Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
Samsul kembali kewalahan, saat para mutasi Macan Tutul ikut kembali menyerangnya, dan membuat sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka cakaran.
Craaaassh
Craaaaash
Kali ini wajahnya ikut menjadi sasaran. "Aaaarrrgh," pekiknya kesakitan, dan wajahnya terlihat mengeluarkan cairan pekat darah.
Saat ia tengah berjuang melawan rasa sakitnya, ia mendengar suara jerit kesakitan yang berasal dari sisi utara, dan ternyata itu adalah suara dari Tim Basarnas yang mana krunya juga mendapatkan serangan dari berbagai makhluk mutasi yang mengerikan akibat mantra yang dibaca oleh Alessa tanpa sengaja.
Ia melirik ke arah kelebatan dibalik kabut tebal yang terlihat berlarian kesana kemari dengan suara pekik ketakutan dan membuatnya semakin bergidik ngeri.
Samsul kembali mengayunkan bambunya, lalu menghujamkan ujungnya ke arah sosok Macan Tutul yang bermutasi dan membuat sosok itu terurut mundur kebelakang, tetapi tidak berpengaruh pada kelemahannya.
Hingga sebuah serangan dari makhluk mutasi Biawak berwujud setengah manusia mencakar bagian dadanya.
Craaaaash
"Arrrrggh...," Samsul kembali terpekik dan meringis kesakitan, bersama dengan suara teriakan diseberang rumpun bambu, yang mana tubuh salah satu kru pencari para mahasiswa yang menghilang menjadi korban santapan dari mutasi hewan Ular Sanca yang membelitnya dengan sangat kuat.
Cairan pekat darah kembali mengalir disekujur tubuh Samsul, dan itu membuatnya semakin melemah, bagaimana tidak, suhu yang begitu dingin dan membekukan tulang, ditambah lagi ia harus kehilangan darah yang cukup banyak.
Saat bersamaan, sosok Macan Tutul kembali menyerangnya, dan kali ini ia menerkam dengan niat memakan Samsul.
Sosok mutasi itu melompat dengan gerakan yang cepat, dan sasarannya adalah punggung pria yang masih berjuang melawan sosok mutasi Biawak.
Hingga akhirnya...,
Craaaaash
Sebuah tikaman tepat diperut mutasi Macan Tutul, dimana sebuah pisau belati Ra Tanca merobek perutnya, dan membuat cairan pekat berwarna hitam mengucur deras.
Saat bersamaan, asap hitam keluar dari tubuh Macan Tutul, lalu meliuk ditengah kabut, dan menghilang.
Samsul menatap sosok pemuda yang berada didepannya, wajahnya dipenuhi titik embun dan terlihat pucat.
Dibelakangnya berdiri sosok pria yang saat ini mengalami luka ringan dibagian siku dan lututnya, ia masih terlihat cukup bugar, dan saat mendapati Samsul sudah hampir sekarat, ia membantu menopang tubuh pria itu, sedangkan Kenny masih sibuk menyerang mutasi Biawak dan Ular Sanca.
Samsul terlihat gemetar, tubuhnya banyak luka, ada rasa bersalah dihati Awan yang memaksa mereka untuk melakukan pencarian Sena dan juga Amara, dimana akhirnya korban justru semakin bertambah.
"Maafkan, Aku. Tak bermaksud membuat kalian celaka." Awan membawa Samsul berbaring, lalu membuka tas milik pria yang menjadi ketua Tim SAR tersebut.
"T-Tak perlu meminta maaf, dan ini tampaknya sudah terjadi kiamat, kita harus menemukan kutab kuno yang dapat mematahkan mantra tersebut," ucap Samsul dengan terbata, nafasnya terasa tersengal, dan ia hampir mengalami hipotermia.
"Kitab Kuno? Dimana?" tanya Awan dengan bingung.
"Pergilah bersama Kenny, selamatkan seluruh warga dan juga para mahasiswa dan para petapa yang terjebak dialam ghaib, mereka harus kembali, jangan pedulikanku." Samsul mendorong Awan untuk segera pergi, sebab menunggunya ditempat ini adalah hal yang sia-sia, mereka harus cepat.
Awan masih merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Samsul, sedangkan Keny masih terlihat sibuk dengan melawan para makhluk mutasi yang terus datang menyerang mereka.
Akan tetapi, ia mengingat tas ransel milik Samsul, ia yakin didalamnya ada banyak barang yang penting, kemudian ia bergegas membukanya.
Ia mengambil kotak P3K, mencari cairan alkhol untuk membersihkan luka milik Samsul, dan mulai mengobatinya.
Pria itu meringis kesakitan, sebab rasa perih yang menyengat ke tubuhnya.
Hingga saat Awan mengoleskan balm zambuk ke sekujur tubuhnya, barulah Samsul sedikit mereda.
"Dimana kitab yang kamu maksudkan?" Awan bertanya saat melihat Samsul mulai mendingan, dan tak lupa mengambil sebungkus coklat untuk diserahkan kepada pria itu.
Samsul dengan cepat menyambarnya, lalu mengunyahnya, sebab dalam kondisi seperti ini, coklat dianggap makanan yang tepat dan cepat untuk mengubah kalori, dan meredakan hipotermia, sebab perut yang kosong dapat memperburuk kondisi daya tahan tubuh.
Sedangkan Awan mengambil sebotol madu kemasan, dengan varian jahe dan meminumnya.
"Cari di Goa Istana, Kenny tahu tempatnya,"
Awan mengangguk, dan sesaat ia mendengar suara entah siapa yang sedang mengunyah sesuatu dibalik rumpun bambu yang tertutup kabut tebal.
Keduanya saling pandang satu sama lain. "Pergilah, bawa pisau sangkur yang ada didalam tas ranselku, juga coklat dan madu sebagai bekal," pesan Samsul.
"Tapi aku tak dapat meninggalkanmu sendirian disini,"
"Pergilah, semua sudah terlanjur,"
Awan semakin merasakan sesak dibagian dadanya, dan dengan hati terpaksa, ia membawa barang dan perbekalan yang diberikan oleh Samsul padanya.
Dengan pisau sangkur ditangannya, ia menghampiri Kenny yang saat ini sedang menghabisi sosok Ular Sanca setengah manusia tersebut.
Ia kembali mendengar sebuah kunyahan yang membuat rasa penasarannya cukup kuat, dan ia melangkah dengan sangat hati-hati, saat melihat dengan jarak cukup dekat, ia dikejutkan oleh penampakan yang sangat mengerikan, dimana sosok ular sanca sedang mengunyah korban yang merupakan seorang kru tim Basarnas.
Ini sangat mustahil, sebab biasanya para ular menelan mangsa, bukan mengunyahnya.
Awan membeliakkan matanya, dan ia bergegas ingin membunuh ular tersebut, tetapi sekelebat bayangan datang, lalu menikam ular tersebut, dan..,
Craaaaash
Kenny merobek tubuh ular tersebut, dan membuatnya menggelepar, dengan kepala tim Basarnas yang terputus dan bergelinding diatas tanah basah oleh cairan pekat darah dan juga embun.
Awan bergidik ngeri, dan menatap Kenny dengan penuh takjub.
"Ayo, Om. Kita harus cepat." ajak Kenny yang membuat ular sanca itu berubah menjadi asap hitam, lalu meliuk menghilang.
Awan mengangguk, sebelumnya menyodorkan sepotong coklat kepada pemuda tersebut.
"Makanlah, setidaknya menambah energimu."
Kenny meraihnya, lalu mengunyah dengan cepat, dan mereka kembali berjalan menyusuri hutan bambu, dan disusul oleh Awan yang terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Ia melihat ada banyak ceceran darah yang melekat dibatang bambu, tampak banyak bekas penganiyaan.
Sementara itu, Amara berjalan dengan diawasi oleh Axel dan Jhony, dan anehnya, ia dapat melihat Awan--suaminya yang saat ini juga sedang berjalan diantara hutan bambu, tetapi mereka berada dialam yang berbeda.
Tampak Awan dan Kenny sedang diawasi oleh berbagai makhluk yang mengerikan dan bersiap menyerang mereka.
Ia dengan cepat memalingkan wajahnya, dan tak ingin Axel serta Jhony melihat itu semua, sebab bisa saja mereka melakukan hal yang mmebahayakan suaminya dan juga Kenny.
Saat Amara memasuki lorong istana yang tak lain adalah goa, ia melihat Gita dan Manda sedang menyiksa para wanita yang merupakan warga sekitar yang berhasil ditangkap, dan tampak mereka sangat begitu beringas.
"Hai, Tante? Apakah kau bersiap bertemu puterimu yang sudah menjadi gundik raja?" ucap Alessa yang tiba-tiba saja muncul didepannya. Gadis itu menggoyangkan ekornya, dan wajahnya lebih mirip dengan kera ekor panjang.
Lagi pengajuan cover, moga berhasil. Cover by Kak Ichaguel, penulis novel 'Tolong, Disini Ada Setan'
Syukur deh gak jd lg, klo gak kasian bgt Nathan. 😞😇
Semua krna ulah Alessa dan Axel, iihhh geramm nya. 😡
smg cepat ketemu deh kitab kuno nya
alaaaamaak .... makin seruuu nih 👏
semoga Kitab Kuno nya cepat di temukan biar Mantra nya bisa di patahkan 🤗
semoga Sena berhasil memusnahkan si Gemet
Lanjut kak Author, semangat... 💪💪