Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM
"Deal, kita pacaran," ucap Axel ringan. Seolah memutuskan hal yang paling sederhana di dunia ini.
Tubuh Mikhasa sontak menegang. Matanya membelalak, lalu berkedip cepat, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Axel… mencium bibirnya? Sial.
“Bajingan!!! Kenapa cium bibirku?!” Mikhasa meledak, nadanya murka. Tangannya terangkat, menunjuk wajah Axel dengan gemetar. “Sinting!!”
“Itu tanda kalau kamu milikku, Mikha.” Axel menjawab santai, lalu meraih telunjuk Mikhasa dan menggenggamnya lembut, seolah tak ada yang salah.
Mikhasa buru-buru menarik tangannya, menelan ludah keras-keras. Kepalanya penuh riuh. “Aku nggak mau punya skandal dengan pria kaya kayak kamu. Aku janji bakal lunasin semua hutang-hutangku… secepatnya.” Mikhasa panik.
“Aku udah bilang, 'kan..." Axel mencondongkan tubuhnya, suaranya berat dan mantap, “kalau itu nggak bisa dibayar dengan apapun… selain diri kamu.”
Dan sebelum Mikhasa sempat protes, Axel kembali menutup jarak. Bibirnya jatuh di bibir Mikhasa sekali lagi. Sedikit memaksa kali ini.
Mikhasa hampir sekarat ditempat.
🍀🍀🍀
Di dalam kamar, Mikhasa menyikat giginya dengan brutal. Sikat naik-turun berkali-kali, seolah ingin menghapus bekas bibir Axel dengan pasta gigi.
“Kurang ajar. Bisa-bisanya dia nyium bibirku gitu aja,” gumamnya sambil melotot ke cermin. Pantulan dirinya di kaca menatap balik. Rambut berantakan, busa pasta gigi di bibir.
"Ya, Tuhan. Ternyata dia CEO beneran. Pantes dari awal lihat, auranya udah beda," gumamnya merasa panik sendiri. Lalu teringat ciuman Axel di bibirnya. "Dua kali. Dia ngelakuin itu dua kali!!" Mikhasa menjambak rambutnya dengan kedua tangan. Merasa semakin frustasi.
“Aku salah nyewa orang, dia orang kaya... orang kaya mesum dan gila,” desisnya kesal. Lalu kembali menyikat, lebih keras. Gosok lagi, dan lagi.
Akhirnya ia menyerah. Melempar sikat gigi, lalu keluar kamar mandi. Ia menjatuhkan diri ke kasur. Tangannya meraba-raba ponsel di samping bantal, membuka layar.
Matanya langsung melebar ketika melihat notifikasi WhatsApp. “Selamat istirahat, Sweety,” tulis Axel dua belas menit yang lalu, dengan emotikon senyum yang nyebelin.
“Dasar sinting,” balas Mikhasa pendek, lalu buru-buru memblokir nomornya. Dia takut setengah mati.
Mikhasa menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Aku harus tidur tenang malam ini. Petentang-petenteng di nikahan mantan kan udah sukses…” Ia berhenti. Mendadak ingatan tentang Axel kembali menyeruak.
Ia mendesah, lalu membuka kalkulator di ponselnya. Jemarinya lincah menghitung. “Ya Tuhan, sewa seorang Axel Mercier berapa coba? Mobil mewahnya, kartu hitamnya…”
Mikhasa mendongak, menatap plafon kamar. “Oh my… satu tahun bisa lunas nggak ya? Atau lima belas tahun? Atau dua puluh tahun? Yaelah kayak nyicil rumah dong."
Ia duduk, mengacak rambutnya sendiri. “Atau aku terima aja tawaran jadi pacarnya ya? Daripada nyicil hutang lima belas tahun kan?”
Tapi sedetik kemudian ia menggeleng cepat. “Tidak. Tidak. Nggak boleh punya hubungan sama pria kaya. Pria kaya biasanya banyak skandal dan punya sikap yang nggak masuk akal. Bisa-bisa aku mati berdiri sebelum lunas lima belas tahun…”
Ia menubruk bantal, wajahnya terbenam di sana. “Gila. Hidupku kenapa mendadak jadi kayak short drama gini…”
Malam ini, kesedihan karena di tinggal menikah pacar dan sahabatnya tidak begitu terasa menyakitkan. Rasa itu, diganti dengan perasaan was-was dan cemas karena Armin yang ternyata adalah Axel. Parahnya lagi, cowok itu menciumnya begitu saja.
Pria yang baik, tidak akan tiba-tiba mencium bibirnya begitu saja kan? Ini jelas pelecehan.
Mikhasa frustasi.
🍀🍀🍀
Pagi ini, Mikhasa bangun dengan wajah kusut. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur gara-gara sibuk menghitung hutang dan kemungkinan cicilan lima belas tahun ke depan.
Setelah rapi dengan pakaian kantor, ia segera turun ke lobi. Melangkah tenang seperti biasa. Namun, langkahnya langsung terhenti saat sebuah suara memanggilnya.
“Pagi, Sweety,” suara itu terdengar santai.
Mikhasa menoleh cepat. Jantungnya lompat ke tenggorokan saat melihat Axel duduk manis di sofa tunggu, lengkap dengan kemeja rapi khas orang kaya. Refleks, Mikhasa buru-buru memalingkan wajah dan mempercepat langkahnya.
“Eh, kenapa buru-buru?” Axel berdiri, langkahnya panjang mengejar Mikhasa. “Ayo, kuanter.”
Mikhasa mengibaskan tangan, malas menanggapi. Ia langsung melambai ke taksi kosong yang lewat. Begitu pintu terbuka, ia masuk cepat-cepat. Sayangnya, sebelum pintu sempat ditutup, seseorang ikut masuk tanpa permisi.
“HEI!!” Mikhasa hampir meloncat dari kursi. Ia menunjuk wajah Axel yang kini duduk nyaman di sampingnya.
“Jalan, Pak,” ucap Axel tenang pada sopir.
“Ke Perusahaan Luminary Dataworks,” sahut Mikhasa cepat, memastikan taksi langsung melaju.
Ia lalu menoleh tajam. “Kenapa ke sini?” tanya Mikhasa menatap Axel. “Aku belum punya uang buat bayar hutang. Atau bagaimana kalau kucicil?"
Axel terkekeh pelan, matanya berkilat nakal. “Emangnya siapa yang mau nagih hutang?” katanya santai. “Aku jemput kamu pagi-pagi begini cuma buat nganterin kamu berangkat kerja. Aku pacar yang baik, ’kan, Sweety?”
“Berhenti panggil aku Sweety!” Mikha menatapnya galak. “Aku bukan popok bayi!”
Sopir taksi menahan tawa, nyaris tersedak.
Sementara Axel hanya menyandarkan tubuhnya santai ke jok, senyum puas terbit di wajahnya.
“Jadi kamu kerja di LD—Luminary Dataworks?” tanya Axel.
Sekejap, ia bisa memperkirakan satu hal, Mikhasa jelas punya otak yang encer. Menjadi karyawan di perusahaan itu bukan hal mudah, biasanya hanya mereka dengan akademik yang sangat bagus yang bisa masuk.
Mikhasa tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke samping, memperhatikan jalanan yang mulai ramai. Benarkan, kalau orang kaya itu menyeramkan. Nih contohnya, tiba-tiba nongol di apartemen pagi-pagi begini. Maksa ikut naik taksi. Uh mengerikan, pikirnya.
“Oh ya,” Axel kembali buka suara, “kenapa kamu blokir nomorku?”
“Aku nggak mau diteror debt collector,” jawab Mikhasa datar, tetap tanpa menoleh.
Axel terkekeh kecil. “Aku udah bilang, hutang kamu lunas.”
Mikhasa langsung menoleh cepat, matanya menyipit. “Tapi syarat kamu sangat konyol."
“Nggak konyol,” Axel menatapnya serius, tapi sudut bibirnya melengkung. “Bukannya malah bikin kamu bahagia? Hutang lunas… plus dapat pacar ganteng kaya raya.”
Mikhasa mendengus, menatap ke luar jendela lagi. “Bahagia apanya. Rasanya kayak baru daftar paket horor seumur hidup. Gila!"
Axel menatap Mikhasa lama, seolah matanya enggan berpindah. Gadis itu sibuk menatap jalanan dari balik kaca mobil.
Wajah Mikhasa… benar-benar mirip dengan seseorang dari masa lalunya. Liora. Bahkan cara gadis itu berpaling pun sama persis, seakan bayangan yang kembali hidup. Bedanya... Liora selalu lembut, tenang, dan penuh kesabaran. Sementara Mikhasa, ia blak-blakan, keras kepala, dan selalu siap meledak kapan saja.
Sesampainya di halaman kantor, Mikhasa buru-buru merogoh dompet. Tapi sebelum uang sempat berpindah tangan ke sopir, jemarinya ditahan Axel.
“Nanti aku yang bayar,” ucap Axel lembut.
“Enggak.” Mikhasa cepat menepis tangannya. Wajahnya keras, penuh tekad. “Aku nggak mau punya hutang lagi sama kamu.”
Ia menyodorkan uang ke sopir, memberinya dua kali lipat. “Pak, tolong antar dia ke rumah sakit jiwa. Kayaknya dia kehabisan obat.”
Axel sempat terdiam, lalu tawanya pecah. “Kamu.…” Ia menggeleng tak percaya, sebelum tiba-tiba menarik lengan Mikhasa, membuat gadis itu jatuh tepat ke dadanya.
“Obatnya ada di sini, kenapa harus ke rumah sakit?” bisiknya, wajahnya mendekat.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipinya, membuat kepala Axel sedikit menoleh.
“Kurang ajar!!” teriak Mikhasa dengan wajah memerah, jantungnya berpacu kencang. Ia buru-buru keluar dari taksi, berlari masuk ke gedung tanpa menoleh lagi.
Axel tetap memandanginya sampai bayangannya lenyap di pintu lobi. Lalu ia bersandar santai di kursi, pipinya yang memerah digosok sebentar.
“Jalan, Pak,” katanya ringan.
“Kemana, Tuan?” sopir menoleh hati-hati.
“Ke rumah sakit,” jawab Axel datar.
Sopir sontak terbahak, nyaris nggak bisa menahan diri.