Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. Gelisah Yang Tak Pernah Ia Kenal
Sejak kepergian Adit dari Desa Sukamerta, hidup Naya kembali berjalan seperti sediakala. Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari benar-benar menampakkan diri. Setelah mengambil air wudu dan menunaikan salat Subuh, ia bersiap menuju kebun seperti yang selalu ia lakukan sejak lama.
Langkah-langkahnya tetap sama, rutinitasnya pun tidak berubah. Tidak ada yang tampak berbeda dari luar.
Namun, di dalam hatinya, Naya merasakan sesuatu yang asing.
Saat menyiram tanaman, tangannya tetap bergerak seperti biasa, tetapi pikirannya sering kali melayang jauh. Ia beberapa kali tersadar ketika air siraman meluber karena ia terlalu lama termenung. Dalam benaknya, wajah seorang pria dari kota itu muncul begitu saja, tanpa ia undang. Cara bicaranya yang tenang, sikapnya yang sopan, dan senyum yang sederhana kembali terlintas dengan jelas.
Naya menghela napas pelan, berusaha mengusir bayangan itu. Ia tidak terbiasa memikirkan seseorang dengan cara seperti ini. Selama ini, kebun selalu menjadi pusat perhatiannya. Namun kini, bahkan di tempat yang paling menenangkannya itu, pikirannya tak lagi sepenuhnya tenang.
Baru kali ini Naya merasakan kegelisahan semacam itu. Selama hidupnya, ia tidak pernah dekat dengan seorang pria. Tidak pernah ada yang menemaninya berjalan, tidak ada percakapan panjang yang membuat waktu terasa cepat berlalu. Hidupnya selama ini berjalan lurus dan sederhana—antara rumah, kebun, dan ibadah. Ia merasa cukup dengan semua itu.
Namun setelah mengenal Adit, ia mulai mengenal perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ada rindu yang datang tanpa ia sadari. Ada kegelisahan yang membuat dadanya terasa sesak, seolah ada pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban. Naya sering bertanya pada dirinya sendiri, apakah perasaan seperti ini wajar bagi seorang perempuan sepertinya.
Ia merasa bingung. Ia tidak tahu sejak kapan hatinya mulai terusik. Yang ia tahu, setiap kali mengingat Adit, ada rasa hangat sekaligus takut yang menyusup bersamaan. Takut karena ia tidak mengerti apa arti semua ini, dan takut karena ia belum siap memberi nama pada perasaan itu.
Di sela-sela pekerjaannya, Naya sering terdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke arah kebun yang membentang luas, sementara pikirannya bergulat dengan perasaan yang tak ia kenal. Ia mencoba menenangkan diri dengan mengingat kembali prinsip hidup yang selama ini ia pegang. Bahwa hidup harus dijalani dengan tenang, tanpa tergesa, dan selalu berada dalam batas yang benar.
Namun, sekeras apa pun ia berusaha, perasaan itu tetap ada. Ia menyadari bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah. Dan perubahan itu membuatnya gelisah, karena ia tidak tahu ke mana perasaan ini akan membawanya.
Hari itu, Naya pulang ke rumah dengan langkah yang sedikit lebih berat. Ia meletakkan peralatan kebunnya dan duduk sejenak di teras, menatap langit yang perlahan berubah warna. Dalam hatinya, ia tahu bahwa kegelisahan ini bukan sekadar perasaan biasa.
Malam itu, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Naya berdiri di depan cermin kecil di kamar tidurnya. Lampu redup membuat bayangan wajahnya terlihat semakin sederhana. Ia menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama, seolah sedang mencari sesuatu yang tak pernah ia temukan.
Gamis longgar berwarna gelap membungkus tubuhnya dengan sederhana. Hijab yang menutup rapat kepalanya terpasang tanpa hiasan apa pun. Wajahnya bersih tanpa riasan, hanya menyisakan kelelahan yang samar. Tidak ada yang istimewa, pikir Naya. Ia hanyalah gadis desa biasa, dengan latar belakang hidup yang sederhana.
Pikirannya kembali pada Adit. Pria itu berbeda jauh darinya. Dari cara berbicara saja, Naya bisa merasakan bahwa Adit terbiasa hidup di lingkungan yang lebih luas. Sikapnya tenang, tutur katanya terjaga, dan kehadirannya selalu memberi kesan nyaman. Perbandingan itu membuat hati Naya menciut. Ia merasa jarak di antara mereka terlalu jauh, seolah berasal dari dua dunia yang berbeda.
“Inikah yang namanya jatuh cinta?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Naya segera menggeleng pelan, seakan ingin menolak pikiran itu. Ia tidak berani memberi nama pada perasaan yang belum ia pahami sepenuhnya. Ia takut salah menafsirkan, takut berharap terlalu jauh, dan takut melanggar batas yang selama ini ia jaga.
Dengan langkah pelan, Naya mengambil air wudu lalu menggelar sajadah. Dalam sujud nya, ia menumpahkan semua kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya. Ia memohon petunjuk dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Ya Allah,” bisik nya lirih, “jika perasaan ini bukan kebaikan, jauhkanlah dari hatiku. Namun jika ini ujian, kuatkan lah aku untuk menghadapinya.”
Doa itu menjadi satu-satunya tempat Naya berani jujur. Ia tidak pernah menceritakan kegelisahannya kepada siapa pun. Bagi Naya, urusan hati adalah sesuatu yang terlalu pribadi untuk dibagi sembarangan.
Hari-hari berikutnya kembali ia isi dengan bekerja di kebun. Tanah, tanaman, dan udara pagi menjadi pelarian yang menenangkan. Saat tangannya sibuk mencabut gulma atau memanen sayuran, pikirannya sedikit lebih teratur. Kebun selalu berhasil membuatnya merasa kembali pada dirinya sendiri.
Namun kegelisahan itu tidak sepenuhnya hilang. Ia hanya tersimpan rapi di sudut hati, menunggu waktu untuk muncul kembali.
Beberapa hari sebelum Adit kembali ke kota, pria itu sempat meminta nomor ponselnya. Saat itu, Naya sempat ragu. Ia bahkan merasa malu ketika harus menunjukkan ponsel jadul miliknya. Ponsel itu tidak memiliki layar sentuh, hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan singkat.
Namun Adit tidak mempermasalahkannya. Ia hanya tersenyum dan berkata bahwa itu tidak menjadi masalah baginya. Sikap itu membuat Naya merasa sedikit lega.
Sejak kepulangan Adit ke kota, komunikasi mereka terjalin lewat telepon. Tidak sering, hanya seminggu sekali. Percakapan mereka pun sederhana—tentang kabar, kegiatan sehari-hari, dan hal-hal kecil yang sepele. Tidak ada rayuan, tidak ada kata-kata manis yang berlebihan.
Anehnya, justru kesederhanaan itu yang membuat Naya merasa nyaman. Ia mulai menunggu panggilan itu tanpa sadar. Setiap kali ponselnya berdering dan nama Adit muncul di layar kecilnya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Meski begitu, ia selalu berusaha menjawab dengan suara setenang mungkin.
Kedekatan itu tumbuh perlahan, tanpa disadari oleh keduanya.
Waktu berjalan tanpa terasa. Dua bulan telah berlalu sejak pertemuan terakhir Naya dan Adit di Desa Sukamerta. Meski jarak memisahkan mereka, komunikasi yang terjalin lewat telepon perlahan menumbuhkan kedekatan yang tidak pernah Naya duga sebelumnya. Mereka tidak berbicara setiap hari, tetapi setiap panggilan terasa cukup untuk membuat hati Naya hangat sekaligus gelisah.
Percakapan mereka selalu sederhana. Adit sering menanyakan kabar Naya dan kebunnya, mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap cerita kecil yang Naya sampaikan. Naya pun mendengarkan kisah Adit tentang pekerjaannya di kota, meski tidak selalu ia pahami sepenuhnya. Tidak ada janji, tidak ada kata-kata manis yang melampaui batas. Justru karena itulah, Naya merasa aman.
Namun di balik rasa nyaman itu, kebingungan terus tumbuh. Naya sadar, kedekatan ini bukan lagi sekadar obrolan biasa. Ia mulai mengenali nada suara Adit, tahu kapan pria itu sedang lelah, dan kapan ia sedang tersenyum meski hanya lewat suara. Kedekatan semacam ini membuat Naya bertanya-tanya, ke mana arah hubungan mereka sebenarnya.
Malam itu, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Naya duduk sendirian di ruang tengah rumahnya. Lampu redup menerangi ruangan sederhana itu. Ia baru saja menutup mushaf Al-Qur’an ketika ponselnya berdering pelan di sampingnya. Nama Adit muncul di layar kecil ponsel itu.
Naya menarik napas dalam sebelum menjawab.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Nay,” suara Adit terdengar lebih serius dari biasanya.
Awalnya, percakapan mereka berjalan seperti biasa. Adit menanyakan kabar Naya, hasil kebunnya, dan cuaca di desa. Naya menjawab dengan tenang, meski ada perasaan tidak enak yang perlahan menyusup. Ada jeda-jeda panjang dalam percakapan mereka, seolah Adit sedang menimbang sesuatu.
“Nay,” panggil Adit akhirnya.
“Iya, Mas?” jawab Naya pelan.
Adit terdiam sejenak. “Aku mau bicara sesuatu yang penting.”
Jantung Naya berdegup lebih kencang. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat.
“Tentang apa, Mas?”
“Aku sudah berpikir lama,” lanjut Adit dengan suara mantap. “Sejak pulang dari desa, aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu.”
Naya menelan ludah. Kata-kata itu membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka Adit akan berbicara sejauh itu.
“Aku tidak mau main-main,” ujar Adit lagi. “Aku tidak mau hubungan kita hanya sebatas telepon tanpa arah.”
Naya terdiam. Pikirannya kosong. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata seolah menghilang.
“Nay,” suara Adit terdengar semakin tegas, “mau kan kamu menikah denganku?”
Pertanyaan itu terasa seperti hentakan keras di dada Naya.
“Apa… Mas menikah?” ucapnya terbata-bata.
“Iya,” jawab Adit tanpa ragu. “Aku serius.”
Naya menunduk. Matanya berkaca-kaca. Pernikahan bukan perkara kecil baginya. Itu bukan sekadar ikatan, melainkan keputusan besar yang menyangkut hidup dan akhirat. Ia belum pernah memikirkan hal sejauh itu, apalagi dengan seseorang yang baru ia kenal dalam waktu singkat.
“Aku… aku belum siap,” katanya lirih. “Aku belum pernah memikirkan ini sebelumnya.”
“Aku paham,” balas Adit dengan nada tenang. “Aku tidak memaksa. Aku hanya ingin kamu tahu niatku.”
Hening menyelimuti percakapan mereka. Naya merasakan dadanya sesak oleh perasaan yang bercampur aduk—terkejut, takut, dan bingung.
“Boleh aku minta waktu?” tanya Naya akhirnya.
“Tentu,” jawab Adit. “Aku tunggu jawabanmu.”
Percakapan itu diakhiri dengan salam singkat. Naya masih duduk di tempatnya, ponsel di tangan, pandangan kosong menatap lantai. Malam itu, ia tidak langsung tidur. Ia duduk lama dalam diam, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Selamat sore selamat membaca...