NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: OFFLINE MODE, GLITCHES, & THE AESTHETICS OF ABSENCE

Disclaimer: Bab ini mengandung keindahan dalam jarak, seni merawat diri yang tidak instagrammable, dan sedikit stalking yang sehat (maybe).

---

< One Month Later >

Bandung, 05.47. Kinan terbangun karena dingin. Kabut pagi menyelinap lewat jendela kamar kos sementaranya. Dia meraih ponsel. No new notifications. Hanya widget cuaca yang menunjukkan 16°C dan satu quote yang dia setel sendiri: "You can't force a connection. You can only tend to your own signal."

Rutinitasnya sekarang berbeda. Bangun, meditasi 10 menit (tanpa merekam), kerja di studio desain, eksplorasi kafe sendiri, baca buku fisik. Analog dengan sengaja. Feed Instagram-nya sekarang penuh dengan foto-foto diam: tekstur tembok tua, secangkir kopi yang separuh diminum, bayangan pohon di atas sketsa bukunya. Aesthetic of solitude. Tagar #DigitalMinimalism.

Tapi di tengah kesengajaan ini, ada glitch.

Setiap hari, pukul 19.00, dia refleks membuka chat dengan Ardi. Jempolnya melayang di atas keyboard, lalu berhenti. Apa yang harus dibicarakan? Update magang? Dia yang sudah bilang butuh waktu sendiri. Cuaca? Terlalu dangkal. Dia menutup aplikasinya. Signal withheld.

Jakarta, 22.18. Ardi sedang di rooftop kosan. Jakarta di bawahnya berkedip seperti server raksasa yang tidak pernah tidur. TA-nya sudah selesai. Proyek musik indie game-nya juga. Dia punya waktu luang. Dan waktu luang itu terasa... loud.

Dia menghabiskan waktu dengan mempelajari hal baru yang tidak berguna: modular synthesis. Menyambung kabel-kabel virtual untuk menciptakan suara dari nol. Prosesnya teknis, sunyi, dan memuaskan. Hasilnya dia unggah ke SoundCloud tanpa deskripsi. Art for the sake of artifact.

Tapi ada glitch di sistemnya juga.

Setiap kali dia membuat pola ritme yang bagus, instingnya berkata, "Kinan pasti suka yang ini." Dia hampir membagikannya. Tapi berhenti. Mereka sedang dalam "offline mode". Mengirim track musik bisa seperti ping yang mengganggu. Dia menyimpannya di folder "On Hold".

---

< The Aesthetic of Missing Someone >

Kinan tidak menulis essay tentang rindu. Tapi dia membuat moodboard digital pribadi di Pinterest rahasia. Board-nya berjudul "Subtle Frequencies". Isinya: visual yang mengingatkannya pada Ardi tanpa pernah menampilkan wajahnya.

· Foto jembatan penyebrangan yang bergoyang (seperti waktu mereka syuting dadu challenge).

· Palet warna biru tua dan oranye karat (warna hoodie Ardi dan warna kopi di Klotok).

· Ilustrasi dua titik koneksi WiFi yang saling mendekat tapi belum tersambung.

Ini adalah cara Gen Z merindu: dikurasi, diberi tema, disimpan rapi, tapi tidak pernah dipamerkan.

Sementara Ardi, merindunya lebih audial. Dia membuat playlist Spotify rahasia bernama "Latency". Berisi lagu-lagu dengan jeda yang panjang antara not, suara atmosfer, dan sample percakapan yang tidak jelas. Deskripsi playlist-nya hanya: "for the spaces between".

---

< The Accidental Sync >

Sebenarnya, mereka masih terhubung melalui artifact yang mereka tinggalkan.

Kinan, tanpa sengaja, memasukkan rekomendasi lagu instrumental Ardi, "Splitter", ke dalam playlist "Focus Flow"-nya. Spotify algorithm, yang selalu mengamati, merekomendasikan lagu itu ke "Discover Weekly" Ardi.

Ardi melihat notifikasi: "Your track 'Splitter' is featured in a user's public playlist." Dia penasaran, membukanya. Dan melihat username: @kinandcurates.

Dia tersenyum kecil. Lalu, diam-diam, dia membuat playlist baru bernama "Echo Location" dan menambahkan satu lagu instrumental baru yang dia buat, berjudul "Ping". Lagu itu hanya berisi satu melodi sederhana yang diulang-ulang dengan delay, seperti sinyal sonar.

Dia tidak mengirim chat. Hanya menambahkan lagu. A sonic breadcrumb.

Kinan menemukan lagu itu seminggu kemudian. Dia mendengarkannya di kereta menuju studio. Dia mengerti. "Ping". Sebuah sinyal untuk mengecek koneksi. Dia tidak membalas dengan chat. Dia membalas dengan aksi: dia membuka aplikasi notes dan mulai menulis draft essay baru tentang "The Etiquette of Digital Silence in an Age of Constant Noise".

---

< The Glitch That Forced Reboot >

Koneksi mereka yang disengaja terputus justru diperbaiki oleh kekacauan eksternal.

Suatu malam, jaringan listrik di kompleks kos Kinan padam total. HP-nya baterai 5%. Dalam kepanikan gelap (dan sedikit drama), dia secara refleks menekan tombol darurat di ponselnya yang otomatis mengirim lokasi dan pesan "I'm safe but need help" ke kontak daruratnya.

Dan kontak darurat nomor 1-nya masih Ardi.

Jakarta, 23.42. Ardi mendapatkan notifikasi darurat. Peta menunjukkan lokasi Kos Kinan di Bandung. Pesan: "I'm safe but need help".

Jantung Ardi berhenti. Dia langsung video call. Diterima.

Layar gelap, hanya suara Kinan yang terdengar tegang. "Ard? Listrik padam. HP gue mau mati. Gue—"

"Liat sekitar, Kin. Lo aman? Kuncinya?"

"Gue di dalam kamar. Aman. Cuma... gelap banget. Dan sepi." Suaranya kecil, rentan. Bukan suara Kinan yang confident.

"Oke. Stay on the line. Baterai berapa?"

"3%."

Dalam 2 menit itu, semua jarak dan kesepakatan "offline mode" menguap. Yang tersisa adalah dua orang yang saling mengaitkan napas di gelapnya malam, dipisahkan 150 km, dihubungkan oleh kabel bawah laut dan satelit.

"Ard," bisik Kinan tepat sebelum HP-nya mati. "Thanks for picking up."

"Always," jawab Ardi, ke layar yang sudah hitam.

---

< The Morning After The Glitch >

Bandung, 06.30. Listrik sudah menyala. Kinan men-charge ponselnya. Notifikasi pertama yang muncul: 13 pesan dari Ardi & 5 missed calls.

Pesan pertama: "Kin? Baterai udah nyala?"

Pesan terakhir (jam 04.17): "Gue beli tiket kereta buat Besok. Cuma mau mastiin lo beneran oke. Nggak harus ketemu. Bisa cuma ngasih charger powerbank lewat pagar kos. Tapi gue harus liat lo sendiri."

Kinan menangis. Bukan tangisan sedih. Tapi tangisan lega. Karena dalam keadaan paling gelap dan rentan, otaknya masih menganggap Ardi sebagai home base. Dan Ardi masih menjawab.

Dia membalas: "Listrik nyala. Gue utuh. Lo nggak usah ke sini. Tapi... kalo lo mau, gue mau."

Jakarta, 07.15. Ardi membaca pesan itu sambil antre beli kopi. Dia membatalkan tiket kereta yang sudah dibelinya (denda 25%). Dia membeli tiket baru: Kereta Pagi, Hari Ini, Ke Bandung.

Dia mengirim screenshot tiket. Caption: "Bukan karena darurat. Karena pengin. ETA 11.30. Bring your own powerbank."

---

< The Aesthetic of Reconnection >

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Bandung yang Kinan temukan. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya senyum lelah dan, "Dasar lo gegabah."

"Dasar lo nyalain fitur darurat cuma karena mati lampu."

"Gue panik!"

"Gue juga."

Mereka duduk. Dan untuk pertama kalinya dalam sebulan, obrolan mengalir tanpa beban. Tentang magang Kinan yang seru tapi melelahkan, tentang track musik Ardi yang sekarang dipakai di game, tentang betapa anehnya merindukan seseorang padahal kamu sengaja menjauh.

"Jadi, sistem upgrade-nya berhasil?" tanya Ardi.

"Gue belajar bahwa gue nggak harus produktif setiap saat buat merasa berharga," jawab Kinan. "Dan lo?"

"Gue belajar bahwa quiet itu bukan empty. Dan... kadang kita perlu disconnect dari satu sinyal, buat nge-restrengthen sinyal kita sendiri."

Mereka sepakat untuk tidak langsung kembali ke "mode sebelumnya". Mereka memutuskan untuk mencoba "Low-Intensity Connection". Tidak harus ketemu rutin. Tidak harus update 24/7. Tapi dengan satu aturan baru: "If it feels important to you, it's worth sharing. No filter."

Sebelum Ardi kembali ke Jakarta, Kinan memberinya sesuatu: sebuah dadu karet transparan berisi satu LED kecil yang menyala lembut. "Dadu darurat," katanya. "Kalo ada yang penting, lempar ini. Angka berapapun yang keluar, itu kode buat 'I need to talk'."

Ardi menerimanya. "Baterainya bisa tahan berapa lama?"

"Semoga, sepanjang kita masih peduli buat nge-charge-nya."

---

LAST LINE: Di kereta pulang ke Jakarta, Ardi memegang dadu LED itu. Cahayanya redup tapi stabil, menerangi telapak tangannya dengan warna hangat. Di Notes ponselnya, dia membuka file "MYTURN.WAV". Dia tidak jadi mengirimnya. Tapi dia menyalin satu kalimat dari rekaman itu, dan mengirimnya sebagai text biasa kepada Kinan: "I miss the ordinary us. The uncurated, bufferring, sometimes-boring us. Let's build that again. Slowly." Beberapa saat kemudian, balasan datang: sebuah foto dadu LED itu, diletakkan di samping keyboard laptop Kinan, menyala. Caption: "Signal received. Strength: growing. Let's build." Mungkin itulah aesthetic hubungan di era kelebihan koneksi: bukan tentang kesempurnaan sinyal 5 bar, tetapi tentang keindahan dalam mempertahankan satu bar sinyal yang jujur, di antara semua noise dunia. 📡✨

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!