SUDAH TERBIT CETAK
Cinta bertepuk sebelah tangan Anja mempertemukannya dengan Cakra, siswa paling berandal di sekolah.
Hati yang terluka bertemu dengan apatis masa depan akhirnya berujung pada satu kesalahan besar.
Namun masalah sesungguhnya bukanlah hamil di usia 18 tahun. Tetapi kenyataan bahwa Cakra adalah anak panglima gerakan separatis bersenjata yang hampir membuat papa Anja terbunuh dalam operasi penumpasan gabungan ABRI/Polri belasan tahun silam.
Beautifully Painful.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sephinasera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Blue Saturday Night
Anja
"Oke, gue bakal bayar 6 juta secepatnya, tapi dengan satu syarat."
Ia mendelik marah, "Apa-apaan pakai syarat segala?! Kan elo yang ngutang, kenapa jadi elo yang ngasih syarat?!!"
"Lo mau 6 juta balik nggak?!" Cakra menatapnya tak kalah kesal.
"Ya mau lah! Orang tuh duit gue kumpulin susah payah bu...."
Namun kalimatnya terpotong di udara karena Cakra keburu menyahut, "Gue balikin dalam seminggu, tapi lo mesti nerusin sampai lahir."
"Apa?!" ia mendecih sekaligus tertawa sinis. "Yang bener aja lo! Sanggup secepatnya ternyata seminggu. Gue nggak punya waktu buat nunggu selama itu!"
Cakra terdiam sebentar sebelum akhirnya kembali bicara, "Lima hari dan lo terusin sampai lahir."
"Tiga hari dan gue nggak janji bakal terusin atau enggak!"
Cakra menatapnya tanpa ekspresi dengan rahang mengeras.
"Deal!" lanjutnya cepat tak menghiraukan Cakra yang wajahnya langsung berubah menjadi merah padam.
Sepanjang perjalanan pulang mereka sama-sama saling berdiam diri. Tak ada seorangpun yang berniat untuk membuka pembicaraan. Sejak awal ia bahkan selalu membuang pandangan ke arah samping untuk memperhatikan jalan. Daripada harus menyadari jika ia tak sendiri, ada orang lain yang tengah duduk di sebelahnya yang sepertinya juga memilih untuk membuang pandangan kearah lain.
Ia masih merengut dengan hati kesal ketika ponsel yang tersimpan di dalam sling bag bergetar tanda ada panggilan masuk.
Mama Calling
Mama?
Dilihatnya jam yang tertera di sisi kiri atas ponsel, 21.10 WIB. Ada apa Mama nelepon malam-malam begini?
"Halo, iya Ma?"
"A-anja, k-kamu dimana?" tanya Mama dengan suara tercekat.
"Di....jalan Ma. Kenapa Ma?" ia balik bertanya sambil mengkerut.
"Cepat pulang!"
Klik.
Suara Mama terhenti bersamaan dengan panggilan telepon yang terputus. Ia mencoba me redial sebanyak beberapa kali namun tak ada satupun yang diangkat.
"Kenapa?" tanya Cakra heran, mungkin demi melihat gelagatnya yang tiba-tiba panik.
"Bukan urusan lo!" jawabnya ketus sambil mencoba menghubungi nomor Mama sekali lagi. Namun ada nada tut tut panjang di seberang sana, tanda jika Mama tengah melakukan panggilan ke nomor lain.
Sebelum mobil yang ditumpanginya benar-benar berhenti di depan rumah, ia telah membuka pintu untuk keluar secepatnya.
"Anja, hati-hati....," ia sempat mendengar Cakra memperingatinya, namun ia tak peduli. Lebih memilih untuk membanting pintu Taxi dan bergegas menuju gerbang yang telah dibuka setengah oleh Pak Acep, satpam rumah.
"Ada apa di rumah Pak?!" tanyanya cepat.
"Nggak tahu Neng, barusan bapak sama ibu juga baru pulang."
"Hah? Baru pulang? Bukannya ke Surabaya?!"
"Nggak tahu Neng," Pak Acep menggeleng tanda benar-benar tak mengerti.
Ketika ia setengah berlari menyusuri halaman depan rumah, Bi Enok muncul dari arah garasi dengan tergesa-gesa, "Aduh, Neng Anja, darimana aja baru pulang. Itu ditungguin sama Ibu."
"Mama kenapa?! Beneran pulang?! Bukannya udah pergi ke Surabaya?!"
"Bapak Neng....bapak sakit...."
"Apa?!?"
Dengan secepat kilat ia berusaha memasuki rumah, dan terkejut demi mendapati Papa tengah tergolek lemah di sofa ruang tengah sambil dikipasi oleh Mang Jaja, sementara Mama sedang menelepon sambil menangis.
"Papa kenapa?!" ia buru-buru menghambur menghampiri Papa. Namun Papa hanya memberi isyarat dengan bola mata dan tak mengatakan sepatah katapun.
"Papa kenapa Ma?!" tanyanya panik kearah Mama yang baru saja menutup telepon.
"Ini...baru pulang tiba-tiba Papa lemes," jawab Mama dengan air mata berlinang. "Nggak bisa gerakkin tangan sama kaki sebelah kanan. Terus tiba-tiba nggak bisa ngomong....," tangis Mama kembali pecah.
"Ya ampun," dadanya mendadak berdegup kencang karena takut sesuatu yang buruk menimpa Papa. "Harus cepet-cepet ke rumah sakit Ma."
"Iya, ini kata Sada juga suruh ke rumah sakit," Mama terus menangis sambil memegangi tangan Papa yang tergolek lemah.
"Pa...kuat ya Pa," isak Mama sambil mengusap tangan Papa.
"Sekarang kita mau ke Rumah Sakit....," lanjut Mama lagi sambil terus mengusapi tangan Papa.
"Pak Cipto mana?! Udah pulang?!" tanyanya tentang sopir Papa.
"Libur Neng," Mang Jaja yang menjawab.
"Lagi pulang ke Rangkas," lanjut Mang Jaja lagi. "Ini tadi Bapak bawa sendiri seharian."
"Ya ampun," ia mulai bertambah panik. "Gimana dong?"
"Mang Jaja ya yang bawa mobil?!" todongnya cepat.
"Nggak berani Neng," jawab Mang Jaja dengan wajah menyesal. "Mamang takut nabrak kayak dulu. Nggak berani," Mang Jaja menggelengkan kepala.
"Aduh, gimana dong," ia yang sedang panik tak bisa berpikir jernih.
"Pakai Taxi Online aja Neng," saran Mang Jaja sambil terus mengipasi Papa.
"Iya, pakai Taxi aja," timpal Mama sambil menyusut hidung.
"Ya udah aku pesen Taxi," lanjutnya cepat. Namun tiba-tiba sebuah suara menyahut dari arah belakang punggungnya,
"Sama aku aja, Ja."
Ia spontan menoleh dan melihat Cakra telah berdiri di antara ruang tamu dan ruang tengah rumahnya dengan wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran.
Tanpa sempat berpikir lagi ia segera meminta bantuan Mang Jaja dan Pak Acep untuk mengangkat Papa ke dalam mobil, sementara ia menyerahkan remote pada Cakra.
"Adanya remote bukan kunci," ujarnya cepat mencoba mengingatkan Cakra, karena ia tak yakin Cakra pernah mengendarai mobil seperti yang dimiliki Papa.
"Karena kita pakai yang udah di luar!" lanjutnya tak kalah cepat. "Kelamaan kalau harus ngeluarin yang di dalam."
"Bisa makainya?!" pungkasnya jelas-jelas meragukan kemampuan Cakra.
"Nyalainnya nggak pakai kunci tapi pakai tombol start terus elo...."
"Tinggal gas doang kan," ujar Cakra cepat memotong kalimatnya.
"Eh, tinggal gas doang gimana?! Ini beda sama mobil yang lo pakai kemarin. Ini...."
Namun Cakra tak menjawab, justru lebih memilih untuk membukakan pintu belakang agar Mang Jaja dan Pak Acep bisa memasukkan Papa ke dalam mobil dengan leluasa.
Setelah mereka semua duduk di dalam, Cakra berujar pelan dengan nada sedikit ragu, "Begini kan?" sambil mulai melajukan mobil dengan agak tersendat. Oh, ternyata bisa juga mengendarainya meski jelas terlihat sebagai pemula dan sama sekali belum ahli. Harus di training dulu sepertinya agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dan sebelum semua berubah menjadi bencana, ia dengan terburu-buru mulai menerangkan arti dari seluruh tombol beserta kegunaannya yang bertebaran di sekitar tuas transmisi, dashboard, dan kemudi. Termasuk bagaimana cara menghentikan mobil dan parkir otomatis. Hanya agar Cakra tak membuat kesalahan yang bisa membahayakan mereka semua.
"Anja, sempat-sempatnya kamu bahas yang begini," Mama yang kini tak lagi menangis menegurnya sambil mengkerut.
Membuatnya balas mengkerut, "Ma, Cakra itu nggak pernah pakai mobil kayak gini," jawabnya sok tahu.
"Nanti kalau salah pencet malah berabe lagi!" sungutnya sambil melirik Cakra yang menyetir dengan wajah tegang.
"Harus dikasih tahu satu per satu khawatir malah membahayakan," pungkasnya kembali melirik Cakra yang masih saja memasang wajah tegang.
Oh God, tolonglah kami agar sehat dan selamat sampai di Rumah Sakit, batinnya penuh harap. Jangan sampai kepanikan ini malah membawa petaka hanya karena Cakra baru pertama kali mengemudikan mobil seperti ini.
Dan doanya terjawab tuntas karena arus lalu lintas dari rumah menuju Rumah Sakit terdekat malam ini tak terlalu padat, hingga Cakra bisa mengemudi dengan tenang dan tak terlalu tersendat lagi. Kurang lebih lima belas menit kemudian mereka pun sampai di depan lobby ruang IGD.
"Kamu disini aja, biar aku yang panggil perawat," ujar Cakra cepat menahannya agar tak keluar dari mobil.
Tak lama kemudian empat orang berseragam hijau menghampiri lobby IGD sambil membawa brankar dorong. Dengan cekatan namun tetap berhati-hati berusaha memindahkan Papa ke atas brankar kemudian membawa masuk ke dalam ruang IGD.
Ia menuntun Mama untuk turun dari dalam mobil dan memasuki ruang tunggu IGD, sementara Cakra mencari tempat parkir.
Dan sambil menunggu Papa yang tengah ditangani oleh dokter, ia pun mencoba menanyakan kronologi kejadian kepada Mama.
"Mama bukannya ke rumah Mas Tama?" kernyitnya heran.
"Iya," jawab Mama dengan wajah berubah murung. "Udah dapat pesawat yang jam empat sore. Udah packing packing. Udah siap semuanya."
"Pas kita mau pulang dari pabrik, tiba-tiba ada musibah."
"Musibah apa?!"
"Ada anak pabrik yang tangannya kena mesin pemotong daging....," jawab Mama sambil mulai menangis lagi.
"Ya ampun...," ia spontan menutup mulut dengan kedua tangan. Tak mampu membayangkan kejadian nahas tersebut.
"Kita urus sampai ngikutin ke rumah sakit. Mama takut terjadi apa-apa," sambung Mama sambil terisak.
"Baru selesai jam delapan an tadi," lanjut Mama sambil menyusut air mata.
"Tapi yang kena mesin nggak papa Ma?" tanyanya khawatir.
"Beberapa jarinya kepotong...."
Ia kini menutup wajah dengan kedua tangan.
"Tapi udah aman ditangani sama dokter," ujar Mama sambil menghela napas. "Yah, namanya musibah, Ja. Kita nggak tahu kapan datangnya. Padahal yang kena ini udah supervisor. Udah biasa pakai, udah ahlinya. Nggak tahu tadi tiba-tiba kejadian begitu....."
"Iya Ma....," ia mengangguk-angguk mencoba mengerti perasaan Mama.
"Terus dari Rumah Sakit Mama langsung pulang ke rumah?" tanyanya lagi.
Mama mengangguk, "Mama sama Papa udah tegang seharian, stres, mau cepet-cepet pulang buat istirahat sebelum besok pagi ke Surabaya."
"Tapi baru juga masuk ke rumah, Papa langsung jatuh di kursi, lemes, nggak bisa gerakkin tangan sama kaki," lanjut Mama yang kembali berlinang air mata.
"Untung jatuhnya pas di atas kursi. Mama nggak bisa bayangin kalau jatuh di lantai atau....," suara Mama terpotong karena bicara sambil terisak. Membuatnya meremas tangan Mama berusaha memberi kekuatan.
"Papa ditanya cuma geleng-geleng kepala, udah nggak bisa ngomong apa-apa," kali ini Mama menangis sambil memeluk dirinya.
"Mama langsung nelpon Tama, tapi cuma diangkat sebentar katanya lagi di lapangan. Terus Mama nelpon kamu...."
"Habis nelpon kamu, Papa malah udah nggak bisa geleng-geleng kepala lagi. Responnya cuma kelopak mata yang kedip-kedip. Mama jadi tambah takut. Terus nelpon Sada. Kata Sada harus cepet-cepet dibawa ke rumah sakit....."
Membuatnya ikut menangis sambil mengusap punggung Mama perlahan.
"Iya Ma...iya....sekarang kan Papa udah di rumah sakit.....," jawabnya dengan air mata berderai. Takut kejadian ini berakibat fatal terhadap kesehatan Papa.
Saat ia berusaha menyusut hidung karena air mata, sudut matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Cakra yang sedang berdiri di sisi lain ruang tunggu sambil menatapnya khawatir.
Sekitar satu setengah jam kemudian, seorang petugas berpakaian hijau keluar dari ruang IGD memanggil mereka, "Keluarga pasien Setyo Yuwono?"
Dengan tergopoh ia dan Mama menghampiri petugas tersebut, yang membawa mereka masuk ke ruang IGD untuk melihat keadaan Papa. Namun petugas tersebut tak berhenti di salah satu tirai, terus saja berjalan hingga pintu keluar yang lain. Yang ternyata tembus dengan ruang ICU.
"Pasien berada di ICU," terang petugas tersebut sambil memasuki ruang ICU dan meminta ia dan Mama untuk melakukan standar prosedur di dalam ruang intensive care.
Sekitar sepuluh menit kemudian mereka bisa melihat Papa tengah tertidur dengan beberapa selang dan kabel yang menempel di sekujur tubuh. Termasuk selang oksigen. Pemandangan yang membuatnya dan Mama spontan berpegangan tangan untuk mencoba saling menguatkan.
"Berdasar hasil CT scan dan MRI, pasien mengalami penyumbatan pembuluh darah di otak akibat ada bekuan yang lepas dari pembuluh darah lain yaitu jantung," terang dr. Alwi, neurologist yang menangani Papa.
"Untungnya masih masuk golden period, kurang dari 4,5 jam sejak terjadinya sumbatan. Jadi tingkat kesembuhan juga lebih tinggi. Semoga, kita berharap sama-sama," pungkas dr. Alwi.
"Untuk sementara, malam ini pasien ditempatkan di ruang ICU agar mendapatkan penanganan medis yang lebih optimal. Belum bisa pindah ke ruang perawatan," terang petugas berseragam hijau setelah dr. Alwi beranjak pergi menemui pasien lain.
"Nanti kami informasikan lebih lanjut jika sudah boleh pindah ke ruang perawatan," sambung petugas tersebut sambil meminta mereka berdua untuk menunggu di luar.
Membuat dirinya dan Mama hanya bisa duduk menunggu di depan ruang ICU dengan perasaan campur aduk tak karuan. Saat itulah seseorang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang sealnya telah terbuka,
"Minum dulu."
Ia mendongak dan melihat Cakra sedang menatapnya lembut. Sebelum ia mengambil botol tersebut, Cakra kembali angkat bicara,
"Sama ini, ada kue...khawatir kamu lap...."
"Makasih," tukasnya cepat seraya mengambil botol air mineral dari tangan Cakra sebelum berhasil menyelesaikan kalimat keduanya.
Ia pun segera meneguk air mineral yang terasa begitu segar di mulut dan makin bertambah segar saat melewati kerongkongan ketika Cakra perlahan mulai mendudukkan diri di sebelahnya seraya berkata,
"Aku nggak tahu kamu suka kue apa," sambil mengangsurkan sebungkus roti sandwich cokelat yang biasa dijual di Indoapril dan Omegamart.
"Ada yang rasa keju juga," tambah Cakra sambil memperlihatkan kresek berisi sejumlah makanan kearahnya.
"Tapi kalau kamu mau yang lain bilang aja, ntar aku cariin."
Ia harus menelan ludah sebelum menjawab, "Nggak usah repot-repot!"
Cakra hanya mengangguk mendengar jawabannya, kemudian bangkit dan beralih menghampiri Mama yang baru saja menutup telepon, sepertinya berbicara dengan Mas Tama atau Mas Sada.
"Minum dulu Tante."
Dari sudut mata ia melihat Mama tersenyum menerima botol air mineral pemberian Cakra sambil berkata, "Makasih udah nganterin Papa Anja ke Rumah Sakit," lalu menepuk lengan Cakra pelan.
Cakra mengangguk, "Kalau Tante lapar, ini ada sedikit kue."
Mama tersenyum pahit, "Tante nggak lapar."
"Atau kalau perlu sesuatu bisa kasih tahu saya, biar saya yang a...."
"Iya, terima kasih," Mama memotong kalimat Cakra sambil kembali menepuk lengan cowok berandal itu pelan.
"Nggak usah repot-repot. Ini udah dini hari. Kamu duduk aja temani Anja....."
What?!?
Ucapan Mama membuat Cakra tersenyum mengangguk, kemudian kembali bangkit untuk mendudukkan diri di sebelahnya.
"Lo bisa pulang!" ujarnya setengah berbisik agar tak terdengar oleh Mama.
"Gue tunggu sampai besok pagi," jawab Cakra sambil melemparkan punggung ke sandaran kursi tunggu.
"Nggak usah, lo pulang aja!" bisiknya lagi setengah memaksa.
Namun Cakra tak bergeming. Tetap duduk sambil menyandarkan punggung. Ia yang merasa lelah dan mengantuk tak lagi bisa protes. Lebih memilih untuk memejamkan mata berharap bisa menghilangkan penat.
udah aku wakilin tuh Ja 🤭🤭