Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fragmen yang Tersisa
Verona di awal musim gugur menyajikan warna-warna emas yang hangat. Di vila perbukitan Valpolicella, suasana tidak lagi mencekam. Pagi itu, Elena terbangun bukan karena suara alarm atau deru mesin mobil pengejar, melainkan karena aroma kopi yang menyelinap masuk melalui celah pintu kamarnya. Elena bangkit, mengenakan jubah sutra panjang, dan melangkah menuju balkon.
Di bawah sana, di antara barisan pohon zaitun, Elena melihat Matteo. Pria itu mengenakan kemeja katun sederhana, tangannya sedang membantu Marco memperbaiki pagar kayu yang rusak. Matteo tampak jauh lebih rileks; gerakan tubuhnya tidak lagi waspada berlebihan. Saat Matteo mendongak dan melihat Elena, sebuah senyum tulus merekah di wajahnya—senyum yang dulu hanya Elena lihat di foto-foto masa kecil mereka.
"Kau bangun terlambat, Moretti," teriak Matteo dengan nada menggoda.
Elena tertawa kecil, sebuah suara yang masih terasa asing namun menyenangkan di telinganya. "Dunia tidak akan kiamat hanya karena aku tidur satu jam lebih lama, Valenti!"
Setelah membersihkan diri, Elena turun ke dapur. Di sana, Marcella sedang duduk memotong buah, ditemani oleh Luca yang sedang membaca koran. Keadaan ibunya jauh lebih stabil sekarang. Marcella sudah mulai bisa mengingat beberapa kejadian sehari-hari, meski kenangan masa lalunya masih sering tertutup kabut.
"Matteo mengajakmu keluar siang ini," ucap Marcella tanpa menoleh, tangannya lincah bergerak. "Dia bilang ingin membawamu ke 'tempat rahasia' kalian."
Elena mengernyitkan dahi. "Tempat rahasia?"
Siang harinya, Matteo menjemput Elena dengan mobil convertible tua milik mendiang ayahnya yang baru saja selesai diperbaiki. Mereka berkendara menjauhi pusat kota, menuju ke arah utara, ke sebuah area hutan kecil di pinggiran Danau Garda yang jarang dikunjungi turis.
"Kau ingat tempat ini?" tanya Matteo saat mereka turun dari mobil.
Elena memandangi pohon-pohon ek besar yang menjulang tinggi. Ingatannya mulai berputar balik ke masa dua puluh tahun yang lalu. "Ini... tempat kita sering bermain petak umpet saat ayah kita mengadakan pertemuan bisnis di vila dekat sini?"
Matteo mengangguk. Matteo menarik tangan Elena, membimbingnya masuk lebih dalam ke hutan hingga mereka tiba di sebuah pohon besar yang batangnya dipenuhi lumut. Di sana, terdapat sebuah rumah pohon yang sudah hancur, hanya menyisakan lantai kayu yang lapuk.
"Maksud dari membawamu ke sini adalah untuk menunjukkan bahwa tidak semua hal dari masa lalu kita adalah tentang darah dan pengkhianatan," ucap Matteo. Matteo meraba sebuah celah di batang pohon, lalu mengeluarkan sebuah kaleng logam tua yang sudah berkarat.
Elena menahan napas saat Matteo membuka kaleng itu. Di dalamnya terdapat beberapa mainan tentara plastik, sebuah kelereng kaca, dan sebuah pita rambut berwarna merah yang sudah kusam.
"Pita rambutku," bisik Elena, mengambil benda itu dengan jemari gemetar. "Aku pikir aku menghilangkannya saat aku jatuh dari dahan itu."
"Aku menemukannya setelah kau pulang hari itu," kata Matteo, matanya menatap Elena dengan penuh kelembutan. "Aku menyimpannya di sini, berpikir bahwa suatu hari aku akan mengembalikannya padamu. Aku tidak tahu bahwa butuh waktu dua puluh tahun untuk melakukan itu."
Mereka duduk di akar pohon yang besar, saling bersandar. Elena mulai bercerita tentang betapa dia dulu sangat mengagumi cara Matteo memanjat pohon dengan begitu lincah. Sebaliknya, Matteo bercerita bahwa dia sebenarnya sangat takut pada ketinggian, tapi dia memaksakan diri agar terlihat hebat di depan Elena kecil.
"Kita hanyalah dua anak yang terjebak dalam perang orang dewasa, bukan?" Elena menyandarkan kepalanya di bahu Matteo.
"Ya. Dan sekarang, kita adalah dua orang dewasa yang mencoba menemukan kembali anak-anak itu," jawab Matteo.
Sore itu dihabiskan dengan tawa dan cerita. Tidak ada pembicaraan tentang kementerian di Roma atau Dewan Tujuh. Mereka berbicara tentang makanan favorit, tentang buku-buku yang mereka baca saat sedang bersembunyi, dan tentang mimpi-mimpi yang dulu sempat terkubur. Matteo mulai memberanikan diri untuk menggenggam tangan Elena, bukan untuk menariknya dari bahaya, tapi untuk merasakan kehangatan jemarinya.
Saat matahari mulai terbenam, menciptakan pantulan cahaya oranye di permukaan Danau Garda, Matteo berdiri dan menarik Elena ikut berdiri. Suasana menjadi sedikit lebih serius, namun sangat romantis.
"Elena, selama sepuluh tahun aku mencintaimu dalam diam dan rasa bersalah. Aku tidak ingin kita terburu-buru. Aku ingin kita melakukan ini dengan benar. Tanpa tekanan, tanpa bayang-bayang musuh di belakang kita."
Matteo merengkuh pinggang Elena, menatap langsung ke matanya. "Maukah kau menjadi kekasihku? Bukan sebagai rekan seperjuangan, bukan sebagai sekutu politik, tapi sebagai Elena yang aku cintai?"
Elena tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di leher Matteo. "Aku pikir aku sudah menjadi milikmu sejak kau menyelamatkanku di kanal Venesia, Matteo. Tapi ya, aku ingin kita mulai dari awal. Sebagai kekasih."
Mereka berciuman di bawah cahaya senja, sebuah ciuman yang manis dan penuh harapan. Ini adalah babak baru bagi mereka. Mereka bukan lagi pelarian; mereka adalah sepasang kekasih yang sedang merajut kembali hati mereka yang sempat hancur.
Malam harinya, kembali di vila, mereka makan malam bersama Marco, Luca, dan Marcella. Meja makan itu dipenuhi dengan candaan. Luca menggoda Matteo tentang betapa gugupnya dia saat menyiapkan kaleng tua itu tadi pagi.
Namun, kedamaian itu memiliki batasnya. Saat Elena sedang menuju kamarnya setelah makan malam, ia melihat Marco sedang berdiri di depan pintu ruang kerja dengan wajah serius.
"Ada apa, Marco?" tanya Elena.
Marco menyerahkan sebuah tablet. "Sepertinya 'masa pacaran' kalian akan sedikit terganggu. Isabella mungkin sudah dipenjara, tapi pengacaranya baru saja mengajukan banding dengan dokumen yang sangat mencurigakan. Dokumen itu menunjukkan bahwa Isabella memiliki mitra rahasia di Swiss yang sedang mencoba membekukan semua aset Moretti secara hukum internasional."
Elena menghela napas. Elena menatap ke arah kamar Matteo di ujung koridor. Ia baru saja merasakan sedikit kebahagiaan yang normal, dan kini dunia luar kembali mengetuk pintunya.
Elena mengambil tablet itu dan membacanya. "Swiss lagi. Kenapa semuanya selalu berakhir di Swiss?"
"Karena di sanalah uang itu berada, Elena. Dan di sanalah jawaban terakhir tentang ayahmu disimpan," jawab Marco.
Elena mengangguk. Ia tahu bahwa meskipun mereka ingin hidup normal, mereka tidak akan pernah benar-benar tenang sampai akar dari organisasi ini dicabut hingga ke Eropa. Namun kali ini, Elena tidak merasa terbebani. Ia tahu bahwa besok pagi, ia akan bangun dan memiliki Matteo di sampingnya—bukan sebagai pengawal yang misterius, tapi sebagai pria yang memegang hatinya.
"Jangan beritahu Matteo malam ini," pesan Elena pada Marco. "Biarkan dia tidur dengan tenang untuk satu malam lagi. Kita akan membicarakan ini besok pagi."
Elena masuk ke kamarnya, memandangi pita merah kusam di atas mejanya. Perjalanan masih sangat panjang, dan meskipun badai baru sedang terbentuk di pegunungan Alpen, malam ini Elena Moretti hanya ingin menjadi seorang wanita yang sedang jatuh cinta.