NovelToon NovelToon
Jebakan Sang CEO Wanita

Jebakan Sang CEO Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cinta Terlarang / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.

Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"

​Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.

​Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?

Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

Langit Jakarta sore itu seakan tahu bahwa sebuah tragedi besar akan segera pecah. Awan yang pekat menggantung rendah di atas gedung Airborne Group, menciptakan suasana remang yang mencekam meskipun jarum jam baru menunjukkan pukul lima sore.

Di lantai eksekutif, suasana terasa sangat asing. Biasanya, lantai ini masih dipenuhi oleh staf administrasi yang sibuk dan asisten yang berlalu-lalang, namun hari ini, koridor panjang itu sunyi senyap.

Siska Roy berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna mutiara yang kancingnya sengaja ia biarkan terbuka sedikit lebih rendah dari biasanya. Dengan gerakan tenang namun penuh perhitungan, ia memulas bibirnya dengan lipstik merah menyala.

"Semuanya sudah pulang, Nyonya," sebuah suara terdengar dari interkom. Itu adalah suara orang suruhannya di bagian keamanan.

"Bagus. Matikan rekaman CCTV di koridor sayap barat selama tiga puluh menit ke depan. Pastikan server mencatatnya sebagai gangguan teknis rutin," perintah Siska dingin.

Ia telah menyusun rencana ini seperti sebuah grand master catur yang menyiapkan skakmat. Ia telah mengirimkan memo palsu atas nama departemen HRD yang menyatakan bahwa ada penyemprotan disinfektan besar-besaran, sehingga seluruh staf di lantai itu diperbolehkan pulang pukul empat sore. Satu-satunya orang yang tidak menerima memo itu adalah Arga Mandala.

Siska meraih ponselnya dan menekan nomor ekstensi Arga.

"Arga, datang ke ruanganku sekarang. Pak Roy baru saja menelepon dari bandara. Ada dokumen mendesak yang harus kau tandatangani sebelum beliau tiba di kantor satu jam lagi. Ini menyangkut kelangsungan divisimu," ucap Siska dengan nada yang sangat profesional, tanpa ada sisa-sisa emosi dari pertengkaran mereka kemarin.

Di ruangannya, Arga menghela napas panjang. Ia merasa lelah, sangat lelah. Surat pengunduran diri sebenarnya sudah ia ketik dan berada di dalam tasnya. Ia berniat menyerahkannya langsung kepada Pak Roy malam ini. Namun, mendengar nama Pak Roy disebut, integritas Arga kembali terusik. Ia tidak ingin meninggalkan perusahaan dalam keadaan kacau.

Arga berdiri, merapikan dasinya, dan melangkah keluar. Ia sedikit terkejut melihat kantor yang sudah kosong melompong. Lampu-lampu di area kubikel sudah dipadamkan, menyisakan pencahayaan darurat yang memberikan bayangan panjang di lantai.

"Kenapa sepi sekali?" gumam Arga. Perasaan tidak enak kembali merayap di tengkuknya, namun ia menepisnya. Ia hanya ingin menyelesaikan urusan dokumen ini dan segera mencari Nabila.

Arga sampai di depan pintu ruangan Siska. Pintu itu sedikit terbuka, seolah-olah memang sedang menunggunya. Ia mengetuk pelan dan masuk.

"Bu Siska? Di mana dokumennya?" tanya Arga.

Siska sedang berdiri membelakangi pintu, menatap jendela yang diguyur hujan deras. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja yang memberikan siluet tajam pada tubuhnya.

"Dokumennya ada di sana, di atas meja," jawab Siska tanpa berbalik.

Arga melangkah menuju meja. Namun, saat ia melihat ke atas meja, tidak ada map apa pun di sana. Hanya ada sebuah botol wine yang sudah terbuka dan satu gelas yang berisi cairan merah.

"Tidak ada apa-apa di sini, Siska. Kau membohongiku lagi?" Arga mulai merasa terjebak. Ia berbalik untuk keluar, namun Siska sudah bergerak lebih cepat.

Siska sudah berada di depan pintu, mengunci gerendelnya dengan bunyi klik yang tajam. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu, menatap Arga dengan tatapan yang sangat asing, campuran antara gairah yang gila dan dendam yang mendalam.

"Kau tahu, Arga... aku benci penolakan. Terutama darimu," bisik Siska. Ia mulai berjalan mendekati Arga, langkahnya pelan dan berirama.

"Buka pintunya, Siska. Aku tidak ingin ada keributan. Aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku sekarang juga. Biarkan aku pergi dengan tenang," Arga mencoba menjaga suaranya tetap rendah.

Siska tertawa pelan. "Pergi? Setelah kau mempermalukanku? Setelah kau membuang semua tawaran kemewahanku demi wanita rendahan itu? Tidak, Arga. Kau tidak akan pergi sebagai pria terhormat."

Siska merobek kancing atas kemejanya sendiri dengan sentakan kasar. Kancing-kancing kecil itu terlepas dan jatuh ke lantai marmer dengan suara berdenting.

Arga terbelalak. "Apa yang kau lakukan?! Kau gila!"

"Aku tidak gila, Arga. Aku hanya sedang menulis sejarah baru," Siska tersenyum sinis. Ia menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan, lalu dengan kuku-kukunya yang panjang, ia mencakar kulit bahunya sendiri hingga meninggalkan bekas kemerahan.

Arga mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur rak buku. "Jangan mendekat! Hentikan semua ini, Siska!"

Siska terus merangsek maju. Ia meraih kerah baju Arga, menariknya dengan paksa. Arga mencoba melepaskan tangan Siska, namun dalam posisi itu, siapa pun yang melihat akan mengira mereka sedang bergulat secara intim.

"Kau tahu apa yang akan dikatakan dunia besok?" Siska berbisik di depan wajah Arga yang ketakutan. "Mereka akan bilang bahwa Arga Mandala, manajer teladan yang sombong itu, mencoba memperkosa istri bosnya di kantor yang sepi. Tidak ada CCTV, Arga. Tidak ada saksi yang akan membelamu. Hanya ada aku, wanita yang hancur, dan kau, binatang yang haus nafsu."

"Tidak... Pak Roy tidak akan percaya padamu!"

"Pak Roy sangat mencintaiku. Dia akan percaya pada air mataku daripada kata-katamu," Siska tiba-tiba merobek bagian samping blusnya hingga memperlihatkan bahunya yang terbuka lebar. Ia menjatuhkan diri ke lantai, mengacak-acak dokumen di atas meja hingga berhamburan.

Arga mematung, tubuhnya gemetar hebat. Ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam liang lahatnya sendiri. Segala kejujuran yang ia jaga seumur hidupnya kini tidak ada artinya di depan skenario iblis yang sedang dimainkan Siska.

"Tolong! Tolong saya!" Siska mulai menjerit dengan suara yang sangat meyakinkan. Suaranya melengking, pecah oleh tangisan buatan yang terdengar begitu memilukan.

"Siska, hentikan! Jangan lakukan ini!" Arga mencoba membungkam mulut Siska dengan tangannya agar suaranya tidak keluar, namun itu justru menjadi kesalahan fatal.

Di saat yang sama, terdengar suara langkah kaki terburu-buru di koridor luar. Suara kunci yang diputar paksa terdengar dari luar.

"Siska? Ada apa?! Buka pintunya!" Itu suara Pak Roy. Pria itu baru saja tiba lebih awal dari bandara.

Siska menatap Arga dengan lirikan kilat yang penuh kemenangan di tengah air matanya. Ia kembali berteriak, kali ini lebih kencang dan penuh ketakutan. "Jangan! Tolong jangan sakiti saya! Arga, lepaskan saya!"

BRAK!

Pintu ruangan terbuka paksa setelah didobrak oleh petugas keamanan dan Pak Roy.

Pemandangan di dalam ruangan itu benar-benar menghancurkan hati Pak Roy. Ia melihat istrinya tergeletak di lantai dengan pakaian yang robek-robek, wajah yang sembab oleh air mata, dan bekas cakaran di bahunya. Sementara Arga berdiri tepat di hadapannya dengan wajah pucat dan tangan yang masih terulur, tampak seperti seorang predator yang baru saja tertangkap basah.

"Siska!" Pak Roy berlari menghampiri istrinya, menyelimuti tubuh Siska dengan jas mahalnya.

Siska langsung menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, bahunya terguncang oleh tangisan yang histeris. "Mas... dia... dia menyerangku... dia bilang dia mencintaiku sejak dulu... saat aku menolak, dia memaksaku..."

Pak Roy menoleh ke arah Arga. Matanya yang biasanya bijak kini berubah menjadi merah karena amarah yang paling murni. Ia berdiri perlahan, mengepalkan tinjunya.

"Pak Roy, ini tidak seperti yang terlihat! Dia yang melakukannya sendiri! Dia menjebak saya!" Arga mencoba membela diri, namun suaranya terdengar sangat lemah dan gemetar.

"Diam kau, Binatang!" Pak Roy melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Arga hingga pria itu tersungkur ke lantai. "Aku memberimu segalanya! Aku mempercayaimu seperti anakku sendiri! Dan kau mencoba mengotori istriku di kantorku sendiri?!"

"Panggil polisi!" perintah Pak Roy kepada petugas keamanan dengan suara menggelegar. "Jangan biarkan dia keluar dari sini hidup-hidup!"

Arga menatap Siska dari lantai. Dari balik dekapan Pak Roy, Siska menoleh sedikit ke arah Arga. Ia tidak lagi menangis. Ia memberikan sebuah senyuman kecil, sangat tipis, namun penuh dengan racun kemenangan. Senyuman yang mengatakan - Aku sudah bilang, kau akan memohon padaku.

Malam itu, di bawah guyuran hujan yang semakin menderu, Arga digiring keluar gedung dengan tangan terborgol. Kilatan lampu kamera dari beberapa wartawan yang entah bagaimana sudah berada di sana mulai menyambar. Nama baik Arga Mandala musnah dalam satu malam.

Di saat yang sama, Nabila baru saja tiba di lobi kantor dengan dokumen di tangannya, berniat menjemput suaminya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat suaminya digiring oleh polisi di tengah kerumunan orang yang memaki.

"Arga?" Nabila menjatuhkan dokumennya ke lantai yang basah.

Dunia seolah runtuh bagi mereka berdua. Jebakan maut sang nyonya besar telah tertutup rapat, dan kini, Arga berada di balik jeruji besi, sementara Nabila berdiri sendirian menghadapi badai fitnah yang siap menelan mereka bulat-bulat.

...----------------...

Next Episode....

1
Eva Karmita
alur ceritanya bagus bikin nano" ...
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰
Eva Karmita: sama" semangat 🔥💪🥰
total 2 replies
Eva Karmita
Arga ingat kalau sikap mu masih lembek kayak jelly harusnya kamu pikir dia kali menghadapi Siska tidak semudah dan segampang yang kamu bayangkan satu kali saja kamu buat kesalahan maka hancurlah rumah tangga yang kamu bangun dgn susah payah.... Nabila akan benar" pergi dari hidupmu dan kamu akan hidup dlm penyesalan seumur hidup
Eva Karmita
semoga Arga bisa melawan Mak lampir
Isee
semoga arga juga bisa menjalankan misi yg direncanakan nabila & jgn sampe ada jebakan tidur bareng siska.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
👀 calon mayit 👀
💪
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Siska otakmu konslet ya...kamu sendiri yang sudah menciptakan luka tapi anehnya malah menyalahkan orang lain 😤
Eva Karmita
😭😭 semangat Arga ingat ada wanita kuat dan tangguh dissimu
Eva Karmita
masa lalu yang menyakitkan 🥺
Eva Karmita
,dasar wanita iblis
Eva Karmita
Arga kenapa harus berbohong dengan istri mu sendiri 🥺😤
Isee
Nabila kenapa kamu ksh tau clue clue itu ke siska 😭😭😭 semoga nabila bisa membela arga & melawan siska sampai dpt hukuman
Eva Karmita
Arga jadilah laki" yg kuat jangan lemah dong.... masalalu harus di kubur untuk apa digali lagi tetaplah masa depan jangan menoleh kebelakang lagi
Isee
bener2 SAKIT si siksa, elu yg buat ulah, nyalahin orang lain.😡😡😡
👀 calon mayit 👀
nyeesek😭
Isee
semangat nabila 💪💪💪 lanjut kak
Miss Ra: siaaaap💪
total 1 replies
Isee
SARAP si siska😡😡😡😡
Isee
jika akhirnya agra gak berterus terang ke nabila, maka lepaskan agra tapi sebelumnya dampingi agra melawan siska sampai siska jatuh karna ulahnya sendiri & diceraikan sama pak roy.
Isee
wah DAEBAK 👍 nabila,,, dampingi selalu arga buat siska KEOK😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!