siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu Tanah Abang dan Benang Tak Kasat Mata
Kepulangan The Justice Widows ke Jakarta disambut oleh kemacetan legendaris di kawasan Tanah Abang. Jika Hollywood memiliki aroma parfum mahal dan karpet merah, maka di sini aroma yang mendominasi adalah campuran asap knalpot, keringat kuli panggul, dan bau kain tekstil baru yang menyengat. Bagi Maya Adinda, tempat ini adalah taman bermainnya bagi Bella Damayanti, ini adalah labirin taktis dan bagi Siska Paramita, ini adalah tempat mencari bahan daster katun yang paling menyerap keringat untuk dipakai di dapur.
"May, serius deh. Lo yakin koordinatnya di bawah Blok B?" tanya Bella sambil menutupi hidungnya dengan masker medis. Ia mengenakan kemeja flanel longgar dan celana kargo untuk menyamarkan berbagai senjata di tubuhnya.
"Gue nggak pernah salah kalau soal geografi Tanah Abang, Bel!" seru Maya yang tampil totalitas menyamar sebagai pedagang grosiran dari daerah. Ia memakai kerudung instan, daster batik corak parang yang sudah kusam, dan menenteng tas plastik hitam besar berisi "sampel" yang sebenarnya adalah peralatan sensor. "Di bawah kios 'Makmur Jaya' itu ada pintu lift barang yang nggak pernah tercatat di denah resmi pasar. Dulu gue pikir itu lift buat nyelundupin daster impor ilegal, eh ternyata sarang penyamun Benang Hitam!"
Siska berjalan di belakang mereka, membawa troli belanjaan yang berisi dua jeriken besar. Orang mungkin mengira itu adalah minyak goreng untuk kateringnya, tapi isinya adalah cairan kimia penetral polimer yang dirancang khusus oleh Master Tailor untuk menghancurkan serat Deep Fake Silk. "Bel, gue ngerasa ada yang aneh. Sejak kita masuk area pasar, suhu udara di sini terasa lebih dingin dua derajat. Padahal Jakarta lagi panas-panasnya."
Mereka sampai di sebuah kios kecil yang tertutup tumpukan gulungan kain setinggi plafon. Seorang pria tua dengan mata satu tertutup kain (seperti bajak laut versi kearifan lokal) sedang duduk di depan kios sambil menghisap rokok kretek.
"Mau cari apa, Neng? Grosir apa eceran?" tanya pria itu dengan suara serak.
"Cari daster macan yang jahitannya nggak bisa putus walau ditarik gajah, Bang," sahut Maya memberikan kata sandi yang sudah disiapkan Bella.
Pria itu terdiam sejenak, lalu mematikan rokoknya. Ia menggeser sebuah gulungan kain besar yang ternyata adalah pintu rahasia menuju lift barang yang sangat modern. "Masuk. Tapi ingat, kalau kalian nggak keluar dalam sepuluh menit, saya anggap kalian sudah jadi bagian dari tenunan mereka."
Lift itu meluncur turun ke bawah tanah dengan kecepatan yang membuat telinga mereka berdenging. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depan mereka sangat kontras dengan hiruk pikuk pasar di atas. Sebuah laboratorium raksasa yang sangat steril, penuh dengan mesin-mesin tenun otomatis berkecepatan tinggi yang mengeluarkan suara dengung yang menghipnotis.
"Selamat datang di pabrik kebahagiaan massal," sebuah suara dari pengeras suara menggema. Itu bukan suara Quentin, tapi suara Silvia (The Weaver) yang ternyata selamat dari ledakan di Amazon dan kini tampil dengan lengan prostetik yang lebih canggih.
"Silvia! Gue kira lo udah jadi pupuk di Amazon!" teriak Bella sambil menarik payung titaniumnya ke posisi siaga.
"Kematian hanyalah jahitan yang kurang kuat, Bella," ujar Silvia melalui layar monitor besar di tengah laboratorium. "Di sini, di bawah pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara, kami memproduksi daster 'Zombi' yang akan dikirim ke seluruh pelosok Indonesia. Minggu depan, saat lebaran tiba, semua orang akan memakai baju baru... dan semua orang akan menjadi tentara Benang Hitam."
"Enggak bakal terjadi, Tante Penjahit!" Maya melempar mutiara asapnya.
BOOM!
Asap lavender menyelimuti ruangan. Dari balik mesin-mesin tenun, muncul para "Prajurit Benang" manusia-manusia malang yang sudah terbungkus sepenuhnya oleh kostum Deep Fake Silk hitam pekat. Mereka bergerak seperti bayangan, tanpa suara, dan memiliki fleksibilitas tubuh yang melampaui batas manusia normal.
"Bella, Maya! Jaga barisan!" seru Siska. Ia membuka jerikennya dan menyambungkannya ke selang yang terhubung ke sutil titaniumnya. "Mode Spray & Saute!"
Siska menyemprotkan cairan penetral ke arah para prajurit. Begitu cairan itu mengenai kostum hitam mereka, kain tersebut mulai mengerut dan mengeras, membuat para prajurit itu terkunci di tempat seolah-olah mereka sedang dipakaikan baju yang kekecilan sepuluh ukuran.
Bella melesat maju, bertarung dengan teknik kuncian janda yang taktis. Ia menggunakan payungnya untuk menangkis serangan kabel-kabel tajam yang keluar dari mesin tenun otomatis. TANG! TING! Setiap kali kabel itu mengenai payung Bella, percikan api listrik menyambar.
Maya, yang tidak memiliki kemampuan bela diri fisik sehebat rekan-rekannya, memiliki misi lain. Ia harus mencapai server utama yang mengendalikan jalur distribusi otomatis. Ia merangkak di bawah meja-meja mesin, menghindari sensor laser yang menyapu ruangan.
"Oke, oke... dikit lagi..." gumam Maya. Ia sampai di depan konsol utama. Namun, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di layar monitor, tertera alamat pengiriman terakhir. Apartemen Puri Kencana, Unit 301, 302, 303.
"APA?! Mereka ngirim daster zombi ke unit kita?!" Maya berteriak kaget, hampir saja membuat posisinya ketahuan.
"Siska! Bella! Mereka nyerang rumah kita lewat jalur paket!" Maya berteriak lewat radio.
"Brengsek!" Bella mengumpat sambil menendang salah satu prajurit benang. "Silvia mau ngerusak tempat satu-satunya yang kita punya!"
Silvia tertawa di layar. "Bukan cuma merusak, Bella. Aku sudah menanamkan chip peledak di setiap jahitan daster yang dikirim ke unit kalian. Begitu paket itu dibuka, apartemen kalian akan rata dengan tanah."
Di depan konsol, Maya dihadang oleh robot penjahit raksasa berkaki delapan yang berbentuk seperti laba-laba. Robot itu memegang delapan gunting raksasa yang bergerak-gerak mengancam.
"Aduh, Mas Laba-laba... jangan gunting-gunting gitu dong, aku kan lagi dandan!" Maya panik. Ia tidak punya waktu. Ia menarik daster macan pink keberuntungannya dari tas daster yang sudah robek di Hollywood tapi sudah ia tambal dengan plester luka.
Maya teringat satu trik dari Master Tailor: daster katun murni jika dicampur dengan parfum beralkohol tinggi dan dibakar, bisa menghasilkan energi termal yang cukup untuk merusak sensor optik robot.
Maya menyemprotkan parfum mahalnya ke daster macan itu, lalu menyulutnya dengan pemantik api bergambar aktor drakor favoritnya. "Terima kasih, daster macanku! Pengorbananmu tidak akan sia-sia!"
Ia melemparkan daster macan yang membara itu tepat ke arah "mata" kamera si robot laba-laba. WUSH! Api dan asap dari kain katun itu membutakan sensor si robot. Robot itu berputar liar, menggunting kabel-kabel tenun di sekelilingnya sendiri.
Maya segera mengetik di konsol utama. "Gue bakal cancel semua pengiriman ke Puri Kencana dan gue bakal balikkan arah semua paket zombi ini ke koordinat markas Benang Hitam di kutub!"
Siska dan Bella berhasil mencapai ruang utama tempat Silvia berada. Silvia turun dari anjungannya dengan mengenakan daster prototipe The Void Silk daster yang bisa menyerap cahaya sepenuhnya, membuatnya tampak seperti lubang hitam berjalan.
"Kalian tidak akan bisa menghentikanku!" Silvia mengayunkan cambuk benangnya.
Siska menyemprotkan cairan penetral terakhirnya, tapi Silvia menghilang dan muncul di belakang Siska. SRET! Cambuk itu melukai lengan Siska.
"Siska!" Bella berteriak. Ia membuka payungnya sepenuhnya dan menekan tombol rahasia: The Janda's Wrath. Payung itu mengeluarkan ribuan jarum mikro yang sudah dibaluri racun saraf lumpuh.
Jarum-jarum itu terbang menyebar ke seluruh ruangan. Silvia, meski bisa menghilang, tidak bisa menghindari serangan area seluas itu. Beberapa jarum mengenai jubah hitamnya, menembus ke kulitnya.
"Aaaargh! Apa ini?!" Silvia jatuh berlutut.
"Itu namanya keadilan yang dijahit dengan rapi, Silvia," kata Bella dingin.
Siska mendekati Silvia, meski lengannya berdarah. Ia mengambil sutil titaniumnya dan menghantamkannya ke kontrol jubah Void Silk di dada Silvia. KRAKK! Jubah itu kehilangan energinya dan Silvia pun tak berdaya.
"Sistem penghancuran diri aktif! 60 detik!" suara komputer memperingatkan.
Maya berhasil menyelesaikan peretasannya. "Semua paket sudah ditarik kembali! Ayo lari!"
Mereka bertiga berlari menuju lift raksasa tadi. Saat lift naik, ledakan di bawah tanah mulai mengguncang pasar Tanah Abang. Orang-orang di atas hanya merasa seperti ada gempa kecil, tidak tahu bahwa di bawah kaki mereka, sebuah pabrik zombi fasyen baru saja meledak.
Mereka keluar dari kios pria bermata satu tepat saat toko itu mulai bergetar. Si pria tua hanya mengangguk pelan, seolah sudah biasa melihat ledakan bawah tanah.
Beberapa jam kemudian, mereka duduk di sebuah kedai es cendol di pinggiran pasar. Maya menangis sesenggukan, bukan karena terluka, tapi karena daster macan pink-nya benar-benar sudah jadi abu.
"Dasterku... jasamu abadi," ratap Maya sambil menyeruput cendolnya.
"Nanti gue beliin selusin yang lebih bagus, May," kata Siska sambil membalut lukanya. "Lagian, aksi lo tadi bener-bener keren. Lo nyelamatin apartemen kita."
Bella menatap langit Jakarta yang mulai jingga. "Silvia ditahan, pabrik hancur. Tapi Benang Hitam masih punya satu orang lagi di puncak pimpinan. Orang yang disebut-sebut sebagai 'The Weaver of Souls'."
"Siapa lagi itu?" tanya Siska lelah.
"Gue nggak tahu pasti. Tapi datanya bilang dia ada di sebuah pulau rahasia di Kepulauan Seribu. Dekat banget sama kita," jawab Bella.
Maya berhenti menangis dan memperbaiki riasannya yang luntur. "Kepulauan Seribu? Dekat dong! Naik speed boat cuma satu jam! Gue setuju, kita selesaikan ini semua biar kita bisa lebaran dengan tenang!"
Bella tersenyum tipis. "Besok pagi kita berangkat. Tapi malam ini, kita pulang ke apartemen. Gue kangen tidur di kasur sendiri tanpa takut ada daster yang mau nyekek gue."
Tiga janda itu berdiri, berjalan di antara kerumunan pasar Tanah Abang yang masih sibuk. Mereka tampak seperti wanita biasa yang habis belanja, tapi di dalam diri mereka, tersimpan kekuatan yang baru saja menyelamatkan jutaan orang dari perbudakan fasyen. Perjalanan menuju babak akhir semakin dekat, dan The Justice Widows siap untuk jahitan terakhir mereka.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣