NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Taman yang Hilang dalam Waktu

Bab 21: Taman yang Hilang dalam Waktu

Bara berdiri kaku di pinggir pendopo. Kakinya yang gemetar bukan lagi karena kelelahan, melainkan karena getaran aneh yang merambat dari ubin marmer putih ke tulang punggungnya.

Di depannya, duduk bersimpuh di atas tikar pandan halus, adalah seorang wanita. Dia mengenakan kemben batik motif Semen Rama—lambang kehidupan yang bersemi—dan selendang sutra transparan yang melayang-layang seolah tidak terikat gravitasi. Wajahnya ayu, teduh, dengan sepasang mata yang bentuknya persis seperti mata Bara.

Namun, wanita itu tidak memijak tanah. Tubuhnya berpendar cahaya biru muda, agak transparan. Dia bukan manusia daging, melainkan Sukma (proyeksi jiwa).

"Ibu..." suara Bara tercekat. Tenggorokannya terasa kering.

Sosok itu tersenyum. Senyum yang membuat rasa sakit di sekujur tubuh Bara lenyap seketika.

"Mendekatlah, Bara. Waktuku tidak banyak. Proyeksi ini hanya bertahan selama Prana di dalam Peti Teratai masih tersisa."

Bara melangkah mendekat, lalu jatuh berlutut di depan wanita itu. Dia ingin memeluknya, tapi dia tahu tangannya hanya akan menembus udara kosong.

"Namaku Dyah Gayatri," ucap wanita itu lembut. "Dan jika kau melihat pesan ini, berarti kau sudah cukup dewasa... dan cukup gila untuk menembus Pasukan Terakota ayahmu."

Bara menunduk. "Ayah... Raden Wijaya?"

"Benar." Gayatri menghela napas, matanya menerawang. "Dunia di luar sana pasti memberitahumu bahwa ayahmu adalah pemberontak yang gagal. Bahwa dia mencoba menggunakan kekuatan siluman jahat untuk menghancurkan kerajaan."

"Buku sejarah bilang begitu," jawab Bara.

"Sejarah itu ditulis oleh pemenang, Nak. Dan pemenangnya adalah para pengkhianat: Catur Wangsa."

Wajah Gayatri berubah serius. Taman yang indah di sekitar mereka meredup, seolah merespons emosi sang Sukma.

"Dengarkan baik-baik, Bara. Kebenaran ini harus kau ketahui sebelum kau melangkah lebih jauh."

[Flashback Narasi: Kebenaran Era Sembilan Surya]

"Dua puluh tahun yang lalu, Kekaisaran Arcapada diambang kehancuran. Bukan karena perang saudara, tapi karena ancaman dari Benua Hitam di seberang lautan. Mereka memiliki pasukan penyihir dan monster yang ingin menjajah tanah kita.

Ayahmu, Raden Wijaya, adalah Putra Mahkota saat itu. Dia tahu kekuatan militer kita tidak cukup. Dia mencari cara untuk melindungi rakyatnya. Dia pergi ke Kawah Gunung Purba dan bertemu dengan Hyang Garudeya.

Garuda bukanlah monster yang ditangkap. Dia adalah Penjaga Kuno Nusantara. Ayahmu membuat pakta dengannya: Meminjamkan tubuhnya sebagai wadah kekuatan api matahari (Surya) untuk membakar armada musuh yang datang.

Rencananya berhasil. Musuh mundur ketakutan melihat 'Dewa Api' yang turun dari langit.

Tapi, kemenangan itu membuat takut para Jenderal dan Menteri—leluhur dari Wangsa Agnimara, Tirtamaya, Bayu Aji, dan Giri Wana. Mereka takut Wijaya menjadi terlalu kuat dan menghapus sistem oligarki mereka.

Jadi, mereka meracuni ayahmu saat perjamuan kemenangan. Racun Sianida Jiwa. Racun itu tidak membunuh tubuh, tapi memutus ikatan jiwa dengan Garuda.

Garuda mengamuk karena wadahnya rusak. Dia membakar istana.

Para pengkhianat itu menggunakan momen itu untuk memfitnah ayahmu sebagai 'Raja Gila yang dirasuki Iblis'. Mereka menggunakan Sembilan Pendekar Dewa (yang juga ditipu) untuk menyegel Garuda.

Tapi Garuda terlalu kuat untuk dimusnahkan. Dia butuh wadah baru. Wadah yang memiliki darah Wijaya.

Kau, Bara.

Saat itu kau baru lahir. Mereka menyegel Garuda ke dalam tubuh bayi merah yang tidak berdosa. Mereka berharap tubuhmu akan meledak karena tidak kuat menahan energi Dewa, sehingga Garuda dan pewaris takhta mati bersamaan.

Tapi kau bertahan. Kau hidup."

[Kembali ke Masa Kini]

Bara mendengarkan dengan tangan terkepal erat. Kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah.

"Jadi..." suara Bara bergetar menahan amarah. "Selama ini aku hidup sebagai 'Pembawa Sial', dihina sebagai sampah... padahal akulah yang menyelamatkan pantat mereka dari ledakan nuklir Garuda?"

"Benar," jawab Gayatri sedih. "Mereka membuangmu ke Lembah Kabut, berharap kau mati perlahan atau menjadi gila. Tapi Ki Awan—sahabat setia ayahmu—menyelamatkanmu dan mengawasimu dari jauh."

Bara mengangkat wajahnya. Mata emasnya menyala.

"Garuda... kau tahu semua ini?" tanya Bara dalam hati.

Di dalam pikirannya, Garuda mendengus. "Tentu saja. Tapi kalau aku memberitahumu saat kau masih kecil, kau pasti sudah lari bunuh diri ke istana dan mati konyol. Aku butuh kau hidup, Mitra."

Bara kembali menatap ibunya.

"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, Bu? Membalas dendam? Membakar Catur Wangsa?"

"Itu pilihanmu," jawab Gayatri. "Tapi ingat pesan di kitab itu: Keseimbangan. Jika kau membakar mereka dengan amarah, kau akan menjadi tiran baru. Sama seperti mereka."

Gayatri menunjuk dada Bara.

"Peti Teratai ini bukan hanya berisi pesan. Di dalam dimensi ini, waktu berjalan lebih lambat. Satu hari di sini sama dengan satu jam di dunia luar. Gunakan tempat ini untuk menyempurnakan Langkah Surya-mu. Tubuhmu sekarang seperti gelas retak yang menampung lahar. Kau butuh memperkuat gelas itu."

Cahaya tubuh Gayatri mulai memudar dari kaki ke atas.

"Waktuku habis, Anakku..."

Bara panik. Dia berdiri, mencoba meraih tangan ibunya. "Tunggu! Jangan pergi lagi!"

"Aku tidak pernah pergi. Darahku mengalir di nadimu," Gayatri tersenyum, air mata cahaya menetes dari matanya. "Bara... hiduplah dengan bangga. Bukan sebagai pangeran yang terbuang, tapi sebagai manusia yang merdeka."

"IBU!"

Sosok Gayatri pecah menjadi ribuan kunang-kunang cahaya, lalu tersedot masuk kembali ke dalam Peti Teratai.

Bara berdiri sendirian di pendopo yang sunyi.

Hening.

Lalu, sebuah teriakan panjang dan menyakitkan memecah kesunyian dimensi itu. Teriakan seorang anak yang kehilangan segalanya, sekaligus teriakan seorang pria yang menemukan tujuannya.

"AAAARRGGGHHH!!!"

Bara memukul lantai marmer hingga retak. Dia menangis. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Bara menangis meraung-raung. Dia membiarkan semua rasa sakit, rindu, dan ketidakadilan itu keluar.

Satu jam berlalu.

Bara bangkit. Matanya bengkak, tapi tatapannya sudah berubah. Dingin. Tajam. Fokus.

Tidak ada lagi keraguan.

"Garuda," panggil Bara.

"Ya, Raja Muda?" jawab Garuda, kali ini nadanya penuh hormat.

"Ajari aku. Jangan tahan apa-apa lagi. Hancurkan tubuhku kalau perlu. Aku akan membangunnya kembali menjadi baja."

"Dengan senang hati."

[Montage Latihan: 7 Hari di Dimensi Teratai (7 Jam di Dunia Nyata)]

Di dalam dimensi waktu itu, Bara melatih tubuh dan jiwanya tanpa henti. Dia tidak tidur. Dia tidak makan (energi Prana di sini murni, cukup untuk menopang hidup).

· Hari 1-2: Bara membuka Chakra Kedua: Surya Nadi (di jantung). Rasanya seperti serangan jantung terus menerus. Dia harus menyelaraskan detak jantungnya dengan ritme api Garuda.

· Hari 3-4: Bara berlatih fisik melawan bayangan Pasukan Terakota yang ia panggil kembali. Kali ini dia tidak menggunakan senjata. Dia melatih Raga Besi-nya hingga kulitnya berubah warna menjadi keemasan saat diaktifkan.

· Hari 5-6: Bara mempelajari Sembilan Langkah Surya: Langkah Kedua - Matahari Sepenggalah (High Noon). Teknik ini memadatkan api menjadi laser tipis yang bisa menembus apa saja.

· Hari 7: Bara bermeditasi. Menyatukan semuanya. Dia mencapai terobosan.

BOOM!

Aura emas meledak dari tubuh Bara, menghancurkan atap pendopo.

Dia membuka mata.

Tingkatan Kultivasi: Agni Yuda (Level 4) Tahap Menengah.

Fisik: Setara Bumi Pala (Level 5).

Bara berdiri. Dia merasa ringan. Peti Teratai Emas di tangannya kini terasa kosong, energinya sudah habis diserap.

"Sudah waktunya," kata Bara.

Dia berjalan menuju gerbang keluar.

Di luar sana, Kapten Raka dan Pasukan Elang Hitam pasti masih menunggu. Tujuh jam bagi mereka hanyalah waktu singkat untuk memasang jebakan.

Tapi mereka tidak tahu. Tikus yang masuk ke lubang itu... kini keluar sebagai Naga.

[POV: Kapten Raka - Di Luar Gerbang]

Tujuh jam telah berlalu. Matahari mulai condong ke barat.

Kapten Raka duduk di atas batu, mengasah pedangnya. Di sekeliling gerbang, pasukannya telah memasang Jaring Perangkap Petir berlapis tiga. Golem-golem tanah liat sudah dihancurkan menjadi debu (butuh waktu lama, tapi pasukan elit akhirnya menang).

"Dia pasti kehabisan bekal di dalam," kata wakil kapten. "Atau mati karena mekanisme pertahanan."

"Dia akan keluar," jawab Raka yakin. "Dan saat dia keluar... tembak kakinya. Jangan beri ampun."

Tiba-tiba, tabir energi di gerbang bergetar.

"Posisi tempur!" teriak Raka.

Dua puluh prajurit Elang Hitam (bantuan tambahan sudah datang) mengarahkan busur dan tombak ke mulut gerbang.

Tabir itu pecah.

Bara melangkah keluar.

Penampilannya berbeda. Jubah lusuhnya sudah dibuang. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang seperti dipahat dari emas. Tato segel di dadanya tidak lagi hitam, tapi merah menyala permanen. Topeng peraknya berkilau.

Dan di tangannya, dia memegang Kujang Kembar yang kini diselimuti api putih—bukan merah.

"Kalian masih di sini?" tanya Bara. Suaranya tenang, tapi memiliki gema wibawa yang membuat kuda-kuda para prajurit meringkik ketakutan. "Setia sekali."

"Serang!" teriak Raka. "Jaring Petir!"

Perangkap aktif. Listrik ribuan volt menyambar ke arah Bara dari segala arah.

Bara tidak menghindar. Dia hanya menghentakkan kakinya ke tanah.

"Sembilan Langkah Surya: Langkah Kedua - Ledakan Corona!"

WHUUUM!!!

Bukan ledakan api yang menyebar, tapi gelombang panas padat yang meledak keluar dari tubuh Bara seperti dinding.

Jaring listrik itu hancur seketika. Tombak-tombak besi meleleh di udara.

Dua puluh prajurit Elang Hitam terlempar seperti daun kering ditiup badai. Zirah mereka hangus.

Hanya Kapten Raka yang masih berdiri, menahan gelombang panas itu dengan pedangnya, meski dia terseret mundur sepuluh meter.

"Apa..." Raka menatap dengan horor. "Tujuh jam... bagaimana kau bisa naik dua tingkat dalam tujuh jam?!"

Bara berjalan mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang membara di tanah batu.

"Kau bertanya bagaimana?"

Bara menghilang. (Kecepatan supersonik).

Muncul tepat di depan wajah Raka.

"Karena aku bukan lagi buronan yang lari," bisik Bara.

BUGH!

Satu pukulan ke ulu hati. Tanpa teknik rumit. Hanya kecepatan dan kekuatan mutlak.

Zirah Raka hancur. Dia muntah darah, matanya memutih, dan tubuhnya ambruk ke tanah.

Bara berdiri di tengah-tengah pasukan elit yang telah dikalahkannya dalam satu jurus.

Dia menatap ke arah barat. Ke arah Ibu Kota.

"Tunggu aku, Catur Wangsa," gumam Bara. "Dewa Kujang sudah bangun."

---

Glosarium & Catatan Kaki Bab 21

Sukma: Istilah Nusantara untuk proyeksi jiwa atau roh yang terpisah dari raga namun masih memiliki kesadaran.

Sianida Jiwa: Racun fiksi tingkat tinggi yang menyerang ikatan spiritual (Soul Link) antara manusia dan Khodam/Siluman, menyebabkan kegilaan atau kematian spiritual.

Surya Nadi: Jalur energi yang berpusat di jantung, mengatur sirkulasi panas ke seluruh tubuh. Membuka ini berarti memiliki stamina tempur yang nyaris tak terbatas.

Corona: Lapisan terluar atmosfer matahari. Di sini digunakan sebagai nama teknik pertahanan area.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!