Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Kelembutan
Mata Nathan mengerjap cepat. Dia bertanya, "Maksudnya kau mau bercinta denganku?"
Nabila mengangguk dan tersenyum. "Aku harusnya tidak meminta hal begini, tapi kesepian sungguh menyiksaku," ungkapnya sambil menatap Nathan. Dia melihat lelaki itu tampan gelisah.
"Tapi aku nggak akan memaksamu. Kita nggak harus melakukan--" ucapan Nabila terpotong saat Nathan mencium bibirnya. Pertanda kalau sesuatu sudah dimulai saat itu.
Nabila membalas ciuman Nathan. Hingga perlahan ciuman yang tadinya di awali dengan lembut, kini semakin memanas. Terdengar suara decapan lidah mereka yang sibuk bergulat dengan intens. Sesekali Nabila dan Nathan akan saling memiringkan kepala agar bisa berciuman dengan leluasa.
Salju di luar semakin deras. Hawa dingin semakin menusuk. Namun tidak cukup mampu menghentikan kegiatan panas yang dilakukan Nathan dan Nabila.
Satu per satu keduanya saling melepaskan pakaian. Sampai tubuh mereka tidak tertutupi oleh satu helai benang pun.
Nathan mulai menciumi Nabila dengan lembut. Dadi ceruk leher, dada, hingga gundukan kembar nan kenyal milik Nabila.
Sementara itu Nabila memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Sentuhan Nathan terasa geli namun begitu candu dan nikmat. Memberikan gelitikan tajam di perutnya. Kenikmatan semakin Nabila rasakan saat mulut dan lidah Nathan yang panas bermain di ujung buah dadanya. Lelaki itu akan menghisap serta menggigit pelan benda tersebut.
"Aah..." mulai terdengar suara desahan pelan dari mulut Nabila. Kedua kakinya menggeliat tak karuan. Apalagi saat dirinya merasakan jari-jemari Nathan mulai bermain di aset pribadinya.
Perlahan bibir Nathan semakin turun ke bawah. Dia bermain lidah di antara kedua kaki Nabila. Saat itulah Nabila bisa merasakan kenikmatan luar biasa.
Nathan bisa melihat wajah Nabila yang sudah memerah padam. Perempuan itu juga mendongakkan kepala. Tak lama terdengar suara erangan nyaring dari Nabila. Perempuan tersebut merasakan puncak pertamanya. Pinggangnya terangkat dan tubuhnya bergetar dalam sesaat.
Nabila merasa dibuat dimabuk kepayang. Ia tak pernah merasakan kenikmatan seperti sebelumnya, dan tentu saja sentuhan kasar suaminya tidak sebanding dengan itu.
"Itu luar biasa, Nath... Luar biasa..." entah kenapa air mata Nabila bercucuran. Entah karena begitu merindukan sentuhan hangat dan terharu, atau karena merasa bersalah.
"Kenapa kau menangis? Nggak sakit kan?" Nathan sontak khawatir.
Nabila menggeleng. "Aku nggak tahu... Mungkin karena aku sudah terbiasa merasakan sentuhan kasar... Rasanya sakit sekali, Nath... Aku bahkan sering dibuat berdarah..." lirihnya.
Mata Nathan berkaca-kaca. Dia segera membawa masuk ke dalam pelukannya. "Terus kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak mencoba menceraikannya?"
"Itu bukan hal mudah, Nath. Lukman benci kalah, dan jika aku menceraikannya, maka dia akan merasa kalah. Kalau dia merasa begitu, maka dia tidak akan segan menghancurkanku. Suamiku itu bukan orang biasa. Sebagai istrinya, aku tahu itu..." jelas Nabila sembari berusaha menghentikan tangis. Dia melepas pelukan Nathan.
"Oke, kita akan pikirkan itu nanti. Bolehkah kita lanjutkan yang tadi?" tanya Nathan.
Nabila mengangguk sambil tersenyum. Dia telentang, sedangkan Nathan dalam posisi di atas badannya. Keduanya perlahan menyatu dan mulai mendesah bersama.
"Ah! Aah! Aaah..." Nabila mendesah nikmat dengan leluasa. Ia peluk punggung Nathan dengan jari-jemari yang merekah, bahkan kuku-kukunya yang diwarnai kotek merah itu tak segan mencengkeram punggung lelaki itu.
Nathan menghujam Nabila dengan cepat dan dalam. Tidak ada kekasaran atau pukulan yang dirasakan Nabila, dan itulah yang membuat semuanya terasa begitu nikmat.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti