NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 QUEEN SAKIT.

" Uuhhh Ammar.. aku sangat suka gayamu " Desah Sabrina yang menggoda..

" Kamu memang selalu membuat aku puasss "

Deg…

Langkah Sari terhenti di ujung lorong.

Dadanya mendadak terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menghantam keras dari dalam. Ia berdiri mematung, jemarinya mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar.

Suara itu…

Ia mengenal suara itu. Suara helaan napas, suara lirih yang terputus-putus, suara yang tak seharusnya ia dengar.

“Kenapa… hatiku sakit mendengar suara itu?” gumam Sari lirih dalam hati.

Ia tadinya hendak menuju kamar Queen. Malam sudah larut, dan ia ingin memastikan anak kecil itu tertidur dengan nyenyak. Namun langkahnya harus terhenti bahkan sebelum sampai ke depan pintu kamar utama.

Dari balik dinding, suara kebersamaan Ammar dan Sabrina terdengar samar namun cukup jelas untuk menusuk hati siapa pun yang mendengarnya.

Sari menelan ludah.

Kakinya gemetar.

Ia tidak marah.

Ia juga tidak iri.

Yang ada hanyalah rasa… kosong.

Perlahan, Sari berbalik arah. Tanpa suara, tanpa air mata. Ia kembali ke kamarnya, menutup pintu pelan, lalu bersandar di sana beberapa detik.

Dadanya naik turun.

“Aku ini siapa…” bisiknya lirih. “Kenapa rasanya seperti… aku yang tidak punya tempat.”

Ia berjalan menuju ranjang, duduk, lalu memeluk lututnya sendiri. Kepalanya tertunduk, rambut panjangnya jatuh menutupi wajah.

Ia mencoba memejamkan mata.

Mencoba tidur.

Namun pikirannya terlalu penuh.

Tentang Queen. Tentang ibunya di desa. Tentang Ammar dan tentang dirinya sendiri yang kini semakin tak mengerti posisinya.

Entah berapa lama ia terdiam seperti itu.

Hingga....

Ceklek…

Pintu kamarnya terbuka.

Sari tersentak, matanya langsung terbuka. Ia belum sempat bangkit ketika sepasang tangan kuat tiba-tiba melingkari tubuhnya dari belakang.

Ammar.

Sari membeku.

Tubuhnya menegang seketika.

“Biarkan aku memelukmu begini,” ucap Ammar pelan di dekat telinganya. Suaranya terdengar lelah, rapuh. “Aku cuma… ingin tenang.”

Ia memejamkan mata, menyandarkan keningnya di bahu Sari.

Sari tidak memberontak.

Namun juga tidak membalas.

Tangannya terkulai di sisi tubuh, hatinya berdegup tak karuan. Ia bisa merasakan hangat tubuh Ammar, bisa mencium aroma khas yang kini membuat dadanya terasa perih.

“Tuan…” suara Sari nyaris tak terdengar.

Ammar menggeleng kecil. “Jangan bicara. Sebentar saja.”

Sari terdiam. Dalam hatinya, ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan tentang batas, tentang rasa sakit, tentang kebingungannya. Namun semuanya tertelan oleh sunyi. Ia hanya diam. Diam yang sarat makna.

Ammar pun mempererat pelukannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ammar benar-benar memejamkan kedua matanya.

Sari menarik napas panjang ketika mendengar dengkuran halus dari ammar. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh perlahan.

“Aku tidak ingin seperti ini…” bisiknya dalam hati. “Aku hanya ingin bekerja… dan pulang dengan hati yang bersih.”

...----------------...

PAGI HARI.

“Sari… Nona Queen demam!”

Suara panik seorang pelayan membuat Sari tersentak dari tidurnya. “Apa?” Sari langsung bangkit. “Sejak kapan?”

“Sejak subuh. Badannya panas.”

Tanpa sempat merapikan diri, Sari langsung berlari menuju kamar Queen. Di tengah langkahnya, ia baru menyadari sesuatu.. Ranjang di kamarnya kosong.

Ammar tidak ada.

Hatinya berdesir, namun ia segera mengenyahkan pikiran itu. Yang terpenting sekarang hanyalah Queen.

Begitu masuk ke kamar Queen, Sari langsung mendekat ke ranjang kecil itu. Queen terbaring lemah, wajahnya pucat, keningnya berkerut, napasnya pendek-pendek.

Sari menyentuh dahi Queen. “Panas sekali…” gumamnya cemas.

“Nona… apa Nona baik-baik saja?” tanya Sari lembut sambil mengusap rambut Queen.

Queen membuka mata perlahan. “Kak…” suaranya lirih. “Kenapa aku pusing…”

Sari tersenyum menenangkan meski hatinya panik. “Tidak apa-apa, ya. Kakak di sini.” Ia segera mengambil kotak obat di lemari kecil, menyiapkan obat penurun panas sesuai dosis anak-anak. Dengan sabar, ia membantu Queen minum obat, lalu mengompres dahinya.

“Tidur lagi ya, Nona,” ucapnya lembut.

Queen mengangguk lemah, menggenggam tangan Sari erat-erat.

Tak lama kemudian, langkah tergesa terdengar dari luar.

Ammar masuk ke kamar dengan wajah cemas. “Bagaimana kondisinya?”

“Demam, Tuan,” jawab Sari cepat. “Sudah saya beri obat.”

Ammar mendekat, menyentuh dahi putrinya. Wajahnya langsung mengeras penuh khawatir. “Kenapa bisa begini…” gumamnya.

Queen membuka mata lagi. “Papah…”

Ammar langsung duduk di sisi ranjang. “Papah di sini, Sayang.”

Sari berdiri sedikit menjauh, memberi ruang. Beberapa menit kemudian, Sabrina masuk ke kamar. Berbeda dari Ammar yang terlihat panik, wajah Sabrina tampak… biasa saja.

“Kenapa ribut?” tanyanya datar.

“Queen demam,” jawab Ammar singkat.

Sabrina melirik sekilas ke arah Queen. “Oh.”

Tak ada pelukan. Tak ada usapan. Ia hanya berdiri, menyilangkan tangan.

“Kamu sudah beri obat?” tanyanya pada Sari.

“Sudah, Nyonya,” jawab Sari sopan.

Sabrina mengangguk. “Ya sudah. Panggil dokter kalau perlu.”

Nada suaranya tenang terlalu tenang untuk seorang ibu.

Ammar menoleh tajam ke arah Sabrina, namun menahan diri. Di hadapan Queen, ia tak ingin ada pertengkaran.

Sari menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia mengelus rambut Queen sekali lagi, lalu berbisik, “Kakak di sini, Nona. Jangan takut.”

Queen menggenggam tangannya lebih erat.

Di dalam hati Sari, satu hal semakin jelas Anak kecil ini membutuhkan kehangatan. Dan rumah besar ini… perlahan kehilangan maknanya sebagai rumah.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!