NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Pramudya Abraham

"Buka mulutmu."

Kalendra menyodorkan sendok berisi nasi beserta lauknya pada Kanaya. Alih-alih membuka mulutnya dan menerima suapan itu, Kanaya menggigit pipi dalamnya gugup dengan wajah yang bersemu.

"Kalendra, aku bisa sendiri."

Tangan Kanaya terangkat, ingin mengambil alih sendok yang Kalendra pegang, namun suaminya itu gegas menjauhkan tangannya seolah tak mengijinkan.

"Buka."

"Tapi---

"Aku tidak suka mengulang perintah."

Bicara Kalendra memang tidak kasar. Tidak pula mengancam, tetapi dari nadanya Kanaya tahu, laki-laki itu tidak ingin dibantah.

Akhirnya, Kanaya membuka mulutnya pasrah. Mengijinkan Kalendra menyuapinya, meskipun perempuan itu harus mati-matian mengendalikan dadanya yang berdebar-debar. Yahh, walaupun tak bisa Kanaya pungkiri, debaran ini, terasa sangat menyenangkan.

"Aku merasa kembali menjadi remaja yang baru pertama kali jatuh cinta."

"Anak pintar."

Kalendra tersenyum puas. Tangan satunya yang bebas dia gunakan untuk menepuk kepala istrinya dua kali seperti tengah memeberikan apresiasi.

"Ck, perempuan yang kau sebut anak ini, sudah bisa membuat anak." Kanaya berujar asal. Tanpa tahu jika sekarang Kalendra tengah menyunggingkan senyum jenakanya.

"Ohh, ya? Aku baru tahu fakta ini."

Kanaya memutar bola matanya malas. Tidak mengerti jebakan yang suaminya ciptakan.

"Kau ini! Dulu waktu pelajaran biologi kemana saja, hah?" sungut Kanaya berekspresi kesal, yang justru tampak menggemaskan di mata Kalendra.

"Aku adalah perempuan dewasa berusia dua puluh lima tahun. Sangat cukup umur untuk---" ucapan Kanaya menggantung. Muncul semburat merah pada pipinya.

Bibir Kalendra berkedut. Memangkas jaraknya dari sang istri, kedua mata laki-laki itu mengerling menggoda.

"Untuk apa?" ulang Kalendra bernada menggoda. Satu alis laki-laki itu terangkat menyebalkan.

Sialan. Kanaya terjebak oleh kata-katanya sendiri.

"Ck, intinya aku bukan anak-anak." tukas Kanaya salah tingkah. Lantas, ia mundurkan wajahnya, menciptakan jarak untuk keselamatan jantungnya.

"Well, aku tidak akan percaya begitu saja jika tidak ada bukti." balas Kalendra mengendikan bahu.

Alis Kanaya menukik kedua matanya menyipit bingung. "Maksudmu? "

Pada saat itu, Kalendra mengeluarkan seringainya. Netranya menyorot istrinya penuh arti.

"Tentang membuat anak. Mungkin...kita bisa melakukan praktek untuk membuktikannya?"

Kanaya menelan salivanya gugup. Wajahnya semakin memerah. "Prak--praktek apa?"

"Mempertemukan sel sperma dan sel telur. Bukankah...keduanya adalah bahan penting dalam pembuatan anak?"

"Kalendra me-sum!!"

Mati kau Kanaya. Laki-laki di hadapanmu ini, tidak akan melepaskanmu begitu saja. Cari akal supaya dia tidak lagi membahas pembicaraan ini!

"Ak--aku lapar. Kau niat menyuapiku tidak, sih?" alibi Kanaya yang merasa sudah terpojok.

Kalendra tersenyum miring. Jelas dia tahu, Kanaya sedang mengalihkan topik pembicaraan. Mengikuti kemauan sang istri, akhinya dia kembali menyuapi Kanaya dengan telaten. Sesekali ibu jari tangannya menyeka noda yang ada di sudut bibir perempuan itu.

"Kalendra, aku mau ice cream coklat. Tolong belikan yaa..." pinta Kanaya setelah menyelesaikan acara makannya. Tampaknya perempuan itu harus bersyukur, karena Kalendra tidak lagi membahas pembuatan anak.

Kalendra yang semula tengah membereskan piring kotor bekas Kanaya, terdiam sejenak. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.

"Boleh. Tapi tidak gratis."

Seketika raut Kanaya berubah tak bersahabat. "Menyebalkan. Dengan istri sendiri pun kau perhitungan!" dengusnya kesal.

"Bukan perhitungan. Hanya ingin menciptakan simbiosis mutualisme." jawaban Kalendra mendapatkan decakan lidah dari Kanaya.

"Ck, alasan. Ngakunya kaya, istri minta ice cream masih dimintai imbalan."

Kalendra menahan senyum. Kata 'istri' yang terucap dari dari bibir Kanaya berhasil menggelitik hatinya. Selesai dengan urusan piring kotor, laki-laki itu menatap Kanaya dengan seringai menyebalkannya.

"Aku bahkan mampu membelikanmu satu pabrik kalau mau."

"Bohong."

Kalendra menjepit dagu Kanaya. Tidak menyakitkan, tetapi cukup mendominasi.

"Serius."

"Yasudah, buktikan." tantang Kanaya tak gentar. Walaupun, jantungnya sudah memompa darah terlalu cepat dari kadar normal.

Kalendra--- laki-laki itu memang pandai memporak-porandakan hati dan pikiran Kanaya.

"Nanti." suara Kalendra terdengar lirih. Pandangannya turun, menuju bibir sang istri yang masih sedikit pucat. Samar, Kanaya dapat melihat pergerakan jakun Kalendra saat laki-laki itu menelan salivanya.

"Setelah...aku mendapatkan imbalanku."

Detik selanjutnya, hal yang tak pernah Kanaya duga terjadi. Tentang bagaimana Kalendra menyerbu bibirnya. Memanggutnya dalam dan intens. Jika biasanya pergerakannya kasar, kini Kalendra lebih memelankan rirme. Memastikan bahwa Kanaya tidak terluka dengan tindakannya.

Sesaat, Kalendra merasakan dahaga yang deritanya menyusut dengan perlahan.

.

.

Kalendra sudah pergi. Setelah mendapat 'imbalan' yang dia inginkan, laki-laki itu bergegas mencari ice cream yang sempat Kanaya minta. Bibir Kalendra mungkin sudah tidak menempel pada bibirnya. Tetapi, bekasnya masih sangat jelas Kanaya rasakan.

Menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut, Kanaya mengerang frustasi. Malu dengan pikirannya sendiri. Sedari awal, saat dia belum menyadari ini adalah kehidupan pertamanya, sentuhan Kalendra selalu berhasil membuatnya tak berkutik.

Dulu, Kanaya kira ini adalah perasaan Kanaya asli yang tertinggal. Nyatanya, perasaan itu adalah miliknya sendiri. Kanaya....memang sudah jatuh hati pada Kalendra.

Mungkin, dulu dia tidak menyadari perasaannya. Mendekati Kalendra atas perintah ibunya. Tetapi, mana ada orang dewasa yang mau disetir? Di balik kata 'mematuhi perintah ibu' Kanaya juga mengingkan Kalendra. Dan hal itu adalah mutlak.

Suara pintu terdengar terbuka. Kanaya kira itu adalah Kalendra, maka dengan senyum merekah ia bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap pada arah pintu dengan antusias.

Namun, saat menyadari bahwa yang datang bukan Kalendra--- senyum Kanaya hilang. Menatap laki-laki berjas putih yang didampingi oleh seorang suster itu terkejut. Sudah sangat lama sejak terakhir Kanaya melihat wajahnya.

"Waktunya pemeriksaan." ucap laki-laki itu formal, layaknya dokter dan pasiennya saat sudah berada di samping bangkar Kanaya.

Kanaya pikir, laki-laki itu memilih berpura-pura untuk tidak saling mengenal. Atau...mungkin saja, dia memang sudah lupa.

Jadi, layaknya laki-laki itu bersikap seperti orang asing, Kanaya juga melakukan hal yang sama.

Kemudian, suster itu menyerahkan suntik berisi vaksin atau...entahlah, Kanaya tidak tahu apa namanya. Laki-laki itu menerimanya, lantas menyentuh tangan Kanaya.

Sejenak, Kanaya merasa seperti tersengat. Bahkan dia tidak merasakan apa-apa saat jarum tajam itu menembus kulit lengan atasnya.

"Tekanan darah pasien normal. Luka-luka pada tubuh juga hampir mengering. Wahh, anda mengalami penyembuhan yang cepat, Nyonya." seru suster menjabarkan laporannya.

"Dokter, pemeriksaan sudah selesai." ujar suster itu memberitahu.

Laki-laki itu menatap Kanaya penuh arti, lantas dia membuka suaranya. "Saya tahu. Kau pergilah terlebih dahulu. Ada...hal pribadi yang harus saya bicarakan dengan...Nyonya Kanaya."

Suster itu sempat terdiam. Namun, tak urung dia mengangguk kaku, kemudian meninggalkan ruangan. Menyisakan Kanaya dan laki-laki dari masa lalunya.

"Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu." ujar laki-laki itu lirih sepeninggal suster yang tadi bersamanya.

Kanaya enggan menjawab. Ia alihkan perhatiannya ke arah lain. Kanaya sudah tidak sakit hati karena masa lalu mereka. Hanya saja, tatapan laki-laki itu membuatnya tak nyaman.

"Kanaya, apa kau bahagia bersama Kalendra?"

Bibir Kanaya gatal untuk tidak tersenyum sinis. Pertanyaan macam apa itu. Apakah seorang pengkhianat pantas melontarkan pertanyaan tentang Kebahagiaannya.

"Sangat bahagia."

"Apa lebih bahagia daripada saat kau bersamaku?"

Kanaya tak mengerti. Kenapa nada suara laki-laki itu terdengar seperti orang yang terluka. Harusnya Kanaya yang terluka di sini. Dia yang telah dikhianati.

"Tanpa kujawab, aku yakin kau sudah tahu jawabannya."

"Kanaya, bagaimana jika aku mengatakan, aku tidak baik-baik saja sejak hari itu?"

Kini, Kanaya memberanikan diri untuk menatap laki-laki itu. Melontarkan tatapan tajam tak terimanya.

"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" suara Kanaya terdengar tak bersahabat.

"Jelas-jelas kau yang telah mengkhianatiku, Pramudya!!"

Marah. Jelas sekali Kanaya marah. Setelah apa yang mantan kekasihnya lakukan, bisa-bisanya dia berbicara seolah dia adalah korban.

"Kanaya----" nafas Pram tercekat.

"Aku dijebak."

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!