Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setelah rangkaian peristiwa yang melelahkan dan penuh ketegangan kemarin, pagi ini suasana mess terasa jauh lebih tenang.
Abraham menatap Prita yang masih tampak sedikit pucat, namun raut wajahnya sudah jauh lebih tenang.
"Hari ini Mas libur. Sekarang kita istirahat saja di sini," ucap Abraham lembut sambil mengelus puncak kepala istrinya.
Prita menganggukkan kepalanya patuh. Ia memang masih membutuhkan waktu untuk menenangkan batinnya.
Mereka pun bersama-sama merebahkan tubuh di atas ranjang sederhana yang menjadi saksi awal kehidupan baru mereka.
Abraham kemudian menggeser posisinya, memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Prita bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari dada bidang Abraham ke punggungnya.
Seketika, jantung Prita berdetak kencang; sebuah getaran yang berbeda dari rasa takut yang ia rasakan kemarin.
Ini adalah debaran yang membuatnya merasa sangat diinginkan.
"Sayang, Mas boleh minta sekarang?" bisik Abraham dengan suara rendah yang serak di dekat telinga Prita.
Napas Abraham terasa hangat, membuat Prita sedikit merinding.
"Mas nggak tahan, Sayang. Tapi, jangan teriak-teriak ya?"
Prita mengernyitkan dahi, menoleh sedikit ke belakang dengan ekspresi bingung.
"Teriak? Kenapa aku harus teriak, Mas?" tanya Prita jujur.
Abraham tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Prita dengan tatapan yang penuh damba, lalu perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya.
Kecupan lembut itu kemudian berubah menjadi ciuman yang dalam dan menuntut, seolah menyalurkan seluruh rasa rindu dan syukur karena telah berhasil membawa istrinya pulang.
Tangan Abraham yang terampil mulai bekerja. Ia perlahan melepaskan pakaiannya sendiri, lalu membantu Prita melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.
Dalam keremangan kamar mess yang sepi, Abraham mulai melakukan pemanasan dengan penuh kelembutan, menjelajahi setiap inci kulit Prita dengan sentuhan-sentuhan yang memabukkan.
"Ahhh...."
Prita refleks mengeluarkan suara saat merasakan sensasi baru yang begitu kuat menghantam syarafnya.
Ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan sendiri.
Detik itu juga, ia menyadari apa yang dimaksud oleh suaminya tadi: jangan berteriak.
Suara desahan yang keluar dari bibir Prita tertahan oleh tangan Abraham yang kini berganti menutup mulut istrinya dengan lembut, seolah menjaganya agar tetap menjadi rahasia indah mereka berdua di tengah kesunyian mess.
Abraham memimpin setiap gerakan dengan penuh perasaan, memastikan Prita merasa nyaman dan dicintai.
Waktu seolah berhenti berputar. Selama satu jam, mereka tenggelam dalam gairah yang menyatukan jiwa dan raga.
Hingga akhirnya, mereka berdua terkulai kelelahan di atas sprei yang kini sudah berantakan.
Napas mereka masih terengah-engah, namun ada senyum kepuasan dan kedamaian yang terpancar dari wajah keduanya.
Prita menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abraham yang masih berkeringat, menyadari bahwa kini ia telah seutuhnya menjadi milik suaminya.
Semburat warna jingga mulai menghiasi langit di ufuk barat, menandakan senja telah tiba di kawasan mess.
Di dalam kamar yang remang, Abraham terdiam sejenak memperhatikan wajah Prita yang masih terlelap dengan sangat pulas.
Istrinya itu tampak begitu tenang, gurat kelelahan setelah "pertempuran" panjang siang tadi masih tersisa di wajah cantiknya.
Abraham menyelimuti bahu Prita dengan lembut agar tidak kedinginan oleh embusan angin sore, lalu ia melangkah keluar kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Di selasar mess, suasana sudah mulai hidup kembali.
Abraham melihat beberapa temannya baru saja pulang dari lokasi.
Ia merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulutnya sambil menghirup udara sore yang segar.
Ia memutuskan untuk bergabung dan duduk di bangku panjang samping Deddy yang sedang asyik menyeruput kopi hitam.
"Baru bangun, jagoan?" ledek Deddy tanpa menoleh, namun ada senyum jahil yang tersungging di bibirnya.
Abraham hanya tersenyum tipis, mengembuskan asap rokoknya ke udara.
"Cuma istirahat sebentar, Ded. Capek juga badan rasanya."
Deddy terkekeh pelan, ia menyenggol bahu
Abraham dengan sikutnya.
"Istirahat atau 'lembur' lagi? Tadi mess sepi banget, tapi auranya beda. Kayaknya ada yang habis panen duren siang-siang bolong ya?"
"Bisa saja kamu, Ded," balas Abraham sambil geleng-geleng kepala, mencoba menyembunyikan rasa malunya di balik kepulan asap rokok.
"Ya wajar, Bram. Libur kerja bukan berarti libur 'dinas' sama istri, kan?" goda Deddy lagi yang membuat beberapa teman di sekitar mereka ikut tertawa kecil.
"Tapi baguslah, kalian kelihatan sudah lebih tenang sekarang. Mbak Prita sudah nggak trauma lagi?"
"Alhamdulillah, sudah mulai bisa ketawa tadi. Sekarang lagi tidur pulas banget, kayaknya memang butuh banyak istirahat," jawab Abraham dengan nada suara yang melembut saat memikirkan Prita.
"Syukurlah. Jaga baik-baik, Bram. Kalau butuh apa-apa buat di dalam kamar, atau butuh duren beneran biar makin jos, bilang saja sama saya," ucap Deddy sambil menepuk punggung Abraham dengan akrab.
Mereka pun tenggelam dalam obrolan khas orang lapangan di bawah langit senja yang mulai menggelap, sementara di dalam kamar, Prita masih terbuai dalam mimpi indahnya, merasa aman karena tahu suaminya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya lagi.
Prita perlahan membuka kelopak matanya saat cahaya senja yang temaram masuk melalui celah ventilasi.
Saat mencoba menggeser duduknya, ia seketika meringis pelan.
Rasa perih yang asing dan berdenyut halus terasa di bagian sensitifnya—sebuah pengingat nyata atas momen intens yang mereka lalui siang tadi.
Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia mengenakan kembali pakaiannya.
Ia merasa sedikit cemas saat menyadari sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong.
Prita melangkah menuju pintu, membukanya sedikit, dan melongokkan kepalanya ke arah selasar.
Di sana, ia melihat punggung tegap suaminya yang tengah duduk bersantai.
"Mas... Mas..." panggil Prita dengan suara berbisik, hampir tidak terdengar karena takut menarik perhatian teman-teman Abraham yang lain.
Abraham yang memiliki pendengaran tajam segera menoleh.
Melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak menahan sesuatu, ia langsung mematikan rokoknya di asbak dan berpamitan singkat pada Deddy.
"Duluan, Ded. Istriku bangun," pamit Abraham singkat.
Begitu masuk ke dalam kamar, Abraham langsung menutup pintu dan menguncinya.
Ia menghampiri Prita yang kini terduduk di tepi ranjang sambil memegangi perut bagian bawahnya. Wajahnya sedikit meringis.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Abraham khawatir sambil berlutut di depan istrinya.
"Perih, Mas. Perih sekali kalau buat jalan," bisik Prita dengan wajah memerah, malu sekaligus kesakitan.
Abraham menghela napas panjang, tatapannya dipenuhi rasa bersalah sekaligus kasih sayang.
Ia mengusap dahi Prita yang sedikit berkeringat. Ia sadar, sebagai seorang pria lapangan, mungkin tenaganya tadi terlalu besar untuk Prita yang masih sangat baru dalam hal ini.
"Maafkan Mas, ya. Tadi Mas mungkin terlalu bersemangat," ucap Abraham lembut.
Ia kemudian membimbing Prita untuk kembali berbaring.
"Kamu istirahat saja, Sayang. Jangan bangun dulu. Biar Mas yang urus semuanya."
Abraham menyelimuti Prita kembali, lalu ia mengambil handuk kecil dan air hangat untuk membantu membersihkan istrinya agar merasa lebih nyaman.
Di tengah rasa perih itu, Prita merasa sangat dimanjakan; ia tahu bahwa di balik sosok Abraham yang keras di lapangan, suaminya adalah pria paling lembut saat bersamanya.
Abraham segera bergerak cepat menuju dapur mess untuk menjerang air.
Setelah suhu airnya pas, ia membawanya ke kamar mandi dan menyiapkannya di dalam bak kecil.
Mengingat langkah Prita yang masih sangat tertatih dan wajahnya yang meringis setiap kali bergerak, Abraham tidak tega membiarkan istrinya berjalan sendirian.
Tanpa banyak bicara, Abraham kembali ke kamar. "Sini, Sayang. Mas bantu," bisiknya lembut.
Abraham kemudian menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Prita, lalu membopong tubuh istrinya itu dengan sangat mantap.
Prita yang terkejut hanya bisa mengalungkan tangannya ke leher Abraham, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada suaminya.
Saat Abraham melangkah keluar kamar menuju kamar mandi yang letaknya melewati ruang tengah, suasana mess yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
Deddy yang sedang asyik mengobrol, sampai menghentikan gelas kopinya di udara.
Beberapa teknisi lain yang sedang duduk di selasar pun terbelalak.
Mereka semua terkejut melihat pemandangan di depan mata: Abraham, sang teknisi paling tangguh dan pendiam, sedang membopong istrinya dengan begitu protektif di depan umum.
"Waduh, waduh! Ini baru namanya pelayanan bintang lima!" seru Deddy setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
"Bram, itu istrinya apa kapas? Ringan banget kayaknya sampai nggak boleh nyentuh lantai gitu?"
"Hust! Jangan digoda terus, Ded! Lihat itu Mbak Prita sudah mau menghilang saking malunya," timpal Tono sambil tertawa kecil, meski ia sendiri kagum dengan keberanian Abraham menunjukkan rasa sayangnya.
Abraham tidak membalas ledekan mereka. Ia hanya melirik tajam ke arah teman-temannya—tatapan yang seolah mengatakan 'jangan macam-macam atau kalian urusan sama saya'. Namun, sudut bibirnya sedikit terangkat, menunjukkan rasa bangga karena bisa menjaga istrinya.
Di dalam dekapan Abraham, Prita hanya bisa memejamkan mata erat-erat.
Meski rasa perih itu masih ada, perhatian Abraham yang begitu totalitas—bahkan di depan teman-temannya—membuatnya merasa seperti wanita paling berharga di dunia.