"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Mama
PLAKKK!
Kaisar mendapatkan tamparan keras di pipinya. Kali ini bukan dari Pak Umar, melainkan dari Bu Esta, ibunya sendiri.
Wajah Kaisar berpaling saat tamparan mendarat di pipinya.
"Jadi, kamu benar-benar memintanya untuk aborsi?" tanya Bu Esta dengan rahang mengeras, matanya melotot ke arah putranya.
Kaisar merasakan sakit di hampir di seluruh wajahnya. Darah kering sisa pukulan Pak Umar bahkan belum ia bersihkan, kini tamparan dari ibunya justru menambah perih di wajahnya.
"Jawab, Kai!" bentak Bu Esta, penuh amarah.
"Iya, Ma..." jawabnya pelan. "Aku memang hamili dia dan minta buat gugurin kandungan."
Kaisar dengan jujur mengakui perbuatannya, termasuk meminta Raline menggugurkan kandungan. Ia tak menutupi rahasia apapun lagi dari ibunya.
"Ya Tuhan..." Bu Esta memijat kepalanya sendiri.
"Kenapa bisa, Kai?! Apa yang kamu pikirkan sehingga melakukan hal seperti itu?!" emosinya kembali memuncak.
Ia tak bisa bersikap tenang setelah mendengar pengakuan jujur Kaisar. Putra tunggal yang ia banggakan dan diharapkan bisa mengikuti jejak sang ayah, justru membuatnya pusing tujuh keliling.
Kaisar memberanikan diri menatap ibunya, sorot matanya penuh penyesalan. "Maaf, Ma..."
Bu Esta menatapnya tajam.
"Maaf kamu gak berguna, Kai! Mama malu setengah mati oleh keluarga gadis itu! Dan itu semua akibat dari perbuatanmu!"
Kaisar menunduk dalam.
"Kamu tahu?" kata Bu Esta. "Mama berjuang mati-matian menjaga nama baik keluarga kita, tapi kamu? Kamu justru merusak nama baik keluarga ini dengan hal bodoh yang kamu lakukan! Gimana Mama bisa memaafkan kamu, hah?!"
Kaisar diam seribu bahasa. Ia hanya mendengarkan kemarahan ibunya dengan pasrah. Tak ada celah untuknya menghindari kemarahan ibunya. Pasrah dan terus meminta maaf adalah jalan terbaik saat ini, tanpa melawan.
Bu Esta berkacak pinggang, masih menatap putranya tajam. Tapi sesaat ia menoleh pada Mbak Sukma yang sejak tadi berada di sana. Ia memintanya untuk pergi dengan gerakan kepala sebagai isyarat.
Wanita paruh baya itu dengan patuh pergi meninggalkan mereka, membiarkan ibu dan anak itu menyelesaikan masalah mereka.
Bu Esta kembali menatap putranya, meski kini kaisar menunduk di hadapannya.
"Kai," panggilnya pelan tapi penuh tekanan. "Lihat Mama."
Kaisar menelan ludah.
Ia kembali mengangkat wajah dan menatap ibunya yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi tidak bersahabat.
"Mama gak mau nama baik keluarga kita rusak gara-gara masalah ini. Apalagi di mata keluarga gadis itu," ujarnya. "Mama ingin kamu bertanggung jawab dengan menikahinya."
Kaisar tercekat. "Tapi aku gak bisa, Ma," jawabnya. "Aku gak bisa menikahi Raline. Aku gak siap jadi suami apalagi ayah. Aku gak siap ninggalin duniaku saat ini. Aku juga..." ia memelankan suaranya. "gak siap putus dari Nana."
"Gak siap?!" Bu Esta kembali marah seolah tak senang mendengar jawaban putranya yang pengecut itu. "Kalau kamu gak siap dengan konsekuensinya, kenapa mau melakukannya?!"
"Semua itu terjadi gitu aja, Ma..." sahut Kaisar. "Aku dan dia melakukannya hanya karena butuh. Kami kedinginan saat itu." Kaisar mencoba membela diri.
"Karena kedinginan?" ulang Bu Esta, menatapnya tak percaya. "Sedingin apa hingga kamu harus mengajak anak orang untuk melakukannya denganmu? Jelaskan!"
Kaisar kembali menelan ludah. Kali ini terasa lebih sulit, terlebih luka di sudut bibirnya terasa semakin perih.
"Semuanya terjadi saat aku dan teman-teman pergi camping," Kaisar mulai bercerita. Bu Esta terus menatapnya dengan masih berkacak pinggang di hadapan putranya yang duduk menunduk.
"Malam itu aku dan dia tersesat, waktu kami ngadain acara uji nyali buat seneng-seneng..." lanjutnya. Mengingat kembali malam itu.
"Lanjutkan," pinta Bu Esta tegas.
Kaisar meneruskan ceritanya, berusaha menjelaskan situasi yang memaksa mereka melakukannya karena ia pikir itu satu-satunya cara yang bisa menyelamatkan mereka dari kedinginan angin malam di tengah hutan.
Kaisar trus menundukkan kepala saat bercerita. Tak berani menatap mata ibunya untuk saat ini.
Bu Esta mendengarkan dengan seksama. Menangkap poin-poin penting dari cerita putranya yang harus ia pertimbangkan dengan baik.
"Aku kaget waktu tau dia hamil," ucap Kaisar kemudian. "Aku gak siap buat nikahi dia, jadi aku minta dia buat gugurin kandungannya. Aku pikirkan itu jalan satu-satunya yang kita punya supaya bisa keluar dari masalah ini."
"Jadi, dalam kasus ini kamulah yang bersalah karena terus merayu dia meski dia sudah menolak?" tanya Bu Esta.
Kaisar mengangguk. "Aku gak bisa mikir jernih waktu itu. Kupikir kalo kita bisa sama-sama berkeringat, kita gak akan kedinginan lagi."
"Astaga..." Bu Esta berucap pelan mendengar pengakuan putranya.
Ia tak menyangka, anaknya bisa berpikir sejauh itu padahal masih banyak cara untuk bisa saling melindungi tanpa harus melakukan perbuatan tidak pantas.
"Apa kamu pernah berpikir perbuatan kalian bisa menimbulkan masalah besar?" tanyanya lagi.
Kaisar menggeleng.
"Aku kira kalo sekali gak bakal hamil."
"Ya Tuhan..." Bu Esta mengusap wajah kasar. "Kamu ini polos apa bodoh sih, Kai?Berhubungan badan bisa menyebabkan kehamilan. Mau sekali atau dua kali pun kalau kalian sama-sama subur, tetap bisa menyebabkan kehamilan!"
Kaisar diam lagi. Tak mampu berkata-kata, apalagi melawan ibunya. Dirinya memang salah besar karena terlalu menganggap enteng sesuatu yang sebenarnya berisiko.
Sejenak suasana hening.
Bu Esta terlihat berjalan mondar-mandir sembari berpikir. Mencari jalan keluar untuk masalah ini tanpa harus mengorbankan masa depan putranya yang ia punya satu-satunya.
Bu Esta tak mau kehilangan sosok Kaisar-nya. Karena selain Kaisar putra tunggal, ia juga satu-satunya teman hidup setelah suaminya meninggal dunia.
Selang beberapa saat, akhirnya Bu Esta menghela napas panjang dan menatap putranya lagi.
"Besok kita ke rumah gadis itu," ucapnya.
Kaisar balas menatap. Tapi tidak bertanya.
"Kita selesaikan masalah ini secepatnya, sebelum perut gadis itu membesar dan nama baik keluarga kita tercoreng," lanjut Bu Esta. "Sekalipun gadis itu bilang gak butuh tanggung jawab kamu lagi. Tapi Mama yakin orang tuanya gak akan tinggal diam kalau anaknya dicampakkan saat hamil. Mereka pasti akan melaporkan kamu ke polisi tanpa memikirkan ini dan itu. Yang ada dalam benak mereka hanya balas dendam terhadap kamu."
Bu Esta memberi jeda.
"Jadi, kita harus menyelesaikan semuanya. Jangan sampai Mama punya anak bernama Kaisar Adrian Harris, seorang narapidana."
"Apa yang akan kita lakukan, Ma?" Kaisar memberanikan diri bertanya.
"Tentu saja dengan menikahinya," jawab Bu Esta tegas. "Hanya itu satu-satunya cara terbaik untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu."
Kaisar lagi-lagi bereaksi spontan.
"Aku gak bisa, Ma. Udah aku bilang gak bisa kalo harus nikahin dia!" sahut Kaisar tegas. Rahangnya mengeras, meski di dalam hatinya sendiri ada ketakutan yang perlahan merambat.
Bu Esta menatapnya tajam. Tatapan seorang ibu yang tidak lagi melihat anak kecilnya, melainkan seorang pria yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Kamu pikir ada jalan lain untuk bertanggung jawab selain menikahi dia?" tanyanya dingin. "Kalau kamu gak mau nikahi dia, lalu untuk apa tadi kamu berusaha menghentikan dia?"
Kaisar terdiam sesaat.
Bayangan Raline yang pergi tanpa mempedulikan dirinya tadi kembali terlintas di benaknya. Tatapan kebencian Raline terlihat jelas.
"Aku berusaha menghentikan karena aku mau bilang kalo aku masih bisa bertanggung jawab," jawab Kaisar akhirnya. Suaranya lebih pelan, tapi jelas. "Tapi tanpa menikahi."
Bu Esta mengernyit. "Maksudnya?"
"Aku bisa membiayai dia sepenuhnya," lanjut Kaisar. "Meskipun seumur hidup anakku, aku siap. Tapi aku gak bisa nikahi dia." Ia menelan ludah, lalu menambahkan dengan jujur, "Aku gak cinta dia. Itu jauh lebih baik daripada aborsi, kan?"
Sunyi sejenak.
Bu Esta menatap putranya lekat-lekat, seolah mencoba membaca isi pikirannya.
"Jadi kamu berpikir itu sudah cukup untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu?" tanyanya pelan, namun nadanya penuh tekanan. "Apa kamu pernah berpikir bagaimana mental gadis itu? Bagaimana kehidupannya setelah orang-orang tahu dia hamil tanpa suami?"
Kaisar terdiam.
Namun egonya belum sepenuhnya runtuh.
"Kita bisa suruh Raline ninggalin kota ini," katanya lagi. "Aku siap nanggung biaya hidupnya, termasuk cariin rumah buat dia. Meski itu nguras habis tabungan yang Papa siapin buat aku. Asalkan Raline bisa hidup tenang dengan anak itu."
Bu Esta langsung menggeleng tegas.
"Jangan berpikir sejauh itu, Kai," potongnya. "Mama gak mau semua yang telah disiapkan untuk masa depanmu harus habis untuk membiayai anakmu seumur hidup."
Nada suaranya kini bukan hanya marah. Tapi juga dingin. Penuh perhitungan.
"Mama gak mau semua yang Mama dan Papa rencanakan hancur begitu saja. Kamu harapan Mama satu-satunya. Mama gak akan membiarkan itu terjadi."
Kaisar menatap ibunya, dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin takut.
"Kamu harus tetap menikahi gadis itu," lanjut Bu Esta tegas. "Mau tidak mau, kamu harus tetap menikahinya."
"Tapi, Ma..."
"Diam!" potong Bu Esta tajam.
Suasana langsung membeku.
"Kamu ikuti saja rencana Mama."
Kaisar menatapnya bingung. Ada sesuatu dalam nada suara ibunya yang membuat tengkuknya meremang.
"Kamu akan menikahi dia demi menggugurkan tanggung jawab," lanjut Bu Esta tanpa ragu. "Setelah itu kamu ceraikan dia."
Kaisar membeku.
Kata-kata itu terasa asing keluar dari mulut ibunya sendiri.
Dan Bu Esta belum selesai.
"Dan Mama akan berikan anak kalian pada orang lain."
Jantung Kaisar seolah berhenti berdetak sesaat.
"Dengan begitu," lanjut Bu Esta tenang, seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja, "kamu tidak akan dicap sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab. Anak itu tetap hidup. Mental gadis itu tetap aman, dan yang jelas orang tuanya akan lebih lega jika kamu menikahinya tanpa harus repot-repot menuntut kami."
Ia menatap Kaisar lurus-lurus.
"Lalu kalian bisa tetap hidup tenang tanpa memikirkan anak itu. Kalian tidak akan punya beban lagi, dan bisa menjalani hidup dengan normal seperti biasa."
Kaisar menatap ibunya dengan mata melebar.
Kali ini ia benar-benar tidak mengenali wanita yang berdiri di hadapannya. Ibunya tampak berbeda. Terlihat lebih jahat dari yang ia duga.
"Tapi itu sama aja kita jahat sama dia, Ma." Kaisar memprotes rencana ibunya.
Bu Esta kembali menatapnya tajam. "Lebih jahat lagi kamu," jawabnya. Tubuhnya membungkuk. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke ujung hidung putranya. "Yang memintanya untuk aborsi tanpa memikirkan bahwa aborsi bisa membahayakan nyawanya juga."
Kaisar diam seribu bahasa mendengar itu.
Ibunya benar. Dirinya juga jahat.
Kalau dipikir lagi, apa bedanya dia dengan ibunya?
Bukankah sama-sama jahat?
Hanya saja cara mereka yang berbeda.
Hening seketika. Baik Kaisar maupun ibunya tidak membahas apapun lagi setelahnya.
Bu Esta berbalik membelakangi putranya dan berkata, "Sudah. Masuk ke kamarmu dan bersihkan wajahmu. Tidurlah. Besok kita ke rumah gadis itu untuk membicarakan ini."
Setelah itu, ia pergi tanpa menoleh lagi. Langkahnya yang tegas menyisakan keresahan di hati Kaisar.
Ia khawatir, rencana ibunya justru membuat keadaan memburuk. Apalagi tadi ia bisa melihat dan merasakan sendiri bagaimana amarah Pak Umar yang tak terima akan perbuatannya pada Raline.
Bukankah itu akan lebih memancing emosinya karena merasa putrinya dipermainkan?
"Gimana kalo ortunya Raline gak terima?" gumamnya pada diri sendiri.
Kaisar mengusap wajah kasar. Kepalanya justru terasa semakin penuh.
Ia akhirnya bangkit. Melangkah pergi menuju lantai dua, tempat di mana kamarnya berada.
Kekacauan yang tadi sempat memenuhi rumah itu, kini hanya meninggalkan sepi. Bu Esta sudah masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Kaisar yang kini telah berada di kamarnya juga.
Tak langsung ke kamar mandi untuk membersihkan wajah, ia justru membanting tubuh ke kasur. Memilih langsung tidur, mengistirahatkan otaknya yang lelah berpikir sejak tahu Raline hamil.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya