hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Musim dingin telah sepenuhnya membungkus Boston dengan selimut salju yang tebal. Bagi sebagian mahasiswa Harvard, ini adalah waktu untuk meringkuk di perpustakaan dengan cokelat panas, namun bagi Safira, ini hanyalah hari biasa di mana ia harus menembus angin yang menusuk tulang demi mengejar kelas Statistika Bisnis tingkat lanjut.
Beberapa bulan berada di Cambridge telah mengukuhkan posisi Safira sebagai "Si Jenius yang Tak Tersentuh". Di departemen bisnis, namanya selalu berada di urutan teratas dalam setiap ujian. Namun, popularitas akademiknya berbanding terbalik dengan kehidupan sosialnya. Safira tetaplah Safira; dia seperti bayangan yang bergerak di antara pilar-pilar batu universitas—cantik, misterius, dan sangat dingin.
Banyak yang mencoba mendekatinya, mulai dari putra pengusaha minyak hingga ketua organisasi mahasiswa, namun Safira memperlakukan mereka semua sama: seperti angin lalu.
"Safira! Tunggu!"
Langkah kaki yang terburu-buru di atas salju membuat Safira menghentikan langkahnya di depan gerbang Widener Library. Tanpa menoleh pun, dia tahu siapa itu. Isabella, seorang mahasiswi asal Brazil yang memiliki energi lima kali lipat manusia normal. Isabella adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menyerah meskipun sudah ratusan kali mendapatkan perlakuan dingin dari Safira.
"Aku sudah bilang, Isabella, aku tidak ikut kerja kelompok di kafe. Aku lebih suka mengerjakannya sendiri," ucap Safira datar saat gadis berambut ikal itu berhasil menyusulnya dengan napas tersenggal.
"Ayolah, Safira! Ini bukan soal tugas saja. Aku hanya ingin kita berteman. Kamu selalu sendirian, apa kamu tidak bosan bicara dengan buku terus?" Isabella tersenyum lebar, menampakkan lesung pipitnya yang ramah.
Safira menatap Isabella dengan tatapan kosong yang biasanya membuat orang lain ciut, tapi Isabella justru membalasnya dengan cengiran. "Aku punya privasi yang harus dijaga. Dan aku tidak butuh teman untuk merasa lengkap."
"Oke, oke, es balok," Isabella tertawa, sama sekali tidak tersinggung. "Tapi setidaknya ambil ini. Ibuku mengirimkan brigadeiros dari Brazil. Ini cokelat terbaik yang pernah kamu makan. Anggap saja ini upeti agar kamu tidak terlalu galak padaku besok di kelas."
Isabella menyodorkan kotak kecil berisi manisan cokelat ke tangan Safira, lalu melambaikan tangan dan berlari pergi sebelum Safira sempat menolaknya. Safira menatap kotak itu sejenak, lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa ekspresi, meski sebenarnya ada sedikit rasa aneh yang menggelitik hatinya. Ketulusan Isabella adalah sesuatu yang asing baginya.
Namun, tidak semua orang sehangat Isabella. Di koridor gedung fakultas, kehadiran Safira sering kali memicu bisik-bisik yang kurang menyenangkan. Terutama dari sekelompok mahasiswi yang merasa tahtanya terancam.
"Lihat itu, si 'Anak Beasiswa' favorit Profesor Miller," sindir Chloe, seorang gadis pirang yang selalu tampil dengan barang-barang branded dari ujung kepala hingga kaki. Ayahnya adalah pemilik jaringan hotel mewah di Eropa.
Chloe berdiri menghalangi jalan Safira bersama teman-temannya. Ia merasa iri karena nilai ujiannya dikalahkan telak oleh Safira, padahal ia sudah menyewa tutor pribadi paling mahal. Belum lagi, perhatian para pria di kampus yang biasanya terpusat padanya, kini terbagi karena kecantikan Safira yang terkesan "mahal" meski tanpa merek terkenal.
"Dengar ya, Safira. Kamu mungkin pintar secara teori, tapi di dunia nyata, orang-orang sepertimu hanya akan menjadi pelayan bagi orang-orang sepertiku," ucap Chloe dengan nada merendah. "Baju tanpa merekmu itu membuat pemandangan di kampus ini jadi kumuh."
Safira berhenti tepat di depan Chloe. Dia tidak marah. Baginya, Chloe hanyalah versi lain dari Maya yang lebih berisik namun kurang cerdik.
"Baju bermerek tidak bisa menutupi otak yang kosong, Chloe," suara Safira terdengar tenang namun sangat tajam. "Jika kamu merasa pemandangannya kumuh, saranku adalah tutup matamu. Atau mungkin, fokuslah pada nilaimu yang bahkan tidak bisa menyentuh angka rata-rata kelas. Permisi."
Safira melangkah melewati mereka begitu saja. Chloe menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram, wajahnya merah padam karena malu. Dia tidak menyangka bahwa gadis "miskin" itu memiliki keberanian untuk membalasnya dengan kata-kata yang begitu menusuk.
......................
Tanpa disadari Safira, di sebuah gedung tinggi yang menghadap langsung ke arah alun-alun kampus, seseorang tengah memperhatikannya melalui teropong jarak jauh. Pria itu berdiri di kegelapan ruangan, hanya cahaya bulan yang menyinari sebagian wajahnya yang tegas.
"Dia masih tetap sama, bukan?" gumam pria itu pelan.
Di belakangnya, seorang asisten dengan setelan jas rapi berdiri dengan sikap hormat. "Benar, Tuan. Nona Safira telah mengukuhkan posisinya sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya. Dia juga menggunakan nama samaran dan hidup sangat sederhana di apartemennya."
Pria itu menurunkan teropongnya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sulit diartikan. "Dia mencoba menghapus jejak masa lalunya. Tapi permata tetaplah permata, di mana pun dia diletakkan, dia akan bersinar dan mengundang pencuri."
"Apakah kita perlu melakukan intervensi, Tuan? Mengingat Chloe dan kelompoknya mulai mengganggu kenyamanannya?" tanya sang asisten.
"Tidak perlu," jawab pria itu dingin. "Safira tidak butuh bantuan untuk menghadapi lalat seperti mereka. Terus awasi saja. Pastikan tidak ada ancaman nyata yang mendekatinya. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa membangun dunianya sendiri tanpa bantuan siapapun."
......................
Malam harinya, di apartemennya yang sunyi, Safira duduk di depan tiga monitor besar yang menyala terang. Di sinilah identitas aslinya sebagai seorang pebisnis berdarah dingin kembali muncul.
Ia melakukan panggilan terenkripsi melalui aplikasi khusus. Tak lama, wajah Andi, orang kepercayaannya di Indonesia, muncul di layar.
"Malam, Nona Safira," sapa Andi dengan nada profesional.
"Laporan, Andi," jawab Safira singkat.
"Perkembangan kafe dan restoran The Heritage di Jakarta dan Bali sangat stabil. Laba bersih bulan ini naik 15%. Semua berjalan sesuai rencana ekspansi yang Nona buat sebelum berangkat," lapor Andi. "Dan mengenai S-Tech... kami baru saja menyelesaikan tahap akhir dari sistem keamanan data untuk klien di Singapura. Mereka sangat puas."
Safira menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang teratur. S-Tech adalah perusahaan teknologi yang ia bangun secara rahasia, jauh dari pantauan Maheswara Group. Inilah aset sesungguhnya yang ia banggakan—sesuatu yang ia bangun benar-benar dari nol.
"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun nama keluarga Maheswara yang terhubung dengan aliran dana S-Tech. Gunakan perusahaan cangkang di Cayman jika perlu," instruksi Safira.
"Dimengerti, Nona. Lalu, bagaimana dengan perkembangan Maheswara Group? Tuan Bima dan Tuan Raka sering menanyakan kabar Nona kepada saya."
"Biarkan saja mereka bekerja keras di sana. Selama laporannya hijau, aku tidak akan ikut campur. Beri tahu mereka aku sibuk dengan tugas kuliah," ucap Safira datar.
Setelah menutup panggilan, Safira terdiam sejenak. Ia mengambil cokelat brigadeiro pemberian Isabella tadi dan mencicipinya sedikit. Rasanya sangat manis, sangat berbeda dengan kopi pahit yang biasanya ia minum setiap malam.
Ia menatap salju yang turun di luar jendela. Di Boston, dia adalah Safira si anak beasiswa. Di Indonesia, dia adalah penguasa di balik layar. Namun di dalam hatinya, dia hanyalah seorang gadis yang masih belajar bagaimana caranya menerima sepotong cokelat dari seorang teman.
...****************...
jangan lupa like dan komen nya ya guysss🥰🥰😘
itu di depan kan?
"mimbar" kayak acara resmi,
kenapa gak diganti aja "panggung drama" gitu
ceritanya bagus jalan alurnya juga menarik bukan seperti kebanyakan novel yang lain terlalu lambat alurnya atau pun novel kecepatan