Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENANGIS
"Anda hanya perlu menandatangani semua dokumen penyerahan aset pak Dion saja bu Mikha. Semua akan mudah jika anda kooperatif menyikapi permasalahan ini", ucap pengacara Abraham sambil memperlihatkan beberapa dokumen yang telah ia persiapkan.
"Kooperatif? Apa maksud mu?". Mikha tidak percaya pengacara Abraham bicara seperti itu padanya yang selama Dion ada ia selalu menghormati Mikhaela. Sungguh ketulusan seseorang akan nampak juga pada waktunya.
"Maaf bu Mikha, tapi mbak Ira memiliki dokumen lengkap. Ibu bisa melihatnya sendiri sebelum menandatangani".
Terdengar hembusan nafas Warda dan Nania yang mulai kesal pada Mikha.
"Sudahlah Mikhaela, tanda tangani saja toh pernikahan kalian tidak ada keturunan juga. Kamu juga tetap akan menerima bagian dari harta adik ku", ketus Nania melayangkan tatapan sinis tidak suka pada iparnya tersebut.
Mendengar itu semua, membuat kedua mata Mikha memanas. Sekuat tenaga menahan diri agar tidak menitihkan air mata.
Baru kemarin mereka semua mengantar kepergian Dion, tapi hari ini sudah meminta Mikha menyerahkan aset mendiang suaminya. Entah akan menjadi milik siapa jika Mikha menandatangani semua dokumen seperti yang mereka inginkan.
"Aku tidak akan menandatangani apapun. Karena aku satu-satunya istri sah mas Dion, kalian suka atau tidak!". Mikhaela membalas tatapan tajam Warda dan Nania. Sementara Ira yang mengaku sebagai istri Dion tertunduk.
"Silahkan kalian semua meninggalkan rumah ku!", tegas Mikhaela dengan suara bergetar.
"T-api mbak...mas Dion meninggalkan surat pernyataan ini pada saya. Jika ada apa-apa dengan mas Dion, ia meminta aku menemui mbak", lirih Ira memberikan selembar kertas yang wanita itu simpan di dalam tasnya.
"Beberapa bulan yang lalu mbak dan mas Dion ke Surabaya. Apa mbak nggak ngerasa mas Dion seharian nggak sama mbak. Mbak kira suami mbak meeting?". Ira menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Mas Dion bersama kami mbak, karena Salfa sakit. Seharian ia menemani anaknya. Kalau mbak nggak percaya, tanya saja sama teman-temannya yang berkegiatan di hotel tempat mbak menginap. Apa mas Dion ada mengikuti kegiatan itu". Ira berucap lantang dan meyakinkan.
Mikhaela terdiam mendengarnya.
Nania mengambil kertas itu, lalu membacanya. "Ya...ini memang benar tulisan tangan adikku", ujar wanita glamor itu setelah memeriksa tulisan tangan yang ada di kertas.
Mikhaela tidak bergeming. Namun matanya berkaca-kaca. Mencerna semua penuturan wanita itu.
"Kamu ini selalu mempersulit. Apa susahnya menandatangani dokumen-dokumen itu–"
"Kalian tega ya...Mas Dion baru kemarin di kubur tapi mama dan kak Nania, malah memperkeruh situasi ini". Mikha menatap Ira. "Dan kamu, atas alasan apapun kamu tidak berhak menuntut karena aku tidak pernah memberi izin suami ku menikah lagi. Mana buku nikah kalian? Mana hasil tes DNA anak kalian, pengacara ku akan memastikan keabsahan dokumen-dokumen resmi yang menyatakan anak ini adalah anak Dion!! Sekarang kalian semua pergi dari rumah ku atau satpam akan mengusir kalian", ancam Mikhaela tak gentar menghadapi Nania dan Warda pun Abraham dan Ira.
Mikha membalikkan badan dengan dada bergemuruh, pergi begitu saja. Tindakan Mikha mengejutkan bagi Warda, karena menantunya itu selama yang ia tahu sangat santun dan lembut. Tapi ternyata begitu menyulitkan.
"Mikhaela...Kamu hanya membuat masalah ini melebar kemana-mana jika kamu membawa sampai ke persidangan", teriak Nania dengan suara meninggi.
"Dan Kamu tidak perlu melakukan tes DNA pada Salfa karena aku yakin anak ini memang cucu ku. Aku yang melahirkan Dion, aku ingat wajah putra ku seusia Salfa, mereka bagaikan pinang dibelah dua", ucap Warda keras.
Bahkan kata-kata itu masih bisa Mikha dengar dengan jelas dari depan kamarnya yang ada di lantai dua.
Mikha mengunci pintu kamar, airmata yang sejak tadi menganak di sudut matanya tumpah juga. Ia yang masih berdiri di belakang pintu, perlahan tubuhnya terduduk dilantai.
"Apa lagi ini Tuhan. Benarkah kamu mengkhianati ku mas. Kamu sungguh tega mas Dion", Isak Mikhaela berlinang airmata.
"Aku tahu, anak itu begitu mirip dengan mu. Kenapa kamu melakukan semua ini pada ku mas..."
Nafas Mikha tersengal-sengal menahan beban berat yang menghimpit dadanya. Ingin bertanya langsung pada Dion tapi tidak akan pernah ada penjelasan laki-laki itu.
"Di Surabaya... Ternyata kau bohong mengatakan meeting hingga malam dan meninggalkan aku sendirian di kamar hotel. Kamu tega mas..."
Tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Mikha meringkuk di lantai sambil memeluk lututnya. "Jika ingin berpisah dari ku kenapa tidak kau katakan. Jika kamu ingin menikah lagi kenapa kau tidak menceraikan aku mas.."
Beban berat begitu menghimpit dada Mikhaela. Bak tertimpa batu yang jatuh tepat mengenai dadanya. Begitu berat dan rasanya sangat sakit.
"A-ku membencimu mas D-ion. A-ku tidak menyangka kamu tega meninggalkan luka menganga seperti ini pada ku di saat kepergian mu yang tiba-tiba..."
"Ternyata perhatian dan kata cinta yang sering kamu ucapkan pada ku semua palsu. Ternyata kau tidak mencintai ku. Kau hanya tidak mau terjadi perpisahan karena akan merusak reputasi mu...iya kan itu yang kamu hindari mas?".
"Nyatanya kau lebih memilih bersama mereka di banding aku saat di Surabaya. Kamu jahat M-as..."
Di kamar mewah berukuran luas itu menjadi saksi bisu betapa hancur hati Mikhaela.
Kemarin ia menangisi kepergian suaminya secara tiba-tiba. Hari ini Mikha menangisi kebodohannya yang terlalu percaya pada Dion. Ya...ia terlena dengan kata-kata manis yang sering kali suaminya ucapkan untuknya.
Ternyata Dion berkhianat.
Air mata mengering dengan sendirinya hingga matanya terpejam Mikha tidak perduli dengan dirinya lagi. Bahkan ia tidak tertidur di balik pintu kamarnya dengan posisi seperti semula meringkuk memeluk lututnya. Sesekali masih terdengar deru nafasnya yang tersengal-sengal. Menandakan beban pikiran pemilik tubuh itu begitu berat.
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂