Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Flashback On - Awal bertemu dengan Nabila
Setiap orang memiliki titik nol dalam hidupnya, namun bagi Arga, titik itu terasa seperti sebuah lubang hitam yang menghisap seluruh cahayanya. Enam bulan setelah kepergian Siska ke London, Arga berubah menjadi bayangan dari dirinya yang dulu. Ia jarang masuk kuliah, tugas-tugas akhirnya terbengkalai, dan ia lebih sering menghabiskan waktu di sudut-sudut kota yang sepi dengan tatapan kosong.
Dunia Teknik Sipil yang dulu ia cintai kini terasa seperti tumpukan beton yang menyesakkan. Baginya, membangun gedung adalah hal yang sia-sia jika fondasi hatinya sendiri telah hancur berkeping-keping.
Suatu sore yang mendung, Arga duduk di sudut paling belakang perpustakaan pusat kampus. Ia tidak sedang membaca. Di depannya tergeletak formulir pengunduran diri mahasiswa. Ia sudah merasa menyerah. Untuk apa gelar sarjana jika ia telah gagal menjadi seorang pria, seorang ayah, dan seorang kekasih ?
"Buku itu tidak akan terbuka sendiri kalau kau hanya menatapnya dengan penuh kebencian."
Sebuah suara lembut, tenang, dan tidak menghakimi memecah keheningan di sekelilingnya. Arga mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri seorang mahasiswi dengan kacamata berbingkai tipis dan rambut yang diikat rapi. Ia memegang setumpuk buku tebal tentang Hukum Perdata.
"Aku tidak sedang membaca," jawab Arga pendek, suaranya parau karena jarang digunakan.
Gadis itu tidak pergi. Ia justru duduk di kursi di seberang Arga, meletakkan bukunya dengan pelan. Ia melirik formulir pengunduran diri di atas meja Arga, lalu beralih menatap mata Arga yang merah.
"Sayang sekali," ucapnya tenang. "Fakultas Teknik akan kehilangan salah satu mahasiswa terbaiknya hanya karena sebuah badai yang sebenarnya bisa dilewati."
Arga mengernyit. "Kau mengenalku?"
"Nabila. Fakultas Hukum," gadis itu mengulurkan tangannya. "Aku sering melihatmu di sini setahun lalu. Kau selalu terlihat sangat bersemangat saat menggambar sketsa bangunan. Tapi belakangan ini... kau terlihat seperti orang yang sedang membawa beban seluruh dunia di bahumu."
Arga tidak menyambut uluran tangan itu. Ia justru memalingkan muka. "Kau tidak tahu apa-apa tentang bebanku, Nabila."
"Memang tidak," jawab Nabila tanpa tersinggung sedikit pun. "Tapi hukum mengajarkanku satu hal, setiap masalah punya jalan keluar, asalkan kita tidak berhenti mencari buktinya. Dan bukti bahwa kau masih hidup adalah kau masih ada di sini, di perpustakaan ini, bukan di tempat lain."
Nabila kemudian mengambil sebuah buku dari tumpukannya dan menyodorkannya pada Arga. Bukan buku hukum, melainkan sebuah buku kumpulan puisi tentang harapan. "Baca ini. Kalau kau masih ingin mengundurkan diri besok pagi, aku tidak akan melarangmu. Tapi setidaknya, tidurlah dengan pikiran yang sedikit lebih ringan malam ini."
Pertemuan itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah Arga duga. Nabila tidak mendesaknya untuk bercerita. Ia tidak bertanya mengapa Arga menghilang selama berbulan-bulan atau siapa yang telah menyakitinya. Nabila hadir seperti air yang tenang, ia tidak mencoba memadamkan api di hati Arga dengan paksa, ia hanya menawarkan kesejukan.
Selama berbulan-bulan berikutnya, perpustakaan menjadi saksi bisu bagaimana Nabila perlahan-lahan menarik Arga keluar dari lubang depresi. Nabila menemani Arga mengerjakan skripsi, membawakan kopi saat Arga mulai melamun, dan memberikan senyum tulus yang mulai membuat Arga merasa bahwa hidup mungkin masih layak dijalani.
Nabila adalah antitesis dari Siska. Jika Siska adalah badai yang membakar dan penuh ambisi yang mematikan, Nabila adalah embun pagi yang menyembuhkan. Siska menuntut kemewahan, Nabila menawarkan kesederhanaan. Siska berbicara tentang angka di rekening, Nabila berbicara tentang nilai di dalam hati.
Dua tahun berlalu. Arga berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Di hari wisudanya, Nabila berdiri di sampingnya dengan wajah bangga.
"Terima kasih, Nabila," ucap Arga saat mereka berjalan di taman kampus. "Kalau bukan karena kau yang menghentikanku di perpustakaan hari itu, aku mungkin sudah menjadi gelandangan sekarang."
Nabila tersenyum, matanya berbinar di balik kacamatanya. "Aku hanya menunjukkan jalannya, Mas. Kau sendiri yang melangkah keluar dari kegelapan itu."
Arga menatap Nabila lama. Ia menyadari bahwa perasaannya pada Nabila tumbuh dengan cara yang berbeda. Ini bukan gairah yang meledak-ledak dan merusak, melainkan rasa hormat dan kenyamanan yang mendalam. Ia merasa aman bersama Nabila. Ia merasa tidak perlu berpura-pura menjadi orang kaya atau sukses untuk dicintai.
Arga mulai membangun kariernya dari nol sebagai asisten pengawas proyek lapangan. Gajinya kecil, kulitnya terbakar matahari, dan ia sering pulang dalam keadaan lelah luar biasa. Namun, setiap kali ia pulang, Nabila selalu ada di sana, baik di ujung telepon maupun saat mereka makan mi instan bersama di taman kota.
"Mas, jangan menyerah," ucap Nabila suatu malam saat Arga mengeluh tentang sulitnya persaingan di dunia kerja. "Setiap gedung besar dimulai dari satu batu bata yang diletakkan dengan jujur. Begitu juga dengan hidup kita."
Kata-kata Nabila adalah bensin bagi mesin semangat Arga. Dalam dua tahun, Arga berhasil naik jabatan menjadi asisten manajer. Ia mulai bisa menabung. Ia mulai bisa melihat masa depan yang cerah tanpa bayang-bayang London yang dulu menghantuinya.
Suatu malam, di sebuah restoran sederhana yang memiliki pemandangan langit Jakarta, Arga menggenggam tangan Nabila.
"Nabila, ada satu hal yang tidak pernah kukatakan padamu secara detail," ucap Arga dengan nada serius. "Masa laluku... ada luka yang sangat dalam di sana. Ada seseorang yang pernah menghancurkanku hingga aku hampir mati."
Nabila meletakkan tangannya di atas tangan Arga. "Mas, aku tidak perlu tahu setiap detailnya jika itu hanya akan menyakitimu. Bagiku, yang penting adalah siapa kau saat bersamaku sekarang. Kau adalah pria baik, pria jujur, dan pria yang ingin kudampingi selamanya."
Arga merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia mengambil sebuah kotak beludru biru dari sakunya. Di dalamnya ada sebuah cincin emas murni yang ia beli dari hasil bonus proyek pertamanya.
"Nabila, maukah kau menikah denganku? Bantu aku membangun rumah yang fondasinya adalah kejujuran kita, bukan lagi puing-puing masa laluku."
Nabila meneteskan air mata bahagia. "Iya, Mas. Aku mau."
Malam itu, Arga membuat janji suci di dalam hatinya. Ia akan mengubur nama Siska dalam-dalam. Ia akan melupakan pengkhianatan berdarah itu. Ia akan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga senyum Nabila. Ia tidak tahu bahwa sepuluh tahun kemudian, masa lalu yang ia kubur itu akan bangkit kembali dalam wujud seorang ratu korporat yang haus akan balas dendam.
Namun untuk saat itu, di bawah kerlip lampu Jakarta, Arga merasa telah sembuh. Ia merasa telah menang melawan takdirnya sendiri.
Flashback Off - Kembali lagi ke sel tahanan
Arga menyeka air matanya di dalam sel. Ia teringat kembali momen lamaran itu. Ia menyadari betapa bodohnya ia berpikir bahwa luka bisa disembuhkan hanya dengan cara dikubur. Luka harus dibersihkan, bahkan jika itu berarti harus merobek kembali perbannya.
"Nabila sedang berjuang untukku sekarang," gumam Arga. "Dia dulu menyembuhkanku dari depresi, dan sekarang dia akan menyembuhkanku dari fitnah ini."
Arga berdiri tegak di tengah selnya. Semangat yang dulu Nabila tanamkan di perpustakaan kampus kini kembali berkobar. Ia tidak akan membiarkan Siska menghancurkan karya indah yang telah Nabila bangun di dalam jiwanya.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰