Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Theo
Theo berjalan keluar dari ruang kerja kakaknya. Ia menyusuri lorong dan keluar menuju ke area kandang. Disana dia telah berteman dengan semua penjaga kandang sejak masih kecil. Tukang kebun, pelayan, penjaga kandang. Semua menyayangi Theo, namun hal itulah yang membuatnya tidak disukai Raja. Raja merasa Theo tak menjaga martabat keluarga kerajaan, bahkan hobinya pun dianggap konyol. Theo senang dengan binatang, kadang dia pergi ke hutan hanya untuk mengecek adakah binatang terluka. Para bangsawan pun juga mayoritas enggan untuk mengajak bicara Theo, hanya menyapa saja saat bertemu sekedar sebagai formalitas Theo adalah bagian dari keluarga kerajaan.
Dia berjalan menuju kandang dan hendak mengecek kondisi terbaru burung yang terluka yang telah diselamatkannya beberapa hari yang lalu. Disepanjang jalan dia merenung, kata-kata kakaknya memenuhi pikirannya. Ada rasa sedikit lega seperti beban yang selama ini dipikulnya sedikit berkurang. Tapi di sisi lain dia tetap merasa cemas, dia berpikir sebaiknya berkonsultasi dengan Raja. Tapi membayangkan bahwa akan menemui Raja yang merupakan ayahnya itu, lebih menakutkan. Sebab Theo sudah lupa kapan terakhir bertemu dan berbincang dengan beliau. Kenangan dengan ayahnya itu gak ada yang menyenangkan, semuanya menyedihkan. Yang diingatnya hanya ekspresi-ekspresi kecewa sang ayah. Hanya mendiang Ratu saja yang hangat dan menyayanginya. Serta fakta yang baru saja diketahui bahwa kakaknya ternyata tak sedingin ekspresi dan sikapnya. Untuk pertama kalinya dia berbincang cukup lama dengan kakaknya. 'Yah itu bukan hal buruk', pikirnya.
Lamunannya buyar saat salah satu penjaga kandang menyapa, "Salam, Pangeran Kedua."
"Oh, Paman Ben. Apa kabar?" (Theo bertanya dengan senyum ramah).
"Hamba baik, Pangeran. Terima kasih atas kebaikan hati Anda."(Ben menunduk sambil meletakkan topi di dadanya). "Burung yang Anda selamatkan, sepertinya sudah bisa dilepaskan, Pangeran."
"Wah... Benarkah?Itu kabar bagus, Paman. Aku sudah tak sabar untuk melepaskannya. Dan Paman, silakan lanjutkan pekerjaan Paman. Maaf sudah mengganggu Paman."
"Hamba tidak terganggu, Pangeran. Lalu mohon ijin untuk undur diri melanjutkan pekerjaan saya."
"Tentu saja, Paman. Silakan."
Selanjutnya, Theo menuju ke tempat burung yang telah dia selamatkan berada. Dia mengajak ngobrol burung tersebut dan mengucapkan perpisahan sebelum dia melepaskannya. Lalu burrrr... burung tersebut langsung terbang saat Theo membuka genggaman lembut pada burung itu. Dia memandangi burung terbang itu hingga hilang tak meninggalkan jejak setitik pun di langit yang cerah itu. Kemudian Theo memutuskan untuk kembali ke kediamannya dan berganti pakaian untuk menemui sang Raja. Saat di area taman, Theo tak sengaja berpapasan dengan Putri Mahkota Sylvaine. Dari kejauhan ekspresinya tampak kesal. Dan jika Theo mencoba berbalik untuk cari jalan memutar sudah terlambat. Jadi dia mau tak mau harus berpapasan dan menyapa formalitas. Di saat mereka tepat berpapasan, Theo menyapa, "Salam Putri Mahkota Sylvaine." Theo memasang senyum ramah
Sylvaine yang mencium aroma tidak enak dari Theo yang habis dari kandang, berdecak,"Ckkk...". Tanpa membalas salam Theo, langsung lanjut berjalan pergi menjauh ke kediamannya. Seharusnya itu tindakan mengabaikan keluarga kerajaan, sebenarnya secara hukum dia pantas dihukum. Namun, karena Sylvaine tau bahwa Theo tak akan memperpanjang masalah jadi Sylvaine berani bersikap tidak sopan seperti itu pada Theo. Sejak Sylvaine dinobatkan menjadi Putra Mahkota saat usianya yang ke-18 tahun beberapa bulan yang lalu, mulai tinggal di istana kerajaan. Dia memulai pendidikan calon ratu, serta telah mendapatkan beberapa tanggung jawab di lingkup kecil untuk beradaptasi saat kelak menjadi ratu. Karena Sylvaine merupakan putri seorang Duke di wilayah Selatan dan merupakan sahabat Raja, Raja pun menyayanginya seperti anak sendiri. Cukup ironis, Raja bisa menyayangi anak orang lain, sementara tak menyayangi Theo.
Theo yang sudah sampai kediamannya dan berganti pakaian untuk menemui sang Raja, bergegas menuju kediaman Raja. Saat menyusuri lorong-lorong bangunan kediaman Raja, Theo menyadari bahwa tak ada yang berubah sejak terakhir kali dia menginjakkan kakinya di sana, yaitu saat kematian Ratu yang merupakan ibundanya. Theo menyadari bahwa Raja benar-benar mencintai Ratu, sebab hingga saat ini posisi Ratu masih tetap kosong meskipun sudah 12 tahun berlalu sejak kematian Ratu. Bahkan Raja pun tak memiliki selir satupun. Benar-benar definisi lelaki setia. Memikirkan itu, membuat Theo tersenyum getir. Karena Raja bisa begitu mencintai Ratu secara mendalam, namun tak membagian sedikit cinta padanya yang adalah putra Ratu. Raja hanya membanggakan putra sulungnya, dan tak menganggap putra bungsunya.
Setibanya di depan kamar Raja, Theo menunggu ajudan Raja menginfokan kedatangan Theo. Tak lama kemudian, ajudan tersebut mempersilakan Theo masuk.
"Raja, sudah menunggu di dalam, Pangeran Kedua." Ucap ajudan dengan nada sopan.
"Terima kasih, Paman Sebastian." (Theo berjalan memasuki kamar Raja).
Raja duduk di sofa sambil menatap datar Theo, Theo pun berdiri tak jauh dari Raja dan menyapa, "Salam Raja Cyrven."
"Duduk." Kata Raja singkat.
Theo pun duduk perlahan, dan untuk beberapa saat terdiam sambil menatap karpet yang diinjak di bawah kakinya.
"Kau kesini hanya untuk duduk saja? Katakan keperluanmu secara singkat." Kata Raja dengan nada datar dan dingin.
"Tujuan hamba datang menghadap Yang Mulia adalah untuk.."(Ucapan Theo dipotong oleh Raja).
"Intinya saja." Kata Raja tegas.
"Saya memohon ijin untuk meninggalkan istana." (Mata Theo tak berani menatap langsung mata Raja, dia hanya menatap pipi atau jenggot sang Raja).
Raja mengernyitkan dahi dan tidak merespon sama sekali, hanya tatapan tajam ke arah Theo. Theopun melanjutkan penjelasan supaya Raja tahu alasan Theo, "Hamba berpikir akan menjadi hambatan untuk Putra Mahkota setelah beliau naik tahta. Alangkah baiknya bahwa hamba memilih untuk keluar dari istana, untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan."
Raja sedikit mengangguk, "Kau dan Victor sama-sama lahir dari wanita yang sama yang paling kucintai. Namun semua tindakan, kebiasaan, perilaku, bahkan hobimu. Semuanya aib bagiku, meskipun begitu, setidaknya kau masih tau posisimu. Baguslah jika kau punya pemikiran seperti itu. Jadi segera kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini. Aku masih bermurah hati padamu karena kau adalah salah satu putra wanita yang kucintai. Jadi aku tidak menghapuskan keberadaanmu sebagai anggota keluarga kerajaan. Anggap saja kau sedang berkelana dan berpetualang hingga ajal menjemputmu. Hanya itu kemurahan yang bisa kuberikan padamu dan kau bisa bawa harta pribadi milikmu." Raja pun berdiri dan menuju ranjangnya untuk beristirahat.
Theo terdiam dan berusaha menahan air matanya lalu mengucapkan salam perpisahan tanpa menatap Raja. Dia bergegas menuju kediamannya untuk berkemas. Kabar bahwa Theo meninggalkan istana selamanya telah sampai ke telinga Sylvaine, "Ternyata aku tak perlu repot-repot untuk menyingkirkan Theo, dia malah mengajukan diri untuk keluar dari istana. Seharusnya saat tadi aku bertemu dengannya, aku bersikap sedikit manis sebagai ucapan terima kasih karena angkat kaki dari sini."
Kabar kepergian Theo pun juga sampai ke telinga kakaknya, Victor. Dia benar-benar kesal, "Anak sialan ini, benar-benar menambah sakit kepalaku. Jelas pagi tadi sudah kubilang tak perlu melakukan ini. Tapi tetap saja dilakukan. Awas saja kalau sampai ketemu, akan kupatahkan kakinya supaya tak bisa pergi kemana-mana lagi." Victor mengomel sambil berjalan menuju kediaman adiknya itu dengan membawa semacam pemukul di tangan kanannya sambil diseret di lantai. Sesampainya di kediaman si adik, Victor masuk sambil teriak-teriak memanggil nama adiknya, "Theo... keluar kau sekarang! Theodore Cyrven, cepat keluar. Tunjukkan batang hidungmu cepat! Kuhitung sampai tiga. Jika tak segera keluar, kuhancurkan kediamanmu ini...."
Kepala pelayan kediaman Theo menghampiri Victor, "Salam yang mulia Pangeran Mahkota.."
"Mana Theo? Suruh segera kesini!"
Kepala pelayan segera menyampaikan surat dari Theo untuk Victor, "Mohon ampun Yang Mulia, hamba tak bisa menahan kepergian Pangeran Kedua. Namun, beliau menitipkan ini untuk Yang Mulia." (Kepala pelayan menyodorkan amplop kecil yang berisi surat).
Victor dengan emosi mengambil amplop tersebut secara kasar dan membukanya, lalu mengeluarkan surat di dalamnya dan membacanya, Victor menjatuhkan pemukul yang digenggam di tangan kanannya itu dan wajahnya memerah karena menahan air mata supaya gak keluar.
Bersambung...