NovelToon NovelToon
Adeline In Disguise

Adeline In Disguise

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:383.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.

Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.

Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.

Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Apa Dengan Ririn

Adeline turun dari mobil dan ia berencana ke kamar Rinjani di lantai 2. Tapi sebelum itu Argan menangkap tangannya dan mengecup punggung tangannya.

Romantis sekali sebenarnya, kalau saja adegan itu tidak dilakukan di depan Dewa seakan sengaja.

Argan sedang berusaha mengunci Adeline.

Dan Dewa, hanya diam.

Dewa terbiasa dikejar. Ia tidak biasa mengejar.

Adeline hanya mencibir, lalu balik badan untuk naik ke lantai dua.

Sebenarnya perasaan Argan padanya di luar prediksi Adeline. Tapi baguslah, itu akan menambah kepercayaan dan mempermudah aksinya. Ia tidak ingin menerima Argan jadi pacarnya karena ia tidak bisa memaksakan perasaannya. Juga, ia tidak ingin jadi yang pertama dicurigai saat terjadi sesuatu dengan Argan.

Menjadi pacar konglomerat akan membuatnya berada dalam situasi sulit, publik akan mencari tahu tentangnya. Terutama saudara-saudaranya, Saudara ibunya, saudara bapaknya... mereka pasti secara sukarela akan menyebarkan profilnya, dan Argan pasti akan tahu kalau dia adalah anak dari sepasang insan yang bunuh diri karena perbuatannya.

Saat berada di ujung tangga, lagi-lagi, langkahnya dihentikan.

Oleh Bu Siti yang dari ujung koridor berlari mendekatinya dengan wajah serius.

Bayangkan wanita setengah baya gemoy, fokus lari untuk menerjang Adeline?

Bikin kaget kan ya?

“Sini kamuhhh!!” seru Bu Siti sambil meringsek Adeline, tangan gemuknya melingkar di pinggang Adeline, dan langsung menariknya ke dalam lift, sampai-sampai timbul suara ‘Hekk!’ dari Adeline saking kuatnya tarikannya.

Bu Siti menekan tombol hold agar lift terhenti namun dengan pintu tertutup. Biasa digunakan ART kalau sedang ada pembersihan di dalam lift.

“Kamu ini bikin masalah terus, saya sampai capek ini belain kamu!” Keluh Bu Siti. “Saya tuh sudah tua Adeeee, nggak kuat kalau harus mendamaikan semuanya! Pinginnya duduk tenang ngawasin kamu-kamu kerja sambil nge-teh. Lah ini semua hujatan saya tampung, duuuh rasanya pusing saya!”

Adeline tidak mengerti omelan Bu Siti.

Jadi dia hanya mengulurkan air mineral dengan botol bergambar bunga sepatu bertuliskan ‘Fiji’ ke arah Bu Siti. Dapet ngambil dari hotel barusan.

Bu Siti menegaknya sampai habis lalu mende sah lega.

“Jadi… bagaimana ya Bu?” Tanya Adeline lagi.

“Paviliun lagi panas!”

“Paviliun… Mess ART di belakang ya?”

“Iya!”

“Kayaknya saya tahu kenapa. Karena saya tebar pesona terus ya?”

“Iyaaa!!”

“Ada berita mengenai saya di internet ya?”

“Eh? Tidak ada sih.”

Adeline mengangguk puas. “Bagus…” itu berarti Dewa sudah meredam semuanya. Hebat juga pria itu, pasti Dewa sudah terbiasa dengan pekerjaan semacam ini.

“Bu Siti, tidak usah capek-capek belain saya.” Adeline merasa kalau Bu Siti tidak usah terlalu akrab dengannya. Kalau Adeline ditangkap polisi, ia tidak tega harus membiarkan Bu Siti terlibat. “Dengarkan saja sumpah serapah mereka, tidak usah bicara apa pun. Iya-Iya saja. Nanti ibu malah stress sendiri. Saya sudah biasa kok digituin.”

“Yah... tapi...”

Adeline memeluk Bu Siti. “Makasih Bu sudah membela saya. Saya akan bekerja lebih rajin, akan saya tunjukkan kalau saya lebih baik dari mereka dan pantas menyandang pekerjaan ini.”

Bu Siti pun menggaruk kepalanya yang ditutupi hijab,

“Yaaa, seminggu kamu kerja di sini sih sudah terlihat ya, kamar Pak Argan dan Non Rinjani jadi kinclong buanget dan kamu katanya udah nolongin Pak Argan waktu kejadian penembakan itu.”

Adeline mengangkat bahunya, “Itu cuma kebetulan, kebetulan saya di sana.”

**

Namun saat Adeline mengetuk kamar Rinjani, wanita itu sudah duduk di sofa meja riasnya sambil menatap Adeline dengan cemberut.

Adeline sampai berdiri dengan jengah, ragu mau masuk ke kamar Rinjani atau tidak.

Kata-kata pertama yang ia utarakan ke Adeline adalah...

“Ade, benar kamu pacaran sama kakakku?”

Adeline pun menghela nafas panjang.

“Nggak. Itu kamuflase. Biar dia nggak dibilang Gay sama publik. Demi kepentingan bisnis.” Kata Adeline.

“Benar begitu? Kamu tidak bohong?”

“Tanya si Argan, aku menolaknya saat dia menembakku.”

“Dia Menembakmu?! Kamu juga luka dong?!”

“Nembak, Ririiiin, mengutarakan rasa cintanyaaaa.”

“Lebih Parah Lagi Dong!!” Rinjani langsung sewot.

“Rin, akui saja, aku ini cantik. Pemikat kaum lelaki. Jadi jangan salahkan aku kalau ada yang suka padaku. Buktinya aku bisa membuat kakakmu yang jutek level lejen itu jadi menawariku jabatan sebagai Pacarnya. Tapi terus terang aja ya Rin, aku suka orang lain. Jadi kutolak kakakmu.”

“Kamu baru saja menolak ditawari jadi pacar konglomerat di saat wanita lain mati-matian menarik perhatian kakakku.” Kata Rinjani terpukau. “Kamu memang wanita yang berbeda, Ade...”

“Terserah kau lah.” Adeline mengibaskan tangannya dan meletakkan tas besarnya di meja Ririn lalu mulai mengganti pakaiannya dengan seragam Maid.

“Kau pakai parfum apa sih kok wangi banget?”

“Pakai Rapika.” Jawab Adeline cuek.

“Itu parfum lokal ya? Khusus Maid ya? Kan kayak ‘sudah Rapi ya Non, Sudah Rapi ya Kaaak’. Gitu?”

Adeline mencibir ke arah Rinjani, tidak ingin mendebat karena dia bakalan stress duluan kalau melawan orang super polos.

“Pokoknya, di rumah ini orang yang paling kubenci adalah kakakmu. Titik. Udah sombong, congkak, suka banting-banting pintu, kasar pula...” gerutu Adeline.

“Jadi perkiraanku benar. Syukurlah. Terus terang saja, kulihat dia bersikap paling kasar justru padamu. Jadi malah aneh kalau kalian pacaran, makanya langsung kutanyakan padamu.” Rinjani mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala. Adeline mencebik sambil memonyongkan bibirnya.

“Tapi dia lembut sekali padaku loh.” Kata Rinjani.

“Hm, tidak mungkin. Pasti itu dalam mimpimu.”

“Aku sungguhan.”

“Mungkin kamu waktu itu sedang dalam posisi mabuk atau diracun, atau salah telan obat? Mau coba mengkudu buat netralisir kolesterol?”

“Mengkudu tuh apa? Aku dalam keadaan sadar sepenuhnya.”

“Mengkudu tuh buah yang rasanya enak banget, bikin kecanduan. Coba deh lain kali kubawakan." Adeline menyeringai licik.  "Tapi tidak mungkin Argan bersikap lembut.”

“Boleh, nanti kucoba kalau kamu bawa...” Lalu mereka terdiam karena Adeline menghapus make upnya dan sedang menata rambutnya agar lebih sederhana dan tidak menghalanginya bekerja.

“Ade, aku... boleh curhat nggak?”

“Boleh lah. Memangnya kamu percaya aku bisa jaga rahasiamu?”

“Kamu menolongku, membuka mataku dari para teman-teman palsuku. Dan kamu membelaku di depan mereka padahal kita belum saling kenal. Kamu juga membongkar rahasiaku tapi tidak mengumbarnya ke orang lain. Jadi, Ya, kurasa aku mempercayaimu.” Rinjani mengangguk yakin.

“Jangan terlalu percaya padaku, kita Maid dan majikan. Itu akan membuatku serasa tidak memiliki batasan padamu.”

“Aku tak punya teman.” Desis Rinjani.

“Kamu kan baru saja ketemuan dengan teman-temanmu?”

“Itu bukan teman yang sebenarnya.”

Adeline menarik nafas.

“Rin, kubilang padamu ya... sering kali, teman terbaik justru adalah dirimu sendiri.”

Lalu keadaan pun hening.

Sampai akhirnya Rinjani mulai membuka suara.

“Aku... aku rasa aku jatuh cinta ke kakakku sendiri.” Dengan suara gemetar Rinjani menatap Adeline.

1
sukensri hardiati
waaduuuh...ini sih belum tamat
Bundanya Pandu Pharamadina
Adeline
ponii
👍👍
ponii
oke lurrrr
gasss🔥🔥🔥🔥👌
ˢᵘᵖᵉʳ爪乇🦸
percayalah, kamu bukan terlahir utk menjadi kriminil Del, makanya semesta tak merestui niat jelekmu
Hesti Ariani
yg menjadi bacaan wajib kalau ke NT, banyak penulis bagus, tapi karya mbak Septira ini one of a kind, beda. bagiku ini adalah mood bosster
Kustri
admil sdh bisa jd wali koq, syarat" sdh memenuhi
Kustri
gmn crits'a, gara" brangkas kebuka koq malah jd urusan selakangan🤫😁
Kustri
hati" ada CCTV
Kustri
adel pinter ngopeni adik"e, ra ene sg iri"an
☠🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
cemburu buta gak cari siapa yg slah main trabas bunuh sana sini gendeng lu
☠🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
langsung main kepemilikan ya pak, kagak udah basa basi 🤭
☠🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
panas mas 🤭🤣
☠🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 𝒜𝐿𝓊𝓃𝒶
adel malu ihh, ditolak loh 🤭🤣🤣
Sri Haryati
ya Allah Thor novelmu selalu bikin ngakakkkk🤣🤣
ncapkin
kereeeeen
Nania
twins but not twins, seru lah ada 3 disguise dalam novel ini, harusnya judulnya three disguisers 😂😂😂😂
Ruk Mini
ya thorrr. bikin penasaran...bagus bgt.. trs visual y ga kaleng".. alur y sat set.. karakter tokoh y jg paten..pokoy ajibbbbbb..segela lh d lanjut ..tq bgt thor d tgg 🙏👍👍👍
ety susanti
wow... deg deg an bacanya
meimei
duhh mak jadi kepikiran,kebawa mimpi gk yah adegan ini.... kebayang kalo si bapak argan gk Dorr istrinya,, kepikiran hubungan argan sama neng elin kedepanya... mana end pula
Serenarara: Ubur-ubur makan sayur lodeh
Minum sirup campur selasih
Coba baca novelku berjudul Poppen deh
Dah gitu aja, terimakasih. /Joyful/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!