“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMTK - BAG 21
Di aula pesta. Seorang pria yang tak lain adalah Boy William's tampak telinga telinga ke segala penjuru arah. Maniknya menyoroti ke setiap sudut ruangan. Mencari keberadaan Naira di tengah banyaknya kerumunan orang-orang.
“Ke mana gadis itu?” gumamnya geram sembari terus menilik ke segala tempat mencari keberadaan gadis muda yang di bawanya.
Boy sangat kesal. Terlebih ketika hatinya berprasangka jika mungkin Naira kabur darinya? Mungkinkah? Seberani itu? Jika benar maka lihat saja, gadis muda itu akan menanggung akibatnya!
“Aleman... Apa kau tadi sempat melihat gadis bisbol itu?” tanyanya pada sang asisten pribadi yang saat ini telah berada di sampingnya.
“Tidak, Tuan.” Aleman menggeleng. Bukan apa, ia memang tidak melihat keberadaan Naira. terlebih posisinya yang juga baru saja datang ke tempat tersebut. Membuat ia sama sekali tidak menangkap pergerakan gadis muda itu setibanya di sana.
Drama parkir mobil yang cukup menyebalkan. Entah sengaja dirancang untuk menghambat penyusulannya. Sehingga melewatkan detik-detik berharga kepergian gadis muda yang menjadi pilihan sang tuan muda!
“Lalu, ke mana ia?” Boy mulai khawatir. Jika memang pergi, nekat sekali. Lihat saja jika nanti bertemu lagi. Maka tidak akan ada ampun untuk Naira yang sudah berani meninggalkannya sendirian bahkan tanpa permisi!
Lalu Boy mengutus Aleman untuk mencari pergerakan gadis berusia 18 tahun tersebut.
***
“Untukmu, imbalan atas kerja kerasmu barusan.”
“T- terima kasih, Tuan. S- saya senang bisa bekerja sama dengan anda. Dan saya berjanji akan menjaga rahasia ini tidak akan menceritakannya kepada siapapun!”
“Bagus... sekarang pergilah... bersenang-senanglah menikmati hasil jerih payahmu.”
Sebuah amplop coklat berukuran cukup tebal baru saja berpindah tangan. Seorang wanita yang menerima tampak mengembangkan senyumnya, gembira. Hasil 2 bulan bekerja bisa ia dapatkan hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari 20 menit. Sangat singkat. Dan andai saja pekerjaan seperti ini bisa setiap hari ia dapatkan—maka mungkin tidak perlu lagi baginya banting tulang dengan cukup keras sebagai pelayan.
Bergerak meninggalkan sang pemberi rezeki. Langkah cepat wanita itu ambil pergi dari sana. Menyisakan sepasang anak manusia yang tak saling memiliki hubungan. Diselimuti keserakahan dari sosok pria yang barusan usai ‘memburunya’.
Naira tergeletak tak berdaya. Sementara di sampingnya sudah duduk seorang pria sembari mengulas senyumnya.
“Cantik dan menggoda,” ucapnya sambil menyentuh pipi Naira. Mengelus dari permukaan pipi, kemudian turun pada daun telinga.
Sejenak sosok itu menjeruk permukaan daun telinga yang terendus harum itu. Menunjukkan kerakusan akan ketidak sabaran dari hasil tangkapannya.
Pria itu kemudian membuka kancing kemeja. Bersegera, melepaskan cepat jas yang masih melekat. Berikut dengan kemeja yang kancingnya sudah sepenuhnya terlepas. Ingin menerkam. Sudah bersiap. Tapi,—
Kriiinggg! Kriiinggggggg!!!
Deringan menggagalkan niatnya. Gawai canggih itu terus berdawai meminta perhatian. Membuat pria itu menelan ludah. Menekan bagian ‘bawahnya’ untuk sementara bersabar sampai ke gangguan kecil ini berhasil ia tuntaskan.
“Hmm... ada apa?” Ekspresi dingin pria itu siratkan menunjukkan ketidaksenangan. andai saja sudah tidak perlu. Maka mungkin sekarang juga akan memaki sosok yang saat ini sedang menghubunginya.
“Kau sedang ada di mana sekarang? Papa menanyakanmu. Cepat, kembalilah. Ada sesuatu yang ingin Papa perbincangkan. Bukan hanya menyangkut tentang percepatan pernikahan kita. Tapi ini juga menyangkut dengan proyek yang kemarin kau minta untuk diloloskan!” decit seorang wanita di seberang sana.
“Hmm... baiklah sebentar, aku akan segera kembali!”
Tut!
Sungguh mengganggu. Tapi apa yang barusan disampaikan oleh wanita itu juga perlu. Bukan hanya tentang pembahasan percepatan pernikahan, melainkan proyek yang ia inginkan?
Sosok itu kemudian kembali mengenakan kemeja juga jasnya. Merapikan, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mangsanya dengan janji akan segera kembali secepatnya!