Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Ledakan di Lapangan persahabatan
Suasana di SMA Wijaya pagi ini terasa berbeda. Sebuah spanduk besar terbentang di depan gimnasium: "PERTANDINGAN PERSAHABATAN: ALVEGAR VS CLUB BASKET SEKOLAH". Ini bukan sekadar pertandingan biasa; ini adalah panggung di mana ego, cemburu, dan harga diri akan beradu.
🏀 Ketegangan di Ruang Ganti
Arazka sedang melilitkan perban di tangannya saat Danis masuk. Tidak ada senyum ramah seperti biasanya. Danis melempar bola basketnya ke loker dengan keras.
"Loe sengaja kan kemarin, Zka?" tanya Danis tanpa basa-basi.
Arazka berdiri, menatap Danis melalui cermin. "Sengaja apa?"
"Deketin Kinara cuma buat mancing Maura. Loe tahu Kinara itu titik lemah gue, dan loe pake dia sebagai alat. Itu rendahan banget, bahkan buat ukuran loe."
Arazka berbalik, seringainya muncul. "Gue nggak pake alat, Dan. Gue cuma ngebuktiin kalau semua orang di sekolah ini bakal dengerin perintah gue, termasuk Kinara. Dan loe? Loe terlalu sibuk caper ke cewek gue sampai lupa jagain punya loe sendiri."
Danis menarik kerah jaket ALVEGAR milik Arazka. "Maura bukan barang milik loe, Zka! Dan kalau loe sekali lagi manfaatin Kinara, gue nggak peduli kita satu bendera... gue bakal hancurin loe."
"Coba aja," tantang Arazka dingin.
📣 Sorak-Sorai dan Tatapan Maut
Di tribun, Maura duduk bersama Fanila. Di samping mereka ada Kinara yang tampak gelisah. Maura berusaha fokus, tapi matanya terus tertuju pada Arazka dan Danis yang melakukan pemanasan dengan aura permusuhan yang kental.
"Loe oke, Maur?" bisik Fanila.
"Gue ngerasa bakal ada yang nggak beres, Fan," jawab Maura lirih.
Pertandingan dimulai. Arazka bermain sangat agresif. Dia melakukan dunk berkali-kali seolah sedang melampiaskan amarah. Danis pun tak mau kalah, dia melakukan blocking yang sangat keras terhadap Arazka. Skor kejar-kejaran, tapi permainan menjadi sangat kasar.
Puncaknya terjadi di kuarter ketiga. Danis mencoba melakukan lay-up, tapi Arazka menghalangi dengan kontak fisik yang cukup keras hingga Danis terjatuh.
Peluit berbunyi. Foul.
Arazka bukannya membantu Danis berdiri, dia justru membisikkan sesuatu sambil berlalu: "Loe kalah, Dan. Di lapangan, dan di hati Maura."
🔥 Ledakan Emosi
Danis yang biasanya penyabar mendadak meledak. Dia berdiri dan mendorong Arazka hingga hampir terjatuh. Seluruh penonton berdiri. Anggota ALVEGAR lainnya, termasuk Miko dan Asean, langsung berlari ke tengah lapangan untuk melerai.
"CUKUP!" suara Maura melengking dari pinggir lapangan. Dia berlari ke tengah, berdiri di antara Arazka dan Danis.
"Kalian ini apa-apaan?! Ini pertandingan persahabatan, bukan ajang pamer otot!" Maura menatap Arazka dengan kecewa. "Dan loe, Arazka... loe bener-benar kekanak-kanakan."
"Gue kekanak-kanakan? Loe yang mulai dengan caper ke dia!" tunjuk Arazka pada Danis.
"Gue nggak caper! Dia temen gue!" balas Maura.
Maura berbalik arah, meninggalkan lapangan tanpa menoleh lagi. Arazka hendak mengejar, tapi langkahnya dihentikan oleh Rangga.
"Biarkan dia pergi, Zka," ujar Rangga dengan suara yang sangat rendah namun penuh penekanan. "Loe baru saja mempermalukan ALVEGAR di depan seluruh sekolah. Lihat mereka..."
Arazka menoleh ke tribun. Para siswa berbisik-bisik. Citra ALVEGAR sebagai pelindung sekolah mendadak retak menjadi kumpulan berandalan yang tidak bisa mengatur emosi.
🌑 Rencana di Balik Layar
Di ruang monitor yang gelap, seseorang sedang memperhatikan rekaman keributan di lapangan tadi. Dia memutar bagian di mana Rangga menatap Arazka dengan benci.
Ponsel orang itu bergetar. Sebuah pesan dari Rangga masuk.
"Retakannya sudah besar. Besok, kita buat badai fitnah yang sesungguhnya. Kali ini, Danis dan anggota lainnya nggak akan punya alasan buat bela Arazka."
Orang misterius itu tersenyum. "Selamat tinggal, Arazka. Takhta loe bakal segera runtuh."
TO BE CONTINUED