NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:969.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 21 - Sebuah Upaya Penerimaan

Gus Faiz benar-benar merasa sedih. Kepergian Ilham sangat mengguncang jiwanya, namun meski begitu Gus Faiz sangat paham, kalau setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput. Kematian adalah takdir yang tidak bisa diubah dan salah satu takdir yang telah ditetapkan sejak zaman azali.

Gus Faiz mengusap wajahnya. Diapun menuju Kamar Mawar nomor 1, menemui Akbar sahabatnya. Gus Faiz berharap tidak akan ada yang terjadi pada Akbar.

Gus Faiz mempercepat langkahnya. Hingga sampailah Gus Faiz di kamar Akbar. Dia mulai melihat Akabar dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan dari Ilham sebelum meninggal.

“Akbar..” Gus Faiz menghampiri Akbar.

Akbar tak bergerak sedikitpun, matanya terpejam. Melihat mata Akbar yang terpejam Gus Faiz kembali mengingat Ilham. Gus Faiz lemas duduk di samping ranjang Akbar. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar tidak tega melihat Akbar.

“Selamat siang!” sapa seseorang.

Gus Faiz mendongak. Ternyata suara itu berasal dari seorang bapak-bapak berjaket hitam dan penuh wibawa. Gus Faiz buru-buru berdiri.

“Selamat siang, Pak.” kata Gus Faiz.

Bapak-bapak itu mengambil kartu namanya dari dalam dalam jaketnya lalu memperlihatkan pada Gus Faiz. “Saya dari kepolisian.” katanya.

Meski hanya melihat sekilas, namun Gus Faiz tahu kalau bapak yang berdiri di hadapannya adalah seorang polisi yang bernama Irwan.

“Apakah anda keluarga korban?” tanya Irwan.

“Saya teman dekatnya, Pak.” kata Gus Faiz.

“Bisa ikut saya sebentar?” tanya Irwan.

Gus Faiz mengangguk.

Irwan berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar, Gus Faiz mengekorinya. Ini kesempatan Gus Faiz untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena Aaron hanya mengatakan kalau ini kecelakaan tanpa tambahan sedikitpun.

“Saat insiden terjadi dia tidak membawa tanda pengenal maupun ponsel. Jadi, sembari mencari keluarganya kami menunggu keluarganya datang. Keluarga Alm. Ilham tidak ada yang mengetahui rumah maupun nama orang tuanya, jadi kami sedikit kesulitan.” kata Irawan saat berada di luar ruangan Akbar.

“Saya tahu alamat Akbar, Pak. Saya akan mencari kedua orang tuanya nanti.” kata Gus Faiz. “Apa yang telah terjadi, Pak? Mengapa kedua teman saya bisa sampai kecelakaan?” tanya Gus Faiz.

“Berdasarkan penyelidikan mereka terlibat perkelahian dan dikejar-kejar beberapa preman.” Iran menjelaskan.

Pikiran Gus Faiz melayang pada 6 preman yang dulu pernah berkelahi dengannya, Akbar dan Ilham. Gus Faiz yakin pasti mereka lah yang mengejar Akbar karena tidak terima kalah saat itu.

“Dulu saya, Ilham, dan Akbar juga pernah berurusan dengan 6 preman, Pak. Kalau saya tidak salah sepertinya ada kaitannya dengan keenam preman itu.” kata Gus Faiz.

“Bagaimana kronologisnya?” tanya IRwan.

“Akbar pernah di kejar 6 preman di Kawasan Setu, Pak. Lalu saya dan Ilham datang menolongnya dan berhasil kabur.” kata Gus Faiz.

“Mengapa tidak dilaporkan pada pihak yang berwajib?” tanya Irwan.

“Karena Akbar merasa masalahnya telah selesai, Pak.” kata Gus Faiz.

“Dasar anak muda.” kata Irwan menggeleng. “Kalau mengalami hal serupa tolong segera laporkan pada kami.” kata Irwan.

“Baik, Pak.” jawab Gus Faiz.

“Kamu tahu di mana lokasi mereka biasa nongkrong?” tanya Irwan.

“Dulu Akbar pernah berkata kalau mereka menguasai kawasan Jagakarsa arah-arah Depok, Pak. Untuk tempat persisnya saya kurang tahu.” kata Gus Faiz.

“Apakah kamu mengingat ciri-ciri mereka?” tanya Irwan.

“Di leher setiap preman itu ada tato bergambar ular.” kata Gus Faiz.

“Baik, terima kasih atas informasinya. Saya permisi dulu.” kata Irwan.

“Terima kasih kembali, Pak.” jawab Gus Faiz.

“Selamat siang.” salam Irwan.

Gus Faiz mengangguk. Setelah Irwan pergi. Gus Faiz kembali masuk ke ruangan. Di dalam ruangan sudah ada seorang dokter. Gus Faiz buru-buru mempercepat langkah, namun bukan lari menghampiri dokter tersebut.

“Bagaimana ini, Dok? Kita kehabisan kantong darah.” kata seorang suster pada Dokter.

“Ambil saja darah saya, Dok.” kata Gus Faiz.

“Apa golongan darahmu?” tanya Dokter.

“Golongan darah saya O.” kata Gus Faiz.

“Tidak cocok. Golongan darah pasien AB.” kata Dokter.

Gus Faiz menghela nafas kecewa karena tidak bisa mendonorkan darahnya pada Akbar.

“Apa kamu keluarga pasien?” tanya suster.

“Saya temannya, Sus.” kata Gus Faiz.

“Lebih baik kamu cari orang tuanya karena persediaan darah kami habis dan golongan darah pasien tergolong langka.” jelas suster.

Gus Faiz membeku di tempat. Suster dan dokter itupun pergi meninggalkan Gus Faiz. Gus Faiz menghampiri Ilham.

“Saya akan ke rumah kamu, Bar. Tolong tunggu saya kembali.” kata Gus Faiz berbalik.

Gus Faizpun langsung pergi. Tujuan utamanya adalah rumah Akbar. Gus Faiz berniat menemui Papa Akbar atau Robby di rumahnya. Di luar rumah sakit Gus Faiz bingung karena dia tidak punya kendaraan. Namun, cepat-cepat dia mengambil ponselnya dan mulai memesan ojek onlie, karena dia harus buru-buru.

Setelah memesan, satu kemudian ojek online yang dipesannya datang. Dia bergegas ke rumah Akbar.

“Tolong dipercepat, Pak. Laju motornya.” kata Gus Faiz.

“Ini udah paling kenceng, Mas.” kata pengemudi.

“Tolonglah, Pak. Teman saya sedang koma di rumah sakit.” seru Gus Faiz. “Saya akan berikan uang lebih..”

Mendengar Gus Faiz hendak memberikan uang lebih, Sang Pengemudi ojek online yang lajunya semua lambat langsung melaju sangat kencang. Gus Faiz menggeleng.

Tak lama kemudian Gus Faiz sampai di rumah Akbar. Gus Faiz buru-buru memberikan helm dan selembar uang berwarna merah pada pengemudi.

“Wah, saya tidak ada kembalinya, Mas.” kata pengemudi berbohong. Inilah yang sering dilakukannya pada penumpang yang memberikannya uang lebih. Berharap kembaliannya diberikan kepadanya.

“Ambil saja kembaliannya.” kata Gus Faiz.

“Wah, terima kasih, Mas.” kata pengemudi itu lagi.

Gus Faiz mengangguk lalu berjalan ke gerbang.

Gus Faiz menekan bel. Namun tidak ada yang keluar. Gus Faiz menekan bel lagi, namun tetap tidak ada jawaban.

Gus Faiz menekan bel sekali lagi. Seseorang keluar membukakan pintu. Namun, bukan Robby. Di sana ada seorang wanita cantik, namun bukan Yuni atau ibu Akbar.

Wanita cantik itu membukakan pintu gerbang.

“Siapa ya?” tanya wanita itu.

Wanita itu memandang wajah Gus Faiz dan memberikan tatapan memuja ke arah Gus Faiz. Gus Faiz sangatlah risih namun dia harus bertahan demi Akbar.

“Saya Faiz tante. Teman Akbar.” kata Faiz.

Mendengar nama Akbar disebut sorot mata wanita ini berubah. Dari yang awalnya memuja ketampanan Faiz berubah menjadi benci. Sepertinya dia benar-benar membenci Akbar.

“Pergi!” seru wanita itu smabil mendorong Faiz keluar gerbang.

“Tapi tante. Tolong biarkan saya bertemu dengan Om Robby. Akbar kecelakaaan dan..”

Belum sempat Faiz menyelesaikan kata-katanya, dia di dorong keluar dengan kuat oleh wanita pembenci Akbar itu. Wanita itu buru-buru menutup gerbang dan menguncinya.

“Tanteeee! Tolong biarkan saya bertemu dengan Om Robby, Tantee! Akbar koma di rumah sakit, Tante!” teriak Gus Faiz.

Namun teriakan Gus Faiz kembali menjadi sia-sia.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!