Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.Retakan yang Tak Bersuara
Rivena belajar satu hal penting sejak muda:
jika kau ingin menyembunyikan sesuatu, jangan sembunyikan dengan panik—
sembunyikan dengan rutinitas.
Ia tetap bangun pagi. Tetap mengenakan setelan rapi dengan potongan sempurna. Tetap berbicara tenang di setiap pertemuan. Tidak ada yang berubah di permukaan. Tidak satu pun yang bisa menunjuk dan berkata, ada yang salah.
Namun tubuhnya tidak bisa diajak bersekongkol sepenuhnya.
Ia menolak sarapan dengan alasan rapat. Menjauhkan diri dari aroma tertentu. Minum air putih terlalu sering. Sesekali, tangannya bergerak refleks ke perutnya—lalu berhenti, seperti menyadari kesalahan.
Di depan cermin, Rivena mengikat rambutnya sedikit lebih longgar.
“Kau berlebihan,” katanya pada bayangannya sendiri. “Belum ada yang terlihat.”
Namun ketegangan itu ada—menggantung di bahu, di napas, di jeda sebelum ia menjawab pertanyaan sederhana. Ia kini menghitung langkahnya dengan lebih hati-hati, bukan sebagai strateg, tapi sebagai penjaga rahasia hidup.
Dan rahasia, seberapa rapi pun dibungkus, selalu punya cara untuk mengganggu ritme.
🐺🐺🐺
Varrendra adalah orang pertama yang merasakannya—meski ia tidak tahu apa yang ia rasakan.
Ibunya tetap dingin seperti biasa. Tetap presisi. Tetap menguasai ruangan. Tapi ada sesuatu yang berubah pada cara Rivena menatapnya—lebih lama, lebih dalam, seolah memastikan ia benar-benar baik-baik saja.
“Kau menatapku seperti aku akan menghilang,” kata Varrendra suatu malam.
Rivena mengalihkan pandangan. “Kau terlalu percaya diri.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
Ia mendekat satu langkah. “Kau menghindari beberapa pertemuan. Menyerahkan sebagian kendali ke daddy. Itu tidak seperti dirimu.”
Rivena menegakkan bahu. “Aku mengatur ulang prioritas.”
“Kapan terakhir kali kau melakukan itu tanpa alasan strategis?” tanya Varrendra pelan.
Hening menyerang ruangan.
Untuk sesaat, Varrendra merasa seperti berdiri di depan pintu yang tertutup rapat—ia tidak tahu apa yang ada di baliknya, tapi ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
“Jika ada masalah—” ia memulai.
“Tidak ada,” potong Rivena cepat. Terlalu cepat.
Varrendra mengerutkan kening. Ia tidak memaksa. Ia tidak menuduh. Tapi sejak malam itu, kecurigaan kecil tumbuh—bukan kecurigaan akan kebohongan besar, melainkan perasaan bahwa ibunya sedang melindungi sesuatu dari dirinya.
Dan itu menyakitkan dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
🐺🐺🐺
Di Imperion, Selvina dan Varrendra semakin sering terlihat bersama—bukan karena mereka ingin dipamerkan, tapi karena pekerjaan membuat mereka tak terpisahkan.
Diskusi mereka lebih lama. Diam mereka lebih nyaman.
Selvina menyadarinya lebih dulu.
“Kau berubah,” katanya suatu sore di tangga belakang gedung akademik.
Varrendra menoleh. “Dalam hal apa?”
“Kau lebih… hadir.” Selvina memilih kata dengan hati-hati. “Seolah pikiranmu tidak lagi terpecah sepenuhnya.”
Varrendra tersenyum tipis. “Mungkin aku hanya berhenti berpura-pura.”
Selvina mengangguk, lalu menatapnya lama. “Atau kau menyembunyikan sesuatu.”
Kalimat itu ringan. Hampir bercanda.
Namun Varrendra terdiam satu detik terlalu lama.
Selvina menangkapnya.
“Aku tidak bertanya untuk menginterogasi,” katanya cepat. “Aku hanya—” Ia berhenti. “Aku merasakannya.”
“Apa?” tanya Varrendra.
“Bahwa kau tidak sepenuhnya jujur. Bukan padaku—pada dirimu sendiri.”
Angin berembus pelan. Suasana menjadi rapuh.
“Dan itu membuatku khawatir,” lanjut Selvina. “Karena jika kita berjalan ke arah yang sama… aku perlu tahu apakah kau akan tiba-tiba berhenti.”
Varrendra menatap lurus ke depan. “Aku tidak akan meninggalkan apa yang sudah kupilih.”
Selvina tersenyum kecil. “Itu bukan jawaban.”
Tapi ia tidak menekan. Belum.
🐺🐺🐺
Gevano melihat semuanya.
Ia melihat cara Rivena menolak anggur di acara makan malam. Cara ia duduk lebih tegak. Cara napasnya berubah ketika lelah datang lebih cepat. Ia juga melihat cara Varrendra menatap ibunya dengan kebingungan yang tumbuh diam-diam.
“Kau tidak bisa menyembunyikannya selamanya,” kata Gevano suatu malam ketika mereka hanya berdua.
“Aku tidak berniat selamanya,” jawab Rivena. “Hanya cukup lama.”
“Cukup lama sampai kapan?”
Rivena menatap jendela. “Sampai anakku tidak perlu memilih antara hidupnya dan rahasia ini.”
Gevano mengangguk. “Aku bersamamu.”
Namun dunia jarang memberi waktu pada rahasia untuk matang.
Seseorang memperhatikan perubahan itu—bukan dari lingkaran kekuasaan, bukan dari keluarga.
Melainkan dari tempat yang paling tak terduga.
Seorang staf medis sekolah, yang kebetulan mengenal nama Rivena dari berkas administrasi lama. Sebuah percakapan singkat yang terdengar setengah. Catatan kunjungan yang tidak seharusnya diingat—tapi diingat.
Bisikan kecil mulai bergerak, belum berbentuk tuduhan, hanya rasa ingin tahu.
Dan rasa ingin tahu adalah awal dari kebocoran.
Malam itu, Rivena berdiri sendirian di balkon rumahnya. Tangannya kembali ke perutnya, kali ini tidak ia tarik.
“Tenang,” bisiknya—tidak tahu pada siapa.
Di kejauhan, lampu kota berkelip seperti mata-mata yang tak pernah tidur.
Rahasia itu masih aman.
Untuk sekarang.
Namun Rivena tahu—
semakin ia melindungi,
semakin banyak yang akan mencoba merenggut.
Dan ketika rahasia ini akhirnya terungkap,
ia tidak akan hanya mengubah hidupnya.
Ia akan mengguncang
Varrendra,
Selvina,
dan seluruh keseimbangan
yang susah payah mereka bangun.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍