Chuzuru seorang wanita cantik di Negeri Sakura, dan selalu membawa pedang Katana Hitam pekat, kemanapun dia pergi. Selain cantik, dia pegang nama besar keluarganya, yang bernama Handoyo, sebagai Samurai Sejati di Tokyo, jelas sangat di hormati banyak orang, bahkan termasuk Kaisar Negeri tersebut, tidak luput dapat hormat darinya. Selain itu, dia sudah bertunangan orang hebat, bahkan kadang-kadang dijuluki pasangan serasi. Akan tetapi hidupnya langsung berubah, saat dirinya melabrak seorang pria pekerja kasar, memukul pantatnya, tanpa pikir panjang, siapa pria yang melecehkan dirinya, ia langsung menyerahkan pihak kepolisian, agar dia di penjara. Hal inilah membuat Kota Tokyo terancam bahaya, oleh pria pekerja kasar, membuat dirinya harus menikah orang tersebut, dan segera memutuskan tunangan yang dia cintai, karena betapa bahaya pria pekerja kasar itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uwakmu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Terlalu disepelekan
"Wanita ini terlalu sopan, aku menyukainya, berbeda dengan wanita tolol itu." Batin Tio, dia malah memperbandingkan, stat pegawai Asosiasi Hunter, dengan Chuzuru, padahal Chuzuru jauh lebih cantik, daripada stat pegawai di sini. "Tidak lama lagi, dia akan aku taklukkan, bagaimana pun caranya?" Sambungnya.
Setelah mendapatkan sambutan baik, oleh salah satu stat pegawai Asosiasi Hunter, segala hormat, Ketua Peron berkata. "Bisakah Asosiasi Hunter, menahan orang ini di sini, dan aku harap kalian menerimanya."
Pegawai stat, yang sekarang menjadi resepsionis, sedikit terkejut, atas permohonan seperti itu. "Mohon maaf ini, dengan alasan apa? Orang ini harus di tahan di sini." Tanya Pegawai stat Asosiasi Hunter yang begitu sopan.
"Orang ini sangat berbahaya, bahkan sel tahanan lokal, tidak akan mampu bisa menahannya." Jawaban Ketua Peron, dia sudah berada di meja resepsionis, untuk segera memproses Tio, mumpung dia mau di bawa kemari.
"Bolehkah aku melihat laporan dokumen tersangka." Ujar Pegawai stat Asosiasi Hunter.
Tanpa ragu, Ketua Peron menyerahkan dokumen tentang status Tio saat ini. "Tolong cepat, aku takut... Dia bisa ngamuk kapan saja?" Bisik Ketua Peron.
"Tentu... Aku akan membawa laporan tersangka, kepada Kepala penjaga penjara, biar dia memutuskan, apakah tersangka? Boleh di tahan di sini." Balasan Pegawai stat di sana, dengan begitu cekatan dan lihai, seolah-olah menunjukkan bahwa dia berkerja profesional, di bidangnya.
"Baik." Jawab Ketua Peron, untuk tunggu dengan sabar.
Akan tetapi Tio merasakan lapar, tanpa ada rasa malu, dia berkata. "Pak polisi... Aku lapar, berikan aku makan, karena sejak pagi aku belum makan."
Mendengar permintaan itu, semua orang terkejut, hal ini di tanggapi santai oleh Ketua Peron. "Aan... Pesankan makanan buat dia, apa aja? Yang terpenting bikin dia kenyang."
Polisi yang bernama Aan, tentu menerima perintah. "Siap Pak!" Jawabannya, itupun setelah terima beberapa lebar uang Yen Jepang dari Ketua Peron.
"Kamu polisi yang baik, aku suka." Balasan Tio begitu senang.
"Jangan terlalu memuji, bagaimana pun juga, kamu itu tanggungjawab ku." Ujar Ketua Peron, dengan lelah berdiri, dan berniat untuk duduk sebentar, di ruangan tunggu.
......................
Sementara di kantor Penjaga Penjara Asosiasi Hunter, dia telah terima laporan dari data tersangka, setelah membaca isinya, dia sangat marah. "Apa-apaan ini?! Beraninya membawa orang sembarangan ke sini, apakah dia pikir tempat Asosiasi Hunter ini? Bisa datang suka hati! Emang brengsek! Ketua Peron itu." Ucapan Kepala penjaga penjara. "Daksa... Kita temuin orang itu segera." Perintahnya.
Daksa yang terima perintah itu, hanya nurut saja, lagipula dia sedikit terkejut, atas kemarahan Kepala Penjaga, padahal dia sangat fokus menjaga pintu Kantor Kepala Penjaga. "Siap Pak!" Jawabannya dengan rasa hormatnya terhadap Kepala Penjaga.
Tanpa buang-buang waktu, mereka berdua bergerak, temuin Ketua Peron dan yang lainnya, dengan kondisi Kepala Penjaga sangat marah.
......................
Berapa saat kemudian, Kepala Penjaga yang tidak bisa menjaga emosinya, dia pun meledak berkata. "Ketua Peron! Kamu keterlaluan! Kamu bawa tersangka biasa kemari!"
Teriakan tersebut, setelah sampai di ruangan tunggu Asosiasi Hunter, dengan kondisi Ketua Peron sedang tertidur di kursi, dengan topi polisi, menutup wajahnya, membuat para anggota polisi lokal terkejut atas kedatangan ya.
sedangkan Tio hanya fokus buat makan, lagipula ini bukan urusannya.
"Pak Abe... Kepala Penjaga Penjara Asosiasi Hunter, kamu sudah datang, dasar... Kamu buat aku terus menunggu ya." Ucapan Ketua Peron, seakan-akan dirinya orang dekat Pak Abe, seketika dia bangkit dari duduknya, dan memperbaiki keadaan topi polisinya, dengan benar.
"Kamu gila ya! Membawa tersangka biasa kemari! Kamu pikir kami ini titipan anak!" Marahnya Pak Abe, tak terima, sambil melangkah mendekat.
"Daripada kamu marah, sebaiknya kamu tanyakan, kenapa aku membawa orang ini kemari?" Balasan Ketua Peron, karena dia tahu, cara menghadapi Pak Abe, yang keras kepala, meskipun energi Sihir ya, di bawah Pak Abe, dia sama sekali tak gentar.
Tio melihatnya begitu takjub dibuatnya. "Aku ingin bertarung dengannya, sayangnya aku harus bersabar." Batin Tio, setelah dirinya selesai makan, dan sambil melihat pertunjukan di depan mata dia.
Dia merasa apa yang dia tonton? Keliatannya lebih seru, daripada video anime, yang dia sering tonton kan.
"Tidak perlu di tanyakan, Data yang kamu berikan kepadaku, sudah jelaskan semuanya, dia bernama Tio Satrio, merupakan orang migrasi berasal dari Indonesia, di usia 20 tahun, dia punya peluang pekerjaan, sebagai Jasa pemotong Berjanggut Merah, selain itu dia tinggal Apartemen sewaan, seluas tidak lebih dari 35-40 meter persegi, sebelum akhirnya, dia melakukan pelecehan terhadap wanita...." Tanggapan Pak Abe serius, tanpa cela.
"Aku sudah mengerti, tidak perlu jelaskan ini kepadaku, aku sudah pernah membacanya juga, yang harus kamu tahu adalah, orang ini sangat berbahaya, kalau dia di tahan di sel tahanan ku, aku justru sangat khawatir, jadi... Aku terpaksa membawa dia kemari, untuk minta tolong padamu, untuk ditahan di sel penjara mu sementara waktu." Sela Ketua Peron, dengan sabar menjelaskan kepada Pak Abe, agar permohonannya di terima.
"Ketua Peron... Jangan main-main denganku, apa yang kamu takutkan darinya? Dia itu manusia biasa, lagipula jangan berpikir jauh tentang dia, yang kamu tahu, dia itu cuma tersangka orang biasa, selain itu, dia tidak bisa melakukan apa-apa." Ucapan Pak Abe, dan segera mengabaikan khawatir Ketua Peron, menurut baginya, Ketua Peron terlalu cemas.
"Pak Abe... Aku mohon, tahan dia di sini, tidak akan lama kok percayalah, kalau aku salah, aku akan traktir minum." Bujuk rayuan Ketua Peron.
Mendengar kata traktir minum, seketika Pak Abe tergoda. "Baiklah... Aku terima dia sebagai tahanan ku, dan buktikan bahwa dirimu salah." Ucapan Pak Abe, karena dirinya sangat senang, kalau soal traktir minum, saat itu terjadi, dia bisa mabuk sepuasnya, dan membuat Ketua Peron tengkor.
" Terimakasih Pak Abe, kalau begitu saya tinggal ya." Ucapan Ketua Peron, karena dia sangat senang, permohonannya di terima olehnya, meskipun harus kehilangan beberapa Yen yang dia punya.
Setelah melihat Ketua Peron pergi, bersama anak buah ya, dia pun memerintahkan Daksa, membawa Tio Satrio, di sel tahanan peringkat F.
Akan tetapi Daksa sempat membantahnya. "Tapi Pak Kepala, permohonannya diminta di penjara peringkat S, kok sekarang di peringkat F!"
"Diam... Tidak usah ikut campur, ikut saja perkataan ku, kalau kamu masih berkerja di sini!" Ucapan Pak Abe, jelas... Dia abaikan peringatan Ketua Peron.
Tanpa bantahan lagi, dia menuruti keinginan Pak Abe, mau gimana pun juga dia atasannya. "Sial... Aku dapat tekanan dari dia."
Berselang beberapa sesaat, Tio dimasukan di sel tahanan, yang berada di peringkat F.