NovelToon NovelToon
Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa / Komedi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Amha Amalia

Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?

Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.

Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.

=-=-=

"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.

"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.

"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.

=-=-=

Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?

=-=-=

Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.

LOVE YOU~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasih solusi atau ngomel sih?

*

Jam pelajaran di mulai, setiap kelas dengan tenang merangkum materi yang di sampaikan guru pengajar. Guru BK memberikan hukuman Revan dan Kiara skors selama tiga hari karena sudah berbuat hal tidak senonoh di lingkungan sekolah. Sebenarnya bisa saja Jessie mengeluarkan mereka, tapi Raya a.k.a Jessie yang asli mengatakan untuk memberikan skors tiga hari saja. Lagipula Raya ingin tahu apakah setelah kejadian ini, mereka masih punya muka untuk tetap berangkat sekolah. Jika mereka tetap berangkat, itu menandakan mereka tidak punya urat malu.

Sedikit beruntung karena foto itu hanya tersebar di lingkungan sekolah saja, pihak sekolah memberi peringatan semua siswa agar tidak menyebarkan aib tersebut demi nama baik sekolah. Jika ada yang melanggar, akan langsung di keluarkan dan di pastikan tidak akan di terima di sekolah lain. Itu juga cara yang biasa di lakukan Jessie and the geng saat membully siswa lain, guru akan membela, meredam isu miring tentang mereka dan memastikan keburukan mereka tidak tercium oleh publik. Itu sebabnya, hingga kini Sekolah tersebut masih menjadi sekolah paling Populer dan favorit dalam Negeri. Apalagi untuk tingkat kecerdasan, sekolah ini sangat meyakinkan. Banyak lulusan dari sini menjadi orang sukses. Tentunya selain modal yang cukup, harus memiliki mental yang kuat. Terutama bagi siswa miskin yang bisa bersekolah disana lewat beasiswa.

Disaat semua siswa sibuk menyimak, jauh berbeda dengan Raya yang duduk di bangku kelas dengan tatapan tidak dapat di artikan. Bohong jika Raya mengatakan tidak sakit hati sama ulah Revan dan Kiara. Bagaimanapun juga dia memiliki perasaan. Meskipun dia tidak terlalu menyukai Revan karena sifatnya yang tempramen dan terlalu posesif, tapi bukankah lebih baik Revan minta putus daripada terus bersikap baik dan romantis padanya tapi ternyata di belakang malah selingkuh sama sahabatnya sendiri. Sungguh dia sanga muak pada dirinya karena terlalu bodoh hingga tertipu sikap lembut Revan. Pikirannya jauh melayang beberapa tahu silam saat kehilangan mama tercintanya. Awal kehancuran hidupnya juga karena orang terdekat. Dia semakin meyakinkan diri untuk tidak mempercayai siapapun.

Guru wanita yang sedang mengajar menoleh pada Raya yang sejak tadi melamun "Raya, apa kamu tidak memperhatikan pelajaran?"

Semua murid disana menoleh pada Raya yang sedikit tersentak kaget saat Pipit menyenggol lengannya. Raya mengernyit, Pipit memberi isyarat mata jika Raya di tegur Guru mapel.

"Kamu sungguh tidak memperhatikan?" Tanya guru itu lagi, tatapannya mengintimidasi.

"Maaf Bu, saya izin ke toilet." Pinta Raya, ia benar benar tidak fokus.

"Baiklah, silahkan. Jangan terlalu lama."

Raya mengangguk, dia segera pergi keluar kelas menuju toilet guna untuk mencuci muka. Jessie menatap kepergiannya intens, dia yakin jika Raya masih terpikirkan masalah tadi.

"Semuanya kembali fokus." Guru itu mulai kembali menerangkan pelajaran.

Nathan mencolek telinga Pipit dari belakang sambil berbisik dengan penasaran "Shuutt... Napa tuh bocah?"

Satria yang duduk di samping Nathan pun menajamkan pendengaran ikut penasaran, meski hanya menampilkan wajah datar. Tidak biasanya Raya tidak fokus belajar, mengingat gadis itu adalah murid Beasiswa.

Pipit menoleh sedikit ke belakang lalu menggidikkan bahu "Gak tau, mungkin mengantuk." Pikirnya meski tidak yakin.

Sementara itu Raya di dalam toilet sedang membasuh wajah membiarkan tetesan air mengalir pada wajahnya. Lalu menatap cermin besar dalam toilet. Hembusan nafas kasar ia keluarkan "Brengs*k." Desisnya tajam mengingat beberapa pengkhianat yang hadir dalam hidupnya.

Raya kembali membasuh wajahnya, menenangkan diri agar tidak terlihat sedang emosi. Setelahnya, ia mengusap wajah dengan tisu kering yang tersedia.

"Apa lo baik baik aja?" Tanya seseorang menghampirinya.

Raya tidak menoleh, ia hanya menatap orang tersebut dari bayangan cermin di depannya. Jessie ternyata juga ijin pada guru untuk ke toilet, dia begitu mencemaskan Raya jadi memutuskan untuk menyusul.

"Not bad but not Good." Balas Raya apa adanya. Dia sedikit senang kebohongan mereka terungkap, jadi tetap saja menyakitkan.

"Fakta memang terkadang menyakitkan untuk di ketahui." Ucap Jessie, berdiri di sampingnya sambil mencuci tangan.

Sesekali Jessie melirik Raya yang sedang mengeringkan wajah dengan tisu, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan namun Ragu. Bukan Raya namanya jika tidak peka, tanpa ia menoleh pun sudah menyadari jika ada yang memperhatikan.

"Why?" Tanyanya datar plus dingin sambil mengangkat satu alis dan melirik Jessie dari cermin.

Jessie menjadi gelagapan, ia ragu untuk mengatakannya. Tapi sebisa mungkin dia harus memastikan jika Raya memberi lampu hijau padanya, dia menatap Raya lekat "Soal ucapan lo kemarin yang mengatakan jika setelah ini, gue bisa dekat sama siapapun. Apa itu beneran boleh di lakukan?"

Raya tersenyum sinis, cewek yang menempati tubuhnya itu begitu polos dan penakut. Untuk bertanya hal begitu saja maju mundur. Dia pun menjawab datar "Lakukan."

"Heuh?"

Raya kini balas menatapnya "Putusnya gue sama Revan dan pengkhianatan Kiara, itu bisa di artikan renggangnya persahabatan kita. Jadi kalo lo mau jauhi mereka juga gak masalah. Bahkan jika lo ingin dekat dengan Pipit serta Satria juga Nathan sepupu lo, bisa lo lakukan."

"Apa beneran gak masalah? Maksud gue, semua murid disini taunya lo pilih pilih dalam hal berteman. Jadi apa gak masalah jika gue dalam diri lo dekat sama murid biasa." Jessie kembali mengungkapkan kegelisahannya.

Tentu saja Raya mengerti semua itu, dulu dia memang tidak mudah di dekati dan tentunya tidak asal pilih teman, apalagi jika dari kalangan bawah. Dia membenci orang miskin. Tapi kini takdir membuatnya berada di tubuh orang miskin, seolah ingin memberinya hukuman karena sering membully siswa miskin.

Jessie masih diam menunggu jawaban apa yang keluar dari mulut Raya. Raya menegaskan "Bilang aja karna gue udah nolongin lo dari Revan. Mereka pasti akan anggap kedetakan lo hanya sekedar rasa terimakasih. So, gak usah ragu."

Jessie mengulum senyum, jawaban dari Raya sedikit menenangkan hatinya. Ini kesempatan dia untuk kembali bersahabat dengan Pipit.

"Lo emang boleh lakuin apapun, tapi jangan sekalipun lo coba bongkar soal apa yang terjadi sama kita. Masalah transmigrasi, cukup kita yang tau."

Tidak ada bantahan, Jessie mengangguk mantap. Namun seketika dia terpikirkan sesuatu yang sedikit mengganjal hatinya.

Raya berdecak, dia sungguh membenci ekspresi yang di lakukan Jessie pada tubuhnya. Ekspresi kebingungan, dilema dan ketakutan itu adalah ekspresi yang menjengkelkan baginya. "Apalagi yang lo pikirkan?" Tanyanya geram.

Jessi menjawab pelan "Gue gak akan dekati Satria."

"What?" Pekik Raya, dia tidak salah dengar? Kemarin cewek itu semangat saat tahu bisa dekat dengan Satria, sekarang tiba tiba berubah pikiran. What happened?

"Ini masih tubuh lo, kalo gue dekati dia pasti dia tetap mengira gue Jessie yang asli. Bagaimana jika nanti tubuh kita kembali? Dia mungkin gak akan bisa nerima gue saat di tubuh asli gue sendiri." Ujar Jessie, wajahnya memelas penuh rasa bimbang yang mendalam.

Raya memutar bola matanya jengah, arghh... Rasanya dia ingin mencabik wajah Jessie jika dia tidak ingat itu adalah raganya yang dulu. Ekspresi menjengkelkan itu lagi.

"Apa yang lo khawatirkan? Jika dia cinta sama lo ya dia harus nerima lo apa adanya, bukan apa adanya. Gak peduli bagaimana rupa lo, biasanya cinta itu karna nyaman. Jadi kalo misal lo balik ke tubuh lo lagi, kan tetap aja lo yang jalanin, lo yang beri dia kenyamanan dan mengerti cinta. Jadi gak ada pengaruhnya buat dia bagaimana rupa lo. Tapi jika dia nolak, artinya dia cuma cinta wajah lo, bukan diri lo." Ketus Raya panjang lebar.

Raya tahu Jessie masih kebingungan, dia kembali berkata dan lebih ketus dari sebelumnya "Lo mau deketin dia atau enggak... Whatever and I don't care." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Jessie yang termenung sendiri dalam toilet.

Jessie mengerucutkan bibirnya, mendumel sendiri "Dia ngasih solusi atau ngomel sih? Sangat menyeramkan." Gumamnya bergidik.

...----------------...

1
Anonymous
Wkwkkk sumala ga tuh🤣
Anonymous
Lanjut Thor, semangat💪💪💪
rhenha 123
lanjut thor
•🌻 𝓼𝓾𝓷𝓯𝓵𝓸𝔀𝓮𝓻𝓼 🌻•
yaa tak kirainn chatstory🥲 KAPANN BUAT CS LGII THORR🤧
Amha amalia: lagi pengin buat novel kakak😌😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!