NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Pelajaran Berharga untuk Mantan Manajer

Sejak matahari terbit di ufuk timur Jakarta, Lantai 15 Gedung Lumina telah berubah menjadi sebuah ruangan yang sunyi namun produktif.

Tidak ada lagi suara tawa yang berlebihan di pantry, tidak ada lagi staf yang bergerombol membicarakan gosip selebriti di jam kerja, dan yang paling mencolok, tidak ada lagi bau asap rokok yang biasanya menyelinap keluar dari sela-sela pintu ruangan manajer.

Nadinta, dalam balutan blazer charcoal yang tegas, telah merombak total ritme kerja divisi tersebut hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam setelah pelantikannya sebagai Pejabat Sementara (Pjs).

Dia tidak perlu berteriak seperti Rudi untuk mendapatkan kepatuhan. Dia hanya perlu menerapkan sistem monitoring digital yang transparan.

Setiap tugas memiliki tenggat waktu yang tercatat di layar besar di tengah ruangan. Nama-nama staf yang terlambat atau belum menyelesaikan tugas akan ditandai dengan warna merah menyala yang bisa dilihat semua orang. Hukuman sosial yang diam namun mematikan.

Di sudut ruangan, di sebuah meja kecil yang biasanya diperuntukkan bagi staf magang atau tenaga bantuan sementara, duduklah Rudi Hartono.

Pria yang seminggu lalu masih menjadi raja kecil di lantai ini, kini terlihat menyedihkan. Kemejanya yang biasanya licin kini tampak kusut di bagian punggung. Wajahnya merah padam, bukan karena panas, melainkan karena menahan amarah yang mendidih di ubun-ubun.

Sejak pagi, Nadinta telah membanjirinya dengan tugas-tugas klerikal yang merendahkan: memverifikasi data penjualan manual tahun 2019, mengecek ejaan di proposal lama, dan merapikan arsip fisik yang berdebu. Tugas-tugas yang dulu selalu Rudi lemparkan ke wajah Nadinta sambil memaki-maki.

"Pak Rudi, silakan ke ruangan saya." Suara Nadinta terdengar lewat intercom, dingin dan tanpa emosi.

Rudi meremas kertas di tangannya. Dia melirik ke arah ruangan kaca di sudut—ruangan yang dulu adalah miliknya. Kini, Nadinta duduk di sana, di kursi kulitnya yang empuk, menatap layar komputer dengan wibawa yang tak terbantahkan.

Hari itu berjalan lambat dan menyiksa bagi Rudi. Setiap detak jam dinding seolah mengejek kejatuhannya.

Pukul 17.30 WIB. Jam pulang kantor sudah lewat tiga puluh menit.

Langit di luar jendela sudah berubah menjadi ungu gelap. Sebagian besar staf sudah mulai membereskan meja mereka, bersiap pulang dengan tenang karena target harian sudah terpenuhi. Namun, Rudi masih tertahan.

Dia baru saja menyelesaikan rekapitulasi data terakhir yang diminta Nadinta. Matanya perih karena seharian menatap layar komputer tabung tua yang resolusinya buruk.

Dengan langkah berat dan ego yang terluka parah, Rudi mengambil tumpukan hasil kerjanya. Dia berjalan melintasi ruangan, merasakan tatapan ekor mata dari mantan anak buahnya.

Rudi berhenti di depan pintu ruangan kaca itu. Dulu, orang harus mengetuk pintunya dengan gemetar. Sekarang, dia yang harus berdiri di luar seperti pengemis.

Dia mengetuk pintu kasar. Tok! Tok!

Tanpa menunggu jawaban, Rudi membuka pintu dan melangkah masuk.

Ruangan itu wangi lemongrass. Sangat berbeda dengan bau apek rokok dan kopi basi yang biasa Rudi tinggalkan. Nadinta sedang duduk santai, membaca sebuah buku tebal tentang strategi bisnis global, seolah dia tidak memiliki beban pekerjaan sama sekali.

"Ini," kata Rudi ketus, melempar map tebal berisi laporannya ke atas meja Nadinta dengan bunyi plak yang keras. "Sudah selesai. Saya mau pulang."

Nadinta tidak terlonjak kaget. Dia menutup bukunya perlahan, menandai halamannya dengan pembatas buku kulit, lalu menatap map yang dilempar Rudi. Kemudian, tatapannya naik ke wajah Rudi.

"Selamat sore, Pak Rudi," sapa Nadinta tenang. "Terima kasih sudah menyelesaikannya."

"Hm," dengus Rudi, berbalik badan hendak pergi.

"Tunggu," suara Nadinta menahannya. "Siapa bilang Bapak boleh pergi?"

Rudi berbalik cepat, matanya melotot. "Apa maksudmu? Ini sudah lewat jam lima! Pekerjaan saya sudah selesai!"

"Benarkah sudah selesai?" Nadinta menarik map itu. Dia membukanya, membalik halaman demi halaman dengan gerakan lambat yang menyiksa. Matanya meneliti setiap kolom dan baris.

Ruangan itu hening, hanya terdengar suara kertas yang dibalik. Rudi berdiri kaku, napasnya memburu. Dia merasa seperti murid sekolah dasar yang sedang diperiksa PR-nya oleh guru yang galak.

Tiba-tiba, Nadinta mengambil pulpen merah. Dia melingkari sebuah angka di halaman ketiga. Lalu di halaman kelima. Lalu mencoret satu paragraf penuh di halaman sepuluh.

Coretan merah itu semakin banyak.

"Pak Rudi," panggil Nadinta tanpa melihat wajah pria itu. "Bapak menggunakan format laporan tahun 2019. Standar perusahaan sudah berubah ke format ISO terbaru sejak bulan lalu. Bapak tidak membaca memo internal?"

"Itu format yang biasa saya pakai!" bentak Rudi defensif. "Isinya sama saja! Cuma beda letak kolom!"

"Di dunia profesional, detail adalah segalanya, Pak. Bapak sendiri yang sering bilang begitu ke saya dulu, bukan?" Nadinta mengangkat wajahnya, menatap Rudi dengan senyum tipis yang mematikan.

"Selain itu," lanjut Nadinta, menunjuk coretan merahnya.

"Di halaman 12, Bapak salah menjumlahkan total retur barang. Selisihnya lima juta rupiah. Di halaman 15, Bapak salah menulis nama vendor. Dan tulisan tangan Bapak di catatan kaki ini... sangat sulit dibaca. Tidak rapi."

Nadinta menutup map itu, lalu mendorongnya kembali ke tepi meja, ke arah Rudi.

"Revisi. Ketik ulang dengan format baru. Perbaiki hitungannya. Dan pastikan rapi."

Wajah Rudi berubah dari merah menjadi ungu. Urat-urat di lehernya menonjol. Ini adalah penghinaan. Dia, yang memiliki pengalaman dua puluh tahun, disuruh merevisi pekerjaan sepele oleh wanita yang baru kemarin sore jadi manajer.

"Kamu..." suara Rudi bergetar karena amarah. "Kamu sengaja ya? Kamu mau balas dendam sama saya?!"

"Balas dendam?" Nadinta memiringkan kepalanya sedikit, ekspresinya pura-pura bingung. "Saya hanya menerapkan standar kualitas, Pak. Standar yang sama yang dulu Bapak terapkan ke saya."

Nadinta berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga dia berdiri bersandar di tepi meja, berhadapan langsung dengan Rudi. Jarak mereka dekat, namun Nadinta terlihat menjulang tinggi karena wibawanya.

"Bapak ingat tiga tahun lalu?" tanya Nadinta pelan, suaranya mengalun seperti mimpi buruk.

"Saat saya baru masuk sebagai staf junior. Bapak menyuruh saya mengetik ulang seratus halaman kontrak hanya karena font-nya salah ukuran satu poin. Bapak melempar kertas itu ke muka saya di depan semua orang."

Rudi terdiam. Ingatan itu samar, karena dia sudah terlalu sering melakukan hal itu pada banyak orang.

"Bapak ingat saat saya sakit tipes, tapi Bapak memaksa saya datang ke kantor untuk membuatkan kopi tamu Bapak karena, quote-unquote, 'kopi buatan OB rasanya seperti air comberan'?" lanjut Nadinta, matanya menatap tajam ke manik mata Rudi.

"Saya mengerjakan tugas Bapak, membereskan kesalahan hitung Bapak, menutupi korupsi kecil-kecilan Bapak di anggaran entertainment, dan apa yang saya dapat? Bapak mencuri ide presentasi saya dan mengklaimnya sebagai milik Bapak di depan direksi."

Nadinta tertawa kecil, tawa yang kering dan dingin.

"Saya tidak sedang balas dendam, Pak Rudi. Saya hanya sedang mengajarkan Bapak sesuatu yang Bapak lewatkan selama menjadi manajer..."

Dia memotong dialognya sendiri. "... etika."

"Saya senior kamu, Nadinta! Jaga mulutmu!" teriak Rudi, menunjuk wajah Nadinta.

"Maksud Bapak, mantan senior?" koreksi Nadinta tajam, menepis tangan Rudi.

"Sekarang, di ruangan ini, di struktur organisasi yang ditanda-tangani Pak Mahendra, saya adalah atasan Bapak. Dan Bapak adalah staf analis data."

Nadinta kembali duduk di kursinya, memutar tubuhnya menghadap komputer, mengakhiri konfrontasi itu secara sepihak.

"Silakan direvisi, Pak. Saya tunggu di meja saya malam ini juga. Jangan pulang sebelum selesai, atau saya akan laporkan sebagai indisipliner ke HRD. Bapak tahu kan, Pak Mahendra sedang mencari alasan untuk memecat Bapak tanpa pesangon?"

Ancaman itu membungkam Rudi. Dia tahu posisinya sangat lemah. Jika dia melawan, dia akan dipecat dengan tidak hormat dan kehilangan uang pensiun.

Rudi mengambil map itu dengan tangan gemetar. Dia menatap Nadinta dengan tatapan penuh racun, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Baik, Bu Manajer," desis Rudi penuh sarkasme, lalu berbalik dan berjalan keluar dengan langkah terseret.

Pintu tertutup.

Nadinta menghembuskan napas panjang. Dia tidak merasa senang menyiksa orang tua, tapi dia tahu Rudi tidak akan pernah belajar jika tidak diberi pelajaran dengan bahasa yang dia mengerti: Kekuasaan.

Nadinta melihat jam dinding. Pukul 18.00.

Saatnya berkemas.

Di luar ruangan kaca, Rudi duduk kembali di meja kecilnya. Dia membuka laptop, matanya buram oleh air mata kemarahan dan frustrasi. Dia mulai mengetik ulang, huruf demi huruf, di bawah pengawasan mantan anak buahnya yang kini menjadi ratu.

Karma tidak pernah salah alamat, dan hari ini, paketnya telah sampai di meja Rudi Hartono.

Roda takdir telah berputar.

1
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
Wida_Ast Jcy
Waduh... bakalan miskin gak tu. atau betul-betul sudah jatuh miskin thor
chemistrynana
Iyah gimana sih mas, bukannya tau diri kamu/Facepalm//Facepalm/
chemistrynana
WHAT THE??? gak modal bet dah🤣🤣
PrettyDuck
udah dikasih hidup kedua, jangan dibuang gitu aja. bales semua sakit yg pernah mereka kasih dinnn.
PrettyDuck
gampang banget dijebaknyaa.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
PrettyDuck
lau sendiri apa rud kalo bukan predator?
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/
MARDONI
KARINA 😭🤍 Sikap sopannya itu kuat banget. Aku ikut ngerasa sedih tapi kagum sama ketenangannya.
MARDONI
NAH INI 😭📅 Karina tipikal rekan kerja sigap.
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu keren, tapi tetap hati-hati ya nadin
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
udah tahu begitu, tapi masih aja lebih mementingkan hobii mu
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
kasih paham dia nad 😙
Greta Ela🦋🌺
Good girl.... aku suka caramu menjawab, Nadinta/Kiss/
Greta Ela🦋🌺
Aku kok malah seneng ya kalau Mahendra sama Nadinta
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
atasan bahlul, nnti begitu beres nnti di akui dia yg buat pasti itu🗿
Greta Ela🦋🌺
Nama cowok ini berwibawa banget ya👀
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
selamat hectic kembali nadinta🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!