"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog S 2 Gema di ruang Hampa
Lokasi: Penjara Maksimum – Sel Isolasi Arthur
Arthur duduk di sudut sel yang dingin. Pakaian mahalnya sudah diganti dengan seragam oranye yang kasar. Tidak ada lagi cerutu, tidak ada lagi kopi mahal. Hanya ada suara tetesan air dari langit-langit sel yang lembap, menghitung detik-detik kehancurannya.
Tiba-tiba, suara biola terdengar sayu dari lorong penjara yang seharusnya sunyi. Nadanya sangat indah, namun menyayat hati—sebuah melodi klasik yang dikenal sebagai Lacrymosa.
Arthur mendongak, matanya yang cekung membelalak ketakutan. "Tidakk... Jangan sekarang... Saya sudah melakukan bagian saya!"
Sesosok pria jangkung dengan setelan jas putih bersih berdiri di depan jeruji besi. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan lampu yang redup, namun di tangannya, ia memegang sebuah tongkat konduktor (baton) dari emas murni.
"Kamu gagal, Arthur," suara pria itu lembut, semerdu alunan musik, namun dinginnya melebihi es. "Seorang pemain musik yang salah memainkan nada... tidak layak berada di atas panggung."
Pria itu meletakkan sebuah kertas musik (partitur) di depan sel. Di atas kertas itu, tertulis nama: REYHAN PRATAMA. Di bawah nama itu, ada coretan tinta merah berbentuk simbol kunci G yang melilit bagaikan jerat.
"Biarkan anak itu bermain sedikit lebih lama," bisik si Pria Jas Putih. "Dia adalah instrumen yang menarik untuk simfoni saya selanjutnya."
Pria itu berbalik dan menghilang dalam kegelapan lorong, meninggalkan Arthur yang berteriak histeris dalam keheningan total.
Kantor Detektif Baru – Satu Bulan Kemudian
Reyhan sedang sibuk menata rambutnya di depan cermin besar di kantor baru mereka. Ruangannya kini lebih luas dan terlihat lebih profesional, meski bau cat baru masih tercium kuat.
"Gimana, Ra? Gue sudah kelihatan seperti detektif kelas dunia, kan? Jauh lebih gagah dari bulan lalu," ucap Reyhan sambil membetulkan letak kerahnya.
Kiara yang sedang membersihkan kristal pelindung di meja hanya mendengus. "Baru juga sebulan tenang, kumat lagi narsisnya. Ingat, Rey, di meja ada kiriman paket tanpa nama. Isinya aneh."
Rendy langsung berlari sambil membawa kamera vlog-nya. "Rey! Jangan dibuka dulu! Gue harus rekam buat konten unboxing misterius! Judulnya: DETEKTIF GANTENG DAPAT KIRIMAN DARI PENGGEMAR RAHASIA?"
Reyhan membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah piringan hitam emas (Vinyl Gold). Begitu jarum pemutar diletakkan di atasnya, suara musik orkestra yang megah memenuhi ruangan. Namun, di tengah harmoni itu, terdengar bisikan wanita yang sangat halus... suara yang membuat Kiara mematung seketika.
"Cari... biola yang menangis... sebelum senar terakhir diputus."
Reyhan meraba tengkuknya yang merinding. "Kok gue ngerasa Season ini bakal lebih berat dari kasus pabrik kemarin ya?"
"Bukan cuma berat, Rey," sahut Kiara serius. "Kali ini... kita tidak hanya melawan manusia. Kita melawan harmoni yang mematikan."
Bocoran Season 2: The Golden Symphony
Seorang gadis cantik dengan gaun elegan dan tas biola di punggungnya berdiri di depan pintu kantor. Namanya Vanya, seorang pemain biola berbakat yang terlihat sangat cemas.
"Permisi... apakah ini kantor Detektif Reyhan? Saya butuh perlindungan. Ada seseorang yang mengancam akan memutus 'senar nyawa' saya di konser besok," ucap Vanya. Matanya berbinar saat menatap Reyhan. "Wah, Detektif Reyhan ternyata jauh lebih tampan daripada di berita..."
Reyhan langsung membusungkan dada, mencoba memasang wajah paling berwibawa. "Tentu saja, Nona Vanya. Melindungi wanita berbakat seperti Anda adalah prioritas utama saya."
Kiara yang berdiri di pojokan refleks meremas gelas plastik di tangannya hingga hancur. Matanya menatap tajam ke arah Vanya.
"Rendy," bisik Kiara dingin. "Kalau Reyhan mulai macam-macam, aku pastikan hantu pabrik kemarin pindah ke bantalnya malam ini."
Rendy hanya bisa menahan tawa sambil terus merekam. "Waduh, sepertinya ada yang mulai cemburu berat nih. Season 2 bakal panas, guys!"
THE GOLDEN SYMPHONY: DIMULAI SEGERA.