Apa yang akan terjadi dan akan kamu lakukan jika, pria yang menikahimu selama beberapa bulan ini sama sekali tidak berniat untuk menyentuh dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang tidak ingin memberikan nafkah batin untuk istrinya itu.
"Abang Fahri Hamzah Noel apa kurangnya aku di matamu,apa aku tidak cantik tidak menarik lagi atau Abang sudah bosan denganku atau kah ada wanita lain di luar sana yang Abang cintai?" tanyanya Aida Izzatih Jasmine Aziz.
"Maaf aku tidak bisa,"
Hanya kata itu yang selalu meluncur dari mulutnya Fahri hingga setahun pernikahan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Aliya Arsana setelah menyelesaikan beberapa persyaratan prosedur perceraiannya dengan suaminya Fajri Hamid Karzai di pengadilan agama ia segera berpamitan dengan abangnya kakak sulungnya Fakhri Hamzah Noel.
Hari ini, Atiyah Afsana Rosemalia libur masuk kuliah hari ini, sehingga Aliya meminta tolong kepada Atiyah untuk mengantar jemput kedua putrinya berangkat ke sekolah.
"Alhamdulillah semoga semua prosesnya berjalan lancar, kalau perlu Mas Fajri tidak melihat dan membaca surat gugatan cerai yang dikirimkan ke rumah dari pihak pengadilan sehingga tidak perlu repot-repot untuk menghadiri sidang perceraian kami, agar memudahkan prosesnya, tapi aku yakin tanpa aku berdoa dan berharap seperti itu Mama Mariana aku yakin dengan sangat akan menyembunyikan hal itu dari kekasihnya," gumamnya Aliya sebelum menaiki motor matic berwarna biru teman sehari-harinya.
Bagaikan gayung bersambut,apa yang diharapkan oleh Aliya berjalan lancar dan mulus. Surat gugatan perceraiannya sudah berada di dalam genggaman tangannya Bu Mariana Ibu tirinya itu yang hingga detik ini Aliya dan Aisyah Agnia belum mengetahui akan kebenaran itu.
Bu Mariana meremas dengan kuat kertas yang bertuliskan surat pemanggilan terhadap Fajri untuk menghadiri persidangan satu minggu lagi dari hari itu dengan kuat hingga kertasnya kusut dan tak berbentuk seperti sedia kala.
"Saya tidak akan membiarkan kamu mendekati Fajri lagi, bahkan saya akan membantu kalian untuk bercerai secepatnya, saya sangatlah bahagia karena tanpa aku membujuk Fajri, perempuan bodoh itu dengan sendirinya dan sukarela meminta cerai,tapi aku pastikan hak asuh kedua putrinya jatuh di tangannya Alya, aku tidak mau merawat anaknya cukup anaknya Noel yang puluhan tahun aku rawat dengan berpura-pura menyayangi mereka setulus hatiku, tapi itu hanya kedok aku untuk menutupi kenyataan yang ada jika aku adalah ibu tiri hanya sekedar ibu tiri semata," umpatnya ibu Mariana.
Aliya mengemudikan motornya untuk kembali ke rumahnya Fahri abangnya untuk beberapa hari ini, sementara waktu sebelum menemukan rumah yang cocok untuknya. Sudut ekor pandangan matanya melihat ada penjual makanan yang paling disukai oleh kedua putrinya Aerina dan Amarah.
"Aku mampir dulu beliin anakku, pasti mereka akan sangat gembira karena sudah lama enggak jajan makanan begituan," gumam Aliya seraya memarkirkan motornya di pinggiran badan jalan.
"Simoi,cilok, batagor aku pesan masing-masing tiga bungkus yah Bang," pintanya Aliya.
"Baik Mbak,"
"Tumben masih sepi, biasanya sudah banyak yang berjejer antri Bang," ucapnya Aliya yang sekedar berbasa-basi.
"Mungkin karena jam sekolah dan jam istirahat kantoran belum istirahat jadi masih agak sepi Mbak," jawabnya pedagang itu.
Aliya mengalihkan perhatiannya ke arah sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya. Seorang pria yang memakai pakaian santai membuka pintu mobilnya itu. Tapi, karena mungkin pria itu kurang berhati-hati sehingga menjatuhkan sebuah benda dari dalam map yang di bawahnya.
Aliya segera berjalan untuk memunguti benda itu yang ternyata adalah sebuah bolpoin. Aliya membungkuk sedikit tubuhnya untuk meraih pulpen itu, ia tak sengaja membaca tulisan di pulpen itu.
"Fauzan Aksa Kim," cicitnya Aliya.
Aliya segera berjalan cepat menyusul pria yang sudah berniat untuk memutar knop pintu sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat parkiran mobilnya.
"Pak Fauzan!" Teriaknya Aliya yang sudah berlari kecil.
Pria yang dipanggil Fauzan itu segera menghentikan kegiatannya itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Aliya.
Nafas Aliya ngos-ngosan karena terburu-buru berjalan hingga sudah berlari," maaf Pak ini punyanya Bapak yang terjatuh tadi ke atas aspal," imbuhnya Aliyah sembari menyodorkan pulpen tersebut ke dalam tangannya Fauzan.
Fauzan menatap sekilas ke arah Aliya, Fauzan segera merogoh saku celananya itu.
Aliya yang melihat Fauzan memeriksa saku celananya itu segera berucap, "Ehh tidak perlu Pak repot-repot, saya ikhlas kok untuk bantuin Bapak," ucapnya Aliya sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya.
Fauzan mengernyitkan alisnya mendengar perkataan dari perempuan yang sudah berhasil membantunya itu.
"Maaf aku hanya mau ambil ini, kamu tadi ngomong kan kalau pulpen aku ini terjatuh ke atas aspal pasti kotor," tukasnya Fauzan sambil menyemprotkan handsanitizer ke sekeliling pulpen itu.
Aliya jadi salah tingkah dengan kesalahpahaman yang terjadi diantara keduanya. Suasananya cukup canggung, sedangkan Fauzan mengangkat sudut bibirnya terangkat ke atas lalu meraih kedua tangannya Aliya.
"Tanganmu pasti kotor dan ada sisa kumannya yang menempel jadi aku bantuin Mbak untuk membersihkannya," ucap Fauzan.
"Makasih banyak Pak atas perhatiannya," ujarnya Aliya yang sedikit malu-malu mendapatkan perhatian seperti itu dari pria yang baru dikenalnya.
"Jangan geer deh mbak,saya itu melakukannya karena tangannya sudah terkontaminasi dengan pulpen aku, jadi jangan salah diartikan ok," ketusnya Fauzan Aksa Kim yang segera berlalu dari hadapan Aliya yang berdiri terbengong-bengong menatap kepergian pria yang sungguh membuatnya kebingungan sekaligus malu.
"Ya Allah… cakep-cakep tapi judes juga, aku sunpahin kita bakalan ketemu lagi! Tapi ngomong-ngomong kok wajahnya enggak asing yah seperti aku pernah melihatnya, tapi dimana," cicit Aliya yang segera memutar tubuhnya karena Abang siomay sudah memanggilnya pesanannya sudah jadi.
Setelah menyelesaikan pembayaran dan pesanannya sudah berada di dalam genggaman tangannya itu, Aliya kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah kakak iparnya yaitu Aidah Izzati Jasmine.
Aisyah Agni berpamitan kepada teman barunya, perempuan yang baru saja ditolongnya itu perempuan yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan. Pemilik kosan Faizal Rizki Pratama juga sudah datang dan memberikan penjelasan tentang aturan di rumah berpetak miliknya itu.
"Bang Faizal ini teman aye ingat jangan diusulin yah, masalah harga sewa kamarnya tolong berikan harga yang miring jangan mahel, kasihan anak rantau dari jauh Banjar bang," tutur Aisya.
"Insya Allah… kamu tidak perlu risau akan hal itu kamu seperti orang lain saja dengan Abang, walaupun wajahku sangar dan seganteng Ji Chan Wook tapi, hatiku selembut kapas dan seputih salju loh," guraunya Faizal yang sedari tadi diam-diam memperhatikan gerak geriknya Farah Adiba perempuan yang sudah berstatus janda itu, tanpa sepengetahuannya.
"Kapan-kapan kalau butuh bantuan atau apapun itu Mbak tinggal nelpon nomorku saja, mungkin seperti Mbak kelebihan makanan yang butuh dibantu untuk dihabiskan mungkin, Mbak Farah call saja tidak perlu sungkan," candanya Aisyah sembari memasang helmnya di kepalanya itu.
Farah Adiba Ginanjar tersenyum menanggapi candaan dari perempuan yang berhati tulus membantunya mengatasi permasalahannya itu.
"Insha Allah… kalau ada waktu aku pasti akan menelponmu, kapan-kapan aku akan buatkan kamu soto Banjar khas buatan ku sendiri," timpalnya Farah Adiba.
"Kalau gitu aku pamit pulang dulu, soalnya masih mau ke rumahnya kakak ipar, assalamualaikum," imbuh Aisyah Agnia seraya mulai melejitkan mesin motornya ke arah jalan raya.
"Waalaikum salam, hati-hati di jalan," jawab keduanya
Aisyah Agnia Noel hari berencana untuk menyampaikan niat baiknya Farid Aksay Hardja yang akan datang melamarnya bersama kedua orang tuanya esok hari. Kedatangan kedua adiknya mendiang Fahri Hamzah Noel hampir bersamaan, Aliya Arsana dengan adik bungsunya Aisyah Agnia.
"Assalamualaikum Mbak Aliya," sapanya Aisyah yang berpura-pura tidak mengetahui kisruh dan masalah biduk rumah tangga kakak keduanya dengan suaminya.
"Waalaikum salam, baru datang dek?" Tanyanya Aliya yang celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.
"Mbak cari siapa kok seperti lagi sedang mencari keberadaan seseorang gitu, kalau mencari Mas Fajri sepertinya buang-buang tenaga dan waktu saja," cibirnya Aisyah.
"Hahaha nggak lah, cariin pria tak guna, brengsek dan lucknut itu sepertinya buat sial aku saja mendingin cari pria yang seperti oppa Korea Jungkook saja yang sudah pasti bisa buat hati adem, sejuk dan happy, iya gak sih,"
"Betul pake banget tuh Mbak, hidup cuma sekali apapun yang terjadi pada kehidupan kita harus dijalani dengan penuh percaya diri dan hati yang selalu sabar dan happy," tukasnya Aysiah sambil merangkul tubuh kakaknya berjalan ke arah dalam rumahnya Aidah Izzathi Jasmin.
lanjoot