"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Kanaya menggeliat di tempat tidur, jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 5 pagi, ia bangkit menuju kamar mandi, bersiap-siap salat subuh.
Kanaya melipat mukenah dan sajadahnya, merapikan tempat tidur, dan bersiap-siap turun kebawah untuk membantu mbak sri menyiapkan sarapan kala.
Ada rasa malu di hati kanaya untuk bertemu kala pagi ini, ia masih ingat tadi malam kala melihat kerandomannya, ia meringis mengingat bagaimana kala menatapnya malam tadi.
Tapi mau tak mau, ia harus turun melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri, yah walaupun hanya istri palsu, paling tidak hanya itu yang bisa kanaya lakukan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya untuk bantuan kala kepadanya dan keluarganya.
Perlahan kanaya melangkah menuju dapur yang mulai sibuk, dentingan suara sendok goreng beradu dengan kuali terdengar di telinganya.
"Selamat pagi mbak sri" sapa kanaya, melangkah mendekati mbak sri yang terlihat sangat fokus dengan masakannya.
"Ehhhh...selamat pagi mbak naya" sahut mbak sri, tersenyum manis menyambut istri majikannya itu.
"Seperti biasa, kopi pahit tanpa gula, untuk mbak naya sudah saya siapkan"
"Terima kasih mbak sri" manis senyum kanaya, melangkah menuju meja, menyeruput kopi pahitnya yang pagi ini rasanya begitu nikmat.
"Apa mbak naya gak kepengen masakin mas kevin sesuatu"
Pertanyaan tiba-tiba dari mbak sri, mengagetkannya, kanaya tak pernah berpikir sedikitpun tentang itu, kanaya tahu kalau dia bisa masak, tapi dia merasa masakannya tak cukup layak untuk dinikmati oleh seorang kala mahendra wirawan.
Kanaya hanya diam tak menjawab, walau mbak sri masih menatap lekat kearahnya menanti jawaban dari bibirnya.
"Ntar aja mbak, saat ini saya belum begitu mahir", jawab kanaya akhirnya, menyeruput sesapan terakhir dari kopi pahitnya.
Kanaya menata sarapan yang selesai diolah mbak sri, dari hari pertama kanaya di rumah ini, hanya tugas ini yang diambil alihnya dari mbak sri.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, sebentar lagi kala akan turun sarapan, kanaya buru-buru menyelesaikan tatanannya, pagi ini rasanya dia tidak siap bertemu dengan kala, bagaimanapun ia masih malu, mengingat tadi malam.
"Selamat pagi....."
Kanaya menoleh, kala sudah berdiri di belakangnya, memakai pakaian kerjanya, tanpa jas.
"Ehh....oh....selamat pagi" kanaya tergagap, bergeser dari tempat berdirinya dan mempersilahkan kala duduk.
"Temani saya sarapan", ajak kala ketika melihat kanaya masih berdiri.
"Kenapa hanya ada satu piring disitu?"
"Anu..ehhh saya sudah sarapan tadi, saya minum kopi"
"Itu bukan sarapan, duduklah", perintahnya, menunjuk kursi disamping dengan dagunya. Mau tak mau kanaya menarik kursi yang ditunjuk kala, menyiapkan nasi goreng ke piring pria itu, menuangkan air minum ke gelas, baru kanaya mengambil sedikit untuknya, karena ia masih berasa kenyang.
Dentingan sendok beradu dengan piring terdengar seperti musik pagi itu, mereka sarapan dengan tenang, kanaya bersyukur kala sepertinya tidak teringat akan tingkah randomnya tadi malam, dengan lega kanaya menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Kepalamu tidak kenapa-kenapakan?" Tanya kala dengan senyum di bibirnya, menatap kanaya lucu.
Kanaya tersedak, batuk. Reflek kala menyodorkan air minum yang dipegangnya.
Kanaya menyambar gelas yang disodorkan kala, meminum airnya sampai habis, melirik kala yang masih tersenyum melihat keterkejutannya.
'Tuhan...senyum itu....sangat manis'
Kanaya menyodorkan gelas kosong itu kearah kala,
"Kamu masih mau minum?",bola matanya menatap kocak ke arah kanaya,
Kanaya benar-benar heran melihat kala pagi ini, kenapa pagi ini pria itu full senyum dan banyak bicara, ia tak mau melepaskan momen langka ini, kanaya tersenyum dan menggeleng, memandangi wajah tampan kala yang pagi ini kelihatan hangat.
"Kalau kepalamu ada masalah, tak apa kasih tau saya" lanjutnya masih dengan senyum di bibir dan matanya.
"Hahahhaaha......" , tawa kanaya pecah akhirnya, ia tahu kala sedang bercanda, baginya candaan kala pagi itu terasa hangat, ya hangat.
Kala ikut tertawa lepas, menatap kanaya dengan sorot mata bersahabat. Kanaya terpana, ternyata pria ini bisa tertawa juga pikir kanaya, menatap lekat ke manik mata kala.
"Saya pikir kamu orang yang serius....",
"Tapi tadi malam, kamu lucu" sambungnya masih tersenyum
'Kamu juga....' sahut kanaya dalam hati, dia tidak ingin merespon ucapan kala dengan jawaban, kanaya takut jawabannya akan membuat kala kembali kesetelan pabrik lagi, kanaya hanya menyahuti ucapan kala dengan tawa.
"Oh...ya naya, nanti malam ada pertemuan dengan mitra-mitra bisnis saya..., jadi malam nanti tidak usah masak"
"Iya...." sahut kanaya singkat,
"Bersiaplah, jam 7 nanti malam saya akan jemput kamu" ujar kala, berdiri bersiap beranjak dari meja makan.
"Hah....apa?", tanya kanaya kaget,
" saya ikut?"
Kanaya menunjuk dirinya memastikan jawaban kala, kala menatap kearahnya dengan sorot tajam namun hangat.
"Kenapa?"
"Kamu sibuk? Punya acara?"
"Tidak sih, tapi buat apa saya ikut?", tanya kanaya lagi memastikan.
"Kalau kamu tidak mau atau tidak bisa juga tidak apa-apa, didalam kontrak kita juga tidak ada syarat kamu harus mengikuti semua kemauan saya"
"Hanya....dengan resepsi tadi malam, publik sudah mengetahui bahwa saya adalah pria beristri, jadi agak aneh, kalau saya sendirian tidak didampingi istri di pertemuan nanti." Sambung kala panjang lebar.
"Baiklah naya...kalau kamu tak bisa, saya akan pergi sendiri" kala berbalik dan akan melangkah pergi.
"Oh tidak.....jangan" , jerit kanaya pelan, meraih tangan kala reflek tanpa sadar, memegang jemari kala erat.
"Saya bisa kok"
Kala menatap tangannya yang masih dipegang kanaya, ada desir aneh yang kala rasakan, kanaya tersadar dan dengan segera melepaskan pegangannya pada tangan kala.
"Maaf..."
"Saya akan bersiap-siap"
"Oke....baiklah", sahut kala, melangkah pergi dari ruang makan, tetapi kembali menoleh ke arah kanaya.
"Oh...ya dania, kalau kamu mau belanja pakaian atau apalah, pakai aja ini", kala menyodorkan kartu kredit kearah kanaya.
"Oh..tidak perlu" tolak kanaya cepat, tapi kala meletakkan dimeja makan dan berlalu dari sana.
"Pakai saja....ini perintah yah" ucapnya sebelum berlalu.
Kala melangkah keruang kerjanya, mengelus tangan yang digenggam kanaya tadi, ada rasa yang sulit untuk dijelaskan. Ketika kanaya melepaskan genggamannya tadi, ada rasa kehilangan di hatinya.
'Ada apa dengan diriku?'
Sementara kanaya termangu memandang kartu kredit yang kini berada di genggamannya, dia merasa tak enak hati, bayaran yang ia terima ketika menyetujui pernikahan ini cukup besar, dan kanaya merasa ia tak pantas untuk menerima kebaikan-kebaikan lagi dari kala.
Tapi jujur juga keuangan dia saat ini sudah menipis, karena kanaya sudah tidak lagi bekerja.
Uang yang kanaya terima dari kala sebagai bayaran atas pernikahan ini, sudah ia kirimkan semuanya ke kampung, untuk biaya kuliah adik bungsunya, membuka usaha kecil-kecilan dirumah untuk adik laki-lakinya, juga biaya perobatan ibunya.
Kanaya masih termangu, mengenggam erat kartu itu, apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba ponselnya berdering, kanaya sumringah melihat satu nama disana, ibu mertuanya adalah solusinya. Dania akhirnya menyetujui usulan nyonya yola.
Sesaat kanaya merasa dunianya sangat indah, memiliki mertua yang menyayanginya, suami yang tampan dan,
'Ya tuhan...'
Kanaya teringat kembali senyuman kala pagi ini.
'Tuhan...bolehkah aku memiliki si pemilik senyum itu?'
Tapi kanaya kembali sadar, ini hanyalah pernikahan palsu yang kapan saja bisa berakhir.
Tapi tak salahkan jika ia berharap dan berdoa, semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya.
Bersambung........