NovelToon NovelToon
Ning Abigail

Ning Abigail

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan, Pengakuan, dan Reaksi Para Santri

[Pagi yang cerah. Tiba-tiba, mbak ndalem yang bertugas di ndalem barat mengetuk pintu kamar Ning Abigail.]

Mbak Ndalem: (dari luar pintu) "Ning, maaf mengganggu. Ada dawuh dari Abah Yai, Ning Abigail disuruh ke ndalem tengah sekarang."

[Ning Abigail yang baru saja bangun langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia mandi dan bersiap-siap. Setelah selesai, ia menghampiri mbak ndalem.]

Ning Abigail: "Nggak usah masak sarapan buat saya, Mbak. Nanti saat makan siang saja."

Mbak Ndalem: (mengangguk) "Nggih, Ning."

[Setelah berbicara dengan mbak ndalem, Ning Abigail langsung menuju ke ndalem tengah. Sesampainya di sana, ia mengucapkan salam dan menyalami Abi Rasya dan Umi Nida.]

Ning Abigail: (dengan sopan namun tetap dingin) "Assalamualaikum, Abi, Umi."

Abi Rasya: "Waalaikumsalam, Dek. Sudah bangun?"

Umi Nida: "Sini, Nak, sarapan dulu."

Ning Abigail: "Nggak usah, Umi. kula nyari Abah."

[Dengan sikap ketawadhuan yang lebih dari seorang santri, Ning Abigail menghampiri akungnya, Kyai Hamdan, di kamarnya. Di dalam kamar juga ada utinya, Nyai Dewi. Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.]

Ning Abigail: (mengetuk pintu) "Assalamualaikum. Ini Abigail."

Kyai Hamdan: "Waalaikumsalam. Masuk, Nduk."

[Ning Abigail masuk ke dalam kamar. Di sana, akungnya mulai membahas tentang perjodohan.]

Kyai Hamdan: "Abah mau menjodohkan kamu dengan Gus di pesantren Al-Fattah, cucu pertama dari Kyai Hamid. Kamu setuju?"

[Ning Abigail sudah tahu tentang rencana perjodohan ini. Namun, ia belum memberikan keputusan apa pun. Selain itu, ia juga sedang didekati oleh beberapa cowok dari berbagai kota. Ia belum berani menceritakan hal ini kepada akungnya. Namun, hari ini ia bertekad untuk memberanikan diri.]

Ning Abigail: (dengan ragu) "Abah, sebenarnya...ada beberapa cowok yang mendekati Abigail."

Kyai Hamdan: (menatap cucunya dengan tatapan lembut) "Siapa saja mereka?"

Ning Abigail: "Ada yang pernah datang ke pesantren, ada juga yang di Pasuruan tiba-tiba ingin khitbah Abigail, lalu saat di pesantren Al-Fattah juga begitu."

[Abah Yai pun berkata dengan tegas.]

Kyai Hamdan: "Kalau dari mereka semua memang mau sama kamu, Nduk, biar nanti mereka datang ke sini. Bicara berhadapan sama Abah Yai juga sama Abi Rasya."

Ning Abigail: (mengangguk) "Nggih, Abah."

[Setelah berbicara dengan akungnya, Ning Abigail berencana untuk pergi ke kantin pesantren. Letak kantin pesantren berada di area sekitar asrama putra. Dengan kebingungan yang masih menyelimuti pikirannya, ia berjalan menuju kantin.]

[Sesampainya di kantin, ia memesan makanan berupa nasi, lauk telur, dan sambal terasi yang praktis. Sambil menunggu pesanannya, ia membeli es krim untuk dimakan pagi-pagi.]

[Para santri yang berada di dalam kantin terkejut melihat Ning Abigail datang. Mereka berbisik-bisik satu sama lain.]

Santri 1: "Eh, itu Ning Abigail kan?"

Santri 2: "Iya, bener. Ngapain Ning Abigail ke sini?"

Santri 3: "Mungkin lagi pengen jajan kali."

[Ning Abigail yang sedang mencari tempat duduk untuk makan menjadi pusat perhatian. Salah seorang pengurus putra yang melihat Ning Abigail di area asrama putra, tepatnya di kantin, menawarkan tempat duduk.]

Kang Pengurus: (dengan sopan) "Ning, makan di sini mawon."

Ning Abigail: (menjawab dengan nada dingin) "Nggih."

[Tiba-tiba, Gus Faiq dan Gus Ivan menghampiri Ning Abigail. Gus Ivan langsung menarik tangan Ning Abigail dan mengajaknya pergi dari kantin.]

Gus Ivan: "Dek, makan di sini aja. Di sana diliatin banyak santri putra, nggak enak."

Ning Abigail: (hanya membalas dengan deheman dingin) "Hm."

[Gus Faiq dan Gus Ivan membawa Ning Abigail ke ndalem selatan 2. Sesampainya di sana, Gus Ivan berkata.]

Gus Ivan: "Makan di sini aja, Dek. Di sini lebih nyaman dan nggak ada yang lihatin."

Ning Abigail: (tetap dengan ekspresi dinginnya) "Hm."

[Tiba-tiba, Gus Faiq membahas tentang pria yang pernah datang ke pesantren dan menyuruh Ning Abigail pergi ke Kudus.]

Gus Faiq: "Kamu sudah bilang ke Abah Yai tentang pria itu, Dek?"

[Belum sempat Ning Abigail menjawab, ia tiba-tiba tersedak dan terbatuk-batuk. Ia segera meraih air dingin yang tadi dibelinya saat membeli es krim dan meminumnya.]

Ning Abigail: (terbatuk-batuk) "Uhuk...uhuk..."

Gus Faiq: (khawatir) "Pelan-pelan, Dek. Kenapa sih?"

[Ning Abigail menatap Gus Faiq dengan tatapan marah. Tiba-tiba, ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke depan masjid asrama putra yang biasa dijadikan tempat sambangan. Di sana, ada empat santri senior putra yang sedang duduk-duduk.]

Ning Abigail: (dengan nada dingin) "Eh, Dek, ikut makan di sini ya."

Santri Senior 1: (terkejut) "Nggih, Ning. Siap."

[Ning Abigail duduk di depan masjid asrama putra dan mulai makan. Para santri yang melihat kejadian ini merasa heran dan berbisik-bisik satu sama lain.]

Santri 4: "Eh, lihat itu! Ada Ning Abigail!"

Santri 5: "Iya, ngapain Ning Abigail makan di depan masjid?"

Santri 6: "Tadi bukannya makan di ndalemnya Gus Ivan ya?"

Santri 7: "Kok tiba-tiba pindah ke sini?"

Santri 8: "Nggak tahu. Mungkin lagi pengen cari suasana baru."

Santri 9: "Atau mungkin lagi ada masalah sama Gus Ivan sama Gus Faiq."

Santri 10: "Wah, bisa jadi nih. Ning Abigail kan terkenal dingin dan cuek. Nggak heran kalau sering bikin masalah."

[Para santri putra yang melihat Ning Abigail makan di depan masjid asrama putra merasa kaget dan heran. Mereka berbisik-bisik satu sama lain, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa dari mereka merasa kagum dengan keberanian Ning Abigail, namun ada juga yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya di area asrama putra.]

Santri 11: (berdecak kagum) "Wah, Ning Abigail keren banget! Berani makan di depan masjid asrama putra."

Santri 12: (merasa tidak nyaman) "Tapi nggak enak dilihat, Bro. Kan Ning Abigail cewek, masa' makan di depan asrama putra?"

Santri 13: (berusaha menenangkan) "Sudah, nggak usah dipermasalahkan. Mungkin Ning Abigail lagi pengen cari suasana baru."

[Para santri senior yang diajak makan bersama oleh Ning Abigail merasa senang dan tersanjung. Mereka berusaha bersikap sopan dan menjaga jarak dengan Ning Abigail.]

Santri Senior 2: "Ning, mau saya ambilkan minum?"

Ning Abigail: (menjawab singkat) "Nggak usah."

Santri Senior 3: "Ning, sambalnya kurang pedas? Mau saya tambahin?"

Ning Abigail: (tetap dengan nada dingin) "Nggak."

[Meskipun Ning Abigail bersikap dingin dan cuek, para santri senior tetap berusaha untuk menghormatinya.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!