Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.
Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.
Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:
"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Calvin pada akhirnya hanyalah seorang pemuda yang belum genap berusia dua puluh tahun; darah mudanya masih bergolak.
Berada sedekat ini dengan Vivian, seorang wanita yang sangat cantik, membuatnya sulit menahan gejolak hati. Pikirannya melayang, darahnya mendidih, bahkan napasnya menjadi sedikit lebih cepat. Saat melihat Vivian menoleh dan memberikan senyuman yang mampu menjungkirbalikkan dunia, tubuhnya langsung kaku, lalu wajahnya memerah seketika.
Beberapa hari yang lalu, ia masih hidup dalam kondisi serbakekurangan, berjuang mati-matian hanya untuk mencari uang demi membeli obat bagi adiknya. Dunianya sama sekali tidak mungkin bersinggungan dengan dunia wanita secantik Vivian. Bahkan, di hadapan wanita pada level ini, rasa rendah diri akan muncul dengan sendirinya—itulah konsekuensi dari lingkungan tempat seseorang dibesarkan. Sekalipun sekarang ia telah memperoleh keberuntungan besar dan melangkah ke jalan kultivasi yang misterius, wajahnya tetap saja memerah.
“Pfft!”
Vivian tertawa kecil.
Membandingkan Calvin yang barusan begitu dingin dan tegas saat menghadapi musuh dengan wibawa seolah memandang rendah segalanya, lalu melihat ekspresinya sekarang yang memerah dan malu seperti seorang remaja polos, muncul dorongan di hati Vivian untuk menggodanya. Padahal, barusan ia sendiri masih merasa sedikit malu.
Kemudian ia berkata, “Aduh, berdiri sambil cuci kaki begini lelah sekali. Bagaimana kalau kau menggendongku?”
“Ah, gendong? Gendong?” Calvin tertegun. Bahkan tangan yang menopang pinggang Vivian pun tidak tahu harus diletakkan di mana.
“Hi-hi-hi, aku cuma bercanda. Benar-benar anak laki-laki yang pemalu,” kata Vivian sambil tertawa.
Namun, karena terlalu gembira, ia malah tertimpa sial. Begitu Calvin melepaskan tangannya dari pinggang Vivian sementara satu kakinya masih menginjak punggung kaki Calvin, ia tidak bisa berdiri seimbang. Ia menjerit kecil, “Aduh!” Tubuhnya miring ke kiri dan pergelangan kakinya terkilir.
Untungnya, Calvin segera mengulurkan tangan sehingga Vivian tidak sampai jatuh ke dalam toilet.
Sambil menopang Vivian yang pergelangan kakinya cedera, mereka kembali ke kompartemen tempat tidur masing-masing. Calvin melihat Raditya sedang menatap mereka berdua dengan penuh minat, memandang wajah mereka bergantian dengan senyum samar yang sulit ditebak di sudut bibirnya.
Calvin membantu Vivian duduk di ranjang seberang, lalu berkata, “Bang Radit, tadi aku lihat kau datang menonton keributan. Kenapa tidak keluar membantu? Tidak setia kawan sekali.”
Raditya mengusap dagunya yang tak berjanggut dan berkata, “Saudaraku, kata-katamu salah. Aku sudah membantu. Kalau tidak, mana mungkin polisi kereta itu bisa diam dan patuh begitu saja? Lagipula, bukankah aku sudah bilang kalau kau sedang tersentuh bintang jodoh dan diramal bakal terkena bunga asmara? Ini kan sudah terjadi. Kalau aku terlalu dekat denganmu, itu namanya merusak bunga orang. Hal semacam itu tidak kulakukan.”
Mendengar itu, hati Vivian bergetar dan wajahnya sedikit memanas. Disebut sebagai ‘bunga asmara’ seseorang benar-benar pengalaman pertama dalam hidupnya. Ia menatap Raditya dengan saksama, memperhatikan gaya berpakaiannya, dan entah kenapa ingin tertawa.
Calvin berkata, “Kak, jangan hiraukan dia. Dia cuma tukang ramal yang sudah kecanduan. Lihat siapa pun ingin diramal. Omong kosong semua.”
Raditya protes, “Hei, itu penghinaan terhadap profesi! Aku ini lulusan aliran resmi, mana bisa dibilang omong kosong? Aku meramal dengan jari, bahkan bisa tahu kalau nona cantik ini punya penyakit.”
Vivian terkejut, sorot matanya penuh kecurigaan. Sementara itu, Calvin menyahut, “Omong kosong. Kakinya terkilir, aku yang membantunya ke sini. Ini bahkan orang buta pun bisa lihat.”
“Sialan, coba saja cari orang buta untuk membuktikannya.”
Tak lama kemudian, melalui beberapa kalimat singkat, ketiganya saling memperkenalkan diri. Baru saat itulah Vivian tahu nama Calvin. Ia tersenyum dan berkata, “Nama kalian berdua menarik sekali.”
Kali ini Vivian benar-benar tidak bisa menahan diri. Ia tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya membungkuk ke depan dan ke belakang. Setelah tertawa cukup lama, ia berkata, “Kalian berdua pasti sahabat yang sangat baik.”
Calvin dan Raditya saling memandang dan tersenyum tanpa suara. Jika dihitung sejak ramalan semalam, mereka bahkan belum saling mengenal sehari penuh. Namun, karena sama-sama anak muda, keakraban terjalin dengan cepat.
Pergelangan kaki Vivian terkilir, namun untungnya tidak terlalu parah. Ia duduk di ranjang sambil memijat kakinya perlahan. Calvin dan Raditya duduk di seberang; suasana menjadi sedikit canggung karena kaki itu tampak benar-benar indah.
Sebenarnya, jika Calvin menggunakan satu Mantra Kayu Hijau, cederanya pasti langsung sembuh. Namun, mantra itu akan menimbulkan kehebohan saat digunakan dan ia takut rahasianya terbongkar. Akhirnya ia tidak bertindak, melainkan berdiri dan berkata, “Aku akan cari pramugara, tanya apakah ada obat keseleo atau semacamnya di kereta.”
Lima menit kemudian, ia kembali. Tidak ada obat oles khusus, tetapi ia berhasil mendapatkan sebotol minyak bunga merah, lalu menyerahkannya kepada Vivian agar dioleskan sendiri.
Dalam obrolan singkat, Calvin tahu bahwa Vivian juga menuju Tebao. Hanya saja, tujuannya adalah Rumbai Merah, bukan untuk wisata, melainkan ke pasar giok di sana untuk memilih sepotong batu giok indah yang akan diukir menjadi jimat pelindung.
Raditya berkata, “Aku pernah ke Rumbai Merah. Itu tempat yang bagus untuk judi batu. Tapi kau seorang wanita yang bepergian sendirian, dan secantik ini pula, apa tidak kurang waspada soal keamanan?”
Vivian mendengus dan berkata, “Jangan meremehkanku. Aku bukan wanita biasa.”
Saat berbicara, tangannya terlalu keras memijat hingga ia meringis kesakitan. Calvin dan Raditya tak bisa menahan senyum. Ia melanjutkan, “Sebenarnya ada seorang ahli giok yang seharusnya pergi bersamaku, tapi pagi ini tiba-tiba ia membatalkan janji. Pesanan giok pelindung itu mendesak, jadi aku terpaksa berangkat sendiri.”
Barulah saat itu Calvin dan Raditya tahu bahwa Vivian ternyata bergerak di bisnis giok dan perhiasan. Ketika ditanya nama tokonya, ia menjawab: Atelier Jewelry.
Calvin cukup terkejut karena ia tahu Atelier Jewelry. Itu perusahaan besar yang iklannya sering muncul di televisi dan pinggir jalan; sangat terkenal di Kabupaten D. Tak disangka, pemilik Atelier Jewelry adalah wanita di hadapannya ini.
Calvin bertanya, “Ada satu hal yang benar-benar tidak kupahami. Kau sudah jadi bos besar toko perhiasan sebesar itu, kenapa masih berjualan di kaki lima di pasar malam?”
Vivian tersenyum dan berkata, “Itu cuma main-main saja. Aku kalah taruhan dengan seorang sahabat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Calvin dengan mata indahnya. “Sekarang kakiku terkilir, besok belum tentu bisa jalan. Aku seorang wanita sendirian di luar, memang cukup berbahaya. Bagaimana kalau kalian menemaniku dulu ke Rumbai Merah? Setelah itu, biaya perjalanan kalian ke Lemang akan aku tanggung. Bagaimana?”
Calvin merasa sangat berterima kasih padanya. Tanpa batu yang diberikan Vivian, mana mungkin ia punya kesempatan menyelamatkan adiknya. Maka ia langsung setuju, “Kami sebenarnya juga tidak harus segera ke Lemang. Kau tidak membawa pengawal, jadi menemanimu tentu tidak masalah.”
Saat melewati stasiun persinggahan, dua penumpang baru naik ke kompartemen seberang. Calvin memberikan tempat tidurnya kepada Vivian, sementara ia sendiri berdesakan dengan Raditya.
Keesokan paginya, mereka tiba di Pasar Giok Rumbai Merah.
Vivian berkata, “Beberapa hari ini sedang diadakan Festival Judi Batu berskala besar di sini. Selain membeli batu giok untuk jimat pelindung, aku juga ingin mencoba peruntungan di acara judi batu. Bang Radit, kau kan peramal, nanti bisa bantu ramalkan untukku, tidak?”
Vivian bahkan ikut memanggil Raditya dengan sebutan ‘Bang Radit’ seperti Calvin, membuat sang peramal merasa besar kepala.
Panggilan itu sebenarnya tidak salah. Vivian berusia dua puluh tiga tahun, sementara Raditya dua puluh lima. Calvin yang paling muda, belum genap dua puluh. Namun, begitu mendengar kata ‘judi batu’, hati Calvin langsung tergugah. Ia berpikir, Bukankah judi batu bagiku sama saja seperti memakai cheat? Ada atau tidaknya giok di dalam batu, sekali lihat dengan Mata Phoenix Abadi, semuanya langsung ketahuan.
“Takdir! Ini takdir! Takdir yang membuat Vivian membantuku sebesar itu. Kali ini aku bisa membalas kebaikannya.”