Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Nyanyian yang Bangkit
Keheningan menyelimuti ruang bawah tanah perpustakaan.
Hanya suara napas pelan yang terdengar di antara rak-rak buku tua yang dipenuhi debu.
Arkan masih menatap halaman terakhir buku hitam itu.
Tulisan yang hampir tertutup noda tinta tampak seperti peringatan yang ditinggalkan oleh seseorang di masa lalu.
Nyanyian Malam.
Kata itu terus berputar di pikirannya.
Dan semakin ia memikirkannya—
Semakin jelas melodi aneh itu terdengar di kepalanya.
Bukan sekadar suara lagi.
Sekarang terdengar seperti nyanyian yang jauh, seolah berasal dari tempat yang sangat dalam… atau sangat jauh.
Leyna memperhatikan wajah Arkan yang tiba-tiba terlihat lebih tegang.
“Arkan?”
Arkan tidak langsung menjawab.
Ia menutup buku itu perlahan.
Namun nyanyian itu tidak berhenti.
Bahkan terasa sedikit lebih kuat.
Solan memperhatikan mereka berdua dengan serius.
“Ada sesuatu yang tidak beres, bukan?”
Arkan akhirnya berkata pelan.
“Aku bisa mendengarnya lagi.”
Leyna langsung memahami maksudnya.
“Nyanyian itu?”
Arkan mengangguk.
“Sekarang lebih jelas.”
Solan menyilangkan tangan, berpikir.
“Apakah hanya kau yang bisa mendengarnya?”
Arkan menutup matanya sejenak.
Melodi itu naik turun dengan irama yang aneh.
Tidak menakutkan.
Namun juga tidak menenangkan.
Lebih seperti panggilan.
“Aku tidak tahu,” katanya pelan.
“Tapi rasanya seperti… sesuatu mencoba memanggilku.”
Leyna menatap buku hitam di tangan Arkan.
“Kalimat terakhir di buku itu mengatakan kalau pewaris Noctis yang mendengar Nyanyian Malam bisa memanggil sesuatu yang lebih tua dari bayangan.”
Solan menambahkan,
“Yang terdengar sangat tidak meyakinkan untuk situasi kita.”
Leyna mengangguk setuju.
“Ya, itu terdengar seperti awal dari bencana besar.”
Arkan menarik napas dalam.
Ia mencoba menenangkan pikirannya.
Namun nyanyian itu tetap ada.
Seolah-olah tidak peduli apakah ia ingin mendengarnya atau tidak.
Solan tiba-tiba berkata,
“Ada sesuatu yang aneh.”
Leyna menoleh.
“Apa?”
Solan menunjuk halaman buku yang masih terbuka.
“Kita belum membaca bagian paling belakang.”
Arkan membuka buku itu lagi.
Di halaman terakhir terdapat beberapa catatan kecil.
Tulisan tangan yang berbeda dari bagian sebelumnya.
Lebih kasar.
Seolah ditulis dengan cepat.
Arkan membaca pelan.
“Jika Nyanyian Malam terdengar oleh pewaris Noctis…”
Ia berhenti sejenak.
“…maka bayangan akan mulai bergerak mengikuti kehendaknya.”
Leyna mengerutkan kening.
“Mengikuti kehendaknya?”
Solan mengangkat alis.
“Jadi bayangan bisa dikendalikan?”
Arkan melanjutkan membaca.
“Namun kekuatan itu tidak datang tanpa harga.”
Ruangan terasa semakin dingin.
Arkan membaca kalimat berikutnya.
“Semakin dalam pewaris mendengar Nyanyian, semakin tipis batas antara dunia manusia dan dunia bayangan.”
Leyna menelan ludah.
“Itu tidak terdengar seperti kekuatan yang aman.”
Solan berkata pelan,
“Lebih seperti kutukan.”
Arkan menutup buku itu perlahan.
Namun pikirannya tetap dipenuhi pertanyaan.
Jika semua ini benar—
Berarti sesuatu memang sedang mencoba menembus segel.
Dan nyanyian itu adalah tanda awalnya.
Leyna memecah keheningan.
“Kita perlu mencari tahu lebih banyak tentang keluarga lain yang disebut di buku itu.”
Solan mengangguk.
“Keluarga Sylvara dan Aurelius.”
Arkan menatap mereka.
“Kalau tiga keluarga penjaga segel masih ada… mungkin mereka juga tahu sesuatu.”
Leyna berpikir sejenak.
“Aku pernah mendengar nama Sylvara sebelumnya.”
Solan menoleh padanya.
“Siapa?”
Leyna berkata,
“Ada murid tahun ketiga di Natureveil dengan nama belakang itu.”
Solan mengangguk.
“Masuk akal.”
Ia kemudian berkata,
“Dan keluarga Aurelius…”
Ia berpikir sejenak.
“…aku cukup yakin salah satu murid Lightveil berasal dari keluarga itu.”
Arkan bertanya,
“Siapa?”
Solan menjawab,
“Seorang gadis bernama Seris Aurelius.”
Leyna mengangkat alis.
“Seris?”
Solan mengangguk.
“Dia cukup terkenal di Lightveil.”
“Kenapa?”
“Karena dia salah satu penyihir cahaya paling kuat di angkatannya.”
Leyna tersenyum tipis.
“Jadi kita punya pewaris bayangan, pewaris alam, dan pewaris cahaya.”
Solan mengangkat bahu.
“Terdengar seperti cerita kuno.”
Arkan berkata pelan,
“Mungkin memang begitu.”
Namun sebelum mereka bisa melanjutkan pembicaraan—
Sesuatu terjadi.
Lampu kristal di ruangan bawah tanah tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu cahaya di ruangan itu meredup sedikit.
Leyna langsung menoleh ke langit-langit.
“Apa itu?”
Solan juga terlihat waspada sekarang.
“Lampu sihir biasanya tidak berkedip seperti itu.”
Arkan merasakan sesuatu yang lain.
Nyanyian itu tiba-tiba berubah.
Melodinya menjadi lebih kuat.
Lebih dekat.
Seolah datang dari dalam ruangan ini.
Arkan menoleh perlahan.
Ke arah ujung rak buku yang paling gelap.
Di sana—
Bayangan terlihat sedikit lebih pekat daripada bagian ruangan lainnya.
Leyna mengikuti arah pandangan Arkan.
“Apa yang kau lihat?”
Arkan tidak menjawab.
Namun Solan sudah menyadarinya juga.
“Ada sesuatu di sana.”
Bayangan di ujung rak itu bergerak sedikit.
Bukan seperti bayangan biasa.
Lebih seperti kabut hitam yang berdenyut pelan.
Leyna berbisik,
“Itu bukan bayangan normal…”
Solan berkata dengan suara pelan namun tegas.
“Semua mundur sedikit.”
Namun Arkan tidak bergerak.
Karena saat ia melihat bayangan itu—
Nyanyian di kepalanya semakin kuat.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia merasa seperti mengerti sebagian dari melodi itu.
Bayangan di ujung rak mulai bergerak keluar.
Perlahan.
Membentuk sesuatu.
Seperti sosok tanpa bentuk yang terbuat dari kabut gelap.
Leyna menahan napas.
“Apa itu…?”
Solan berkata,
“Sepertinya kita baru saja menemukan jawaban tentang makhluk bayangan.”
Namun Arkan menggeleng pelan.
“Tidak.”
Suaranya sangat pelan.
“Ini bukan makhluk yang sama seperti di menara.”
Leyna menoleh padanya.
“Lalu apa?”
Arkan menatap sosok bayangan itu.
Dan untuk sesaat—
Ia merasa seperti bayangan itu juga sedang menatapnya.
Nyanyian di kepalanya berubah lagi.
Sekarang terdengar seperti bisikan.
Pelan.
Namun jelas.
Seolah berasal dari makhluk itu.
Arkan tanpa sadar melangkah satu langkah ke depan.
Solan langsung berkata,
“Arkan, tunggu—”
Namun sudah terlambat.
Bayangan itu bergerak lebih cepat.
Kabut hitamnya memanjang seperti tangan.
Leyna langsung mengangkat tangannya.
Akar tanaman tipis muncul dari lantai batu.
Namun sebelum akar itu mencapai bayangan—
Sesuatu yang aneh terjadi.
Kabut hitam itu berhenti.
Seolah ragu.
Seolah… menunggu.
Arkan menatapnya.
Nyanyian itu mencapai nada tertinggi.
Dan tanpa sadar—
Arkan mengangkat tangannya.
Bayangan di ruangan itu langsung bereaksi.
Lampu kristal berkedip lebih keras.
Bayangan di lantai bergerak.
Leyna membelalakkan mata.
“Arkan… apa yang kau lakukan?”
Namun Arkan sendiri tidak sepenuhnya tahu.
Ia hanya mengikuti irama nyanyian itu.
Tangannya bergerak sedikit.
Dan bayangan di ruangan itu—
Mengalir menuju sosok kabut hitam itu.
Seperti sungai gelap.
Kabut hitam itu bergetar.
Lalu perlahan menyusut.
Seolah sedang ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Solan menatap dengan tak percaya.
“Dia… mengendalikan bayangan.”
Dalam beberapa detik—
Kabut hitam itu akhirnya runtuh menjadi serpihan asap tipis.
Lalu menghilang sepenuhnya.
Lampu kristal kembali stabil.
Ruangan kembali sunyi.
Arkan menurunkan tangannya.
Nyanyian itu perlahan menghilang dari pikirannya.
Namun ia masih bisa merasakan gema melodinya.
Leyna langsung mendekatinya.
“Arkan! Kau baik-baik saja?”
Arkan mengangguk pelan.
“Aku rasa… ya.”
Solan berjalan mendekat dengan ekspresi serius.
“Apa yang baru saja kau lakukan bukan sihir biasa.”
Arkan menatap tangannya sendiri.
“Aku bahkan tidak yakin bagaimana melakukannya.”
Leyna berkata pelan,
“Buku itu mengatakan pewaris Noctis bisa memanggil bayangan.”
Solan menambahkan,
“Dan barusan kau tidak hanya memanggilnya.”
Ia menatap tempat di mana kabut hitam itu tadi muncul.
“Kau mengendalikannya.”
Arkan tidak menjawab.
Karena sekarang ada pertanyaan yang jauh lebih mengganggu pikirannya.
Jika makhluk itu bisa muncul di dalam perpustakaan akademi—
Berarti segel di gerbang bayangan benar-benar mulai melemah.
Dan jika nyanyian itu terus memanggilnya—
Mungkin ini baru permulaan.
Arkan menatap buku hitam itu sekali lagi.
Kemudian berkata pelan,
“Kita harus menemukan Sylvara dan Aurelius.”
Leyna mengangguk.
“Secepat mungkin.”
Solan menarik napas panjang.
“Karena kalau apa yang kita baca benar…”
Ia menatap Arkan dengan serius.
“…maka tiga penjaga segel mungkin akan segera dibutuhkan lagi.”
Namun tidak ada dari mereka yang menyadari sesuatu.
Di ujung rak paling gelap perpustakaan—
Sebuah bayangan kecil masih tersisa.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Dan dari bayangan itu—
Sebuah bisikan sangat pelan terdengar.
Nyanyian yang sama.
Namun kali ini—
Bukan hanya Arkan yang dipanggil.
Sesuatu di balik gerbang bayangan mulai bangun.