Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KAU TAHU TENTANG DIA?
Jam menunjukkan pukul 02.47 ketika Alea akhirnya menemukan keberanian yang cukup.
Tiga hari sejak Damian Kecil duduk di ranjangnya. Tiga hari sejak bocah itu berbisik, "Damian dewasa mau bunuh aku. Tolong."
Tiga hari Alea berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Tapi malam ini, setelah Damian Kecil muncul lagi—kali ini di lorong, menggambar dengan kapur di dinding, gambar rumah dengan cerobong asap merah—Alea memutuskan.
Tidak bisa begini terus.
Ia bangkit dari ranjang. Gaun tidur sutra merah marun melekat di tubuhnya, tipis, tidak pantas untuk konfrontasi. Tapi tidak ada waktu ganti. Damian dewasa hanya ada di ruang kerjanya antara jam 2 hingga 4 pagi. Rania bilang begitu, tanpa sengaja. Atau mungkin sengaja.
Alea membuka pintu kamarnya.
Tidak terkunci.
Ia tahu aku akan datang.
Koridor panjang mansion itu gelap. Lampu dinding hanya menyala di ujung, menciptakan lorong bayangan yang bergoyang setiap kali Alea melangkah. Kakinya telanjang di atas marmer dingin. Setiap hentakan terasa seperti ketukan di peti mati.
Di tengah koridor, ia berhenti.
Suara napas.
Bukan napasnya.
Alea menoleh ke kiri. Ke lukisan besar bergambar pria tua dengan mata dingin—ayah Damian, kata Rania. Matanya mengikuti Alea ke mana pun ia pergi. Tapi bukan itu sumber napasnya.
Di ujung koridor, pintu ruang kerja Damian terbuka sedikit. Cahaya kuning samar merembes keluar, membelah gelap seperti pisau.
Alea mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Di ambang pintu, ia berhenti lagi. Tangannya terulur, menyentuh kayu jati yang dingin. Ukiran naga di permukaannya terasa kasar di ujung jari.
Dan ia melihat.
---
Damian duduk di kursi besar, membelakangi pintu. Hanya ada satu lampu meja yang menyala—lampu tua dengan kap kaca hijau, seperti di film-film noir. Asap mengepul dari sesuatu di tangannya. Bukan rokok. Damian tidak merokok.
Alea mendorong pintu pelan.
Kreek.
Damian tidak bergerak.
Mungkin tidak dengar.
Alea masuk satu langkah. Dua langkah. Kini ia bisa melihat apa yang dipegang Damian: sebuah bola kaca bening. Di dalamnya, ada rumah kecil dengan cerobong asap merah.
Sama persis dengan gambar Damian Kecil tadi malam.
Darah Alea berdesir dingin.
"Damian."
Suaranya keluar lebih pelan dari yang direncanakan. Seperti bisikan orang sakit.
Damian tetap diam. Pundaknya yang lebar, terbungkus kemeja hitam tanpa jas, naik turun pelan. Napasnya teratur. Terlalu teratur.
Ia sadar aku di sini.
Alea mengambil napas dalam. Sutra gaun tidurnya terasa seperti belenggu. Tapi ia maju. Sampai hanya tiga langkah memisahkan mereka.
"Aku tahu kau sadar."
Damian akhirnya bergerak. Kepalanya menoleh, hanya sedikit, cukup untuk memperlihatkan setengah profil. Hidung mancung, rahang tegas, dan mata itu—mata hitam yang tidak pernah berkedip cukup lama.
"Pulang."
Satu kata. Seperti biasa.
Tapi Alea tidak bergerak. Ia justru melangkah maju. Satu langkah. Kini ia bisa mencium aroma Damian—kayu cendana, dan di baliknya, sesuatu yang logam. Besi. Darah?
"Aku tidak akan pulam sebelum kau jawab pertanyaanku."
Damian berbalik sepenuhnya.
Dan Alea menahan napas.
Wajah Damian pucat. Bukan pucat biasa—pucat seperti orang yang baru kehilangan banyak darah. Matanya merah di sudut, seperti habis menangis. Tapi Damian tidak menangis. Damian tidak punya air mata.
Apa yang terjadi padanya?
"Pertanyaan apa?" Suara Damian serak. Seperti orang yang baru berteriak lama, atau seperti orang yang baru saja...
Seperti orang yang baru saja bertengkar dengan dirinya sendiri.
Alea meremas ujung gaun tidurnya. Sutra itu hampir robek.
"Kau tahu tentang dia? Damian Kecil?"
Keheningan.
Begitu hening, Alea bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Bum-bum. Bum-bum. Juga detak jam dinding di belakang Damian. Tek-tok. Tek-tok. Dan di antara semua suara itu, ada sesuatu yang lain: napas pendek-pendek, seperti orang yang menahan tangis.
Tapi Damian tidak menangis.
Atau... Damian Kecil yang menangis?
Mata Damian menyipit. Untuk pertama kalinya, Alea melihat sesuatu di sana—bukan dingin, bukan kosong, tapi rasa sakit. Mentah. Terbuka. Seperti luka yang baru saja dikelupas keropengnya.
"Siapa yang kau panggil Damian Kecil?"
Alea tidak mundur. "Bocah laki-laki itu. Yang muncul jam 3 pagi. Yang menggambar rumah dengan kapur di dinding lorong. Yang bilang kau mau membunuhnya."
Brukk!
Bola kaca di tangan Damian jatuh. Pecah berkeping-keping di lantai marmer. Rumah kecil di dalamnya hancur, cerobong asap merah terpisah dari tubuhnya, menggelinding ke bawah meja.
Damian bangkit.
Tubuhnya menjulang di atas Alea, bayang-bayangnya menelan seluruh cahaya lampu. Tapi Alea tidak mundur. Ia justru menegakkan punggung, menatap mata hitam itu langsung.
"KAU BICARA DENGAN DIA?" Suara Damian menggelegar. Pertama kalinya Alea mendengar nada tinggi darinya. "KAU MELIHAT DIA?"
Alea mengangguk. Sekali. Tegas.
"Sudah seminggu."
Damian mundur satu langkah. Tapi bukan mundur karena marah—ini mundur karena terpukul. Ia membentur meja di belakangnya, membuat tumpukan dokumen berjatuhan. Tangannya meraih tepi meja, mencengkeramnya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Tidak mungkin," bisiknya. "Tidak mungkin. Tidak mungkin."
Alea mendekat. Sekarang gilirannya yang mengambil langkah maju. Ia berhenti hanya satu kepalan tangan dari Damian. Cukup dekat untuk merasakan panas tubuh pria itu—panas yang tidak normal, seperti demam.
"Damian." Suaranya lembut sekarang. Lembut seperti saat ia bicara pada Damian Kecil. "Dia nyata. Dan dia takut padamu. Dia bilang kau mau membunuhnya."
Damian menutup mata.
Dan Alea melihatnya: air mata.
Setetes. Hanya satu. Mengalir dari sudut mata kanan, membelah pipi pucat itu, jatuh ke kemeja hitam. Menghilang tanpa jejak.
Damian menangis.
Mafia paling ditakuti di Asia Tenggara menangis.
"Aku tidak mau membunuhnya," suara Damian hancur. Hancur seperti bola kaca di lantai. "Aku tidak pernah mau membunuhnya. Tapi... tapi dia harus mati. Agar aku bisa hidup."
Alea merasakan dadanya sesak. Visi itu datang lagi—Damian mati ditikam, tapi kali ia melihat lebih detail: di tangan yang memegang pisau, ada cincin kawin. Cincin yang sama dengan yang dipaksakan ke jari manisnya tiga minggu lalu.
Apakah aku yang akan membunuhnya?
Atau... Damian Kecil?
"Ceritakan padaku." Alea duduk di lantai, di antara pecahan kaca. Ia tidak peduli kakinya telanjang, tidak peduli sutra mahalnya mungkin robek. Ia duduk, melipat kaki, dan menatap Damian. "Ceritakan semuanya. Dari awal."
Damian membuka mata.
Ia menatap Alea lama. Sangat lama. Lalu, perlahan, ia meluncur duduk di lantai. Bersandar pada kaki mejanya. Berhadapan dengan Alea, hanya setengah meter pecahan kaca memisahkan mereka.
"Usia 8 tahun," Damian memulai. Suaranya jauh. Seperti datang dari lorong waktu. "Aku dikurung di ruang bawah tanah. 3 bulan. Ayahku bilang, bunuh anjingmu, atau kau yang mati."
Alea diam. Membiarkan Damian bicara.
"Aku tidak mau membunuhnya. Bruno—anjingku—satu-satunya yang mau menemani aku. Ibu sudah pergi. Ayah sibuk membunuh orang. Hanya Bruno yang selalu menjilat tanganku setiap kali aku pulang sekolah."
Napas Damian memburu.
"Hari ke-7 di ruang bawah tanah, Bruno mulai merengek. Lapar. Aku juga lapar. Tapi makanan yang dikasih cuma cukup untuk satu orang. Ayahku ingin aku memilih: aku mati, atau Bruno mati."
Damian berhenti. Tangannya meraih pecahan kaca terbesar. Ia memainkannya, ujung tajam menggores telapak tangannya. Darah menetes, tapi ia tidak merasa.
"Hari ke-30, Bruno mati. Di depanku. Aku lihat dia kejang-kejang, lalu diam. Aku menangis 3 hari. Tapi di hari ke-4, aku sadar sesuatu."
Alea berbisik, "Apa?"
Damian menatapnya. Matanya kosong.
"Aku tidak menangis lagi. Dan aku tidak ingat wajah Bruno. Aku lupa warna bulunya, suara gonggongannya, bahkan rasa bulunya di tanganku. Aku lupa semuanya. Karena aku membunuh ingatan itu. Aku ciptakan Damian baru—Damian yang kuat, Damian yang tidak punya perasaan, Damian yang bisa bertahan."
Alea merasakan bulu kuduknya meremang.
"Dan Damian yang lama?"
Damian tersenyum. Senyum pertama yang pernah Alea lihat. Tapi ini bukan senyum bahagia. Ini senyum orang yang sudah mati di dalam.
"Dia hidup. Di dalam sini." Damian menunjuk dadanya. "Dia menunggu. Setiap malam, dia minta keluar. Minta ditemani. Minta... minta dihidupkan lagi."
"Tapi kau tidak mau?"
"Tidak bisa." Damian menggeleng lemah. "Jika dia hidup, aku mati. Hanya satu yang bisa bertahan di tubuh ini. Dan selama 21 tahun, aku menang. Aku kunci dia di ruang bawah tanah yang sama. Aku kunci kenangan itu. Aku kunci perasaan itu. Aku kunci... aku."
Damian menunduk. Bahunya bergetar.
"Tapi sekarang dia keluar. Dan dia menemukanmu."
Alea menelan ludah. Dadanya sesak. Ia ingin memeluk pria di depannya, tapi pecahan kaca masih berserakan. Juga pertanyaan yang belum terjawab.
"Damian Kecil bilang kau mau membunuhnya."
Damian mengangguk pelan.
"Iya."
"Kenapa?"
Damian mengangkat wajah. Air mata baru mengalir di pipinya. Tapi kali ia tersenyum—senyum yang sama seperti di visi Alea, saat ia mati ditikam.
"Karena dia lebih bahagia dariku. Karena dia bisa tertawa, bisa menangis, bisa... mencintai. Sementara aku? Aku hanya mesin pembunuh. Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Tidak saat membunuh, tidak saat melihat orang mati, tidak saat..." ia berhenti, menatap Alea, "...tidak saat melihatmu."
Alea membeku.
"Aku ingin merasakan cinta, Alea." Suara Damian hancur. "Aku ingin merasakan hangatnya pelukan, debar jantung saat melihatmu, cemburu saat pria lain menatapmu. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa merasakan itu hanya dia—Damian Kecil."
Damian meraih tangan Alea. Tangannya dingin, basah oleh darah dari luka pecahan kaca.
"Jika dia mati, aku bisa merasakan cinta. Jika dia mati, aku bisa hidup seutuhnya. Jika dia mati..."
"Aku bisa mencintaimu dengan sepenuh hati."
---
Keheningan menghempap.
Alea menatap tangan Damian yang menggenggam tangannya. Darah pria itu membasahi jari-jarinya, hangat, lengket. Visi datang lagi—Damian mati ditikam, tapi kali ini ia melihat wajah pelakunya.
Bukan dirinya.
Bukan Damian Kecil.
Tapi Damian dewasa.
Ia bunuh diri.
Ia menusuk dirinya sendiri.
Dan ia tersenyum.
Alea menarik napas tersendat. Ia mengangkat wajah, menatap Damian yang masih menangis diam-diam. Pria ini—monster yang ditakuti semua orang—ternyata hanya anak kecil yang ketakutan di dalam tubuh dewasa. Anak kecil yang rela mati agar bisa merasakan cinta.
"Damian," bisik Alea. "Aku tidak mau kau bunuh dia."
Damian mengerjap. "Tapi..."
"Dan aku tidak mau dia bunuh kau."
"Tapi hanya satu yang bisa..."
Alea menggenggam tangannya lebih erat. Ia tidak peduli lagi dengan pecahan kaca. Ia merapat, sampai lututnya menyentuh lutut Damian.
"Aku psikiater, Damian. Aku tahu tentang disosiasi. Tentang kepribadian ganda. Dan aku tahu, kalian berdua tidak harus mati. Kalian bisa... menyatu."
Damian menatapnya tidak percaya.
"Kau bisa mengajari Damian dewasa merasakan. Dan kau bisa mengajari Damian Kecil tumbuh dewasa. Kalian bukan musuh. Kalian adalah bagian dari satu orang yang sama. Yang sama-sama terluka. Yang sama-sama ingin sembuh."
"Tapi caranya?"
Alea tersenyum. Lembut. Seperti senyum yang biasa ia berikan pada Damian Kecil.
"Pelan-pelan. Mulai dari sekarang. Mulai dari... kau mau coba rasakan sesuatu?"
Damian mengerjap. "Apa?"
Alea mengangkat tangan Damian yang terluka. Perlahan, ia mendekatkan telapak tangan itu ke bibirnya. Ia mencium luka di sana. Darah Damian terasa asin di lidahnya.
"Rasakan," bisik Alea. "Ini aku. Ini sentuhanku. Ini... cinta."
Damian membeku.
Dan untuk pertama kalinya dalam 21 tahun, ia merasakan sesuatu di dadanya. Bukan dingin. Bukan kosong. Tapi hangat. Hangat seperti...
Seperti saat Bruno masih hidup dan menjilat tangannya.
Damian menangis. Kali ini tanpa suara. Tapi air matanya jatuh deras, membasahi pipi, jatuh ke rambut Alea yang kini bersandar di dadanya.
"Alea..."
"Ya?"
"Jangan tinggalkan aku."
Alea memeluknya erat. Di luar, hujan mulai turun. Di dalam, Damian Kecil tersenyum dari balik pintu.
"Makasih, Kak," bisiknya pelan. "Akhirnya dia mau menerimaku."
---
Pintu ruang kerja terbuka.
Rania berdiri di ambang, mata membelalak melihat majikannya—mafia paling ditakuti—duduk di lantai dengan gaun tidur, memeluk istri mudanya yang baru 3 minggu dinikahi.
"A-ada apa ini?"
Damian menoleh. Wajahnya basah, tapi matanya—matanya berbeda. Ada cahaya di sana. Cahaya yang tidak pernah Rania lihat selama 7 tahun bekerja untuknya.
"Rania," suara Damian masih serak, tapi ada nada baru. Lembut. "Keluarlah."
Tapi Rania tidak keluar. Ia malah melangkah masuk, menatap Alea dengan tatapan aneh—campuran antara iri dan benci.
"Alea, ada perlu bicara denganmu. Sekarang."
Alea menatap Damian. Damian mengangguk pelan. Alea bangkit, melangkah ke arah Rania. Tapi di ambang pintu, Rania berbisik cukup keras untuk didengar Damian.
"Kau pikir kau bisa menyelamatkannya? Kau malah akan menghancurkannya."
Alea menoleh. "Apa maksudmu?"
Tapi Rania hanya tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Kau akan lihat sendiri."
---[Bersambung]---
Apakah kalian suka perkembangan Damian dan Alea? Jangan lupa LIKE dan KOMEN ya, Raiders!
Kalau kalian ingin Damian dan Damian Kecil bisa bersatu, tap ❤️ di bab ini!
Next: Rania membongkar rahasia kelam tentang masa kecil Damian—rahasia yang bahkan Damian sendiri tidak tahu.
Follow penulis biar gak ketinggalan update!
---Bersambung---(ノ゚0゚)ノ→