Diego Murphy, dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin, dan dia juga adalah seorang mafia yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi kepada klan Dark Knight. Bahkan dia telah mendapatkan julukan sebagai The Killer, siapapun yang menjadi targetnya dipastikan tidak akan pernah bisa lolos.
Ketika dia masih kecil, ayahnya telah dibunuh di depan matanya sendiri. Bahkan perusahaan milik ayahnya telah direbut secara paksa. Disaat peristiwa kebakaran itu, semua orang mengira bahwa dirinya telah mati. Padahal dia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
Setelah beranjak dewasa, Diego bergabung dengan sekelompok mafia untuk membalaskan dendamnya dan ingin merebut kembali perusahaan milik ayahnya.
Disaat dia melakukan sebuah misi pembunuhan terhadap seorang wanita, malah terjadi sebuah insiden yang membuat dia harus menjadi menantu dari pembunuh ayah kandungnya sendiri. Sehingga dia terpaksa harus menyembunyikan identitasnya.
Apakah Diego berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pesta pernikahan Diego dan Vanessa pun akhirnya telah digelar dengan sangat megah dan meriah. Sampai kapanpun Tuan Arthur memang tidak akan pernah menganggap Diego sebagai menantunya, tapi dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri jika seandainya dia menikahkan putrinya dengan cara yang sangat sederhana. Karena itulah Tuan Arthur mencoba untuk berpura-pura memperlihatkan kebahagiaannya di pesta pernikahan tersebut.
Pernikahan mereka diadakan di ballroom hotel berbintang lima, dengan dekorasi yang sangat mewah dan berkelas. Dan berbagai jenis makanan yang telah disuguhkan, dimulai dari masakan tradisional, western, dan oriental.
Setelah menyambut para tamu undangan, kini Tuan Arthur sedang berkumpul bersama dengan keempat rekannya di sebuah ruangan khusus.
"Saya sama sekali tidak paham, mengapa putri anda bisa menikah dengan pria lain? Bukankah Vanessa akan menikah dengan putranya Tuan Ramos?" Tanya Tuan Nurdin kepada Tuan Arthur.
Tuan Arthur malas untuk menjawabnya. Mungkin karena sebenarnya dia sangat merasa harga dirinya telah diinjak-injak memiliki menantu yang sangat miskin seperti Diego.
Sehingga Tuan Ramos yang menjawab pertanyaan dari Tuan Nurdin. "Biarlah itu menjadi urusan kami. Yang pasti saya sama sekali tidak membenci Tuan Arthur karena masalah ini. Dan Jerry sudah berjiwa besar untuk menerima keputusan Vanessa."
Tuan Aldo pun memuji kebesaran hati Tuan Ramos. "Anda sangat berbesar hati, Tuan Ramos. Sebesar apapun masalah diantara kita, jangan pernah merusak persahabatan kita."
Tuan Dani terdiam sejenak, dia menghela nafas sebentar. Kemudian dia berkata, "Seharusnya jumlah kita tujuh orang..."
Tuan Arthur langsung menyanggah perkataan Tuan Dani, "Apakah anda menyesal dengan keputusan kita di masa lalu?"
Tuan Dani menjadi gelagapan diberikan pertanyaan seperti itu oleh Tuan Arthur, "Bukan, bukan begitu maksud saya. Saya hanya bilang dulu kita selalu bersama-sama dengan jumlah tujuh orang. Tapi kita berlima ini yang paling kompak dalam hal apapun."
Tuan Aldo mencoba untuk mencairkan suasana. "Ya sudah, bagaimana kalau kita bersulang? Untuk pernikahan putri sahabat kita dan untuk saya yang sebentar lagi akan menjadi presiden!"
Tuan Aldo sangat percaya diri sekali bahwa dia akan menang untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini, karena saat ini di mata masyarakat dia terkenal dengan kebaikan dan kesederhanaannya. Padahal dia adalah tipe orang yang akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Tuan Nurdin pun terkekeh sambil mengangkat satu gelas minuman, "Cheers!"
Criiing...
Kelima pemegang saham di perusahaan Murphy Group pun tertawa bersama sambil bersulang.
Walaupun sebenarnya perasaan Tuan Arthur sedang gondok dengan pernikahan putrinya, tapi dia harus berpura-pura terlihat bahagia.
...***************...
"Apa kamu tidak bisa tersenyum sedikit saja?" Bisik Vanessa kepada Diego. Sedari tadi dia sangat merasa kesal melihat ekspresi Diego yang begitu datar menyambut kedatangan para tamu undangan yang silih berdatangan ke pesta pernikahan.
Vanessa merasa dirinya seakan menikah dengan robot berbentuk manusia. Dia hanya takut orang-orang akan mengira bahwa Diego sama sekali tidak bahagia dengan pernikahannya.
Diego pun menghela nafas sebentar, dengan berat hati, dia mencoba untuk tersenyum. Walaupun senyumannya sangat terlihat aneh.
Vanessa malah merasa aneh melihatnya, sampai dia nampak melongo. "Gak usah.Gak usah. Kamu gak usah senyum. Dengan kamu tersenyum seperti itu, semakin terlihat aneh."
Diego pun berhenti tersenyum, ekspresinya datar kembali. "Padahal aku sudah memenuhi permintaan kamu."
Diego teringat dengan sang mertua. Kemana dia pergi? Apakah sang mertua sedang berkumpul dengan para pemegang saham yang lainnya?
"Aku harus ke kamar mandi dulu." Diego meminta izin kepada Vanessa untuk pergi ke kamar mandi, walaupun sebenarnya dia ingin mencari keberadaan Tuan Arthur.
"Iya, silahkan. Tapi jangan lama-lama. Masih banyak tamu yang belum datang. Padahal kaki aku pegal sekali. Aku ingin acara ini cepat selesai."
"Hm." Hanya itu jawaban Diego.
...****************...
Diego berjalan dengan hati-hati melewati koridor hotel yang ada disana. Dia ingin mencari keberadaan Tuan Arthur. Walaupun saat ini adalah acara pernikahan dia dengan Vanessa, bagi dia acara pernikahan ini sama sekali tidak penting.
Rupanya instingnya sangat tajam sekali. Dia tidak sengaja mendengar suara kelima orang pria paruh baya di sebuah ruangan.
"Aku masih ingat ketika kita bertujuh masih bersahabat..."
Terdengar samar-samar suara Tuan Dani yang sedang berbicara. Tapi sayangnya suara tersebut tidak terdengar begitu jelas, sehingga Diego semakin mendekatkan dirinya dengan daun pintu.
Diego dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja menepuk pundaknya dari belakang, membuat dia segera menoleh ke belakang. Rupanya pria itu adalah Sean.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Sean kepada Diego dengan tatapan penuh rasa curiga.
Diego berusaha untuk tidak terlihat panik . Pria itu sangat terlihat tenang sekali menjawab pertanyaan dari kakak iparnya itu. "Aku ingin menemui ayah mertuaku. Banyak sekali tamu undangan yang menanyakan kehadirannya."
Jawaban dari Diego memang masuk akal, sehingga Sean berusaha untuk mempercayainya. "Biar nanti aku yang akan menyampaikannya. Lebih baik kamu temani adikku!"
Diego menganggukkan kepalanya. Dia pun segera pergi.
Sean memandangi punggung Diego yang sedang berjalan semakin jauh darinya. Lalu dia segera menelpon Pram.
"Apakah kamu yakin Samuel adalah pria yang waktu itu berkelahi denganmu?" Tanya Sean kepada Pram.
"Iya, Tuan. Sepertinya dia bukan orang biasa. Dia sangat terlatih sampai bisa mengalahkan keempat anak buahku." Jawab Pram.
Sean pun berkata di dalam hatinya. "Samuel, siapakah kamu sebenarnya?"