Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Pulang
Perawat yang sedang mengecek kondisi pasien lain langsung mendekat dengan senyum hangat. "Bu Sarah, adik Anda kondisinya sudah sangat baik lho. Hasil pemeriksaan menunjukkan semua sudah normal, bisa pulang sekarang juga kalau mau," ucap perawat sambil memberikan surat keterangan dokter.
Sarah mengangguk dengan senyum lebar, masih terus melihat ke arah Dede yang sudah mulai asik bermain game di hp nya lagi. "Makasi ya Bu Perawat, kita akan pulang sekarang juga aja," jawabnya dengan penuh rasa syukur.
Rizky langsung membantu menyusun barang-barang mereka. "Aku sudah pesen taksi dari rumah ya, nanti langsung jemput kita di depan rumah sakit," katanya sambil menaruh tas ke dalam tas besar.
Dede menutup hp nya dan melompat dari ranjang dengan penuh semangat. "Yay akhirnya bisa pulang! Aku sudah merindukan makan masakan bibi lho," ucapnya dengan ceria, lalu melihat ke arah Sarah dengan tatapan penuh perhatian. "Kakak kamu baik-baik aja kan? Tadi kamu jatuh dan menangis lho pas kamu terbangun."
Sarah mengusap kepala Dede dengan lembut. "Kakak baik-baik aja dek, cuma mimpi buruk aja. Nanti kalau pulang, kakak masakin makanan kesukaan kamu ya," janjinya dengan senyum hangat.
Setelah mengurus semua prosedur pulang, mereka keluar dari kamar 217 Blok B. Saat berjalan melewati koridor, Sarah secara tidak sengaja melihat ke arah jendela yang pernah menjadi tempat munculnya sosok dalam mimpinya. Tapi sekarang hanya terlihat taman kecil rumah sakit yang hijau dan segar, tidak ada yang aneh-aneh sama sekali.
"Kamu melihat apa ya Sarah?" tanya Rizky yang melihatnya sedikit heran.
"Tidak apa-apa, cuma melihat pemandangan aja," jawab Sarah dengan senyum, lalu memegang tangan Dede dengan erat. Dia berjanji dalam hati bahwa akan selalu menjaga adiknya dengan sekuat tenaga, dan jika memang benar ada hal-hal yang tidak wajar yang mengganggu mereka, dia akan mencari cara untuk menyelesaikannya dengan benar.
Setelah keluar dari rumah sakit, taksi yang sudah menunggu di depan langsung mengantar mereka pulang. Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat karena suasana hati yang sudah jauh lebih baik. Ketika sampai di rumah, bibinya sudah menyiapkan makanan hangat di meja makan.
"Selamat datang ! Kalian sudah bisa pulang ya?" ucap bibi dengan senyum lebar, langsung mendekat untuk memeluk Dede. "Bagaimana kondisinya, nak? Sudah lebih baik kan?"
Dede mengangguk ceria. "Iya Bibi, sudah jauh lebih baik. Dokter bilang boleh pulang dan tinggal makan obat secara teratur aja."
Sarah meletakkan tasnya di atas sofa dan mengambil gelas air hangat yang sudah disiapkan bibi. "Bibi, makasih ya sudah siapin makanan dan ngasih tau Rizky tadi malam," ucapnya dengan penuh rasa terima kasih.
"Sampai rumah aja merasa lega ya," ucap Sarah sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia melihat ke arah kamarnya yang sudah dibersihkan bibi, lalu mengambil selembar kertas dan pena dari meja ruang tamu.
"Aku harus menuliskan semua kejadian yang sudah aku alami," bisiknya pelan. "Baik itu mimpi atau hal yang benar-benar terjadi, aku perlu mengingatnya agar tidak terulang lagi.
Bibi mendekat dengan membawa mangkuk berisi buah potong. "Sarah, kamu harus makan buah juga ya sebelum tidur. Kamu kan belum makan apa-apa sejak tadi sore," ucapnya dengan penuh perhatian.
Sarah mengambil sepotong semangka dari mangkuk dan memakannya dengan senyum. Di dalam hati, dia merasa sangat bersyukur karena semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk dan adiknya masih selamat di sisinya. Tapi dia juga tahu tugasnya belum selesai. Ada sesuatu yang harus dia lakukan untuk menutup semua cerita masa lalunya agar tidak mengganggu kehidupan mereka yang sekarang sudah mulai kembali normal.