Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: BANGUN DI TUBUH ASING
Dua hari berlalu dengan cepat. Ji-hoon—ia mulai menerima nama itu, meski dalam hatinya masih ada dualitas—menghabiskan waktunya dengan mempelajari dunia barunya.
Ia membaca buku teks teori monster yang ada di rak kamar Min-jae. Ia menonton dokumentasi tentang Gerbang dan pertarungan Hunter di internet. Ia juga mencoba mengakses ingatan Min-jae dengan sengaja, memanggil potongan-potongan informasi tentang adat, keluarga, dan akademi. Prosesnya seperti mengunjungi perpustakaan yang setengah terbakar; beberapa bagian jelas, sebagian lain kabur atau hilang sama sekali.
Kekuatan anehnya, yang ia sebut ‘telekinesis’ mengikuti definisi sistem dalam kepalanya, muncul secara sporadis. Ia tidak bisa mengontrolnya dengan sengaja. Terkadang, saat ia sangat fokus dan emosinya tenang, ia bisa merasakan keberadaan benda-benda di sekitarnya—bobot, tekstur, posisinya—dan memberinya dorongan kecil. Sebuah buku bisa bergeser beberapa sentimeter. Sebuah pulpen bisa berguling di meja. Tidak lebih dari itu.
Sistem misterius itu hanya sesekali berbicara, biasanya hanya memberikan notifikasi singkat seperti **[Kontrol psikomotor meningkat 0.3%]** atau **[Koordinasi jiwa: 89%]**. Ia tidak lagi merasakan tekanan untuk menekan ingatannya. Sepertinya, setelah protokol ditolak, sistem itu hanya memantau dan mencatat.
Pagi hari Jumat tiba. Ji-hoon berdiri di depan cermin kamar mandi, mengenakan seragam siswa Hunter Academy yang telah disediakan: jaket dan celana panjang hitam dengan garis-garis perak di pinggiran, dan logo akademi—sebuah pedang dan buku yang bersilang—dijahit di dada. Baju itu pas di tubuh Min-jae yang ramping tapi berotot. Ji-hoon masih asing dengan refleksi ini. Setiap kali ia bercukur atau menyisir rambut, gerakannya terasa seperti mengendalikan boneka yang canggung.
“Kamu bisa melakukan ini,” katanya pada bayangannya. “Ini hanya penelitian lapangan. Observasi. Kumpulkan data.”
Mentalitas editornya menjadi tamengnya. Ia memperlakukan ini seperti proyek penelitian karakter untuk novel yang sangat realistis. Ia adalah protagonis yang terjun ke dunia baru. Tugasnya adalah mengamati, belajar, dan bertahan.
Paman Dae-hyun mengantarnya ke akademi dengan mobil. Sepanjang jalan, ia memberikan nasihat.
“Jangan gugup. Tes ulang ini hanya formalitas karena kamu pernah koma. Tunjukkan yang terbaik, tapi jangan memaksakan diri jika belum pulih benar,” ujar Dae-hyun. “Yang penting adalah kamu menunjukkan niat dan disiplin.”
“Aku mengerti, Paman.”
“Dan… waspada,” tambah Dae-hyun dengan nada lebih rendah. “Ayahmu punya banyak teman, tapi juga punya musuh. Namamu masih membawa beban. Jangan mudah percaya.”
Peringatan itu menggema di telinga Ji-hoon. Dunia Hunter ternyata tidak hanya tentang monster dan petualangan, tetapi juga politik dan persaingan kotor.
Hunter Academy tampak seperti kampus futuristik. Pagar besi tinggi mengelilingi area luas dengan beberapa gedung bergaya modern dan minimalis. Di tengah-tengah, menara observasi setinggi dua puluh lantai berdiri megah, puncaknya memancarkan cahaya biru lemah. Gerbang utama dijaga oleh petugas berseragam ketat dengan senjata yang bukan senjata biasa—pangkalnya terdapat batu kristal berwarna.
Ji-hoon turun dari mobil, tas ransel berisi dokumen tergantung di pundaknya. Ia merasa seperti anak baru pertama kali masuk sekolah, ditambah dengan rasa cemas karena menyamar.
“Aku jemput nanti sore. Semoga berhasil, Min-jae.” Dae-hyun melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju pergi.
Ji-hoon menarik napas dalam-dalam dan berjalan menuju gerbang. Ia menunjukkan kartu identitas siswa sementara yang diberikan padanya. Penjaga memindainya dengan device genggam, mengangguk, dan mengizinkannya masuk.
Suasana di dalam akademi berbeda dengan dunia luar. Energi terasa… lebih padat. Udara seolah bergetar halus. Di sekelilingnya, siswa-siswa lain berlalu-lalang. Beberapa terlihat biasa seperti dirinya, tetapi banyak yang memiliki ciri khas: ada yang matanya bersinar sedikit, ada yang kulitnya seperti bersisik halus, ada yang membawa senjata berbentuk aneh yang dilipat. Mereka semua bergerak dengan percaya diri, penuh energi.
Ji-hoon merasa sangat biasa. Terlalu biasa.
Dengan mengikuti papan petunjuk, ia sampai di Gedung Administrasi. Lobi gedung itu luas dan ramai dengan siswa yang mengantri atau berdiskusi. Suara gemuruh rendah memenuhi ruangan. Ji-hoon menuju loket pendaftaran ulang.
“Nama?” tanya petugas di balik konter, seorang wanita paruh baya dengan kacamata.
“Kang Min-jae.”
Wanita itu mengetik sesuatu di komputernya. Matanya menyipit saat membaca layar. “Kang Min-jae… ya, kamu yang tertunda karena kecelakaan. Kamu dijadwalkan tes evaluasi bakat ulang di ruang 304, lantai 3. Ambil nomor antrian ini.” Ia memberikan selembar kertas dengan kode QR.
“Tes bakat ulang? Aku pikir hanya tes kesehatan?” tanya Ji-hoon, sedikit khawatir.
“Kebijakan baru. Semua siswa yang absen panjang atau mengalami trauma fisik berat harus menjalani evaluasi ulang untuk memastikan tidak ada perubahan potensi,” jawab petugas itu dengan nada rutin. “Sekarang, silakan menunggu dipanggil.”
Ji-hoon mengangguk dan pergi ke area tunggu. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Tes bakat. Itu berarti mereka akan mengukur kekuatannya—atau lebih tepatnya, ketiadaan kekuatannya. Ingatan Min-jae menyebutkan bahwa dalam tes awal setahun lalu, potensinya hanya terukur di level E, yang terendah. Hampir tidak layak untuk akademi bergengsi ini. Ia hanya diterima karena nama keluarganya dan donasi ayahnya.
Sekarang, dengan ‘jiwa’ yang berbeda dan sedikit telekinesis yang tidak terkontrol, apa yang akan terjadi?
Ia duduk di kursi plastik, mencoba menenangkan diri. Ia mengamati siswa lain yang juga menunggu. Seorang anak laki-laki dengan rambut merah cemas memutar-mutar jarinya, dan ujung jarinya mengeluarkan percikan api kecil. Seorang perempuan dengan telinga runcing—mungkin keturunan elf?—sedang berkonsentrasi penuh, dan bola air kecil mengambang di atas telapak tangannya.
Mereka semua punya kekuatan yang jelas. Terukur. Dapat dikontrol.
Ji-hoon mengepalkan tangannya. Ia mencoba merasakan energi di sekitarnya, seperti yang pernah ia lakukan dengan tirai. Ia merasakan getaran halus di udara, aliran energi yang samar yang mungkin adalah ‘mana’. Tapi ia tidak tahu cara menyalurkannya, cara mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna.
“Kang Min-jae! Ke ruang 304!” suara dari speaker mengumumkan.
Ia bangkit, langkahnya terasa berat. Ruang 304 adalah sebuah ruangan putih dengan beberapa peralatan yang tidak ia kenali. Seorang pria berjas lab putih dan seorang wanita dengan tablet di tangannya sedang menunggu.
“Kang Min-jae? Silakan masuk,” kata pria itu. “Saya Instructor Park, dan ini Assistant Kim. Kami akan melakukan pengukuran ulang. Mohon kooperatif.”
“Baik, Instructor.”
Tes pertama adalah fisik standar: tekanan darah, detak jantung, refleks, pengambilan sampel darah. Assistant Kim dengan cekatan menusukkan jarum kecil ke lengannya. Ji-hoon mengerang pelan. Ia masih tidak terbiasa dengan tubuh ini, dengan sensasi yang terkadang terasa berbeda.
“Kondisi fisik membaik, sesuai laporan medis. Tidak ada anomali,” gumam Instructor Park sambil mencatat.
Lalu, bagian utama dimulai.
“Sekarang, kita ukur kapasitas mana dan afinitas elemenmu,” kata Instructor Park. “Berdirilah di lingkaran itu.”
Di tengah ruangan, terdapat sebuah lingkaran logam di lantai dengan simbol-simbol rumit. Ji-hoon melangkah ke dalamnya. Begitu kakinya menginjak lingkaran itu, simbol-simbol tersebut menyala biru.
“Tutup matamu. Kosongkan pikiran. Cobalah merasakan energi di dalam tubuhmu, dan biarkan mengalir keluar,” instruksi Assistant Kim.
Ji-hoon menutup matanya. Ia mencoba. Ia merasakan getaran halus tadi, sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Tapi itu seperti mencoba menggenggam asap. Setiap kali ia merasa ‘mendapatkannya’, ia langsung lepas.
Lampu di lingkaran itu berkedip-kedip, tapi tidak stabil. Monitor di dinding menunjukkan grafik yang datar, dengan sesekali lonjakan kecil tak berarti.
Instructor Park menghela napas. “Sama seperti data lamanya. Kapasitas mana sangat rendah. Hampir di level non-Hunter.” Ia menoleh ke Ji-hoon. “Coba fokus pada satu elemen. Api? Angin? Tanah? Air? Pikirkan sesuatu yang paling nyaman bagimu.”
Ji-hoon berpikir. Ia bukan Min-jae yang mungkin punya preferensi. Sebagai Ji-hoon, ia selalu menyukai ketenangan, kestabilan. Buku. Kertas. Kata-kata. Hal-hal yang diam. *Tanah*, pikirnya. Sesuatu yang solid.
Ia mencoba membayangkan dirinya berdiri di tanah yang kokoh. Akar yang menjalar. Batu yang padat.
Lampu lingkaran tetap biru, tidak berubah warna menjadi cokelat seperti yang diharapkan untuk elemen tanah. Grafik tetap datar.
“Tidak ada afinitas elemen yang terdeteksi,” Assistant Kim melaporkan dengan nada datar. Ia mengetuk tabletnya. “Kami lanjut ke tes psikis dan kinetik.”
Mereka memindahkannya ke sebuah kursi dengan helm penuh kabel. Helm itu ditempelkan ke kepalanya. “Ini akan mengukur potensi psikis—telepati, telekinesis, clairvoyance, dan sejenisnya,” jelas Instructor Park.
Ji-hoon merasa sedikit harapan. Mungkin ini jalannya.
Alat itu dinyalakan. Sensasi gelitik listrik ringan menyebar di kulit kepalanya. Ji-hoon kembali mencoba merasakan kekuatannya. Kali ini, karena helm mungkin memicu sesuatu, ia merasa lebih mudah. Ia bisa merasakan keberadaan sebuah bola logam kecil di atas meja di seberang ruangan. Tanpa membuka mata, ia ‘meraihnya’ dengan pikirannya.
Di monitor, garis grafik yang sebelumnya datar tiba-tiba melonjak. Tidak tinggi, tetapi signifikan.
“Hmm?” Instructor Park mendekati monitor. “Ada aktivitas psikis. Konsentrasi pada objek tertentu?”
“Aku… mencoba menggerakkan bola itu,” kata Ji-hoon jujur.
“Coba lagi. Fokus.”
Ji-hoon mencoba. Bolanya bergoyang-goyang, lalu berguling jatuh dari meja dengan suara ‘klik’.
“Telekinesis dasar,” gumam Assistant Kim, mencatat. “Kekuatan sangat lemah, estimasi level F hingga E. Radius terbatas, presisi rendah. Tapi… ini perkembangan dari data lama yang sama sekali tidak mencatat kemampuan psikis.”
Instructor Park mengangguk, ekspresinya tidak lagi datar. “Min-jae-ssi, sepertinya kecelakaan atau periode komamu memicu sesuatu. Meski kecil, ada perkembangan. Itu bagus.”
Ji-hoon merasakan kelegaan kecil. Setidaknya, ia tidak sepenuhnya ‘biasa’.
Tes terakhir adalah tes simulasi respons. Ia dimasukkan ke dalam pod seperti simulator virtual dan diberi skenario menghadapi monster kelas F—sebuah goblin. Tugasnya adalah bertahan selama satu menit.
Ji-hoon tidak punya pengalaman bertarung. Saat goblin digital itu menerjang dengan tongkat, ia berusaha menghindar dengan kikuk. Instingnya sebagai Ji-hoon adalah lari atau cari tempat berlindung, bukan melawan. Ia mencoba menggunakan telekinesisnya untuk menjatuhkan batu virtual ke kepala goblin, tapi kekuatannya terlalu lemah dan akurasinya buruk. Batu itu meleset.
Pod terbuka setelah satu menit. Ia ‘selamat’ hanya karena simulator diprogram untuk tidak membunuh siswa di tes ini.
“Refleks pertahanan pasif, taktik menghindar. Tidak ada agresivitas atau kemampuan ofensif,” catat Assistant Kim. “Rekomendasi: jalur Support atau Strategist, bukan Frontline.”
Instructor Park memandang Ji-hoon. “Dengan hasil ini, potensimu tetap diklasifikasikan di peringkat E, dengan catatan ada perkembangan kecil di bidang psikis. Kamu akan ditempatkan di Kelas Remedial—kelas khusus untuk siswa dengan potensi terbatas atau keterlambatan—selama semester pertama. Jika menunjukkan kemajuan, kamu bisa naik ke kelas reguler.”
Kelas Remedial. Kata itu terdengar menyakitkan. Tapi Ji-hoon mengangguk. Itu masuk akal. Ia memang baru mulai.
“Terima kasih, Instructor.”
Setelah semua prosedur selesai dan ia mendapatkan kartu siswa baru dengan status “E-Rank Potential, Kelas 1-R (Remedial)”, Ji-hoon keluar dari gedung dengan perasaan campur aduk. Ia lega berhasil melewati tes tanpa ketahuan sebagai ‘penyusup’. Tapi ia juga merasa kecil. Di dunia yang menghargai kekuatan, ia berada di dasar.
Saat ia berjalan menyusuri koridor menuju lobi, sekelompok siswa melewatinya. Mereka memakai seragam dengan lencana ranking di bahu—beberapa berwarna perak (C-Rank), bahkan ada yang emas (B-Rank). Mereka berbicara dengan lantang tentang misi praktik ke Gerbang D-Rank.
“…dapat tiga crystal kemarin, nilainya cukup untuk bayar uang semester…”
“…goblins itu mudah, tapi harus hati-hati dengan Hobgoblin yang jadi bos…”
Ji-hoon menunduk, berusaha tidak menarik perhatian. Tapi salah satu dari mereka, seorang siswa tinggi dengan rambut pirang diwarnai, menatapnya.
“Hei, lihat itu. Kartu merah.” Siswa itu menyindir ke arah Ji-hoon. Kartu siswa Ji-hoon yang berwarna merah menandakan kelas Remedial, berbeda dengan kartu hijau (reguler), biru (prestasi), atau hitam (elite).
Temannya yang lain menyeringai. “Kelas Remedial sudah mulai menerima siswa baru? Kupikir mereka akan tutup karena tidak ada yang mau jadi beban.”
Ji-hoon berusaha tetap tenang. Ia terus berjalan, mengabaikan mereka. Tapi siswa tinggi itu melangkah menghalangi jalannya.
“Kamu, yang baru. Siapa namamu?”
“Kang Min-jae,” jawab Ji-hoon pendek, mencoba melewatinya.
“Kang?” siswa itu mengernyit. “Keluarga Kang yang punya ilmuwan gila itu?”
Rasa panas menyembur di dada Ji-hoon—campuran amarah Min-jae dan kebencian Ji-hoon pada penindas. “Bicaralah dengan hormat.”
“Atau apa? Kamu akan laporkan aku? Dengan potensi E-mu?” siswa itu menertawakannya. “Dengar, anak Remedial. Jangan bermimpi tinggi. Bertahan saja di akademi ini, lalu pulang dengan malu. Itu sudah cukup.”
Ji-hoon mengepalkan tangan. Ia ingin membalas. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Telekinesis lemahnya tidak akan menggerakkan orang ini. Fisiknya? Ia yakin Min-jae mungkin lebih terlatih, tapi Ji-hoon tidak punya memori otot untuk bertarung.
Di saat emosinya memuncak, tanpa ia sadari, kekuatannya bereaksi. Bukan ke arah siswa itu, tapi ke sebuah pot tanaman hias di pinggir koridor.
Pot tanah liat itu retak dengan suara keras, lalu pecah berantakan. Tanah dan tanaman berserakan di lantai.
Siswa tinggi itu dan teman-temannya terkejut, menoleh ke sumber suara.
“Apa itu?”
“Potnya jatuh sendiri?”
Ji-hoon sendiri terkejut. Ia tidak bermaksud melakukannya. Kekuatannya merespons emosinya secara liar.
Tapi kejadian itu mengalihkan perhatian. Siswa tinggi itu menghela napas, melihat kerusakan. “Sudahlah. Ayo pergi. Tidak worth it ribut dengan anak Remedial.”
Mereka pergi, meninggalkan Ji-hoon sendirian di koridor dengan pot pecah.
Seorang petugas kebun datang dengan wajah kesal. “Apa yang terjadi di sini?”
“Maaf, tadi ada yang tidak sengaja menyenggol,” kata Ji-hoon cepat. Ia membantu membereskan pecahan pot dengan tangan gemetar.
Petugas itu mengomel, tapi akhirnya menerima bantuannya.
Setelah selesai, Ji-hoon berjalan cepat keluar dari gedung. Dadanya masih berdebar. Pertemuan itu mengingatkannya: dunia ini keras. Hierarki berdasarkan kekuatan itu nyata. Dan ia berada di lapisan terbawah.
Tapi di balik rasa malu dan marah, ada percikan lain. Kekuatannya bereaksi terhadap emosi. Itu berarti ada hubungan antara kondisi psikisnya dan kemampuan telekinesis. Mungkin, jika ia bisa belajar mengontrol emosi dan fokus, ia bisa mengontrol kekuatannya juga.
Ia tiba di halte bus dalam kompleks akademi. Sambil menunggu, ia membuka kartu siswanya. Tulisan “Kelas Remedial” terpampang jelas.
**[Analisis situasi selesai.]** Suara sistem tiba-tiba muncul. **[Rekomendasi strategi bertahan hidup: hindari konflik frontal. Fokus pada pengembangan kemampuan psikis dan akumulasi pengetahuan. Gunakan keunggulan kognitif ‘Ji-hoon’ untuk analisis taktis.]**
Keunggulan kognitif Ji-hoon. Ya. Ia bukan petarung, tapi ia adalah editor. Ia terbiasa menganalisis cerita, karakter, plot, mencari kelemahan dan pola. Mungkin itu adalah senjatanya di dunia ini.
“Min-jae!” teriakan familiar memecah konsentrasinya.
Ia menoleh. Seorang perempuan dengan rambut pendek cokelat, mata besar yang bersinar, dan seragam akademi yang sama berlari ke arahnya. Yoo Na-rae.
“Na-rae,” sambutnya, mencoba tersenyum.
“Aku dengar kamu tes hari ini! Gimana hasilnya?” tanya Na-rae, napasnya terengah. Wajahnya penuh harapan.
Ji-hoon menunjukkan kartu merah itu dengan enggan. “Kelas Remedial. Potensi E.”
Ekspresi Na-rae redup sejenak, tapi cepat digantikan oleh senyuman penyemangat. “Tidak apa! Itu awal. Aku yakin kamu bisa naik peringkat! Aku di Kelas Reguler C, departemen Support. Kita tetap bisa jadi tim nanti, kan?”
Kepercayaan Na-rae yang tulus membuat beban di dada Ji-hoon sedikit terangkat. “Ya. Tentu.”
“Kamu pulang? Aku antar ke halte luar. Aku cerita tentang akademi!” Na-rae menggandeng lengan Ji-hoon dengan akrab, menariknya berjalan.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Ji-hoon merasakan kehangatan yang nyata. Bukan dari ingatan, tapi dari interaksi langsung. Mungkin, di tengah semua bahaya dan tekanan, masih ada hal-hal baik yang tersisa.
Saat ia naik bus sendirian, menatap pemandangan kota futuristik di luar jendela, tekadnya menguat. Kelas Remedial? Tidak masalah. Itu hanya setting awal. Setiap protagonis besar selalu mulai dari bawah. Dan ia, dengan dua set ingatan dan sebuah sistem misterius, punya lebih banyak alat daripada yang orang kira.
Esok hari, kelas akan dimulai. Dan perjalanan Kang Min-jae—dan Kang Ji-hoon di dalamnya—sebagai Hunter yang paling tidak biasa, benar-benar dimulai.
*Di ruang kontrol akademi, Instructor Park dan Assistant Kim masih mendiskusikan hasil tes.*
*“Aktivitas psikisnya aneh,” kata Assistant Kim, memutar ulang rekaman grafik. “Lonjakannya tidak alami. Seperti ada sumber lain yang tiba-tiba menyala, lalu padam.”*
*Instructor Park mengangguk pelan. “Dan pot tanaman itu… kamu lihat rekaman keamanan?”*
*Mereka memutar rekaman dari kamera koridor. Tampak Ji-hoon mengepalkan tangan, wajah marah, lalu pot di belakang siswa lain tiba-tiba retak dan pecah. Tidak ada yang menyentuhnya.*
*“Telekinetic outburst. Dipicu emosi. Kekuatan liar dan tidak terkontrol, tapi… ada potensi laten di sana,” analisis Instructor Park. “Pantau dia. Laporkan ke departemen penelitian psikis. Siapa tahu, anak ini mungkin bukan sekadar E-Rank biasa.”*
*Assistant Kim membuat catatan. Nama “Kang Min-jae” sekarang ada dalam daftar pengamatan khusus.*
*Sementara itu, di dalam bus, Ji-hoon tidak tahu bahwa ia telah menarik perhatian yang tidak diinginkan. Ia hanya memandang langit yang mulai senja, sambil memikirkan kata-kata terakhir sistem sebelum menghilang:*
*[Tujuan berikutnya: Bertahan di minggu pertama akademi. Tingkatkan kontrol psikis dasar hingga 5%.]*