Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Semua identitas Syahida yang baru sedang di proses. Kevin sengaja mengatur pemakaman Fa'az dan Syahida palsu sedemikian rupa. Bukan cuma itu, Kevin juga dapat bonus, karena ada wanita yang meninggal hari itu, Kevin memakai wanita itu sebagai penggati Syahida dan Syafa, karena wanita itu meninggal dengan bayinya. Semua urusan beres
Acara pemakaman Fa'az berlangsung. Sepengatahuan orang lain, yang dikubur itu, Fa'az, Syahida dan Syafa. Hanya beberapa orang yang tahu kalau perempuan dan bayi yang di kubur itu bukan Syahida dan Syafa. Bibil setuju merahasiakan semua, setelah mendengar cerita Kinar.
Kinar sangat terpukul menyaksikan pemakaman tersebut. Kevin sengaja menyewa wartawan agar meliput acara pemakanan itu, supaya Gurazi melihat sorot kamera yang akan menyorot Kinar.
***
Gurazi yang berada dalam tahanan melihat berita yang menyorot kabar pemakaman satu keluarga yang meninggal dalam musibah kebakaran. Mata Gurazi melotot melihat wanita yang menangis sambil memeluk nisan yang bernama Fa'az. Gurazi langsung menelpon orang-orang suruhannya.
"Bos, perintah bos sudah kami jalankan, laki-laki yang membuat bos mendekam dibalik jeruji juga mati terpanggang bersama anak istrinya."
"Kenapa kamu tidak kirim padaku orang tua mereka, kamu tahu!!! Bertahun-tahun aku mencari ginjal yang cocok buatku masih tidak ketemu, saat aku tahu kalau ada ginjal yang cocok, pemilik ginjal itu sudah mati!!!" Suara Gurazi terdengar sangat kesal.
"Maaf bos, orderan bos pada kami kan hanya menghabisi laki-laki yang menyabotase kantor bos, masalah itu kami tidak tahu," jawab orang suruhannya.
"Kalian cari tahu, yang mana anak wanita itu, yang suaminya apa istrinya," pinta Gurazi.
Gurazi memutuskan panggilan teleponnya. Gurazi bingung harus berkata apalagi, dia sangat geram karena tidak tahu kalau yang dia suruh bunuh adalah anak wanita yang pernah dia perkosa, kemungkinan anak wanita itu adalah anaknya.
"Sial!!! Andai aku tahu dari awal salah satunya anak Kinar, lebih baik aku culik dulu baru aku bunuh," gumam Gurazi.
****
Setelah semua urusan selesai, Kevin segera membawa Syahida bersama Kinar dan Syafa ke luar negeri, untuk menjalani pengobatan buat Syahida.
Waktu terus berjalan, Syafa tumbuh besar, usianya kini tiga tahun dan dia hanya mengenal Kevin dan Kinar, sedang Syahida menghabiskan waktunya di rumah sakit. Menjalani proses bedah plastik berulang kali, untuk wajahnya dan pengobatan beberapa bagian lain.
Syahida hanya bisa merenung, menahan kemarahannya pada Gurazi, karena Gurazi dia kehilangan suaminya, juga kehilangan waktunya bersama bayinya yang kini bukan bayi lagi.
***
Kevin meneruskan menjalankan perusahaannya yang ada di negara tersebut, agar bisa bekerja sambil mengawasi pengobatan Syahida. Dia tinggal bersama Kinar dan Syafa. Kini Syafa sudah ber umur tiga tahun, dia selalu memanggil Kevin dengan sebutan papa.
Kini proses akhir perawatan Syahida selesai. Syahida memiliki wajah baru hasil operasii bedah plastik.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kevin yang siap menjemput Syahida.
"Aku baik di luar, tapi hancur di dalam," jawab Syahida.
"Siap membalas semua perbuatan Gurazi?" Tanya Kevin.
Syahida mengangguk santai.
Setelah semua urusan di rumah sakit beres, Syahida dan Kevin segera pulang ke kediaman Kevin dan Kinar.
"Sudah siap bertemu putrimu?" Tanya Kevin.
"Aku sangat merindukan dia,"
"Sebentar lagi kamu akan bertemu Syafa, tapi aku mengganti namanya menjadi Syafana, biar om Razi tidak curiga, aku yakin laki-laki itu pasti akan menggali habis info tentang kalian, walau kami sudah memalsukan kematianmu,"
"Terimakasih Kev," ucap Syahida.
Mobil Kevin memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi.
"Rumah siapa ini?" Tanya Syahida.
"Rumah almarhum papaku, selama ini ibumu dan putrimu tinggal disini, ayo turun," seru Kevin.
Syahida dan Kevin turun dari mobil, dia di sambut beberapa pelayan Kevin.
Kini mereka masuk kedalam rumah besar itu.
"Papa …." Teriak seorang anak kecil berlari menuju Kevin.
Kevin membungkuk menyambut anak kecil yang berlari kearahnya.
"Papa," ucap anak kecil itu manja.
"Anak papa sudah makan dan minum susu?" Tanya Kevin.
"Sudah papa, Syafa kan anak pinter," jawabnya.
"Itu mama Syafa," seru Kevin.
Syafa diam, dia terus memeluk Kevin.
"Gendong sama mama ya sayang," pinta Kevin halus pada Syafa.
Syafa menggeleng.
"Maafkan dia, karena selama ini dia tidak pernah bertemu kamu," seru Kinar.
"Ibu …." Syahida berlari menuju Kinar. Mereka berdua berpelukan.
"Dia akan dekat dengan kamu lagi, kamu sabar ya sayang," Kinar mengusap lembut belakang putrinya yang kini dengan wajah baru.
Sedang Syafa asyik bersama Kevin.
"Jika Kevin di rumah, Syafa tidak mau lepas dari dia, Kevin sangat menyayangi Syafa," ucap Kinar.
Syahida hanya memandangi keakraban anaknya dengan Kevin. Seketika hatinya sangat merindukan Fa'az.
Kinar sangat sedih, karena Syafa tidak mengenali siapa ibunya, karena lebih dari dua tahun ini Syafa hanya mengenal dirinya, Kevin dan juga beberapa pembantu disini. Selama ini hanya Kinar seorang diri jika menjenguk Syahida, karena pihak rumah sakit melarang membawa anak kecil.
"Kita akan beri perhitungan kepada Gurazi, karena penderitaan kalian sebab dia," ucap Kevin yang datang sambil menggendong Syafa.
Kinar dan Syahida mengangguk sambil mengusap air mata mereka.