Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Wajah Bayi
Eisérre meletakkan pisau kecilnya setelah selesai mengupas apel. Ia menatap Geneviève yang masih tampak bingung dengan ingatannya sendiri. Pertanyaan Geneviève tentang "pernah bertemu di tempat megah" tadi benar-benar menyentil rasa penasaran Eisérre.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Ève?" tanya Eisérre sambil memberikan potongan apel pada Geneviève. "Apakah kau mulai mengingat sesuatu yang spesifik? Sebuah pesta dansa? Atau mungkin seorang pria lain?"
Eisérre mencoba bertanya dengan nada bercanda, padahal hatinya sedikit waswas. Ia teringat dokumen yang diberikan Kael tempo hari. Di sana tertulis jelas: Geneviève d’Orléans, Usia: 25 Tahun.
Eisérre melirik wajah gadis di depannya. Kulitnya begitu halus, matanya besar dan jernih, dan pipinya sedikit berisi saat sedang mengunyah—benar-benar terlihat seperti gadis remaja berusia 17 atau 18 tahun.
Bagaimana mungkin wanita berwajah bayi ini sudah berusia dua puluh lima tahun? batin Eisérre heran. Dan bagaimana mungkin dia sudah lulus sekolah kedokteran dan forensik di usia semuda itu?
"Entahlah," jawab Geneviève polos, bibirnya sedikit mengerucut karena berpikir keras. "Hanya saja... rasanya kau dulu terlihat lebih galak dan kaku daripada sekarang. Dan aku ingat aku pernah sengaja menghindarimu karena kau tampak sangat menyebalkan dengan semua lencana di dadamu itu."
Eisérre hampir tersedak ludahnya sendiri. "Menyebalkan? Aku?"
Geneviève tertawa kecil, suara tawanya bening seperti denting lonceng. "Mungkin itu hanya imajinasiku. Lagipula, Jenderal sehebat kau pasti tidak punya waktu untuk melihat gadis sepertiku di kota yang luas, ini kan?"
Eisérre terdiam sejenak. Ia teringat kembali ke masa lalu. Memang benar, Raja Henri sangat protektif. Meskipun semua orang tahu Raja punya putri, Geneviève lebih sering berada di laboratorium atau perpustakaan daripada di aula pesta. Eisérre memang pernah melihat sesosok gadis kecil yang selalu berlari di koridor istana dengan jubah medis yang kebesaran, tapi ia tidak pernah menyangka gadis itu akan tumbuh menjadi wanita secantik—dan se-awet muda—ini.
"Kau tahu, Ève," ucap Eisérre sambil mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata Geneviève. "Aku baru menyadari satu hal. Wajahmu ini sangat menipu."
"Menipu?" Geneviève mengerutkan kening, tampak sangat menggemaskan.
"Ya. Siapa pun yang melihatmu akan mengira kau adalah adik bungsuku yang harus dijaga ketat," Eisérre mengusap pipi Geneviève dengan gemas. "Tapi ada sesuatu di matamu yang bilang kalau kau jauh lebih dewasa dan... mungkin lebih berbahaya dari kelihatannya."
Geneviève mematung. Kata "berbahaya" itu memicu sesuatu di otaknya. Tiba-tiba, tangannya bergerak secara refleks—gerakan yang sangat cepat. Saat Eisérre hendak menarik tangannya kembali, Geneviève tanpa sadar menangkap pergelangan tangan Eisérre dengan teknik penguncian yang sempurna.
Tap!
Eisérre tertegun. Tekanan pada nadi pergelangan tangannya sangat presisi. Ini bukan gerakan gadis biasa; ini adalah teknik melumpuhkan lawan.
Geneviève sendiri kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia segera melepaskan tangan Eisérre dengan wajah pucat. "Maaf! Aku... aku tidak tahu kenapa tanganku bergerak sendiri! Apakah aku menyakitimu?"
Eisérre menatap pergelangan tangannya, lalu menatap Geneviève dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis muncul di wajah tampannya.
"Tidak, kau tidak menyakitiku," bisik Eisérre. Justru kau makin menarik, Tuan Putri, batinnya. "Sepertinya tubuhmu punya ingatannya sendiri, Ève. Dan aku mulai berpikir, mungkin bukan aku yang melindungimu... tapi kau yang bisa menghancurkanku jika kau mau."