Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Keributan
Mendengar ketukan pintu, Kara berdiri dan melihat dari lubang kecil. Dia melihat Pak Rudi berdiri dengan membawa buah.
Kara membuka pintu, dan meminta Pak Rudi meletakkannya di atas meja, lalu dia berbalik dengan cepat untuk ke kamar mandi.
Pak Rudi kembali turun ke bawah, dan memberi tahu Tama jika Kara baik-baik saja. Tama benar-benar yakin, jika sesuatu telah terjadi dengan Kara.
...----------------...
Keesokan harinya, Kara bangun sekitar pukul 8 pagi. Di luar sedang hujan membuatnya malas bergerak, tapi dia memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan, termasuk menyelidiki Kematian Kedua orang tuanya karena kecalakaan.
Setelah bersiap, Kara turun ke bawah untuk sarapan. Biasanya hari Minggu Tama tetap di rumah, baru saja ingin melangkah, Kara mendengar keributan dari bawah.
Hanya dengan suaranya saja, dia sudah tau siapa orang itu, padahal dia sudah mengingatkan semua orang untuk tidak membiarkannya masuk.
Praaanggg...
Crraaaasss..
Kara mendengar suara benda yang dibanting keras, menyebabnya pecah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kara dengan suara tinggi.
"Oh Kara, akhirnya kau turun juga! Aku datang sesuai janjiku. Karena kemarin dia sudah membuat marah, jadi aku membalasnya!"
Kara mengabaikannya, dia hanya fokus dengan Tama yang berusaha mengambil barang yang pecah itu dan menggenggamnya dengan erat sehingga tangannya terkena pecahan kaca.
Kara maju untuk mengambilnya. "Berikan padaku!"
"Tidak!" katanya dengan cepat, sambil menggenggam bingkai foto itu makin erat. "Aku mohon jangan membuangnya!" suaranya tercekat.
Mata Kara juga sudah berkaca-kaca, itu adalah foto pernikahan mereka satu-satunya yang Tama jaga dengan baik, tapi dia dengan kejamnya mengambil dan berniat untuk membuangnya.
"Kamu boleh minta apapun! Tapi jangan mengambil fotonya!". Kata Tama.
"Kara kau dengarkan? Cepat minta semua aset-asetnya. Aku yakin Arka akan langsung menerima cintamu,!" ujar Sara dengan semangat.
Raut wajah Kara sudah berubah bengis, foto itu dia hanya titipkan di rumah Sarah, dia tidak jadi membuangnya, karena hati kecilnya menolak untuk melakukan itu.
PLAAAKK...
PLAAAKK...
Kara menamparnya dengan kuat lalu bertanya "Siapa yang menyuruhmu melakukan ini ha?"
Aksi Aruna membuat semua orang terpana, sedangkan Sarah hanya bisa mematung sambil menyentuh pipinya, dia masih bingung apa yang terjadi.
"Kara..Kau kau menamparku?" tanyanya dengan wajah yang terlihat sangat syok. Kenapa Kara melakukan nya?
"Ya. Aku menamparmu."
"Kau Kau.. Bukannya kau ingin membuang foto itu karena kau tidak menyukainya. Kau sendiri yang membawanya ke rumahku!" sentak Sarah tidak terima.
"Aku tidak pernah berkata untuk membuangnya. Aku hanya menitipkannya padamu." jelas Kara emosi.
"Lalu kenapa jika aku merusaknya? Bukankah kau tidak menyukai semua tentangnya? Bahkan kau jijik menikah dengannya..!" Ujar Sara tak kalah emosinya.
PLAAAKK..
Kara menamparnya sekali lagi dengan kuat. "Berhentiii,,, Kau pergi dari sini..! Jangan injakkan kakimu lagi di sini."
Sarah sangat marah, tapi dia juga bingung kenapa Kara tiba-tiba jadi seperti ini. Dia bukan seperti Kara yang dia kenal, apa jangan-jangan dia tau sesuatu?
"Huuftt.. Baik jika itu yang kau inginkan! Tapi jangan salahkan aku, kalau kejadian ini sampai di telinga Arka." katanya dengan nada mengancam.
Kara tak menggubrisnya, dia sedang berusaha mengingat, apa benar dia pernah mengatakan kata-kata yang menyakitkan itu?
Sarah jengkel, karena Kara mengabaikannya. Dia akhirnya memilih untuk pergi dengan perasaan yang campur aduk.
Kara sekali lagi memperingatkan mereka semua untuk tidak membiarkan siapapun masuk. Jika orang itu ngancam untuk bunuh diri di depan gerbang, biarkan saja.
Karena Sarah bisa masuk karena mengencam orang-orang dengan gunting yang dia bawah.
"Baik Nyonya!"
***
Kara pergi ke ruang kerja Tama, karena Pak Rudi langsung membawa Tama saat melihat Tangan Tuannya terluka, tapi mereka masih sempat melihat Kara menampar Sarah.
Pak Rudi yang masih membersihkan luka harus berhenti karena mendengar suara Kara di luar pintu.
"Nyonya ada apa?"
"Pak Rudi tolong siapkan sarapan, lalu antar kemari! Aku yang akan mengobati lukanya!" kata Kara.
Pak Rudi sebenernya sangat senang, karena akhirnya Kara memberi perhatian kepada Tama, tapi dia juga masih sedikit khawatir, Kara melukai Tuannya lagi.
"Pak Rudi tenang saja! Aku tidak akan macam-macam!" ucap Kara dengan nada sedih.
Akhirnya Pak Rudi membiarkannya masuk, dan dia kembali ke dapur untuk meminta koki menghangatkan sarapan yang sudah dibuat.
Sedangkan Kara sudah masuk ke ruang kerja Tama, setiap melihat wajahnya yang begitu polos membuat hatinya sakit.
Dari aroma tubuhnya, Tama langsung Tahu jika yang masuk adalah Kara. Dia segera mengambil foto yang ada di atas meja, dia akan memasangkan bingkai yang baru.
Kara berlutut di depannya, dia tidak tahu kenapa Tama begitu menjaga foto itu, padahal kalau rusak atau hilang bisa buat kembali.
Kara memberanikan untuk memegang tangan Tama yang terluka, "Aku akan membalutnya!" dia menunduk dengan badan bergetar. Kejadian ini juga terjadi di masa lalu, tapi dia tidak peduli.
Badan Tama mematung, selama pernikahan dia belum pernah menyentuh tangan Kara. "Jangan mengambil fotonya!" dia berpikir Kara sengaja mendekatinya untuk mengambil foto pernikahan mereka.
"Tidak!" suara Kara terdengar sangat parau. Siapapun yang mendengarnya pasti langsung tahu, jika dia sedang menangis.
Tama juga langsung peka. "Kamu kenapa? Apa kamu terluka? Di mana? Ayo kita ke rumah sakit.!" dia benar-benar khawatir.
Kara makin menangis, suaranya tidak bisa dia tahan lagi. Padahal seharusnya dia yang mengajak Tama untuk ke Rumah Sakit.
"Tidak.. Aku baik-baik saja!" balas Kara dengan menghela nafas panjang.
"Benarkah?" tanya Tama tidak yakin. Dari mereka kecil Kara hanya akan menangis jika dia sedang sakit atau terluka. "Oh jangan duduk di bawah lantainya dingin, kakimu jadi sakit!"
Kara mendongak untuk melihatnya, Kenapa Tama masih saja begitu perhatian? Apa Tama benar-benar mencintainya?
Sebelum Kematian mereka berdua, Tama sempat mengatakan, Jika dia sudah mencintainya sebelum mereka bertunangan.
"Di mana aku harus duduk?"
Tama langsung bergeser dan meminta Kara untuk duduk di sampingnya, tapi dia tersadar sesuatu. "Maaf, aku akan pindah!" Kara tidak suka dekat-dekat dengannya.
Kara menahannya dan memintanya duduk kembali. "Rafa! Jika aku minta maaf, apa kamu mau memaafkanku?"
Tama tertegun, sudah lama sekali Kara tidak memanggil dengan nama depannya. Dia kembali tersadar lalu berkata. "Jangan minta maaf! Kamu tidak bersalah! Semua terjadi karena aku aku menerima perjodohan itu!"
Ngomong-ngomong, mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil. Tama adalah anak yatim piatu, orang tuanya bersahabat dengan orang tua Kara.
Saat umur 10 tahun kedua orang tuanya berpamitan ke luar Kota untuk mengurus pekerjaan, tapi terjadi kecelakaan dengan pesawat yang mereka tumpangi.
Sehingga dia dirawat oleh Kedua orang tua Kara. Keduanya selisih tiga tahun, sekarang Tama sudah berumur 30 tahun, sedangkan Kara baru 27 tahun.
Tiba-tiba Kara langsung memeluk Tama dengan erat. "Maaf, maafkan aku!" dia tidak tahan lagi untuk tidak memuluk Pria yang sudah mencintainya begitu tulus.
Tubuh Tama menegang, apa yang harus dia lakukan? Dia sangat ingin membalas pelukan itu, hal yang selalu dia inginkan. Tapi dia takut Kara marah, dan meminta bercerai.
Namun kerinduannya lebih besar daripada rasa takutnya, pada akhirnya dia membalas pelukan Kara lebih erat.
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍