"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Kehadiran Dia Yang Tiba-tiba
Bersih, steril, tenang, bahkan nyaris menyentuh kata membosankan, itulah yang dapat menggambarkan suasana ruangan kerja Prabujangga Wimana.
Satu-satunya yang terdengar hanyalah bunyi detak jam, dan sesekali kertas yang dibalik, begitupun dengan suara goresan tinta.
Sebagian besar waktu Prabujangga memang dihabiskan di sini, di atas tumpukan berkas yang memohon untuk ditandatangani. Itulah mengapa selama ini Prabujangga tak pernah punya banyak waktu untuk sekedar mengenal wanita.
"Selamat pagi, Pak, ini kopinya."
Prabujangga tak repot-repot menoleh ataupun mendongak, dia hanya mengangguk singkat saat asisten pribadinya meletakkan cangkir kopi di atas meja.
Baru saja wanita itu akan beranjak pergi, tiba-tiba saja dia berhenti karena suara Prabujangga terdengar.
"Sudah ada kabar dari Meara?"
Asisten pribadi itu—Nina—kembali berbalik badan dan menunduk sopan sebelum membalas. "Untuk saat ini belum ada, Pak," jawabnya dengan nada sopan. "Apa perlu saya menghubungi Meara?"
Nina tentu saja tak menawarkan tanpa alasan. Beberapa kali ia keluar masuk dari ruangan Prabujangga untuk mengantarkan berkas, tapi bosnya itu selalu saja menanyakan hal yang sama.
Meara, nama kepala asisten rumah tangga di Mansion Wimana.
Selama ini Prabujangga tak pernah menanyakan tentang Meara, tapi kali ini entah kepentingan apa yang dimiliki oleh Prabujangga hingga menanyakan wanita itu sebanyak tiga kali dalam satu jam terakhir.
"Tidak perlu." Prabujangga menggeleng, meletakkan pena birunya di atas meja dengan presisi sempurna. "Saya yang akan menghubunginya."
Nina mengangguk, tak ingin mempertanyakan keputusan bosnya lebih jauh dan langsung pamit untuk keluar dari ruangan.
Prabujangga pula meraih ponsel di atas meja, menggulir kontak hingga berhenti pada nomor kepala Asisten rumah tangga di Mansionnya.
Butuh tiga detik sebelum panggilannya dijawab.
"Selamat siang, Pak."
Suara Meara terdengar menyapa dengan formal.
"Di mana Kharisma? Sudah ingatkan dia untuk mengobati lukanya?" Tak repot-repot membalas sapaan Meara, Prabujangga langsung bertanya pada intinya.
"Beberapa menit yang lalu saya sempat pergi ke kamar, tapi istri bapak tidak ada. Saya juga sudah mencari ke mana-mana."
Dahi Prabujangga berkerut. "Apa maksudnya tidak ada?"
"Setelah sarapan saya melihat istri bapak ada di ruang tamu bersama Nyonya, tapi setelah saya kembali beberapa saat yang lalu mereka sudah tidak ada. Mungkin istri Bapak dan Nyonya sedang keluar."
Ekspresi Prabujangga berubah penuh perhitungan, tangannya mengerat pada benda pipih yang menempel di telinga. "Ada yang tau mereka pergi ke mana? Bukankah sudah saya beri tau untuk mengawasi istri saya?"
"M-maaf, Pak, akan segera saya tanyakan pada kepala keamanan."
Suara Meara berubah, sedikit terbata seakan-akan menyadari perubahan pada nada bicara majikannya.
"Saya beri waktu lima menit, setelah itu hubungi saya kembali."
Tak menunggu jawaban, Prabujangga langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.
Untuk pertama kalinya ia merasa tidak fokus. Tak tau sebenarnya apa alasan yang jelas di balik momen langka ini.
Prabujangga yang biasanya selalu tak teralihkan dalam pekerjaan kini kehilangan separuh minatnya.
"Jam delapan pagi," gumamnya, menatap layar ponselnya yang masih menyala, menunjukkan pukul setengah satu siang.
Prabujangga masih keheranan tentang mengapa pagi ini ia bisa tidur begitu lama. Selama beberapa tahun terakhir ini Prabujangga selalu membuka mata bahkan sebelum matahari menyingsing. Itulah mengapa saat bangun tidur tadi ia memandangi jam dengan sungguh-sungguh.
Meskipun alarmnya disetel pukul delapan pagi, ia tak pernah benar-benar bangun saat alarm berbunyi. Bahkan setidaknya ia tersadar sekitar dua sampai tiga jam sebelumnya.
Bahkan tidurnya tak pernah senyenyak kemarin malam.
Sembari menunggu kabar dari Meara, Prabujangga melipat lengan kemejanya dan memandangi bekas cakaran di lengannya.
Itu tercipta tepat pagi ini saat ia membantu istrinya yang bodoh itu mengobati lukanya sendiri.
Jangan anggap bahwa Prabujangga peduli, karena tentu saja rasa sakit Kharisma tak akan membawa keuntungan baginya. Ia hanya ingin memastikan agar perempuan itu bisa cepat-cepat pulih, sehingga bisa ia isi kembali. Semua ini hanya agar tujuannya untuk memiliki seorang putra cepat tercapai.
...***...
Meskipun orang-orang mengatakan bahwa pergi ke mall dan berjalan-jalan diluar hampir menjadi hal yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi itu tentu saja tak berlaku bagi Kharisma.
Selama dua puluh satu tahun lamanya ia hanya berkeliaran di Mansion Respati, berinteraksi dengan Mama, Papa, atau paling tidak para pelayan di tempat itu.
Tapi kali ini, untuk pertama kalinya bersama dengan ibu mertua, Kharisma bisa menikmati bagaimana rasanya berada di luar, melihat pemandangan orang-orang yang berlalu lalang.
Gaun putih bermotif bunga yang Kharisma kenakan berkibar di pergelangan kaki. Angin berhembus cukup kencang siang ini, apalagi langit yang berubah menjadi abu-abu.
"Bunda sepertinya masih lama," Kharisma bergumam, menoleh ke arah Nada yang tengah menelpon di dekat pintu keluar, tangannya dipenuhi oleh tas belanjaan.
Kharisma kembali memandangi jalanan, kakinya berayun-ayun ketika ia duduk di kursi besi di dekat trotoar yang ramai. Tangannya memegangi cone es krim vanila yang dibelikan oleh Nada.
"Kharisma!"
Ia menoleh ketika Nada memanggilnya.
"Bawa barang-barang kamu ke mobil hitam di sebelah sana, ya! Nanti Bunda menyusul!"
Baru saja mulut Kharisma terbuka untuk bertanya ke mana wanita itu akan pergi, tapi Nada lebih dulu berlari kecil kembali masuk ke dalam mall.
Kharisma menghela napas, lalu memandangi banyaknya tas belanjaan yang mengapit di sisi kanan dan kirinya.
Nada ternyata tak mengajaknya untuk membeli bahan masakan untuk makan malam, melainkan baju dan pernak-pernik baru.
Ada-ada saja mertuanya itu.
Kharisma lantas mengambil semua tas belanjaan, bersusah payah memegangnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegangi es krim.
"Mobil hitam..."
Kharisma mengelilingkan pandangan, lalu tersenyum kala melihat tujuannya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
SUV hitam, tepat di samping trotoar.
Baru saja Kharisma hendak bangkit, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh kehadiran sosok yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya.
Dia terdiam dengan posisi setengah berdiri, dengan ujung es krim vanila yang menempel pada kemeja sosok di hadapannya. Cepat-cepat Kharisma mendongak, matanya seketika membulat saat melihat Prabujangga menusuknya dengan sorot tajam.
"Mas Prabu?!" Kharisma memekik, nyaris saja terjatuh kembali ke kursi jika lengan Prabujangga tak buru-buru melingkari pinggangnya.
Es krim di tangan Kharisma terjatuh mengenaskan di aspal saat lengan kekar nan keras merengkuh pinggangnya, menariknya rapat hingga menempel dengan tubuh Prabujangga. Bahkan noda es krim kini tertinggal di kemeja Prabujangga yang mahal.
"Saya rasa kemarin saya telah mengatakan dengan jelas bahwa apapun yang kamu lakukan haruslah melalui persetujuan dari saya," Prabujangga berbisik geram di telinga Kharisma, tangannya begitu kokoh menahan pinggang kecil istrinya.
"T-tadi Bunda yang mengajak, Mas." Kharisma meremas jas mahal Prabujangga dengan gugup. Dia dengan sengaja memalingkan wajah agar tak bersitatap dengan Prabujangga. "Maaf..."
Tak ingin mendengarkan alasan istrinya, Prabujangga dengan satu gerakan merampas tas-tas belanjaan di tangan Kharisma hingga perempuan itu tersentak. Kharisma dibuat semakin terkejut saat Prabujangga dengan mudah mengangkat pinggangnya.
"Mas," Kharisma meringis, merasakan sakit yang masih terasa di area kewanitaannya saat kakinya dipaksa melingkari pinggang Prabujangga, tangannya secara naluriah berpegangan di bahu laki-laki itu.
Langkah Prabujangga begitu mantap tanpa goyah menuju ke arah SUV hitam yang terparkir di tepi jalan, tangannya menahan punggung sang istri sementara tangan lainnya memegangi tas belanjaan.
Para pejalan kaki tak bisa tak melirik ke arahnya, meskipun hal seperti ini sudah begitu umum terjadi di zaman sekarang.
Tapi mungkin pria-pria lain yang menggendong istri mereka seperti itu tak ada yang memasang tampang datar seperti Prabujangga.
Kharisma benar-benar tegang di dekapan Prabujangga, terlebih lagi saat melihat cara kasar Prabujangga membuka pintu mobil dan melemparkan tas-tas belanjaan di kursi depan sebelum perlahan-lahan mendudukkannya di kursi belakang.
Kharisma memejamkan matanya, bersiap kalau saja ia dilempar kasar ke atas jok seperti tas-tas belanjaan malang itu.
Tapi sepertinya keberuntungan berpihak kepadanya, karena Prabujangga menurunkannya dengan gerakan yang hati-hati.
Tangan Kharisma mengerat di bahu Prabujangga begitu punggungnya menyentuh kaca mobil yang tertutup. Prabujangga menutup pintu di belakangnya, dan kini berada tepat di atas Kharisma.
Posisi ini entah kenapa membuat Kharisma menjadi semakin canggung, atau bahkan takut.
"Buka kakimu. Saya ingin melihat apakah lukanya sudah membaik."
Dan perintah dingin Prabujangga itu membuktikan bahwa Kharisma memang seharusnya takut di dekat laki-laki itu.
"T-tapi Mas... apa tidak bisa di rumah saja?"
Meskipun Kharisma telah mencoba bernegosiasi, tapi sepertinya Prabujangga tidak tertarik. Prabujangga tanpa izin menyingkap ujung gaun Kharisma hingga terkumpul di pinggang. Laki-laki itu perlahan-lahan melebarkan paha istrinya, tanpa ragu-ragu mengesampingkan kain yang menutupi area kewanitaan.
Kharisma langsung memejamkan mata, malu dan takut berkelebat menjadi satu.
Tak ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Prabujangga. Kharisma sengaja mengalihkan pandangan, dagunya menekan bahu Prabujangga saat merasakan jari kasar laki-laki itu menyentuh area sensitifnya.
Kharisma hanya berharap agar rasa sakit kemarin malam tak akan terulang lagi.
Bersambung...