Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyegel kembali Roh kuno
Wajah Profesor Jirapat yang pucat kini berkerut dalam ekspresi kejam. Matanya yang kosong menatap Freen dan Nam dengan kebencian purba. Tangan Profesor itu mengepal erat pada Kunci Emas.
"Nam, ambil rantang medis itu! Dia merasuki tubuhnya!" teriak Freen.
Nam, meskipun ketakutan setengah mati, bertindak cepat. Ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sesuatu yang Freen minta ia siapkan: sebuah wadah kecil berisi garam kasar yang sudah didoakan Biksu dari kuil.
Freen menarik Mustika Merah Delima, memegangnya di telapak tangannya. Mustika itu terasa panas, memancarkan energi protektif yang kuat.
"Kau pikir mainan batumu bisa menghentikanku, Manusia Rendah?! Aku adalah Penjaga Kuno yang menguasai hutan ini! Aku akan menguasai dunia ini!" Suara gemuruh itu keluar dari tenggorokan Profesor Jirapat, dan tiba-tiba, Profesor itu bangkit dengan kekuatan tak terduga.
Profesor Jirapat—atau lebih tepatnya, Roh Kuno yang merasukinya—melompat dengan kecepatan luar biasa ke arah Freen. Ini adalah serangan fisik, didorong oleh kekuatan spiritual.
Freen, dengan dorongan energi dari Mustika Merah Delima, berhasil menghindar. Ia tidak hanya menghindari serangan, tetapi ia merasakan kekuatan dan ketangkasan yang melebihi batasnya. Ini baru namanya alat yang berguna! batin Freen.
"Nam! Taburkan garam itu padanya!" teriak Freen, menghindari ayunan tangan Profesor yang seharusnya lumpuh itu.
Nam bergetar, tetapi ia segera melemparkan segenggam garam yang sudah didoakan ke arah tubuh Profesor Jirapat.
Garam itu tidak melukai tubuh fisik Profesor, tetapi begitu menyentuh, ia mengeluarkan desisan spiritual yang mengerikan. Roh Kuno itu berteriak kesakitan, terhuyung-huyung mundur.
"Kau tidak bisa mengalahkanku dengan garam! Aku butuh tubuh ini!" raung Roh Kuno itu melalui mulut Profesor.
"Aku tidak butuh mengalahkanmu! Aku hanya perlu mengambil Kunci Segel itu!" balas Freen.
Freen tahu dia tidak bisa terus menghindari serangan. Dia harus melakukan serangan balasan, dan itu harus terfokus pada Kunci Emas.
Freen bergegas maju, dengan kecepatan yang didukung oleh Mustika Merah Delima. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk membanting tubuh Profesor Jirapat ke tanah.
Ini adalah pertarungan fisik yang aneh; Freen bertarung melawan fisik Profesor Jirapat yang diperkuat oleh entitas spiritual.
Brakk!
Profesor Jirapat terjatuh, terengah-engah. Namun, genggamannya pada Kunci Emas tetap kuat.
Freen menindih Profesor Jirapat, memegang pergelangan tangannya kuat-kuat. Ia menempelkan Mustika Merah Delima langsung ke tangan Profesor yang memegang Kunci Emas.
Begitu Mustika itu menyentuh kulit Profesor dan kunci yang dipegangnya, terjadi ledakan energi spiritual. Cahaya merah marun dari Mustika berbenturan dengan aura gelap Roh Kuno.
Roh Kuno itu berteriak kesakitan luar biasa.
"Tidak! Mustika Kebatinan! Kau tidak bisa mengikatku! Segel ini milikku!"
Freen menggunakan seluruh fokusnya, memaksakan energi Mustika ke Kunci Emas. Ia bisa merasakan tarikan spiritual yang luar biasa, Roh Kuno itu mencoba melawan dengan sekuat tenaga.
"Kunci ini bukan milikmu! Kau terperangkap di bawah kuil ini! Kembalikan segelnya!" teriak Freen, memaksakan kekuatannya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Freen berhasil mengendurkan genggaman Profesor Jirapat. Ia menarik Kunci Emas itu dengan keras.
Sret!
Kunci Emas itu terlepas dari tangan Profesor Jirapat. Begitu Kunci Emas berada di tangan Freen, Roh Kuno itu mengeluarkan raungan terakhir.
Tubuh Profesor Jirapat kejang hebat. Aura gelap Roh Kuno itu melesat keluar dari tubuh Profesor, berputar-putar di udara, marah, sebelum akhirnya dipaksa kembali ke bawah tanah, menuju sumber reruntuhan.
Freen ambruk ke tanah, terengah-engah. Mustika Merah Delima terasa dingin dan sangat lelah.
Profesor Jirapat terbaring diam, matanya kembali normal, hanya terisi oleh kelelahan dan kebingungan.
"Freen! Kau berhasil!" seru Nam, berlari mendekat.
Freen memegang Kunci Emas yang kini terasa berat dan berdenyut di tangannya.
"Belum, Nam. Kita berhasil mengusir Roh Kuno itu dari tubuhnya. Tapi Kunci ini harus segera kembali ke reruntuhan. Jika tidak, Roh itu akan keluar sepenuhnya dari segelnya," kata Freen, suaranya lemah.
"Di mana reruntuhan itu?" tanya Nam.
Freen melihat ke dalam hutan. Meskipun Roh Kuno sudah pergi, mata batin Freen menunjukkan jalur energi gelap yang memimpin ke lokasi kuil kuno.
"Di sana. Kita harus pergi sekarang. Kita harus mengembalikan segelnya!" putus Freen, meskipun tubuhnya terasa sangat lelah. Tugas Freen Sarocha, sang pengembali segel, belum usai.
Freen terengah-engah, tubuhnya terasa remuk setelah pertarungan fisik dan spiritual yang intens. Ia memegang erat Kunci Emas di satu tangan dan Mustika Merah Delima di tangan yang lain.
Profesor Jirapat terbaring tidak sadarkan diri, kelelahan total setelah tubuhnya dirasuki.
"Nam, kita tidak bisa meninggalkan Profesor di sini," kata Freen, suaranya lemah.
Nam segera berlutut di samping Profesor.
"Dia aman sekarang, Freen. Tapi kita tidak punya waktu. Kita harus membawa Kunci Emas ini kembali ke tempatnya. Beri tahu aku lokasinya."
Freen menunjuk ke arah utara, menembus
rimbunnya hutan.
"Aku bisa melihat energinya. Sekitar dua ratus meter dari sini. Ada struktur batu kuno. Itu pasti kuilnya."
Nam mengangguk tegas. "Aku akan menandai lokasi ini dan meninggalkan sesuatu agar tim SAR bisa menemukannya nanti. Kau pegang Kunci Emas itu, Freen. Aku akan memimpin jalan."
Nam mengambil sedikit kain cerah dari ranselnya dan mengikatnya di pohon terdekat sebagai penanda, lalu ia membantu Freen berdiri. Freen, meskipun lemah, tahu tugasnya adalah yang paling vital.
Mereka mulai berjalan menembus semak belukar yang semakin tebal, dipandu oleh intuisi Freen dan jalur energi gelap yang ia lihat. Semakin dekat mereka, aura kuno dan dingin semakin menusuk.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah area terbuka yang suram. Di sana, tersembunyi di balik tanaman merambat dan lumut tebal, berdiri sisa-sisa reruntuhan batu kuil kuno.
Pusat reruntuhan itu adalah sebuah altar batu persegi, di tengahnya terdapat sebuah cekungan dengan bentuk yang sama persis dengan Kunci Emas yang dipegang Freen. Tanah di sekitar cekungan itu tampak hangus, seolah ada energi jahat yang baru saja meledak di sana.
"Ini dia. Cekungan itu adalah tempat Kunci Emas seharusnya berada," bisik Nam.
Freen berjalan ke altar batu itu. Dia bisa merasakan tarikan spiritual yang kuat dari cekungan itu, dan pada saat yang sama, dia merasakan getaran dari bawah tanah—seolah Roh Kuno itu sedang berjuang untuk membebaskan diri sepenuhnya.
"Tidak! Jangan segel aku lagi, Manusia! Aku berhak bebas! Kunci itu milikku!" Suara gemuruh Roh Kuno itu terdengar di benak Freen, disertai gelombang energi spiritual yang berusaha mendorongnya menjauh.
Freen menahan rasa sakit di kepalanya. Dia mengangkat Kunci Emas.
"Aku adalah utusan Takdir! Segel ini harus kembali ke tempatnya!" teriak Freen, menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menangkis serangan mental itu.
Dengan tangan yang gemetar, Freen memasukkan Kunci Emas ke dalam cekungan di altar batu.
Klik!
Kunci Emas itu masuk dengan sempurna. Begitu segel terpasang, cahaya keemasan terang menyelimuti seluruh reruntuhan, menembus pohon-pohon di sekitarnya. Freen dan Nam harus memejamkan mata.
Freen merasakan guncangan hebat di bawah kakinya—Roh Kuno itu berjuang keras untuk terakhir kalinya. Namun, cahaya keemasan itu menekan, mengunci, dan menyegel energi jahat itu kembali di bawah tanah.
Aura kegelapan di sekitar mereka seketika lenyap, digantikan oleh keheningan dan ketenangan yang mendalam.
Freen membuka matanya. Reruntuhan itu kini tampak damai, disinari oleh cahaya pagi yang lembut.
Ia menoleh ke Nam. "Sudah selesai, Nam. Segelnya kembali. Roh Kuno itu kembali terkunci."
Nam menghela napas lega, ambruk di tanah.
"Kita berhasil, Freen. Kita benar-benar berhasil."
Freen tersenyum, kelelahan, tetapi hatinya dipenuhi kepuasan. Ia telah memenuhi misi yang diberikan Mae Nakha.
Batin Freen: "Misi selesai, Manajer Dewi. Aku mengembalikan segelnya. Sekarang, aku butuh istirahat total. Dan jangan kirimi aku alamat baru setidaknya selama seminggu!"
Freen tidak menerima balasan verbal. Namun, ia merasakan kehangatan lembut dari Mustika Merah Delima, yang seolah memberinya izin untuk beristirahat.
"Ayo, Nam. Kita harus laporkan penemuan kita ke polisi dan tim SAR, lalu kita pulang," kata Freen, membantu Nam berdiri.
Freen Sarocha, sang pengembali segel, meninggalkan reruntuhan kuil kuno dengan perasaan lega. Ia tahu, meskipun ia adalah alat, ia telah menyelamatkan kota itu dari ancaman spiritual yang besar.