"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Sisa-Sisa Nyawa di Ujung Harapan
Suara ledakan helikopter di atas hutan bakau Pulau Bidadari Tua terdengar seperti kiamat kecil yang membelah sunyinya malam 2026. Tubuh Tian terhempas dari ketinggian, menghantam ranting-ranting pohon bakau yang keras sebelum akhirnya jatuh terperosok ke dalam lumpur payau yang amis. Rasa sakitnya tidak bisa lagi dideskripsikan dengan kata-kata; seolah setiap saraf di tubuhnya telah dicabut paksa.
Tian terengah-engah, memuntahkan air asin bercampur darah. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun bahunya terasa lepas. Di kegelapan itu, ia melihat sisa-sisa puing helikopter yang terbakar jatuh ke laut seperti bintang jatuh yang mati.
"Mega... Ibu..." rintihnya, suaranya parau hampir hilang.
Ia meraba saku celananya dengan jari yang gemetar. Jam tangan taktis pemberian Paman Hasan masih menyala, meski kacanya retak seribu. Sisa waktu: 12 menit. Indikator jantung Mega di layar jam itu berkedip merah pekat sebuah tanda bahwa racun di tubuh istrinya mulai memasuki tahap serangan sistemik.
"Belum... aku belum boleh mati!" Tian meraung, bukan karena takut kehilangan nyawanya sendiri, tapi karena ketakutan luar biasa akan kehilangan dunianya.
Dengan sisa tenaga yang menyerupai keajaiban, Tian merangkak keluar dari lumpur. Ia menggunakan sepotong kayu untuk menyangga bahunya yang patah, memaksanya kembali ke posisi semula dengan suara krak yang membuat pandangannya seketika putih karena rasa sakit yang luar biasa. Ia tidak peduli. Jika ia harus hancur, ia harus hancur di depan Aristha, setelah mengambil kode itu.
Tian bergerak menyelinap melalui barisan pengawal bersenjata lengkap yang mulai menyisir pinggiran hutan. Ia bukan lagi manusia; ia adalah bayangan dendam. Dengan satu tangan yang berfungsi, ia melumpuhkan dua penjaga secara senyap, mengambil senjata mereka, dan terus maju menuju bangunan utama yang berdiri angkuh di atas bukit karang.
Emosinya berkecamuk antara kemarahan yang membabi buta dan rasa bersalah yang menghimpit. Ia membayangkan wajah Mega saat pertama kali mereka menikah begitu penuh harapan. Dan sekarang, Mega harus bertaruh nyawa di sebuah ranjang dingin karena suaminya tidak mampu memberikan kehidupan yang aman.
"Maafkan aku, Sayang... Mas akan mengakhiri ini," bisiknya, air mata mengalir di wajahnya yang kotor oleh jelaga dan lumpur.
Ia berhasil mencapai lift eksternal markas Aristha. Di dalam, ia melihat pantulan dirinya pada kaca lift seorang pria yang hancur, bersimbah darah, dengan mata yang menyimpan api neraka. Saat lift berdenting di lantai puncak, ia disambut oleh keheningan yang mencekam.
Aristha duduk di teras terbuka yang menghadap laut, memegang sebuah tablet digital dan segelas wine. Di depannya, sebuah layar besar menampilkan siaran langsung dari kamar Mega dan ibunya di Jakarta.
"Tepat waktu, Macan," ucap Aristha tanpa menoleh. "Lihatlah, istrimu mulai kejang. Indah, bukan? Bagaimana cinta bisa membunuh seseorang secara perlahan."
Tian melangkah maju, moncong senjatanya bergetar karena emosi yang meluap. "MATIKAN! MATIKAN SEKARANG, ARISTHA!"
Aristha berbalik, tersenyum dingin. "Kau tahu peraturannya. Berikan aku data fisik yang kau curi dari Robert, dan aku akan mempertimbangkan untuk memberi mereka napas tambahan satu jam lagi."
"Kau sudah kalah, Aristha! Asetmu beku! Seluruh dunia mencarimu!" teriak Tian.
"Uang bisa dicari, Tian. Tapi nyawa? Itu hanya milikku malam ini," Aristha mengangkat jarinya di atas layar tablet, siap menekan perintah Execute.
Tian menurunkan senjatanya perlahan. Ia menyadari bahwa kekerasan tidak akan memenangkan detik-detik terakhir ini. Ia jatuh berlutut di depan Aristha. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun itu, kini bersujud di bawah kaki sang iblis demi surganya.
"Aku mohon... ambil nyawaku. Kau bisa menyiksaku selamanya, tapi biarkan mereka hidup," isak Tian, seluruh harga dirinya hancur berantakan di lantai marmer itu.
Aristha tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang memenuhi keheningan malam. "Inilah yang ingin kulihat. Sang Macan yang memohon seperti anjing. Baiklah, karena kau sudah menghiburku..."
Aristha mengulurkan tangannya yang memakai jam tangan kendali. "Sentuhkan jarimu di sini untuk mengonfirmasi penyerahan diri secara total, maka aku akan menonaktifkan racunnya."
Saat tangan Tian nyaris menyentuh jam tangan itu, sebuah ledakan laser dari kejauhan menghantam meja kaca di samping mereka. Jenderal Yudha ternyata telah meluncurkan serangan udara presisi dari kapal perang yang mendekat. Aristha terkejut dan tabletnya terlempar. Di layar monitor besar, suara alarm kematian di kamar Mega berbunyi panjang: Teeeeeeeeeeet... Garis jantung Mega di Jakarta mendatar. Mega berhenti bernapas. Tian mematung, dunianya seketika gelap gulita. "TIDAK! MEGAAAA!" Tian menerjang Aristha dengan pisau di tangan, tidak lagi untuk negosiasi, tapi untuk mengirim mereka berdua ke neraka bersama-sama.