Kisah ini adalah perjalanan hidup Mia yang disebut sebagai anak haram. Liku dan kerasnya kehidupan, mampu membawanya menjadi wanita yang kuat. Dua kali menikah, dua kali pula menjadi janda. Status janda yang disandang dalam usia remaja semakin membuatnya dicaci dan dihina.
Kegagalannya dalam pernikahan, membuatnya tak punya mimpi untuk bahagia dalam sebuah ikatan pernikahan. Baginya, menikah itu hanya ajang untuk mengabdikan dirinya pada seorang suami dengan imbalan uang.
Akankah Mia menemukan pria yang benar-benar bisa membuatnya merasakan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keripik setan
Raut bahagia tengah menyelimuti Mia. Dengan sumringah wanita berusia 17 tahun itu menyiapkan sarapan untuk Haji Hamid. Mia memasak masakan spesial kesukaan Haji Hamid. Ya, anggap saja sebagai ucapan terima kasihnya untuk semua kebaikan suaminya.
"Pak Haji," sapa Mia saat melihat Haji Hamid menghampiri Mia.
"Bagaimana suratnya? Kau sudah membacanya?" tanya Haji Hamid.
"Sudah Pak Haji, Mia simpan di tempat yang paling aman. Terima kasih banyak ya!" Mia tersenyum manis pada Haji Hamid.
"Iya, sama-sama. Itu bentuk terima kasihku padamu karena kamu sudah sangat baik," ucap Haji Hamid.
"Semua kebaikan Mia hanyalah sebuah kewajiban yang harus Mia jalankan sebagai seorang istri. Jadi sudah sewajarnya Pak Haji," ucap Mia.
Tumben ini anak bicaranya bener. Syukurlah, darah tinggi aman pagi ini.
Ada yang berubah dari Mia. Pagi ini Mia tidak seheboh biasanya. Haji Hamid sangat bersyukur karena Mia tidak akan membuat emosi lagi.
Waktu terus berjalan, jam sudah bergeser beberapa angka. Kini terik mentari mulai terasa. Mia masih jadi pendiam. Memang benar Mia tidak membuatnya darah tinggi, tapi rumah terasa sepi. Haji Hamid sesekali memperhatikan Mia. Mia hanya menonton tv dan sesekali tersenyum saat melihat ponselnya.
"Sedang apa dia?" gumam Haji Hamid.
Mia masih tetap asyik sendiri. Tidak menawarkan kopi, teh hangat, atau menawarkan kue-kue yang sedang dimakannya. Biasanya juga apa yang Mia makan, selalu jadi kewajiban bagi Haji Hamid untuk mencobanya. Ah, Haji Hamid tidak suka Mia seperti ini.
"Mia," panggil Pak Haji.
"Iya, Pak Haji." Mia segera menghampiri Haji Hamid.
"Buatkan aku kopi," pinta Haji Hamid.
"Siap," ucap Mia dengan menghormat layaknya aparat negara yang diperintah oleh atasannya.
Haji Hamid tersenyum, karena ia mulai melihat Mia yang dulu. Mia yang konyol, ternyata bisa membuat hatinya senang.
"Ini, Pak Haji!" Mia menyerahkan secangkir kopi.
"Iya, terima kasih Mia." Haji Hamid menerima kopi itu.
"Sama-sama. Mia permisi dulu, Pak Haji." Mia kembali meninggalkan Haji Hamid dan duduk kembali di depan tv.
Haji Hamid melihat Mia. Dia sempat gemuk saat tinggal bersamanya, tapi sekarang terlihat kurus lagi. Apa dia sakit? Sakit parah yang menyebabkan umurnya tidak akan lama lagi? Itulah sebabnya sekarang Mia menjadi pendiam. Ah, Haji Hamid penasaran, dengan segera kopi itu dibawanya untuk menemani Mia yang sedang menonton tv.
"Mia," sapa Haji Hamid.
"Iya, Pak Haji. Ada apa?" tanya Mia.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu, apakah kau sehat?" tanya Haji Hamid.
"Pak Haji, Mia tidak corona. Tenang saja. Mia sehat, aman pokoknya." Mia merasa terkejut tiba-tiba Haji Hamid bertanya tentang kesehatannya.
"Eh, bukan begitu. Maksudku kau terlihat lebih kurus." Haji Hamid mencoba mencari jawaban agar Mia menjadi tenang kembali.
"Jadi Mia harus gemuk? Kata Dev Mia tidak boleh gemuk, nanti penyakit jadi gampang datangnya," ucap Mia.
"Dev? Kapan?" tanya Haji Hamid.
"Barusan. Ini Mia sedang chattingan dengan Dev." Mia menunjukkan ponselnya.
"Sedang apa dia?" tanya Haji Hamid kesal, karena seharian ini Dev tidak menghubunginya. Padahal dia sedang chattingan dengan Mia.
"Sedang istirahat Pak Haji," jawab Mia.
DEG
Dev sedang istirahat? Dan dia tidak memberinya kabar? Apa-apaan ini? Haji Hamid meradang. Namun karena gengsi, Haji Hamid enggan menunjukkan kecemburuannya pada Mia.
"Makan apa? Tumben tidak memintaku untuk menyicipi makananmu?" goda Haji Hamid yang berusaha mencairkan lagi suasana.
"Kan semalam kata Pak Haji, jangan menawarkan kopi, teh hangat, atau makan malam. Saya sudah KENYANG," ucap Mia yang meniru gaya bicara Haji Hamid. Tak lupa telunjuknya dijentikkan agar terlihat mirip seperti apa yang sudah dilakukan Haji Hamid.
"Ya ampun, Mia. Itu kan malam. Masa saya kenyang terus setiap waktu?" ucap Haji Hamid yang mulai kesal lagi.
"Oh, jadi sekarang sudah tidak kenyang lagi ya? Ya sudah ayo makan siang dulu, Pak Haji." Mia kini sudah kembali perhatian seperti semula.
Ada rasa bahagia di Haji Hamid melihat Mia seperti ini. Ternyata lebih bahagia saat melihat Mia sangat bawel dan cerewet lebih baik dari pada melihat Mia menjadi pendiam dan terlihat dewasa. Haji Hamid nyatanya lebih nyaman dengan sikap Mia yang apa adanya.
"Tidak, aku mau itu. Kenapa kau tidak menyuruhku mencicipi itu?" tanya Haji Hamid.
"Ini bukan kue Pak Haji. Makanya Mia tidak meminta Pak Haji untuk mencicipinya." Mia menunjukkan makanan yang sedang ada di tangannya.
"Memangnya harus selalu kue yang aku cicipi? Kau sengaja memberiku yang manis-manis biar gula darahku naik dan aku cepat ma--" Haji Hamid menghentikan ucapannya karena merasa ngeri sendiri.
"Mati Pak Haji?" tanya Mia.
"Miaaaa," ucap Haji Hamid geram.
"Eh, ampun Pak Haji. Mia kan hanya meneruskan ucapan Pak Haji," ucap Mia.
"Ya sudah, sini minta itu!" pinta Haji Hamid dengan menunjuk makanan yang ada di genggaman Mia.
"Jangan Pak Haji." Mia menyembunyikan makanan itu di balik tubuhnya.
"Mia, kau seperti Baskoro saja, pelit. Katamu yang pelit masuk neraka. Mana sini aku minta sedikit saja!" Haji Hamid menengadahkan tangannya.
Dengan ragu, Mia memberikan makanan itu pada Haji Hamid.
"Begitu dong, soal keripik saja pelitnya minta ampun." Haji Hamid mengejek Mia.
Haji Hamid membuka plastiknya dan mengambil secukupnya untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Mia sangat khawatir, sampai-sampai mulutnya ikutan menganga saat Haji Hamid memasukkan keripik itu ke dalam mulutnya.
"Aaaahhh, ini lebih panas dari api neraka, Mia." Haji Hamid berteriak karena tidak kuat dengan rasa pedas dari keripik itu.
"Pak Haji pernah ke neraka? Kok bisa tahu panasnya api neraka?" tanya Mia.
"Miaaaaa," teriak Haji Hamid.
"Iya, maaf. Makanya tadi Mia bilang tidak boleh. Itu keripik setan. Pak Haji yang maksa," ucap Mia yang memberikan segelas air putih pada Haji Hamid.
"Ah, mulutku terbakar Mia, buatkan aku susu. Cepat!" ucap Haji Hamid.
"Ah, iya. Baik Pak Haji. Tunggu sebentar." Mia segera membuatkan susu untuk Haji Hamid.
"Ini!" Mia menyerahkan segelas susu untuk Haji Hamid.
Wajah dan bibir Haji Hamid merah. Mia menjadi panik. "Pak Haji tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Mia.
"Apanya yang tidak apa-apa? Mulutku sampai dower begini." Mata Haji Hamid berkaca-kaca menahan rasa pedas yang masih menempel di mulutnya.
Krrriiiiiing,
Panggilan masuk pada ponsel Mia. Haji Hamid melihat ke arah layar ponsel Mia, Dev? Kini bukan cuma mulutnya yang terbakar, tapi hatinya juga terbakar. Haji Hamid cemburu saat Dev menelepon Mia.
"Sini, biar aku yang angkat." Haji Hamid merebut ponsel Mia.
"Dev, kenapa kau menelepon Mia? Ada perlu apa?" tanya Haji Hamid dengan tegas.
"Hamid? Baru saja aku mau bertanya tentangmu. Kau kemana saja? Kenapa ponselmu tidak aktif sejak pagi tadi?" tanya Dev.
"Hah? Benarkah?" Haji Hamid menutup panggilannya.
"Mau kemana Pak Haji?" tanya Mia.
"Bukan urusanmu," jawab Haji Hamid tanpa melihat ke arah Mia. Haji Hamid terus berjalan menjauhi Mia dan masuk ke kamarnya.
"Mia kan tidak salah. Pak Haji yang salah. Kenapa Mia yang disalahkan?" gumam Mia.
###############
Tap likenya yuk...
Terima kasih readers...
Gokil author nya 😂