Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Dalam ingatan yang terbentuk selama ia hidup, tak ada satupun di dalamnya ingatan tentang sang ayah. Lily merasa bahwa di dalam keluarganya hanya ada dirinya, ibu dan Andra. Serta Jeffrey dan orangtuanya. Sedangkan sosok ayah hanya ia lihat dalam bentuk foto yang selalu terpajang di dinding ruang tamu, serta suara yang sesekali ia dengar melalui sambungan telepon. Jadi ketika ayahnya benar-benar kembali, ia justru merasa asing.
Pria itu terlihat sedikit berbeda dari fotonya. Postur tubuhnya lebih tinggi dan tegap. Di balut dengan seragam militernya yang memberikan kesan gagah dan terhormat. Sementara kulitnya sedikit gelap. Seperti orang yang terbiasa beraktifitas dibawah sinar matahari. Namun tetap tampan.
Langit telah berubah warna menjadi jingga keunguan ketika Lily melihat ibunya datang dengan tergesa-gesa menghampiri laki-laki itu. "Mas..." Lirihnya, lalu segera memeluk erat.
Air mata jatuh satu demi satu. Kemudian mengajak sungai di pipi.
Seolah sesak yang selama ini membelenggu di dada, ia tumpahkan semua dalam dekapan hangat sang suami. Sesekali kepalan tangannya memukul pelan bahu pria itu. Melampiaskan kekesalannya. Rasa kesal yang membumbung tinggi akibat hilangnya kabar selama dua minggu ini.
"Kamu kemana aja mas? Kenapa nggak bisa dihubungi?" Raungnya keras. Napasnya memburu, bersahutan dengan isak yang tertahan.
Kini Andra tahu dari mana sang adik mewarisi sifat cengengnya. Ternyata dari sang ibu.
Ditempatnya Lily hanya terdiam, ia tak mengerti mengapa Andra terlihat sangat bahagia, ia juga tak mengerti mengapa ibunya justru menangis begitu keras. Hal itu sangat aneh, sangat membingungkan bagi ia yang tak merasakan apa-apa.
Pandangan Lily beralih pada orang di sampingnya, yang kini juga tengah menatapnya. Dalam rasa haru yang menyelimuti, dalam setiap isakan yang terjadi, suaranya justru yang paling menenangkan bagi Lily.
"Papa kamu pulang." Ucapnya datar seperti biasa, tanpa ekspresi. Sementara tangannya merayap kebelakang, mengusap lembut rambutnya, lalu tangan itu berakhir di bahu, merangkul. Penuh perlindungan.
Lily tahu. Seseorang yang selalu ia tanyakan, seseorang yang selalu ia rindukan akhirnya hadir di tengah-tengah mereka. Ia telah kembali sebagai penyempurna keluarga. Lalu, bisakah ia terbiasa nantinya?
Mungkin tak ada yang tahu bahwa selama ini, setiap kali ia bermain di taman, Lily selalu merasa iri melihat anak-anak lain ditemani kedua orangtua mereka. Sementara ia hanya ada ibu. Beruntung ada kakek, nenek dan Kenzy yang juga ikut menemani. Jadi hal itu tak begitu terasa.
"Sini sayang." Panggil Sarah saat melihat keterdiaman putrinya.
Lily ragu-ragu mendekat. Kakinya melangkah dengan pelan dan hati-hati. Seolah di depannya ada ranjau yang siap meledak kapan saja. Sementara netranya selalu menatap waspada.
Sesampainya di depan mereka, laki-laki itu segera mengangkat tubuh kecilnya. Membawanya dalam gendongan. Lily sedikit meronta, merasa tak nyaman. Namun belitan tangannya begitu erat, begitu kuat sehingga ia tak bisa lari kemana-mana.
"Anak papa udah gede aja sekarang. Dulu masih kecil banget yah, masih bayi." Komentar pria itu.
Tak ada balasan. Lily juga tidak tahu harus bagaimana. Ketika wajah ayahnya mendekat, ia memundurkan tubuhnya. Tidak terbiasa. Untungnya pria itu tak memaksa. Membuat ia bisa bernafas lega.
"Kayaknya dia takut sama kamu mas. Nggak pernah lihat kamu soalnya." Kata Sarah. Tangisnya telah mereda. Hanya isakan kecil yang tersisa.
Dibawah sana Andra menarik-narik baju ayahnya. Bibirnya turun, wajahnya begitu menyedihkan. Chandra terkekeh pelan. Namun segera paham bahwa putranya sedang berusaha mencari perhatian. Tangannya terulur, mengangkat tubuh kecilnya dengan satu tangan. Sementara Lily di tangan yang lain. Kini kedua anaknya ada dalam dekapan. Seperti apa yang selalu ia bayangkan selama ini.
"Kenapa kamu nggak bisa dihubungi dua minggu ini mas? Kamu bikin kami semua khawatir tahu nggak?"
Chandra menurunkan anak-anak. "Kalian main dulu yah diluar, papa mau ngomong sesuatu sama mama."
Karena mungkin apa yang akan ia katakan tidak baik untuk di dengar oleh mereka. Dan ia juga tak mau mereka mendengarnya.
Andra mengangguk. Lalu menarik Lily bersamanya. Bagusnya, gadis kecil itu tak menolak. Sebelah tangannya yang tak di genggam, menarik tangan Jeffrey.
Ketika anak-anak sudah tak terlihat, Chandra kembali membuka mulutnya.
"Sesuatu terjadi saat itu. Markas kami berhasil disusupi dan di bom oleh musuh. Semuanya hancur tanpa sisa. Semua orang luka-luka." Kata Chandra.
Sarah menutup mulutnya tak percaya. "Bagaimana bisa? Bagaimana dengan kamu mas? Apa kamu terluka parah?"
Tangan Sarah bergetar hebat ketika ia berusaha meraih wajah sang suami. Apa yang ia takutkan terjadi. Apa yang ia khawatirkan benar-benar menjadi kenyataan. Ya tuhan ternyata suaminya pernah berada di ambang kematian dan ia tak tahu.
Chandra tersenyum lembut. "Aku nggak papa sayang, semuanya sudah berlalu."
Tidak. Sarah yang tidak baik-baik saja sekarang. Bagaimana bisa? Ia bahkan tak sanggup membayangkannya.
Chandra segera memeluk tubuh sang istri yang kini sudah sesenggukan. "Ssstt... Aku nggak papa sayang. Lihat, aku masih sama kamu sekarang."
Pelukan itu masih sama hangatnya seperti terakhir kali. Dan Sarah bisa merasakannya lagi.
***
Lily berjalan sembari bergandengan tangan dengan Jeffrey, sementara Andra tertinggal di belakang, sendirian. Ketiganya sama-sama terdiam. Seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Langit semakin gelap. Di setiap rumah, lampu-lampu mulai dinyalakan. Begitu juga di tepi jalan. Sinarnya membawa bayangan memanjang. Yang terus mengikuti kemanapun kaki melangkah. Beberapa kendaraan sesekali melintas, seolah mengejar malam.
"Kita ke rumah Mas Jeffrey aja yah? Aku mau lihat ikan." Suara Lily memecah sunyi.
Jeffrey menatap gadis kecil itu dengan kening mengerut. "Nggak mau ke taman?" Tanyanya memastikan.
Lily menggeleng. Entah kenapa ia sedang tidak ingin kesana. Lagipula sudah hampir malam. Ia takut kegelapan. Ia juga takut bertemu hantu di tengah jalan. Karena Kenzy bilang hantu itu menyeramkan. Seperti yang pernah ia lihat di televisi.
"Okeh." Balas Jeffrey.
Gerbang tinggi dengan desain khusus itu terbuka perlahan. Pak Mamat muncul dengan senyuman. Giginya hanya dua di depan, seperti kelinci. Sementara giginya yang lain tersembunyi. Sangat lucu. Begitu juga dengan orangnya.
Terkadang, saat Lily merasa kesepian, ia akan datang kesini menemui pak Mamat. Mendengarkan lelucon-leluconnya yang selalu berhasil membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Nona kecil, akhirnya datang juga. Pak Mamat punya sesuatu nih buat kamu, tunggu yah?"
Lily mengangguk. Pria itu segera berlari ke samping rumah. Entah apa yang dilakukannya. Namun suara berisik dapat Lily dengar dari tempatnya berdiri. Begitu gaduh, begitu heboh. Membuatnya sangat penasaran.
Kakinya hampir saja mengejar, tetapi sesuatu menahannya. Tangan Jeffrey tak pernah lepas dari tangannya. Sehingga ia tak bisa kemana-mana.
"Biar Pak Mamat yang ambil, kamu disini aja."
Lily tak bisa membantah. Kini yang bisa ia lakukan hanya menunggu dengan sabar sampai pak Mamat kembali.
"Apa aku boleh masuk dulu? Kaki ku pegal berdiri terus." Kata Andra. Terlihat wajahnya sangat lelah. Sementara tangannya terus memegangi kepala. Mungkin masih pusing akibat bangun tiba-tiba tadi.
"Masuklah." Kata Jeffrey.
Tak lama Pak Mamat kembali dengan sesuatu ditangan. Sesuatu yang membuat Lily tertarik hingga melepaskan genggaman tangannya.
"Wahhh, ini buat Lily pak Mamat?" Tanyanya tak percaya. Benda kecil di dalam kotak itu terus bergerak-gerak. Terbang kesana kemari dengan lincah. Sayapnya begitu indah, warna-warni seperti peri.
"Iya, ini buat nona kecil. Gimana? Suka nggak?"
"Suka pak Mamat. Suka banget, makasih yah." Ucapnya tulus. Ia mendekap sangkar kotak itu dengan erat seperti harta Karun.
"Syukurlah kalau suka. Nanti kalau ada lagi, Pak Mamat tangkapin buat nona kecil, mau?"
"Iya iya. Yang banyak yah pak."
Pak Mamat mengangkat jempolnya. "Siap nona."
"Kalau gitu Lily masuk dulu yah pak Mamat." Pamitnya.
Setelah mendapat anggukan sebagai jawaban, ia berjalan dengan riang ke dalam. Rambutnya bergoyang-goyang, seirama dengan gerakan pinggulnya.
Jeffrey tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah lucu gadis kecil itu. Bisakah ia menyimpannya saja dirumah untuk dirinya sendiri?
Di sofa, Andra telah tergeletak dengan mata terpejam. Melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda. Dadanya naik turun dengan teratur. Sementara bibirnya tersenyum. Entah mimpi seperti apa yang sedang dialaminya saat ini.
Lily berjalan melewati ruang tamu, lalu berbelok ke kiri, ke halaman samping rumah yang terdapat kolam ikan, seperti tujuannya sejak awal. Ia meletakkan sangkar kecil itu diatas lantai kayu, lalu duduk disampingnya.
Tatapannya terus tertuju kesana. Tak berkedip. Kemudian mengetuk-ngetuk kan jarinya pelan. Berharap kupu-kupu di dalam sangkar kembali terbang. Tetapi tak ada pergerakan lagi. Mungkin sedang tidur, pikirnya.
Kehadiran Jeffrey membuat kepala kecilnya mendongak. "Mas Jeffrey, kalau kupu-kupu makannya apa?"
"Nektar."
Kedua alis Lily bertaut. Kemudian tubuhnya kembali duduk dengan tegak. "Nektar itu apa?"
Rasanya akan sangat sia-sia menjelaskan hal seperti itu pada anak yang bahkan belum TK.
"Kasih aja dia bunga." Kata Jeffrey pada akhirnya.
Lily mengangguk-anggukkan kepala. "Okeh, nanti aku minta bunga sama nenek kalau ketemu."
Tak ada yang berbicara lagi. Mata Lily hanya terfokus pada kupu-kupu. Antara senang dan takjub.
"Andra!! Lily!!
Di tengah suka cita yang masih menyelimuti, sebuah suara terdengar terus memanggil-manggil namanya dan sang kakak. Suara yang tak ia kenali. Lily menatap Jeffrey bingung.
"Papa kamu manggil."
"Orang yang tadi?" Tanya Lily.
Jeffrey membenarkan. "Iya. Ayo samperin."
"Nggak mau ah, takut."
Sebuah pukulan Lily rasakan didahinya. Tidak keras, namun kuat. Membuat kepalanya sedikit sakit. Ia ingin protes, tetapi tatapan orang di depannya telah berhasil membuat nyalinya ciut.
"Ngapain harus takut, dia itu papa kamu, bukan monster yang makan orang."
Lily juga tahu, tapi tetap saja.
Tangannya di tarik kuat, membuat ia mau tidak mau mengikuti langkah Jeffrey ke depan. Sementara Andra masih tertidur diatas sofa. Tak bergerak sedikitpun. Tak merasa terganggu.