Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Hantu, dia hantu, dia kerasukan Olivia" Ucap Martin yang memeluk Agres dengan erat lantaran takut dengan perubahan Ivana.
Ivana yang melihat mereka seperti itu pun, langsung memberikan tatapan yang tajam, kepada keduanya.
"Aku Anna, bukan Olivia." Ucapannya semakin tak masuk akal saja. Ivana kini benar-benar membuat Martin dan Agres tampak semakin kebingungan di buatnya.
"Haruskah kita melanjutkan sesuatu yang tertunda." Ucap Saga dengan raut wajah tampak menggoda Ivana, namun Ivana mengelak. Ia tak suka akan hal itu.
"Tidak, aku tidak mau berurusan dengan Olivia, aku masih ingin hidup dengan damai. Dan tunggu dulu," Ivana baru saja sadar. Ia menatap sekitar dan jelas itu bukan kediaman Wingston.
"Di mana aku? Saga, kau jangan main-main padaku! Kau bawa ke mana. Ini bukan kediaman wingston." Tatapan Saga kini mulai berubah. Ia kini menatap Ivana dengan tatapan penuh kebencian. Bahkan jika ia sedang menjadi Anna.
"Jadi kau lupa?"
Anna benar-benar bingung, sejak ia kembali menjadi Anna, ia sama sekali tak ingat apa yang sempat di lakukan Ivana dan apa yang terjadi. "Tunggu dulu, ada apa dengan wajahmu, oh ayolah, kenapa kalian semua menatapku seolah aku ini musuh."
Anna kemudian mengedarkan pandangannya, ia kemudian menatap Agres dan Martin yang juga menatapnya tampak tak senang. "Kalian ini juga siapa? Kalian bahkan sama sekali tidak ada dalam daftar ingatanku."
Agres kini berbisik pada Martin, "aku jadi curiga, jangan-jangan dia benar-benar punya kepribadian yang ganda. Coba lihat wajahnya, Ivana itu benar-benar imut dan lucu. Tapi kenapa dia jauh lebih tampak seperti seorang psikopat." Agres mengatakan itu, mereka berdua kini berbisik padahal di depannya ada Anna.
Anna pun kini tampak mengeryitkan kening menatap mereka. "Kau pikir aku tak punya telinga ya, aku di ada di depanmu bodoh."
Anna kemudian kembali menatap Saga, dan pria itu lagi-lagi memberikannya tatapan yang membunuh. Anna tak mau kalah, ia juga melakukan hal yang sama, mereka saling beradu pandang, namun keduanya benar-benar sangat-sangat menyeramkan. Itu bukan romantis, itu penuh kebencian.
"Kau tak ingat Anna, kau yang sudah membunuh Olivia."
"Brakkkkkk" Saga mencekik dan membenturkan kepala Anna ke meja.
Wanita itu kini mulai sadar kembali.
"Anna, apa kau tidak ingat jika Olivia telah meninggal."
"Kak Sa---ga" Kini yang ada di hadapannya bukan lagi Ivana dengan kepribadian gandanya. Melainkan Ivana, melainkan Ivana itu sendiri.
"Kau, Ivana?" Saga yang pada akhirnya tahu jika Ivana telah kembali pun akhirnya semakin membuat Ivana tersiksa. Ia mencekik leher gadis itu dan membuatnya benar-benar kesakitan hebat.
"Uhuk uhuk, tolong jangan seperti ini kak." Ivana terus memberontak. Ia berusaha mendorong Saga menjauh darinya.
Namun Saga masih tidak mau mendengarkan Ivana. Dia masih tetap mencekik lehernya, membuat Ivana begitu sangat-sangat tersiksa.
Agres dan Martin yang melihat itu pun langsung berdiri, mereka bedua berlari dan mencoba memisahkan keduanya.
"Saga, kau jangan seperti ini, kau bisa membunuh Ivana jika terus seperti ini." Ucap Agres sebari menarik Saga.
Pada akhirnya Saga pun melepaskan Ivana. Napas wanita itu masih tersengal-sengal. Deru napasnya masih berat. Dan ia benar-benar di buat kalut oleh Saga.
"Ivana, kembalikan Anna.”
“Aku tidak tahu apa maksudmu, Anna siapa. Tolong bicara yang logis. Seharusnya aku yang bertanya padamu, mengapa kau menembak teman-temanku. Kau itu brengsek, Aku benci padamu yang seperti ini, ini bukan kak Saga yang aku kenal.”
Ivana mencoba kembali menampar Saga, saat ia hendak menamparnya, dengan cepat Saga langsung menghentikan tangan Ivana. “Saga yang kau kenal itu sudah mati, sekarang hanya ada aku, orang yang akan kau benci.” Saga kini menarik lengan Ivana, menyeretnya. Dan saat Saga akan menaiki tangga, ia menggendong Ivana. Ia berjalan melewati lorong lantai dua. Saga menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah Ivana.
“Kau bahkan merusak keamanan villa ini, berani sekali kau Ivana. Aku akan memberimu hukuman untuk itu.”
Ivana yang mendengar langsung membulatkan matanya terkejut sebari merasakan ketakutan yang benar-benar sangat nyata.
Saga kemudian menurunkan Ivana, ia menarik Ivana dan mendorongnya kembali ke kamar itu. Ivana luruh di lantai, Saga kemudian mendekat, ia berjongkok di hadapan Ivana. Saga kemudian menarik kepala Ivana, menyuruhnya menatap ke arah yang ia maksud. Saga bahkan kini menempelkan wajahnya tepat di samping Ivana.
Ia kini menatap sebuah CCTV yang berada di kamar itu dan masih menyala, bahkan terpantau.
“Kau lihat kamera itu, jika kau berani bertindak bahkan keluar dari kamar ini, kedua temanmu itu aku jamin, mereka tak akan pernah kembali dalam keadaan hidup. Hanya dua pilihanmu sayang, menikah denganku dan tetap di sini, atau kau mau melihat kedua gadis itu mati di hadapanmu.”
Saga kemudian mengambil pistol di balik jasnya, ia kemudian mengarahkan pistol tepat di wajah Ivana. “Coba bayangkan, betapa terkejutnya mereka saat mereka sadar, bahwa mereka harus menemui ajalnya.”
“Aku masih berbaik hati sekarang Ivana, mereka masih aku biarkan hidup, namun, itu hanya untuk hari ini. Jadi menurutlah padaku mulai sekarang Ivana, atau kedua temanmu itu benar-benar akan mati.”
Saga kini keluar, ia mengunci pintu kamar itu, bahkan ia kini memberikan gembok pada kamar itu. Saga kemudian mengambil ponselnya, menatap layar ponsel yang masih terhubung pada perangkat CCTV kamar Ivana.
Ivana kini tempat sangat buruk, mentalnya benar-benar di pertaruhkan. Ia bahkan harus beradu antara Anna dan dirinya sendiri. Anna yang sudah tidak pernah keluar, kini kembali muncul setelah rasa takut terus menghantui Ivana.
“Diamlah!”
“Tidak ini bukan aku.”
“Ini bukan aku.”
“Aku bukan dirimu Ivana.”
“Apa yang terjadi, siapa kamu sebenarnya.”
“Apa aku bahkan sekarang gila, aku bahkan sekarang berbicara pada diriku sendiri.”
“HAHAHAHA, KAU ITU MEMANG PAYAH IVANA, MALAS SEKALI AKU HARUS MENJADI KEPRIBADIAN LAIN DARI DIRIMU YANG BURUK INI.”
“Tidak, ini tidak benar. Keluar! Keluar dari pikiranku, Keluar!.”
Ivana terus beradu pada pikirannya sendiri, baik itu halusinasi, ingatan yang terputus, semua itu ia alami sekarang. Hingga pada akhirnya........
“AAAAAGGGGGHHHHHHH” Teriakan itu menggema dari balik pintu kamar Ivana.
Bersambung
Catatan penting :
“Semua orang pasti mempunyai masalah, tak ada orang di dunia ini yang hidup tanpa masalah. Namun, terkadang masalah itulah yang akan membuat mental kita semakin lemah. Dan semua masalah orang itu berbeda-beda. Yang aku ingin sampaikan di sini, jangan pernah berkata kasar atau menghina orang lain. Tidak semua orang memiliki hati seluas itu untuk menerima cacian dan makian, ini berlaku untuk semua. Dalam banyak kasus, penderita mental berawal dari adanya hinaan dan cacian. Untuk 1 atau 2 kali itu wajar, kita hanya bercanda. Namun jika sampai ranah bullying, hal ini bisa berdampak pada kematian seseorang. Semua nyawa berharga di dunia ini. Dan kamu juga sangat berarti untuk orang-orang di sekitarmu.”
Salam hangat, An-cin
tokoh utama nya lemah amat...😏😏
lawan dong goblok...👊
Thor