Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pekerjaan baru
Nindi terdiam dan menundukkan kepalanya dalam dalam, ia di panggil oleh manager dimana tempat ia bekerja, pasti semua karena kesalahpahaman tadi.
"Dengan berat hati saya memecat kamu nindi" Katanya.
"Tapi pak?"
"Ini gaji dan pesangon kamu" Ucapnya sembari menyerahkan amplop berwarna putih padanya.
"Saya butuh pekerjaan ini pak, tolong ayah saya sakit" Mohonnya dengan mata yang berkaca kaca.
"Maaf tapi saya tetap pada keputusan saya"
Nindi terpaksa meraih amplop tersebut, ia membungkuk dan mengucapkan terimakasih sembari meninggalkan ruangan managernya.
"Jadi lo nyuruh manager hotel buat mecat nindi?"
David mengangguk, membenarkan ucapan temannya, Ivan.
"Jahat banget lo" Cibirnya.
Keduanya tengah berada di salah satu balkon yang berada di lantai 3, untuk merencanakan sesuatu.
"Gue tau lo masih cinta sama dia, bahkan gue yakin selama ini lo jomblo karena sakit hati kan? tapi jangan jahat jahat lah, kasian juga anaknya" Ucap ivan
"Emang dia pernah kasian sama gue, dia aja ninggalin gue gitu aja"
"Mungkin dia punya alesan, gue jadi gak yakin buat ngelakuin rencana ini, jangan jangan lo ada niat yang lebih gila lagi nyuruh gue buat masukin dia ke kantor"
"Lo nurut aja, gue kan bos lo"
"Bokap lo yang ngrekrut gue kalo lo lupa" Dengus ivan kesal.
Ivan berdehem, menunjuk dengan dagu arah keluar hotel, di bawah sana tampak nindi yang sudah mengenakan pakaian gantinya berjalan lesu keluar dari hotel.
"Sana!" Usir David.
Ivan berjalan lesu meninggalkan David sendiri, tujuannya adalah mengejar nindi.
Nindi menghembuskan napasnya kasar, ia mendudukan dirinya di halte bus yang sepi, pandangannya terasa kosong, pikirannya tertuju penuh pada sang ayah yang saat ini berada di rumah sakit, ia mengalami masalah finansial sejak ibunya meninggal setahun yang lalu hingga ayahnya jatuh sakit, nindi bukanlah berasal dari keluarga kaya raya, namun dulu ketika ayahnya masih bekerja hidupnya selalu terjamin, sangat berbanding terbalik dengan keadaan yang ia alami saat ini.
Keheningannya tak berlangsung lama saat seseorang menepuk bahunya dari arah samping.
Puk
Nindi terhenyak kaget kemudian menoleh mendapati seorang pria dengan setelan formal berjas hitam, ia mengenalinya, itu adalah ivan teman masa kuliahnya.
"Nindi?" tanyanya seolah memastikan.
"Van" Nindi berdiri menjajarkan posisinya dengan ivan.
"Lo mau balik?" Tanya ivan, terdengar basa basi, jelas ia menunggu bus di halte ini.
Nindi meringis kaku, menyembunyikan raut sendu yang sempat menghiasi wajah cantiknya beberapa saat lalu.
"Iya, nunggu bus, kok kamu di sini?" Tanya nindi.
"Gue abis ngehadirin pesta bos gue, di hotel" Tunjuk ivan dengan dagu pada bagunan mewah di belakang mereka.
Nindi tersenyum kecut, ada rasa malu pada dirinya, pasti ivan menyaksikan kejadian dimana dirinya di marahi tadi.
"Lo gapapa?" Tanya ivan.
"Gak apa apa kok" nindi berusaha terlihat baik.
"Gak papa kok keliatannya sedih gitu, udah gausah di pikirin, orang kaya emang suka belagu" Kata ivan menghibur nindi.
Nindi tertawa kecil dengan ucapan ivan, sedikit menghibur hatinya yang tengah risau.
"Gue liat temen temen lo belum pada balik, kok lo udah mau balik aja?" Tanya ivan.
"Iya hari ini aku di pecat" Jujur nindi.
"Aduh!" Ivan berpura pura menepuk kepalanya, padahal ia tahu betul siapa orang yang melakukan ini, tak lain dan tak bukan adalah David.
"Gak papa kok, mungkin udah fatal banget" balas nindi.
"Jadi sekarang lo gak ada kerja dong?"
"Besok gue mau langsung ke temen, kemaren dia sempet nawarin kerjaan, kamu tenang aja" Kata nindi.
Ivan mengangguk anggukan kepalanya mengerti dengan ucapan nindi, ia kemudian merogoh ke dalam jas miliknya dan menemukan sebuah kertas kecil lalu menyerahkannya pada nindi.
"Nih! ditempat gue lagi mau perekrutan karyawan baru, kalo mau lo dateng aja, gajinya lebih oke dari pada lo kerja di sini" Kata ivan.
Nindi tersenyum samar dan tanpa ragu meraih kartu tersebut, ini adalah harapan baru baginya.
"Beneran buat aku?"
"Iya, kita kan sama sama lulusan managemen, gue yakin 100 persen lo pasti bakalan keterima, gue tunggu di sana" Ucap ivan.
Nindi semakin tersenyum lebar, ia merasa sangat bersyukur bertemu dengan ivan malam ini.
"Makasih banyak ya van?"
"Sama sama, di baliknya ada nomer telepon gue, ntar kalo mau dateng lo chat gue aja"
"Besok bisa?"
"Bisa banget, gue di kantor tiap hari"
"Makasih banyak ya?"
Ivan mengangguk dengan senyum tulusnya, ia melihat bagaimana raut wajah nindi penuh binar bahagia, ia sedikit berharap bahwa nanti sahabat gilanya tidak macam macam dengan gadis baik ini, bagaimanapun ivan mengenal nindi sebagai orang yang baik.
Tak berselang lama bus yang akan di tumpangi nindi datang.
"Makasih ya van, besok aku hubungin, aku pulang dulu, makasih banyak" Nindi melambai dengan senyuman.
Ivan pun membalasnya, gadis itu berlari kecil dan masuk ke bus setelah berpamitan.
"Nindi nindi, maafin gue ya?" Gumam ivan.
Ivan menghembuskan napasnya dan meraih ponsel miliknya, ia kemudian menghubungi seseorang di seberang.
"Halo?"
"Gimana?"
"Berhasil"
Keesokan harinya...
Nindi berjalan pasti membawa selembar map coklat yang ia peluk rapat rapat, ia menatap sebuah bangunan besar, sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang elektronik, perusahaan inilah yang akan menjadi tempatnya bekerja jika ia di terima.
Nindi menoleh kesana kemari mencari keberadaan seseorang, sampai ia merasa terpanggil.
"Nindi?" Panggilnya.
Ivan berdiri tak jauh dirinya, pria itu mengenakan kemeja putih dan celana kantor.
"Van?" Nindi berlari kecil menghampirinya.
"Ayo! udah di tunggu" Ivan menarik nindi masuk ke dalam kantor tersebut.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift, Ivan menekan lantai 10.
"Jadi kita langsung ketemu HRDnya?"
"Langsung ke direktur" Balas Ivan
Nindi mengangguk angguk paham, setahu dirinya ia seharusnya berhadapan dengan HRD perusahaan, kenapa langsung berhadapan dengan pimpinan tertinggi.
Sesekali nindi melirik ke arah name tag Ivan yang tertera nama manager di dadanya, tanpa bertanya sepertinya nindi tau apa jabatan pria ini di sini.
Setelah sampai di lantai 10 mereka keluar dari lift dan berjalan menuju sebuah ruangan besar yang berada di ujung, Ivan membantu membuka pintu dan mempersilahkan nindi untuk masuk.
"Ntar lo di arrange sendiri sama bapak, gue tinggal dulu lo masuk aja, sebentar lagi beliau datang" Katanya.
Nindi tersenyum dan mengangguk patuh, ia masuk ke dalam ruangan dan Ivan pun meninggalkannya.
Nindi memperhatikan ruangan besar tersebut, tertata rapi dengan semerbak harum wangi, calon bosnya terlihat sangat rajin.
Nindi mendudukan dirinya pada kursi yang tersedia di depan meja, ia mengamati segala sisi ruangan tersebut, sampai matanya terhenti pada sebuah papan kayu yang terukir sebuah nama di atas meja besar bosnya.
Davidson Mahendra
Nindi mengerutkan alisnya bingung, ia mengenali nama tersebut, tapi apakah mereka orang yang sama?
"Siapa yang nyuruh kamu duduk di kursi?" Tanya seseorang.