Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 (telung puluh telu)
Tiga bayangan hitam itu meluncur mulus melewati celah di bawah gerbang batu yang belum rapat sempurna. Mereka mendarat di atas tanah perkebunan yang gembur tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gerakan mereka sinkron, mematikan, dan terlatih.
Di hadapan mereka, ladang sayuran raksasa terbentang dalam kegelapan. Batang-batang jagung pelangi yang tinggi menjulang seperti dinding labirin, sementara bayangan pohon apel raksasa menciptakan sudut-sudut mati yang sempurna untuk bersembunyi.
"Area bersih," bisik salah satu pembunuh. "Tidak ada penjaga."
Namun, suara berat dari arah depan membekukan darah mereka.
"Siapa bilang tidak ada penjaga?"
Feng Shura bangkit dari posisi duduknya di tengah jalan setapak. Ia tidak menghunus pedangnya. Ia hanya berdiri tegak, membiarkan jubahnya berkibar ditiup angin malam. Aura membunuh yang ia pancarkan begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa berat.
"Satu orang?" Pemimpin Unit Bayangan mendengus meremehkan. "Bunuh dia. Cepat."
Dua pembunuh di kiri dan kanan langsung melesat maju. Pisau belati beracun di tangan mereka berkilat hijau, mengincar leher dan jantung Shura.
Tapi sebelum mereka bisa mendekat dalam jarak serang...
[Sistem Pertahanan: AKTIF.]
Di ruang bawah tanah, Han Jia menekan tombol merah dengan wajah dingin.
KRETEK!
GRRRAAAK!
Tanah di bawah kaki para pembunuh itu tiba-tiba meledak. Bukan ledakan api, tapi ledakan pertumbuhan.
Puluhan Akar Pengikat Baja tanaman hasil rekayasa genetika yang seratnya sekeras kawat besi melesat keluar dari dalam tanah seperti tentakel gurita yang marah. Akar-akar itu tidak sekadar melilit; mereka menyabet, menusuk, dan mencengkeram.
"Apa in—ARGHH!"
Pembunuh di sebelah kiri terlambat bereaksi. Akar baja itu melilit pergelangan kakinya, lalu dengan sentakan brutal, membanting tubuhnya ke tanah.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar mengerikan. Sebelum dia sempat berteriak, akar lain melilit lehernya, membungkam suaranya selamanya.
"Sihir Kayu?!" teriak pembunuh kedua, melompat mundur dengan panik. Ia menebas akar itu dengan belatinya.
TANG!
Suara logam beradu logam. Akar itu tidak putus! Belatinya justru terpental.
"Itu bukan kayu biasa," suara Han Jia terdengar menggema melalui pengeras suara yang dipasang di menara pengawas. Suaranya datar, seperti dosen yang sedang menjelaskan anatomi katak. "Itu adalah varietas Titanium Root dengan selulosa yang diperkuat zat besi. Kau butuh gergaji mesin untuk memotongnya, bukan pisau buah."
Saat pembunuh kedua itu teralihkan oleh suara Han Jia, Shura bergerak.
Ia tidak menggunakan teknik pedang rumit. Ia hanya menggunakan kecepatan murni Buruh Tani Menengah.
BUK!
Tinju Shura menghantam dada pembunuh kedua. Terdengar suara rusuk yang hancur berkeping-keping. Tubuh si pembunuh terlempar lima meter ke belakang, menabrak tembok batu, dan jatuh tak bernyawa.
Kini, tinggal sang Pemimpin Unit Bayangan.
Matanya melebar di balik topeng hitamnya. Dalam hitungan detik, dua anak buah terbaiknya tewas. Bukan oleh pasukan, tapi oleh tanaman dan satu orang penjaga.
"Siapa kalian sebenarnya..." desis Pemimpin itu. Tangannya membentuk segel tangan cepat. "Teknik Bayangan: Ribuan Jarum Hitam!"
Bayangan tubuhnya meledak menjadi ratusan jarum hitam tajam yang melesat ke arah Shura seperti hujan peluru.
Shura mencabut pedangnya.
"Teknik Pedang Jenderal: Benteng Angin." Shura memutar pedangnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menciptakan dinding angin di depannya.
TING! TING! TING!
Semua jarum bayangan itu tertangkis jatuh.
Pemimpin pembunuh itu tahu dia kalah. Misinya gagal. Ia berbalik, berniat melarikan diri dengan melompati tembok.
"Kau mau kemana?" suara Han Jia terdengar lagi. "Hera, lepaskan Spora Tahap 2."
Di sepanjang dinding perimeter, bunga-bunga ungu kecil yang tampak cantik tiba-tiba mekar serentak dan menyemburkan debu halus berwarna merah muda ke udara.
Pemimpin itu menghirup napas saat bersiap melompat. Dan itu adalah kesalahan fatal.
"Uhuk!"
Tubuhnya mendadak kaku di udara. Penglihatannya berputar. Kakinya terasa seperti jeli. Ia jatuh kembali ke tanah dengan keras.
BRUK!
Ia mencoba bangkit, tapi saraf motoriknya tidak merespons. Ia hanya bisa berkedut-kedut di tanah seperti ikan yang kehabisan air.
"Neurotoksin pelumpuh syaraf," jelas Han Jia lewat pengeras suara. "Bekerja dalam 3 detik setelah inhalasi. Membuatmu sadar sepenuhnya, tapi tidak bisa menggerakkan satu otot pun. Rasanya menakutkan, bukan?"
Pintu laboratorium terbuka. Han Jia berjalan keluar, mengenakan jas putih bersih dan masker gas. Di tangannya, dia memegang sebuah suntikan kosong berukuran besar.
Shura menyarungkan pedangnya, menatap tubuh pemimpin pembunuh yang lumpuh itu dengan tatapan dingin.
"Dia masih hidup, Bos," lapor Shura.
"Bagus," Han Jia berjongkok di samping si pembunuh. Ia menatap mata si pemimpin yang memancarkan teror murni.
"Kau tahu, Tuan Pembunuh," bisik Han Jia pelan. "Aku butuh subjek uji coba untuk pupuk komposisi baru. Tapi karena kau datang sendiri ke sini... mungkin kau lebih berguna sebagai sumber informasi."
Han Jia menepuk pipi si pembunuh yang kaku.
"Bawa dia ke Basement, Shura. Ikat di kursi interogasi. Aku ingin tahu siapa yang mengirim mereka, dan seberapa banyak mereka tahu tentang kita."
Shura mengangguk. Ia menyeret tubuh kaku pemimpin pembunuh itu seolah sedang menyeret karung beras.
Malam kembali sunyi. Akar-akar baja perlahan masuk kembali ke dalam tanah, menyisakan dua mayat yang akan segera menjadi pupuk alami bagi ladang Han Jia.
Di atas tembok, tulisan peringatan [ZONA KARANTINA BIOLOGIS] tampak bersinar samar tertimpa cahaya bulan, seolah menegaskan bahwa tulisan itu bukan lelucon.