NovelToon NovelToon
Pang Liong (Membantu Naga)

Pang Liong (Membantu Naga)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.

Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------

Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.

AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.

---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--

nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api di Balik Tirai Pengantin

Acara demi acara dilewati Kwee Lan seperti mimpi buruk yang dibungkus kain sutra merah. Dia mengikuti setiap ritual—berlutut, menuang teh, hingga menerima restu—dengan hati yang terasa dingin. Dia tahu, mulai detik ini dia tidak benar-benar bebas. Mimpinya untuk membuka klinik mandiri dan hidup tenang sebagai sinseh merdeka, yang baru saja mau merekah, kini gugur dan terinjak-injak oleh sepatu bot militer dan protokol kekaisaran.

Di mata masyarakat yang menonton di pinggir jalan, ini adalah dongeng sempurna: Perkawinan sinseh cantik yang misterius dengan Jenderal Naga yang tampan dan gagah. Tapi bagi Kwee Lan, ini adalah sangkar emas yang pintunya dikunci rapat oleh stempel "Garis Luar".

Namun, ada satu hal yang membuatnya sedikit tersenyum di tengah duka. **Ah Niu**.

Anak itu—yang kini sudah jadi pejabat daerah—tampak sangat rapi. Dia sudah lulus dari kebiasaan lamanya; nggak ngupilan lagi di depan umum. Masyarakat sudah melarangnya bertingkah jorok, walau Kwee Lan yakin, kalau sedang sendiri di belakang meja kantornya, Ah Niu pasti tetap asyik "menggali harta karun" di hidungnya itu.

Ia bersyukur bahwa kedekatan Ah Niu dengan adik perempuan Jendral Go membuat dia semangat bekerja dan tidak menangisi dirinya.

Hati Kwee Lan mendadak nyeri. Dulu, dia pernah berharap Ah Niu-lah yang akan melamarnya. Dia menunggu dan menunggu, tapi Ah Niu tak kunjung datang sampai ayahnya tiada, dan nasib sial justru melemparkannya ke pelukan Jenderal Go.

Di pojokan, Jenderal Go memperhatikan tatapan itu. Dia melihat penyesalan di wajah Ah Niu. Dia melihat Ah Niu mendekat, membungkuk hormat, dan meminta maaf dengan nada yang penuh luka. Ada rasa tersaingi yang muncul di dada Jenderal Go—rasa cemburu seorang laki-laki—tapi dia mewajarkannya. Dia tahu kompleksitas masalahnya; dia tahu dia mendapatkan Kwee Lan lewat jalur "kecelakaan" dan siasat, bukan lewat jalur bunga-bunga.

Ah Niu sendiri hanya bisa menarik napas panjang. Sebagai pejabat, dia bersyukur pelakunya bertanggung jawab setelah tragedi moral itu. Tapi sebagai laki-laki, sudut hatinya perih. Cintanya terhalang oleh nasib sial yang bernama "waktu".

 

Janji di Aula Besar

Malam harinya, alih-alih dibawa ke kamar pengantin untuk ritual "malam pertama", Kwee Lan justru dituntun masuk ke sebuah aula besar di kediaman keluarga Go. Bau hio tercium tajam.

Di sana, pemandangan luar biasa terjadi. Puluhan tetua, laki-laki dan perempuan, sudah berkumpul. Begitu Kwee Lan masuk, mereka semua bersujud.

"Sinseh Kwee... mohon jangan tinggalkan kami," isak salah satu tetua perempuan.

Mereka memohon agar Kwee Lan tetap menjadi sinseh. Mereka membuat kesepakatan di depan saksi-saksi: Mereka akan mengatur jadwal pasien, maksimal tiga orang saja sehari, agar Kwee Lan punya waktu istirahat dan... agar cepat hamil.

"Kami janji, Sinseh," kata seorang tetua laki-laki dengan suara bergetar. "Kalau besok Sinseh belum hamil juga, kami bersumpah tidak akan bermulut lancang atau menghina. Kami tahu bebanmu berat."

Mereka berkata begitu karena mereka tahu kelakuan Jenderal Go yang sering terlihat menggandeng perempuan lain di luar sana—sebuah rahasia umum yang membuat mereka merasa iba sekaligus butuh pada ilmu Kwee Lan. Mereka tidak bisa menjanjikan kesetiaan sang Jenderal, tapi mereka menjanjikan perlindungan bagi profesi Kwee Lan.

Mendengar itu, Kwee Lan tertegun. Matanya yang tadi redup mulai bercahaya lagi.

Tiba-tiba, api yang hampir padam di dalam dadanya itu hidup kembali. Sebuah api yang bernama Harapan. Dia mungkin terjebak dalam pernikahan ini, tapi dia tidak kehilangan identitasnya sebagai penyembuh. Dunia boleh mengambil kebebasannya, tapi dunia tetap berlutut meminta ilmunya.

Kwee Lan melirik ke arah Jenderal Go yang berdiri di ambang pintu aula. Dia menarik napas panjang, menguatkan kakinya yang pernah lumpuh. "Tiga pasien sehari... dan aku tetap menjadi Sinseh. Baiklah, mari kita mainkan permainan ini sampai akhir," batinnya. Bonus perjanjian mengajar di perguruan Sinseh campuran di Peng San. Pejabat itu sampai datang sendiri karena dia ingin agar setidaknya ada Sinseh perempuan lain di samping Sinseh Li yang mengajar. Awalnya Pejabat sangsi karena Sinseh ini wajahnya seperti cerita pengantin hantu Gunung Hoa San. Cantik tapi mistis. Namun, setelah dijelaskan beberapa Kasim yang sudah merasakan hasilnya, ia yakin.

 

Bayangin gimana kikuknya para ajudan Jenderal pas harus ngatur antrean pasien ibu-ibu di depan rumah dinas! Vote biar lanjut 🐉 🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!