu paling senang mencuci peralatan makan yang kotor.
"Biarkan saja. Itu pekerjaannya!" jawab Dio.
Setelah meletakkan koper dan Laras merebahkan tubuhnya di ranjang yang juga telah diganti yang baru. Dio keluar dari kamarnya dan melangkah ke dapur.
Dio menyodorkan 5 lembar uang berwarna merah kepada adiknya yang sedang menyusun peralatan makan di rak piring.
"Apa ini, Kak?" tanya Diana heran.
"Buat beli jajanan," jawab Dio.
"Benar ini untuk aku?" tanya Diana tidak percaya, biasanya Dio cuma memberikan selembar uang 50 ribu buatnya.
"Iya," jawab Dio lagi.
Diana mengambilnya dengan senyuman, ia begitu senang mendapatkan uang sebanyak setengah bulan uang jajan kuliahnya. "Terima kasih, Kak!"
"Layani kami dengan baik, ya!" ucap Dio tersenyum kemudian berlalu.
"Huh...sama saja bohong!" gerutu Diana karena dianggap pelayan.
"Tapi, tak apalah yang penting aku dapat uang!" Diana menatap lembaran uang itu dengan senyum sumringah.