Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—09
Bumantara selalu memperhatikan setiap gerakan yang sedang di lakukan Arumi, dari cara perempuan itu menjelaskan pelajaran, dari cara dia menyingkapi candaan para siswa di kelas, bahkan senyum yang terpatri di bibir kemerahan itu terlihat memesona.
Sayangnya, bumantara benci saat jam pelajaran berakhir dimana ia tidak bisa melihat pemandangan itu lagi, karena sudah waktunya pulang sekolah. Bumantara masih betah duduk di kursi belajar nya, sembari memperhatikan Arumi yang sedang sibuk merapikan buku-buku dan peralatan lainnya.
Saat ini semua murid diruangan sudah pada keluar, dan hanya menyiksa Bumantara dan Arumi yang masih menunduk sambil merapikan tas nya. "Bumantara, kamu enggak pulang?"
Bumantara yang mendengar pertanyaan wanita itu dengan nada lembut nya, membuat ia tidak bisa menahan senyuman nya, ia bahkan dengan berani beranjak dari duduk nya hanya untuk bisa mengurung Arumi di sela-sela meja dan dinding.
"Anda sangat cantik Arumi Dessfira." Bumantara merendahkan tubuhnya, berbisik di telinga Arumi yang terlihat memerah.
"Jangan kurang ajar, Bumantara," ucap Arumi marah, mendorong badan tegap Bumantara. Namun sama sekali tidak tergerak dari tempat nya, karena tenaga dari tubuh kecil Arumi, tidaklah cukup untuk bisa membuat Bumantara menyingkir.
"Anda menggemaskan, Arumi," kata Bumantara, terkekeh, lalu berbalik berjalan keluar meninggal Arumi yang menahan amarahnya.
Bumantara melangkah kan kedua kaki ke arah belakang — kantin rahasia, dan itu hanyalah milik perkumpulan anak sekolah yang bolos, bahkan merokok.
Getaran ponsel di saku celananya, membuat Bumantara menghentikan sejenak langkah kakinya, lalu mengambil ponsel, dan terlihat si pengirim pesan yang ternyata dari anak buahnya.
"Nona Arumi, berhenti di minimarket bos. Lalu Bumantara mengetik balasan di layar ponselnya dengan cepat."
"Ikuti. Jangan sampai dia kenapa-kenapa. Karena nyawa anda taruhan nya."
Sesampainya di dalam kantin rahasia, Bumantara justru melihat kedua manusia yang sedang menikmati percintaan nya, meski pakaian nya tidak terlepas. "Virgo, hentikan goyangan lo! Bos Buma, sudah datang kesini, dan melihat kelakuan sesat lo," seru Axel, cengengesan, menatap kearah Bumantara yang tetap berwajah datar.
"Tanggung ...," sahut Virgo, sambil mengerang kenikmatan.
Bumantara tidak perduli dengan kelakuan teman-temannya, dia bahkan mengambil tempat duduk yang jauh dari mereka.
"Setan," maki Axel, beranjak dari tempat duduk, dan berjalan kearah Bumantara yang sedang menghisap rokok.
"Kemana Kenzo?" tanya Bumantara, sembari memainkan ponsel nya, karena ia baru saja mendapatkan kabar, bahwa Arumi sudah sampai ke kontrakan nya. Dan sekarang ia mengandalkan, pekerjaan koko cina itu — Brio.
Axel mendesah panjang, "Kencan, seperti biasa," jawab Axel, mencibir, dia kesal karena teman-teman nya sudah memiliki perempuan, sedang dia masih menjomblo.
Hingga suara geraman dan desahan Virgo dan gadis itu, membuat Axel semakin kesal. "Kurang ajar banget lo Virgo!"
"Ah ... Lega nya setelah melepaskan beban cairan," ujar Virgo, terkekeh, sambil berjalan mendekat kearah Bumantara dan Axel yang masih terlihat misuh-misuh.
"Lo jomblo mana tau rasanya," ejek Virgo, sambil menepuk-nepuk pundak Axel.
"Sialan!" Axel menepis tangan Virgo, sehingga membuat Virgo tergelak, sembari menjatuhkan bokong nya di kursi sebelah Bumantara, yang masih betah melihat layar ponselnya.
Virgo menghentikan tawa nya, sambil mengambil sepucuk rokok diatas meja. "Rangga berulah lagi, bos. Rangga dan komplotan geng nya, menyerang Aris bersama pacar nya di jalan sepi, saat ini Aris sedang di rawat di rumah sakit," ujar Virgo, dia masih murka atas kelakuan geng kapak itu yang bisa nya main keroyok kan.
"Ingin balas dendam hm." Bumantara menyesap rokok nya, lalu menghembuskan asap nya kearah wajah Axel yang juga sedang menahan amarah nya.
"Kita memang harus balas dendam bos ... Ini itu enggak bisa di biarkan, nanti si Rangga kapak, itu ngelunjak, meremehkan kita," sahut Axel, menggebu-gebu, dia masih marah mengingat keadaan Aris yang sekarang masih mengenakan gips penyangga tangan nya karena dipukul menggunakan benda tumpul.
Bumantara beranjak dari duduknya, sembari membuang potong rokoknya ke asbak di atas meja. pergerakkan itu menjadi perhatian untuk kedua temannya. "Atur. Tapi, kalian harus menunggu Aris yang ikut turun tangan, dan biarkan dia yang menghajar nya, supaya Aris bisa merasa puas." Bumantara berlalu meninggal kan kedua teman nya yang kesenangan, karena rencana balas dendam untuk Aris di kabul kan.
🌹🌹🌹
Hari semakin malam, dan Bumantara mendapat kan kabar dari Brio, jika Arumi keluar dari kontrakan dengan motornya. Dan Bumantara kembali menyuruh anak buahnya yang lain untuk mengikuti kemana pergi nya Arumi. Sedang Bumantara saat ini sedang di apartemen milik kakak perempuan nya, yang sedang marah-marah karena tunangan nya tidak ada kabar.
"Mbak enggak habis pikir sama Mas Jefra, pergi enggak ada kabar sama sekali, di hubungi berkali-kali tetap enggak bisa. Kemana dia? Membuat Mbak curiga aja," omel Zelie Bwoel, sambil menempelkan benda pipih itu di telinga nya.
Bumantara yang mendengar itu, tidak perduli sama sekali, karena saat ini ia sedang menunggu pesan dari anak buah nya — tentang Arumi.
"Bumantara, Mbak mau kamu ikuti setiap pergerakan, Mas Jefra Pranjha, apapun itu, termasuk saat dia selingkuh. Kamu harus memberi tahukan Mbak," ucap Zelie, menghembuskan napas, sembari menghempaskan tubuhnya di sebelah Bumantara.
"Langsung tinggal kan saja Mbak. Tanpa harus mencari tau tentang laki-laki itu," kata Bumantara dengan santai.
Zelie berdecak, "Mbak mau nya gitu. Tapi, cari cowok seperti Mas Jefra itu sulit untuk dilupakan, Buma," gumam Zelie, sambil menatap keatas.
"Kamu tau kan Buma, kita itu sudah ditinggal ayah, dan yang tersisa hanyalah ibu. Semenjak ayah meninggal setahun yang lalu, hanya Mas Jefra yang selalu memperhatikan Mbak, mengerti tentang perasaan Mbak. Tapi, akhir-akhir ini, Mas Jefra mulai menjauh. Mbak enggak tau kenapa?"
Bumantara melirik Zelie yang terlihat sedih. Pria yang bernama Jefra itu memang selalu bisa membuat Zelie bahagia, pria itu seperti poros kehidupan untuk kakaknya Zelie. Namun, ia tidak ingin ikut campur untuk masalah mereka berdua, karena waktu itu ia pernah menonjok wajah Jefra saat melihat nya bersama wanita lain, selain kakak nya.
Bukannya di bela, ia justru kena semprot oleh Zelie — Mbak nya. Bahkan ibu nya pun ikut memarahi nya, itu memang salahnya karena tidak mencari tahu, ia salah paham. Lalu sekarang Bumantara tidak ingin ikut campur lagi, karena Zelie pasti tau cara nya mengambil sikap dan keputusan ada di tangannya, sendiri, karena dia yang menjalani nya.
"Terus mau Mbak apa?" tanya Bumantara, sambil melirik ponselnya diatas meja yang terdapat notifikasi.
"Sebenarnya Mbak udah lelah sama hubungan ini. Namun, melepaskan Mas Jefra juga membuat Mbak enggak rela," lirih Zelie, mendesah lelah, ia menatap Bumantara dengan miris.
Bumantara mendesah, sambil bangun dari duduknya, setelah mendapat kan pesan dari anak buah nya jika Arumi ada di sekitar apartemen sini.
"Nanti aku cari tau Mbak. Tapi, hasil akhirnya ada di tangan Mbak, seperti apa yang sedang Mbak pikirkan sekarang."
Bumantara menatap Zelie sekilas. "Aku pergi dulu Mbak," kata Bumantara, sambil berlalu meninggal kan Zelie yang masih meratapi nasib nya.
Bersambung....